NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Makanan basi

Sadis banget ya guys, untung cuma cerita fiksi wkwkwkwk🤣🥲🤣🤣

Readers:

:Alah akal-akalan Vera ada aja...

...****************...

"Lepaskan." Tatap Dion tajam. Dia dicengkeram erat seolah tak ingin dilepaskan untuk kedua kalinya. Tak akan Pharita biarkan kesalahannya terulang sekali lagi. Tuhan sudah memberikan kesempatan emas—kalau tidak digunakan, lalu masa dibuang?

​"Jelaskan padaku, jelaskan sekarang juga bagaimana kabar Aluna!"

​Dion berbohong, "Di—dia baik-baik saja... kok—"

​Nina dan Si Gondrong yang sedang asyik ngerumpi tetangga mereka, dikagetkan oleh suara berisik dari belakang kafe. Terdengar kaleng-kaleng yang sudah ditata rapi malah jatuh berantakan. Pharita menepuk tangan bangga, kini Dion sangat nampak persis berada di tumpukan sampah.

​"Berani ya menampakkan wajahmu di depanku, padahal jelas kemarin malam kau sudah memperlakukan diriku seperti bajingan." ucap Pharita pelan, dia menghampiri Dion yang berusaha berdiri—punggungnya kesakitan karena dorongan keras telak dari wanita itu.

​"Memang pantas seorang pekerja memperlakukan hal sekeji ini pada pelanggannya sendiri? Apa bosmu tak tahu sama sekali? Kau ingin dipecat, atau apa?"

​Gluk— mendengar nama bosnya dibawa-bawa, dia berdiri mendengus keras.

​"Pharita! Kenapa ini?! Ada tikus atau apa?! —"

​"Gawat—" Segera Pharita mengeluarkan sampah dari karung, lalu memasukkan tubuh Dion seenaknya ke dalam trash bag. "Sst! Diam! Kalau gak mau tertangkap sebagai pencuri dompet, mending kamu diam." pinta wanita tomboi itu. Padahal dia yang memasukkannya, malahan Dion yang dituduh. Pria itu menurut, dia diam di dalam trash bag yang sangat menyengat baunya.

​"PHARITA! KALAU ADA TIKUS NIH SEMPROT NIH!!" seru Nina memberikan semprotan hijau, khusus untuk tikus-tikus nakal yang sering mencuri bahan persediaan di rak mereka. Pharita mengeluhkan botol kaleng semprotan di tangannya, "Ini mah buat nyamuk? Yang ku butuhkan itu yang khusus untuk tikus, agar bisa kita goreng...hehe" katanya keras-keras, sampai terdengar ke telinga Dion.

Duk—Duk!

​Trash bag di belakang bergerak sendiri, Nina melonjak kaget. "Eh... itu... itu kok ge—gerak sen—"

​"Eh apa? Apa?"

​"Ga itu kok, "

​"Alah perasaanmu aja kali..."

​"Sana layani pelanggan guys, biar kuurus tikus nakal di sini."

​Mereka berdua saling memandang tak yakin, tapi memang biasanya Pharita ahli mengurus hal semacam itu. Sehingga mereka langsung masuk ke dalam lagi. Kini Pharita mengelus dada lega, ia membuka trash bag melihat Dion menatapnya tajam.

​"Senang?"

​"Gak."

​"Terus kenapa senyum-senyum gitu?" lirik Dion, dia berdiri membersihkan kemejanya yang kotor. Mendengus, mencium dari dekat bau sampah yang menempel. "Ukh—sialan..."

​"Ga begitu, cuma emang kurang ga sih rasanya? Maunya sih langsung kulempar aja kamu ke got, tapi karena masih baik hati—"

​"Ya kubiarkan saja..."

...****************...

​"Mengundang pria di rumahmu tak dianggap aneh-aneh sama tetanggamu?" tanya Dion, dia melihat seluruh penampakan rumah wanita itu. Dari tadi wanita itu terus memaksanya pulang ke rumahnya, dia beralasan karena mengotori kemeja mahalnya, padahal tak perlu. Dion bisa mencucinya sendiri.

​"Nih."

​"Mie? Ck, becus ga sih masak?!" kata Dion, tapi tangannya berbeda dari bibir pedasnya. Tangannya melahap cepat segarpu mie dalam genggaman tangan.

​"Biarlah! Yang masak juga aku, seharusnya sebagai tamu berterima kasih kek. Aku juga sudah meminjamkan kamar mandi dan bajuku. Bagaimana? Pas gak?" tanya wanita itu, menoel lengan Dion seperti teman dekatnya saja. Dion merinding sendiri dirinya disentuh, "Jangan pegang-pegang, saya tahu saya ini terlahir tampan tapi kalau sampai disentuh jamet sepertimu nanti tambah kotor."

​"JA—MET?! GILA KAU! NAMAKU PHARITA! PHA—RI—TA! KAU ADA DENDAM APA HAH SAMA AKU?! KARENA UANG DI DOMPETMU BELUM KUKEMBALIKAN BEGITU?!"

​Pharita lekas berdiri, dia kesal sendiri saat mengambil dompet dari dalam tas pinggangnya. "Nih, kukembalikan."

​"Jamet, jamet. Setiap orang itu punya nama tahu,"

​Dion terdiam, dia menerima dompetnya yang sudah dikembalikan. Bahkan uang satu juta yang dia simpan di dalamnya masih aman dalam posisinya. Pria itu menaikkan sebelah alis. Biasanya orang miskin seperti wanita di depannya ini akan tamak mengambil uang di dalam dompet, tapi ini berbeda. Pharita tak butuh uang, dia hanya menginginkan beristirahat tenang di rumahnya tanpa gangguan sama sekali.

​Namun kedatangan Aluna kemarin berbeda, seolah mengubah pandangannya pada sosok yang dulu selalu dia marahi.

​Flashback*

​"Oh jadi kau pegawai baru?" tanya Pharita, dia melihat kuku yang dia cat hitam.

​Aluna angguk kepala, "Iya Kak Senior mohon bantuannya ya..."

​"Kalau kau menyusahkanku, tak akan kubantu sama sekali! Mengerti?!" seru Pharita kesal. Entah bad mood atau apa memang dari dulu dia seperti itu bawaannya.

​Flashback off*

​"Kenapa diam saja? Kau tidak makan miemu?" tanya Dion, melirik ke bawah dua mangkok mie tertata rapi di atas meja. Pharita duduk kembali, dengan sebelah kaki terangkat ke atas malas. "Makan saja dulu, lagi malas rasanya..."

​"Kau tidak malas hm? Punya bos sensitif seperti itu."

​Dion berhenti makan mie, dia menaruh garpu pelan. "Beraninya kau mengejek Tuan Arkan! Kau akan kulaporkan! Ada pasal-pasalnya kalau kau tak tahu!"

​"What?! Gila, ada pasalnya?!"

​"Iya, tidak percayaan amat." ucap Dion, menyeruput kuah cepat. Pharita melihat wajah Dion terus menerus, ada yang ingin dia tanyakan tentunya ini tentang Aluna. Benarkah yang pria itu katakan tadi di kafe bahwa juniornya baik-baik saja?

​"Selesai, boleh saya pulang? Terima kasih bajunya."

​"Tunggu, mau pulang ke mana?!"

​"Harus aku katakan di mana rumahku? Di mana alamatku tinggal? Di mana nanti aku tidur—"

​"Ya aku penasaran banget! Kalau boleh kau juga tinggal di rumahku juga boleh."

​"Hah?! Bodoh—mana mau aku tinggal di sarang gorila." kata Dion. Saat ia akan melangkah keluar dari pintu dirinya terhenti ketika gerimis jatuh—hujan semakin deras. Dari dalam Pharita sudah sangat bersyukur hujan datang di saat yang tepat. Dion kembali kepadanya, "Pinjamkan aku payung—"

​"Aku gak punya—"

​"Lalu itu?" tanya Dion menunjuk ke pojok tembok, yang rupanya di sana payung plastik tergantung sempurna tanpa bersalah. Pharita menggigit bibir, dia langsung mematahkan payungnya menjadi dua bagian.

​"Yah, sorry nih sudah patah... kayaknya gak bisa..." ucap Pharita, ada-ada saja idenya. Melihat payung sekokoh itu langsung patah terbelah menjadi dua, dia langsung menggeretak gigi.

​"JANGAN MAIN-MAIN PHARITA! APA ALASANMU MENAHANKU DI SINI SAMPAI MENYURUHKU MENGINAP HAH?! KAU INGIN SEKALI KUPUKUL SEPERTI KEMARIN MALAM HAH?!"

​"Oh dengan senang hati—saya terima Mas..." kata Pharita. Tanpa curiga sama sekali Dion langsung memberikan pukulan yang untungnya meleset dan malah ditangkis. Mata mereka saling bertemu, wanita dengan tatapan tajam tersebut menyipitkan pandangan. "Kalau dari dekat begini, terlihat kalem..."

​"Si—sialan! Kau—"

​Tangkisan Pharita menukik, dia memutar lengan pria itu ke belakang menahannya di tembok. Ia seolah mendominasi daripada Dion yang lebih pendek, bisikan hangat menghampiri. "Sakit? Atau aku katakan malu? Malu karena ada perempuan kuat yang menahan pukulanmu dan malah jadi imbas balik? Kaget?"

​Deg— entah mengapa di saat yang tepat jantung Dion berdebar kencang di samping tembok. Ia berdecak keras ketika tangannya ditekan dari belakang. "Lepaskan saya Pharita—lepaskan!"

​"Jangan sok formal deh Mas, kayak ngomong biasa aja bisa gak?"

​"Lepaskan dulu—"

​"Kalau aku tidak mau? Akan aku lepaskan kalau Mas jujur bagaimana keadaan Aluna saat ini, setelah itu aku akan pinjamkan payung."

​"Tadi kan sudah rusak!?" protes Dion, matanya membelalak tak percaya. Tapi Pharita hanya mengedikkan bahu pelan. "Ya sudah kalau ga percaya, juga ga apa gak ada yang maksa."

​"Ck, takkan kuberitahu... jangan maksa!"

​Pharita terdiam, dia pelan-pelan melepas ikatannya di belakang punggung pria itu. Dion mengerutkan alis, tak tahu dengan sikap wanita itu yang berubah mendadak. "Oke, aku memang tak suka memaksa. Sana pergi, nih—" Pharita melemparkan payung barunya kepada pria itu. Dion segera menangkap payung yang dilemparkan.

​Ia melihat payung itu masih segel, belum dibuka sama sekali. Di balik pintu kamar, Pharita terduduk dia menenggelamkan wajah. "Kenapa diam saja, sana pergi! Kau mau aku marah lagi?!"

​Dion langsung mundur-mundur sendiri, dia membuka pintu sebelum keluar dengan tatapan masam.

...****************...

​Di tempat sedingin es, segelap penjara bawah tanah, sebau bangkai sampah matanya yang kosong seolah melihat secercah cahaya dari luar jendela. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat dengan sebelah mata. Tangan wanita itu terangkat untuk menangkap cahaya dari celah ventilasi yang menyinarinya. Apakah cahaya itu dari sinar matahari atau dari lampu ruangan?

​Aluna tak paham, apa kesalahan terbesarnya sampai pantas harus mendapatkan semua ini. Dirinya sudah lelah, minum air saja belum tentu cukup untuk mencukupi kebutuhan dirinya di dalam sini. Ia ingin lebih, seperti memakan nasi hangat, sup panas, ruangan yang kedap suara dan obrolan menenangkan.

​Ketika bibirnya mencoba terbuka, dia menoleh ke samping melihat seseorang yang datang melangkah masuk. Aluna perlahan bangkit, dia memegang kuku tangannya yang masih menjalar perih.

​"Mas—"

​"Siapa yang kau maksud Tuan Arkan?! Dasar jalang! Seenaknya masuk ke keluarga ini, kau bisa mendapat apa yang kau mau, tapi malah membuat Tuan Arkan khawatir dengan kehilanganmu itu. Cuih!" seru sosok pelayan berpakaian maid, yang sepertinya seumuran dengannya. Wanita pelayan itu menaruh kasar nampan makanan, ditaruh tidak pelan-pelan isinya berceceran semua.

​"Makan ini, makan ini bodoh! Hahahaha!"

​Aluna menutup setengah matanya, ia memejamkan mata pelan menggigit bibirnya yang pecah-pecah tersebut. "Mas... Arkan... katakan sama Mas Arkan... aku rindu sama dia..." lirih Aluna, memandang ke bawah. Namun yang namanya pembantu iri dengki, dia hanya bersedekap dada seolah tak sudi menyampaikan pesannya.

​"Merepotkan saja, kenapa harus aku yang bilang? Bilang saja sendiri! Cuih! Cuih!"

​Wajah Aluna tertoleh setelah dia diludahi, ia mengusap ludah yang pembantu itu berikan. Pintu kembali tertutup, saat itu juga ia menyentuh makanan yang sudah basi diberikan padanya. Ia melahap rakus walau tercampur dengan debu.

...****************...

​"Tuan, ucap Nyonya dia sangat membencimu Tuan! Katanya sampai mati dia tak sudi untuk keluar dari sana Tuan!!"

​Dion kaget dengan apa yang pembantu itu katakan. Terlihat Arkan dengan mata panda membelakangi kedua orang itu memutar kursinya ke hadapan mereka. "Katakan sekali lagi."

​Si pembantu semakin ngompor, dia mengira kalau ucapannya 100% meyakinkan.

​"Begini Tuan Arkan! Nyonya Aluna di sana merengek tak mau diberi makan, katanya makanan itu tak layak untuknya! Katanya terlalu murah untuk perutnya, padahal saya memberikan makanan yang terbaik... nasi cangkang siput dan gorengan cumi..."

​Arkan menatap tajam, "Apa yang kau berikan?"

​"Itu—"

​PRANG! —

​"Itu makanan kemarin sore brengsek! Kau mau membuat Nyonya Aluna mati!!" seru Dion. Bukan Arkan yang mengamuk tapi asistennya. Dia sampai melempar vas bunga di sampingnya—tak peduli seberapa mahal harganya, mendapat amukan dari asisten utama majikan mereka.

​Pembantu itu langsung bergetar hebat, dia terduduk tak mengira kalau seceroboh ini mengeluarkan ceplas-ceplosnya. "Ma—maaf Tuan, maafkan saya Tuan Arkan... akan saya berikan makanan sekarang—"

​"Apa yang kau lakukan Dion, pergi sekarang." Pembantu itu berdiri, dia kebingungan karena biasanya orang yang bersalah akan langsung dipecat. Tapi ini tidak, langsung disuruh pergi begitu saja. Dion menarik sebelah alis ke atas, "Tuan, ada apa?"

​"Justru bagus dong, biar tahu rasa sekalian. Si miskin memang harusnya berada di sana Dion, kenapa kau mengamuk? Cepat tertawa, CEPAT!"

​Dion terlonjak ke belakang, dia terpaksa menarik sudut bibirnya mengangkat giginya lebar-lebar. "Hahaha, Anda memang benar Tuan! Hahaha!"

Di kala Dion tertawa, mata Arkan menatap ke kotak perhiasan yang seharusnya segera diberikan kepada wanita itu. Tapi karena wanita itu melanggar aturan jadinya perhiasan sekotaknya yang seharga satu rumah dibuang ke tong sampah selayaknya tak lagi pantas dipakai.

​Arkan memejamkan mata, membayangkan senyum Aluna yang menatapnya sambil mengelus kalung baru yang terpasang di leher wanita itu. "Cantik Mas, aku suka..." Pikiran itu segera dia tepis. Kenapa dia terus memikirkan wanita itu?

...****************...

​Satu minggu telah berlalu. Aluna yang sudah kering di dalam melihat pintu sedikit terbuka. Ia berusaha duduk, dan menunggu siapa yang datang akan memberikan makanan basi untuknya.

​Tapi rupanya Arkan mengunjunginya dengan langkah arogan. "Masih hidup?"

​"Untungnya, kalau tidak kontrak ini tak akan berjalan."

​Aluna diam saja tak menjawab, tatapannya lurus ke depan. Ke cahaya lorong mansion.

​Arkan mengapit hidung, mencium bau tak sedap. Dia berjongkok, mengangkat tangan wanita itu yang melekat dengan tulang belulangnya. "Sekarang hukumanmu sudah selesai, jangan ulangi lagi. Paham?"

​Aluna memejamkan mata, akhirnya dia bisa tersenyum bahagia. Ia jatuh terkapar tak berdaya dengan darah bersimbah di telapak tangannya.

​Melihat kejadian mengerikan di kejauhan sana, rasanya Dion akan muntah di tempat.

...****************...

​Aluna membuka mata, ia melihat pergelangan tangannya diinfus. Ada alat bantu napas di hidungnya. Saat ia copot perawat yang merawatnya langsung marah-marah. "Mbak! Tolong jangan dilepas ya! Mbak ini kalau mau sakit mending jangan ngerepotin!" seru si perawat. Sepertinya banyak kerepotan hingga bisa secerewet itu.

​Aluna memasangkan lagi alat bantu napas tersebut, ia melihat ke sekeliling ruangan. 'Ini di rumah sakit?'

​'Sungguh? Aku di sini?'

​'Aduh aku tak ingat apa-apa, tadi sepertinya aku masih tertidur di kelas lalu guru memanggilku—'

​"Mbak! Tidur! Istirahat ya? Jangan bangun mulu..."

​Aluna angguk kepala, dia merebahkan diri kembali ke sisi ranjang. "Aluna?! Aluna!!" seru Pharita. Dia bergegas datang ke rumah sakit VIP setelah mendapat kabar dari Dion—baru ia ketahui nama pria pendek itu, bahwa Aluna dirawat di sana.

Ia memeluk wanita itu erat, melihat keadaan juniornya yang sangat ia khawatirkan.

​"Aluna... syukurlah kau baik-baik saja, aku sangat mengkhawatirkanmu tahu tidak?!"

​Aluna kaget, perawat tambah kesal karena ada orang datang-datang nyelonong masuk begitu saja. Aluna menjauhkan diri, "Maaf, tapi... kamu siapa? Sepertinya aku gak punya teman OSIS yang mirip denganmu... em..." kedip Aluna pelan, matanya mengecil demi bisa memastikan siapa yang berada di depannya saat ini.

​Seketika Pharita langsung tertohok, ia memegang jantungnya yang entah mengapa terlihat kecewa.

​"Aluna... kau tak tahu siapa aku?"

​Bersambung...

Keadaan Aluna di belakang layar...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!