NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih-Benih Baru di Tanah Lama

Udara sore itu terasa lebih lembap dari biasanya. Aroma tanah yang tersiram hujan tipis menyeruak di koridor The Golden Bridge, menciptakan suasana melankolis yang tenang. Nadia duduk di kursi kerjanya, menatap sebuah map cokelat berisi proposal restrukturisasi Yayasan Tangan Emas. Di depannya, Mr. Taufik baru saja meletakkan secangkir teh hangat.

"Anda terlihat sangat serius, Nadia," ujar Mr. Taufik, menarik kursi di hadapannya. "Padahal Kirana sudah pergi dari gedung ini dua jam yang lalu. Aura kehadirannya memang sulit hilang, ya?"

Nadia menarik napas panjang, menyesap tehnya perlahan. Kehangatan cair itu sedikit meredakan ketegangan di dadanya. "Dia datang untuk bicara soal Vanya, Taufik. Bukan soal kekuasaan, bukan soal uang, tapi soal putrinya yang menolak bicara dengannya."

Mr. Taufik mengangguk-angguk kecil, wajahnya menunjukkan simpati yang terukur. "Vanya adalah remaja yang jujur di tengah sistem yang palsu. Tentu saja dia terpukul. Di kelas Matematika saya, dia sering melamun sekarang. Prestasinya tidak menurun drastis, tapi jiwanya seolah... kosong."

"Itu yang membuatku khawatir," balas Nadia. "Kehancuran Kirana adalah sebuah keharusan demi keadilan, tapi aku tidak ingin Vanya menjadi korban sampingan yang hancur permanen. Aku melihat Aksa dalam dirinya—seorang anak yang masa depannya hampir dikorbankan oleh ambisi orang dewasa."

"Lalu, apa rencana Anda?" tanya Mr. Taufik. "Sebagai Konsultan Etika, apakah Anda akan mengulurkan tangan pada putri musuh Anda?"

Nadia terdiam sejenak. Matanya tertuju pada jendela, melihat para siswa yang mulai meninggalkan area sekolah. "Aku sudah memintanya, Taufik. Aku meminta Kirana membiarkan Vanya menemukan jalannya sendiri. Tapi aku merasa, sekolah ini berhutang pada Vanya untuk memberikan lingkungan yang tidak menghakiminya atas dosa ibunya."

"Itu tantangan besar," Mr. Taufik menghela napas. "Ibu-ibu di sini, meskipun Kirana sudah tidak ada, masih memiliki 'bisa' yang sama. Mereka mulai berbisik tentang Vanya. Mereka bilang, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Mereka ingin mengeluarkan Vanya dari tim olimpiade karena menganggap reputasinya tercemar."

Nadia meletakkan cangkirnya dengan sedikit dentingan keras di atas meja. "Itulah alasan mengapa aku ada di sini. Besok, aku ingin mengadakan rapat dengan perwakilan orang tua siswa. Bukan untuk membahas anggaran, tapi untuk membahas apa yang aku sebut sebagai 'Kesalahan Kolektif'."

Keesokan paginya, ruang pertemuan kecil itu penuh sesak. Ibu-ibu yang dulu menjadi pengikut setia Kirana, termasuk Ibu Siska yang kini tampak lebih mandiri, duduk dengan rapi. Suasana terasa canggung. Mereka tahu Nadia adalah orang yang menarik benang yang meruntuhkan menara gading mereka.

"Terima kasih sudah hadir," Nadia membuka pertemuan tanpa basa-basi. "Saya tidak akan membahas audit yayasan hari ini. Itu urusan hukum. Saya ingin bicara tentang anak-anak kita. Khususnya, tentang stigma."

Ibu Vanya (bukan Kirana, melainkan ibu dari siswa lain yang juga bernama Vanya) mengangkat tangan. "Bu Nadia, kami semua tahu apa yang terjadi. Kami hanya khawatir, keberadaan anak dari seseorang yang melakukan penipuan sistematis di sekolah ini akan mempengaruhi moral anak-anak kami. Apakah tidak sebaiknya Vanya... dipindahkan?"

Nadia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat ruangan itu mendadak sunyi. "Ibu, jika kita mengeluarkan setiap anak yang orang tuanya memiliki noda moral, saya khawatir sekolah ini akan kosong dalam sekejap."

Beberapa ibu tampak bergeser tidak nyaman di kursi mereka. Nadia melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.

"Siapa di antara Anda yang tidak tahu soal mark-up seragam tahun lalu? Atau soal titipan sumbangan agar anak Anda masuk ke kelas unggulan? Kirana melakukan hal yang besar, tapi kalian semua adalah bagian dari sistem yang membiarkannya terjadi karena kalian mendapatkan keuntungan darinya."

"Itu... itu tuduhan yang kasar, Nadia," sahut Ibu Siska, meski suaranya tidak terdengar marah, lebih ke arah bertahan.

"Itu adalah fakta, Siska," balas Nadia lembut. "Dan sekarang, kita punya kesempatan untuk berubah. Jika kita menghukum Vanya atas perbuatan ibunya, maka kita tidak lebih baik dari Kirana yang memfitnah Aksa demi kepentingan pribadinya. Apakah itu nilai yang ingin kita wariskan di The Golden Bridge yang baru?"

Ruangan itu hening. Nadia melihat beberapa dari mereka mulai menunduk.

"Saya ingin mengusulkan program mentoring sebaya," Nadia melanjutkan. "Di mana anak-anak berprestasi seperti Aksa dan Vanya bekerja bersama dalam proyek sosial yang nyata. Bukan proyek citra untuk Gala Dinner, tapi proyek untuk membantu sekolah-sekolah di pinggiran yang selama ini kita abaikan. Kita akan menunjukkan pada anak-anak kita bahwa integritas dimulai dari mengakui kegagalan dan membangun kembali."

"Aksa mau bekerja dengan Vanya?" tanya salah satu ibu dengan nada skeptis. "Setelah apa yang dilakukan ibunya?"

"Tanyalah pada Aksa sendiri," jawab Nadia.

Sore harinya, di lapangan basket setelah sekolah mulai sepi, Nadia melihat Aksa dan Vanya duduk di bangku panjang. Ada jarak sekitar dua meter di antara mereka. Nadia berdiri di kejauhan, tidak ingin menginterupsi, namun cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

"Ibumu tidak masuk hari ini?" tanya Aksa, sambil memutar bola basket di jarinya.

Vanya menggeleng, matanya menatap ujung sepatunya yang berdebu. "Dia sedang di kantor polisi lagi. Pengacara ayahku bilang... mungkin ada penahanan. Aku tidak tahu harus berbuat apa, Aksa. Setiap kali aku berjalan di koridor, aku merasa semua orang sedang menunjukku."

"Aku tahu rasanya," sahut Aksa pelan. "Dua tahun lalu, saat semua orang bilang aku pencuri ide, aku merasa seperti hantu. Aku ingin menghilang."

Vanya menoleh, menatap Aksa dengan tatapan tak percaya. "Tapi ibuku yang melakukan itu padamu. Kenapa kau mau bicara denganku?"

Aksa berhenti memutar bola. Ia menatap Vanya lurus-lurus. "Ibuku bilang, kalau aku terus membencimu, maka Ibu Kirana menang. Dia menang karena dia berhasil membuatku menjadi orang yang pahit, sama seperti dia. Aku tidak mau dia menang, Vanya."

Air mata mulai mengalir di pipi Vanya. "Aku minta maaf, Aksa. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Aku... aku hanya ingin dia bangga padaku."

"Dia bangga padamu dengan cara yang salah," ujar Aksa, menggeser duduknya sedikit lebih dekat. "Ibuku menawarkan proyek sosial. Membantu sekolah di pinggiran. Mr. Taufik yang akan membimbing. Kau mau ikut? Kita butuh seseorang yang jago menyusun strategi proposal, dan aku tahu kau yang terbaik di kelas untuk itu."

Vanya menghapus air matanya dengan punggung tangan, tampak ragu namun ada secercah harapan di matanya. "Kau yakin mereka tidak akan mengusirku?"

"Ada Ibuku di sana," jawab Aksa bangga. "Dia tidak akan membiarkan siapa pun mengusir orang yang ingin berbuat baik."

Nadia, yang mendengarkan dari balik pilar, merasakan dadanya sesak oleh keharuan. Dialog itu—kejujuran anak-anak itu—adalah kemenangan sejati yang jauh lebih besar daripada melihat Kirana mengenakan baju tahanan.

Malam itu, Nadia kembali ke rumahnya yang kini terasa lebih hangat. Ia mendapati Aksa sedang sibuk di depan laptopnya, bukan bermain game, melainkan menyusun draf awal untuk proyek sekolah pinggiran yang mereka bicarakan.

"Bu," panggil Aksa tanpa menoleh. "Apa Ibu benar-benar yakin Ibu Kirana akan dipenjara?"

Nadia duduk di samping putranya, mengelus rambutnya. "Proses hukum sedang berjalan, Aksa. Ada banyak bukti penggelapan dana. Kemungkinan besar, ya. Mengapa kau bertanya?"

"Aku hanya berpikir," Aksa berhenti mengetik. "Kalau dia dipenjara, Vanya akan sendirian. Ayahnya sepertinya lebih peduli pada uangnya di luar negeri daripada pada Vanya. Tadi Vanya bilang, ayahnya jarang pulang sekarang."

Nadia terdiam. Ia tahu sisi gelap dari keluarga Wijaya. Bapak Wijaya adalah tipe orang yang akan memotong bagian yang membusuk untuk menyelamatkan tubuhnya sendiri, dan dalam hal ini, Kirana adalah bagian yang membusuk itu.

"Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang, Aksa," ujar Nadia lembut. "Tapi kita bisa menjadi pelabuhan bagi mereka yang tersesat. Jika Vanya butuh tempat untuk belajar, atau sekadar teman untuk makan malam, pintu kita terbuka."

"Ibu sungguh-sungguh?" Aksa menatap ibunya dengan mata bulat. "Padahal Ibu Kirana hampir menghancurkan hidup kita?"

Nadia tersenyum, sebuah senyum yang mengandung kedewasaan dan ketenangan yang mendalam. "Balas dendam terbaik adalah dengan tidak menjadi seperti musuhmu, Nak. Ibu sudah menghancurkan kekuasaannya, tapi Ibu tidak ingin menghancurkan kemanusiaan kita sendiri. Itulah elegi yang sebenarnya—meratapi apa yang hilang, tapi tidak membiarkannya meracuni masa depan."

Aksa mengangguk, tampak mengerti. Ia kembali mengetik dengan semangat baru. Nadia berdiri, berjalan menuju jendela dan melihat ke arah luar. Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip. Ia tahu, di balik kemewahan Gerbang Mahoni yang kini mulai memudar, ada benih-benih baru yang sedang tumbuh di tanah yang dulunya gersang oleh kebohongan.

Besok adalah hari baru. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Nadia bisa tidur dengan perasaan bahwa ia tidak hanya memenangkan sebuah perang, tetapi ia sedang membangun sebuah perdamaian yang layak bagi putranya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!