"Kamu harus menggantikan aku di malam pertamaku atau aku tidak akan sudi membiayai operasi ibu kita."
Jalan itu terpaksa harus dipilih oleh Alissa karena tidak ingin Denis yang baru menikahinya jadi membencinya saat mengetahui kebohongannya. Ya, Alissa terpaksa berbohong agar Denis tetap menikahinya, padahal pria itu dengan jelas mengatakan jika dia hanya ingin menikahi wanita yang masih menjaga keperawanan untuk suaminya.
Bagaimana kehidupan Alissa setelah pertukaran yang dilakukannya ternyata hanya menjadikan Almira sebagai wanita pendendam yang malah membuat rencana untuk merebut posisinya sebagai istri Denis Wiratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalanku
Selamat membaca!
Setelah selesai mengurus segala administrasi untuk penanganan Almira di rumah sakit ini, suster pun memberi tahubahwa dokter yang menangani adikku ingin bertemu denganku. Tak ingin membuang waktu, aku langsung mengikuti langkah suster hingga masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada tak jauh dari ruang operasi.
Seorang pria berpostur tinggi dengan memakai jas putih khas seorang dokter langsung mempersilakanku duduk begitu aku tiba di hadapannya. Sejenak dia memerhatikan wajahku dengan seksama dan beberapa detik kemudian dia tersenyum ramah kepadaku.
"Apa pasien bernama Almira itu saudara kembar Ibu? Kalian berdua mirip sekali, soalnya setelah saya perhatikan kalian tidak ada bedanya?" Dokter sengaja bertanya seperti itu untuk mengurai kecemasanku, lalu dia menulis sesuatu pada sebuah buku.
"Iya, Dok. Saya kakak kembar Mira. Gimana keadaan adik saya, Dok?" Tak bisa dipungkiri aku benar-benar merasa cemas. Tentu saja aku tidak ingin jika sampai Almira ikut mati bersama anak yang ada dalam kandungannya. Hal yang dari awal memang bukan merupakan tujuanku karena aku hanya ingin menggugurkan kandungan yang sering dijadikan senjata oleh Almira untuk mengancamku.
"Begini, Bu. Adik Anda mengalami pendarahan. Kandungannya tidak dapat diselamatkan. Dia harus segera dikuret untuk membersihkan rahimnya. Kami butuh persetujuan dari keluarga pasien." Dokter menyodorkan selembar kertas dan menunjukkan bagian yang harus ditandatangani. "Jika setuju, silahkan tandatangani di bagian ini!"
Aku membaca selintas lembar surat persetujuan itu. Tanpa ragu aku pun langsung menandatanganinya. Lalu, kusodorkan kembali kertas itu pada dokter yang menangani Almira.
"Lakukan yang terbaik untuk adik saya, Dok!" Aku memohon di hadapan Dokter dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Aku tidak sedih dengan keguguran yang Almira alami, aku sedih karena melihatnya kesakitan seperti tadi.
"Baik, Bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu sekarang tolong Ibu urus admistrasinya dulu agar kami bisa segera melakukan tindakan pada Bu Almira."
"Baik, Dok. Saya akan mengurusnya. Kalau begitu saya permisi dulu, Dok. Terima kasih atas penjelasannya." Aku segera keluar dari ruang IGD dan pergi ke bagian administrasi untuk mengurus pembayaran biaya perawatan Almira.
"Akhirnya rencanaku berhasil. Sekarang sudah tidak akan ada lagi yang bisa dijadikan senjata oleh Mira untuk mengancamku. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah melakukan semua ini, tetapi kamu harus tahu, semua ini salah ibunya, seandainya dia mau menuruti perintahku dan tidak banyak menawar pasti anak itu masih hidup sampai sekarang." Aku terus bergumam dalam hati sambil terus melangkah, menyusuri koridor rumah sakit yang semakin jauh dari ruang dokter.
Aku pun bergegas kembali ke ruang tindakan kuretase seperti yang diarahkan oleh seorang perawat. Tak berapa lama kemudian, benda pipih di dalam tasku berdering. Aku langsung mengambilnya, melihat nama Mas Denis tertera di sana dan sempat membuatku cemas.
"Apa sopir itu mengatakan pada Mas Denis tentang apa yang terjadi dengan Mira? Itu artinya, Mas Denis tahu jika aku sekarang sedang berada di rumah sakit. Bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai Mas Denis datang dan dia mengetahui bahwa Mira hamil?" batinku merasa cemas dan berharap agar Mas Denis tidak datang ke rumah sakit untuk melihat Almira.
Setelah sempat terdiam beberapa saat dan bergelut dengan rasa cemas dalam pikiranku, akhirnya aku menjawab panggilan Mas Denis tepat sebelum dering terakhir berbunyi.
"Halo, Mas," ucapku mengawali pembicaraan dengan Mas Denis, walau dengan ragu-ragu.
"Sayang, kata Pak Gavin kamu bawa Mira ke rumah sakit ya? Sebenarnya apa terjadi? Dan, bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Mas Denis yang terdengar sangat mencemaskan kondisi Almira.
"Apa-apaan Mas Denis ini? Yang ditanya malah Mira dan bukannya mengkhawatirkanku. Apa ini bentuk hubungan batin antara Mas Denis dengan calon anaknya?" batinku menggerutu kesal dalam hati.
Bersambung ✍️