Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Buat ulah banget ya kau lun?
Waw, jujur Vera tidak menyangka sudah sampai bab 30. Terima kasih ya semuanya sudah dukung Vera sejak awal perilisan novel aku, enjoy with my writing!
...****************...
Kelas sedikit ricuh, mereka menggosipi anak baru yang mereka ramal sendiri apa jenis kelamin anak baru itu. "Pasti perempuan!"
"Nggak mau! Pokoknya laki-laki!" ucap dua orang yang sama-sama menaruh tatapan kebencian pada satu sama lain, sedangkan teman-teman kelasnya tak mau mengurus murid baru di kelas mereka yang akan datang. Setelah bel berbunyi, kompak mereka langsung menaruh pantat mereka ke bangku masing-masing. Guru wali kelas mereka datang, membawa banyak sekali buku paket di tangannya. Pak Johan nama guru wali kelas mereka, menumpuk buku yang sudah tertumpuk banyak di atas rak. Setelah membawakan buku di tangannya, pria itu kembali ke mejanya sendiri. "Selamat pagi anak-anak."
"Pagi Pak!!"
"Bagaimana kabar kalian?"
"Sehat Pak." Ada yang semangat menjawab, ada juga yang tidak mood untuk membuka mulut. Pak Johan mengusap keringat di dahinya, "Pasti kalian sudah dengar kan kalau akan ada murid baru di kelas ini? Apa kalian sudah siap? Jaga tutur lisan kalian, bimbing dia... mengerti?"
Setengah murid manggut menurut, sedangkan ada saja anak-anak konglomerat tidak peduli sama sekali, mereka bertingkah cuek.
Saat Pak Johan menjelaskan bahwa kedatangan murid itu karena kepintarannya, para geng konglomerat langsung saling memandang, seolah ada rencana licik yang mereka pikirkan di sana. "Asyik ada mainan baru nih..."
"Ya kali mainan baru, anjing baru juga kali..."
"Hahaha..." Mereka berempat tertawa tak habis-habisnya, sedangkan yang mendengarkan tawa mereka di belakang adalah sosok siswi berkacamata tebal yang kini dia terlihat sangat syok. Jelas sekali raut wajahnya saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan salah satu temannya yang suka menindas itu, siswi itu langsung menunduk ketakutan meremas roknya.
Langkah kaki Aluna berjalan beriringan di atas tekel lantai. Ia melihat bayangan wajahnya yang memantul jelas, sama persis dengan model lantai yang dimiliki Arkan. Ke mana-mana saat menunduk pasti ada pantulan cahaya dari wajahnya yang ia lihat. Aluna tak sadar bahwa dia sudah berhenti di depan kelas barunya. Ia membaca papan kelas di atas pintu, "KELAS 10-A IPA. Ini dia!
Aluna tanpa babibu langsung membuka pintu kelas tanpa ada izin salam atau ketok pintu sama sekali. Pintu hampir dia banting karena ulahnya yang blak-blakan. Sifatnya yang agak ceroboh selalu dia bawa sejak SD saat bibinya merawat dirinya. Ia melihat ke sekitar, pandangan semua teman kelas barunya menatapnya sinis.
"Aduh kamu ini, bikin saya kaget aja..." ucap Johan sampai elus dada. Beberapa ada yang kaget, mereka melihat penampilan Aluna dari atas sampai bawah—seperti anak kecil yang didandani ibunya. Kuncir dua warna-warni, pita merah di sisi poni, dan kalung emas yang melilit lehernya. Aluna jelas nampak bukan seperti orang dewasa, dia terlihat seperti lebih kecil dari mereka semua.
Johan kaget dengan penampilan Aluna, dia berdehem kecil agar tidak membuat suasana kacau. "Silakan masuk, perkenalkan dirimu dahulu..." ucap Pak Johan, memberikan ruang di samping tubuhnya agar Aluna bisa memperkenalkan dirinya.
Aluna melambaikan tangan ke atas, dia tersenyum selebar mungkin agar menarik banyak perhatian. "Selamat pagi semuanya! Perkenalkan! Namaku Aluna Inatura Kaleo! Biasanya aku tuh dipanggil Luna, Aluna, Lun, atau Na... tapi terserah deh kalian mau panggil aku apa, aku berumur 17 tahun! Dulu aku sekolah di SMA Melati Kandi selama beberapa bulan saja, padahal ya? Aku baru saja menjabat jadi sekretaris OSIS yang ditunjuk langsung oleh kakak kelas... tapi saudara dari bibiku mengambilku untuk dibawa ke rumahnya, dan aku terpaksa pindah kemari. Oh ya btw teman-teman aku suka nonton Doraemon... kalau ada yang sama ayo kapan-kapan kita nonton bareng, buka—"
"Ah sudah cukup Aluna, kami paham semuanya apa yang kamu maksud. Sekarang kamu boleh duduk, pasti capek kan kalau ngomong terus?" tanya Pak Johan, nampak ada setetes keringat di dahinya. Aluna menatap lamat-lamat, dia mengedikkan bahu cepat. "Ya udah deh, nanti yang mau kenalan langsung aja minta nomor WA-ku ya guys!"
Mereka melihat Aluna yang berjalan ke bangku belakang sendiri, dekat dengan siswi berkacamata yang sempat bertatapan dengan penindas. Aluna melihat siswi itu, dia tak mengajaknya berkenalan dan langsung duduk begitu saja.
Beberapa ada yang terhibur dengan candaannya, ada juga yang menganggapnya konyol dan tak masuk akal.
"Aneh-aneh aja tuh perempuan."
"Iya, aneh banget gak jelas."
"Tapi cantik lho, kalau kita panggil mainan kayaknya agak gak cocok." ucap salah satu laki-laki di sekumpulan geng mereka. Cowok itu langsung dapat pukulan spesial dari ketua geng, Anjani. "Suka kau sama dia, cuih! Najis! Ngapain suka sama cewek yang tingkahnya kek bocah? Tipemu emang suka yang abnormal kayak gitu ya, Bri?"
"Ck, gak aku cuma bercanda..."
"Yah ngomong aja keles..." Anjani memutar bola mata malas. Dia menangkup pipinya dengan tangan.
...****************...
Saat istirahat sedang berjalan, Aluna ditelepon Dion yang khawatir sekali dengan keadaan wanita itu. Apalagi Aluna ini sebenarnya sudah lulus SMA, dan juga sudah dewasa kalau sampai orang-orang tahu identitas aslinya dan bersekolah hanya karena kebutuhan kesembuhannya, itu akan jadi masalah—ini juga membawa nama baik keluarga SEO.
"Di sini aku gak apa-apa Mas Dion... belum sehari lho?"
"Ya aku tahu, tapi... nanti kalau ada masalah langsung suruh jemput Pharita ya?"
Aluna memberikan jempol, walau Dion tak tahu kalau dia mendapatkan jari ibu.
"Oke tenang aja... gampang kok," setelah Aluna mematikan telepon, dia mendesah pelan. Ia melihat bekal makanan miliknya yang sangat dia banggakan, seumur-umur tak pernah dia dibekali udang yang berukuran besar, sushi mentai dan semangkuk mi Samyang keju pedas. Aluna mengambil sumpitnya, ia tergoda dengan tumpukan makanan di depannya. Walau kini dia tak lagi harus menunggu bibinya pulang untuk sekadar masak, tapi tetap saja Aluna masih merindukan sosok bibinya yang menggantikan tugas menjadi ibu rumah tangga sekaligus kepala keluarga.
"Kayaknya enak banget tuh, Lun minta dong!" seru Anjani, dia datang bersama gengnya.
Sony, Doni dan satunya lagi Evan. Mereka mencomot satu per satu makanan Aluna tanpa izin, tampak wanita itu terkejut tak menyangka dengan kedatangan mereka. Ia menatap mata mereka satu per satu. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Aluna saat menoleh, kuncir pink di rambutnya ikut bergoyang.
Anjani tertawa, dia melahap daging udang, lalu cangkangnya dibuang sembarangan. "Kita laper Lun... plis kasihani kita dong, kita juga mau makanan mewahmu?"
Aluna mengedip pelan, "Oh kalian mau? Kenapa gak ngomong dari tadi aja kalau kalian memang segitunya pengen?" Karena ini adalah Aluna dengan pemikiran masih remaja, omongannya kadang suka membentak sembarangan.
"Terus kalian ini berempat gak dikasih makan sama orang tua kalian? Aduh kasihan banget, ya udah nih kalian boleh ambil, tapi besok-besok suruh ortu kalian masak! Atau kalau mereka gak bisa masak, sebagai anak seharusnya pengertian dengan kondisi orang tua kalian! Paham!" Serasa dimarahi, Sony dan Doni langsung menciut tetapi tidak dengan Anjani dan Evan yang malah terpancing emosi.
"Oh gitu ya kau Lun? Bawa-bawa ortu? Di sini gak ada sangkut pautnya lho! Kita gak kayak kau, pasti setiap hari dimanja terus kan sama ibu bapakmu itu? Dasar miskin." ejek Anjani, matanya sudah menari ke mana-mana, menunggu jawaban Aluna.
Wanita itu mengepal kotak bekalnya, dia menaruhnya sebentar di bangku taman. Memandang mereka semua dalam sekali pandang. "Kalian tidak pernah tahu apa yang orang lain rasakan, aku sudah ditinggal mati oleh ibuku di umur 7 tahun. Sejak bayi ayah tak pernah pulang ke rumah kata ibu dulu ayah bepergian entah ke mana mencari uang. Tapi suatu saat aku menemukan kucing kecil yang dibuang orang tak bertanggung jawab, aku merawatnya itulah yang membuatku tahu setelah Poro nama kucingku berlari seolah ingin menunjukkanku pada sesuatu. Aku melihat ayah yang berduaan dengan wanita lain, bukan ibuku."
"Aku awalnya tak percaya aku mencoba melihat lebih dekat umurku yang 7 tahun saat itu memiliki mata setajam elang."
"Ada anak laki-laki yang mungkin masih balita ada di gendongan ayahku, siapakah dia? Sampai akhir ibuku tak tahu, dia tewas tertabrak mobil."
Doni menutup mulut nampak tak percaya, tapi setetes air mata lolos meluncur dari kantung matanya. "Hiks—itu... itu jahat banget, ayahnya ja—"
PLAK!
"SADAR BODOH! KAU SEKARANG MEMBELA SIAPA HAH?! KAU MAU SAJA DIBODOHI Doni?! JANGAN PERCAYA SAMA DIA, MENGERTI?!"
"Tapi Anjani, masa kamu gak sedih... hiks..."
"DASAR LEBAY, GITU AJA NANGIS. CUIH!" ludah Anjani ke wajah cowok itu, padahal satu geng tapi entah kenapa malah disatukan. Aluna berdiri, memberikan tisu dari balik saku. "Ini, usap dulu... wajah tampanmu kotor nanti..." ucap Aluna sedikit terdengar menggoda. Kalau sampai Arkan mendengar ini entah bagaimana reaksinya ya?
Doni langsung membeku, nampak wajahnya bersemu memerah seperti musim sakura. Melihat anggota gengnya dilucuti, Anjani sang selebgram dengan 1 juta pengikut itu tak akan tinggal diam. Dia menarik pita rambut Aluna lalu dibuang ke tempat sampah, "Pahami posisimu, jangan merasa kau setara dengan kami."
"Posisiku?" Aluna mengucapkan kembali perkataan Anjani pelan-pelan, dia meneguk ludah memikirkan sesuatu yang seharusnya tak boleh dia lakukan. 'Maafkan aku Mas Arkan...'
"Kenapa kamu bilang begitu? Siapa namamu?" tanya Aluna, dia sok bersedekap dada di depan Anjani. Remaja itu melotot, bukannya merasa sedih setelah direndahkan dia malah balik bertanya?
'Sialan, tak akan—'
"Namanya Anjani, aku Sony, yang mengajak kamu bicara itu Anjani dan yang tampangnya kayak preman itu Evan."
"ANJING KAU SON!! KAN UDAH KUBILANG JAGA SIFAT ASLIMU!!"
Aluna menekuk bibirnya, manggut paham. "Oh... jadi namamu... Anjani, terus kamu Sony, terus.. terus—"
"Ah udahlah! Jangan sok akrab sama kami deh kau ini, anak baru gayanya petantang-petenteng. Merasa kaya kau? Padahal di sini dirimu itu cuma anak beasiswa biasa yang hidupnya di hutan belantara kan?"
'Ah...'
Aluna mengepal tangan erat, dia tak suka bila dirinya diejek. Mata yang dulu selalu bersembunyi di balik bayang-bayang kini muncul kembali. Kerah seragam Anjani ditarik ke depan, "Anjani jangan mengejekku, aku paling tidak suka ada yang menghinaku... walau kebanyakan orang akan marah kalau menyangkut keluarganya, tapi aku tidak... hidupku adalah hidupku, kau bertanya aku ini tak setara dengan kalian kan? Kenapa berpikir seperti itu? Kalau posisiku jauh di atas kalian bagaimana? Apa kalian mau bersujud di depanku?"
"Si—sial! Lepas!!"
Seorang siswa yang kebetulan lewat melihat kelakuan Aluna dengan menarik kerah seragam Anjani, membuat si siswa itu tertarik dan akan dibuat berita hangat di sekolah ini yang kadang sering terjadi.
"Wah... ada bahan baru yang bisa aku coba... hehehe..." gumam siswa itu yang termasuk dalam klub fotografi.
Satu jepretan berhasil didapatkan, telinga Aluna berdengung kecil. Dia menoleh melihat siswa itu kedapatan memotret mereka.
"Anjir! Ketahuan, kabur!" seru siswa itu cepat-cepat menaruh ponsel di dalam tas selempang. Aluna mendorong kerah seragam Anjani, sampai cewek itu terjengkang ke belakang dengan kekuatan Aluna yang terasa seperti tornado.
"Gila... gila..." pikir Evan, dia menutup bibir seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, matanya gesit melihat si siswa salah satu anggota klub fotografi dengan Aluna si anak baru yang memiliki tampang anak kecil sedang bermain kejar-kejaran.
"JANGAN KEJAR AKU DONG!!!"
"Itu sudah pelanggaran privasi! Aku akan melaporkanmu!! Ayo ikut aku ke ruang BK!!"
"Kenapa? Kau itu yang mau mengancam temanmu sendiri kan? Mau kamu lukai dia!"
"Tidak!" seru Aluna di belakang. Setiap lorong yang mereka lewati mulut dan bibir mereka saling bersahut-sahutan. Aluna melihat pot bunga di samping patung kejayaan sekolah, sekuat tenaga langsung Aluna lempar sampai mengenai kepala belakang siswa itu.
BRAK!!
Mata murid-murid SMA Diamond 2 langsung tertuju pada siswa yang jatuh pingsan. Untungnya kepalanya tidak bocor karena yang dilempar hanyalah pot berbahan plastik bukan kaca atau tembikar.
Aluna mengangkat kepala siswa yang pingsan itu, dia tak memedulikan orang sekitar yang menatapnya dengan tatapan sinis. Aluna tersenyum bahagia melihat dirinya berhasil menghapus foto berisi ia yang menarik kerah Anjani seolah dialah pelakunya. Dengan begini selesai bukan...
...****************...
"ALUNA!!! KAU BODOH SEKALI!!!! FUCKKK!!!" seru Arkan berteriak sekeras-kerasnya. Bibir Aluna manyun ke depan. Dia menyembunyikan kedua tangannya ke belakang, "Te—tenang aja kok Mas Arkan, sebelumnya aku gak pernah seperti ini... tapi sekolah baru ini agak nakal-nakal jadi aku tidak bisa menahan diri... hehehe..."
Tak melihat rasa penyesalan sama sekali, hampir saja Aluna akan mendapat tamparan kalau saja Arkan tidak ingat apa pesan dokter Samuel. Pasti Arkan sudah kepalang gila sendiri seperti orang gila.
"Katakan pada saya sekali lagi Aluna... kalau itu bukan perbuatanmu... katakan dengan baik-baik, dan jangan bilang kalau kau menyuruh walimu untuk datang ke sekolah?"
"Hm... Mas Arkan ini gak paham-paham juga ya? Makanya jangan ngurus kerjaan mulu dong! Masa lihat aku sebentar aja gak bisa?"
"Apa maksud—" Aluna menangkupkan kedua tangannya ke pipi pria itu. Aluna tidak tahu bahwa dia yang dahulu tak berani menyentuh bagian tubuh suaminya—namun setelah ia regresi ingatan, ia menganggap kalau Arkan maupun Dion atau Pharita adalah orang yang lebih tua dan dia sayangi.
"Lihat dirimu Mas Arkan, banyak sekali kerutan di bawah mata... berapa hari kamu tidak tidur? Apa Mas Arkan gak bisa tidur? —" Arkan akan menepis tangan wanita itu dari pipinya, tapi entah mengapa tangan Aluna begitu kuat seperti cengkeraman kecil milik tangan bayi.
Dahi mereka bersentuhan, Arkan bersemu memerah saat napas istrinya menerpa wajahnya. "Tenangkan pikiran Mas Arkan... jangan banyak marah-marah, nanti malah stres... coba tarik napas dalam... humm~ lalu diembuskan pelan... fiuhh~"
Arkan mengikuti apa kata istrinya, dia memegang dadanya sendiri yang detaknya tak secepat tadi. Ini berhasil? Mata Arkan melihat ke depan, dia diam-diam tersenyum saat Aluna berbalik badan dengan tawa liciknya.
'Haha, akhirnya Mas Arkan gak marah lagi sama yang tadi... berhasil nih... hehe...'
Bersambung...
Duh ya emang Aluna versi remaja ini aktif banget ya bun? Siapa yang mau adopsi?
PEMBACA: EAAAAAAAAAA