NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Mimpi Buruk dan Peta Takdir

Lorong itu sempit, lembap, dan berbau pesing yang menyengat. Dinding-dinding beton di kanan kirinya dipenuhi bercak jamur kehijauan yang merambat naik seperti penyakit kulit. Lampu neon panjang di langit-langit berkedip-kedip sekarat, menciptakan efek stroboskopik yang membuat kepala pusing dan mata perih.

Nadinta berlari.

Kakinya yang telanjang menghantam lantai semen kasar yang dingin dan berpasir. Dia tidak mengenakan sepatu hak tinggi atau blazer mahal seperti sekarang. Dia mengenakan daster rumah sakit yang tipis dan pudar warnanya, kain itu berkibar menyedihkan di sekitar tubuhnya yang tinggal tulang berbalut kulit.

Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serbuk kaca. Paru-parunya, yang digerogoti oleh kanker stadium akhir, berbunyi ngik yang menyakitkan setiap kali dia memaksakan oksigen masuk.

"Nadin! Berhenti! Jangan lari!"

Suara itu menggema di lorong, memantul di dinding-dinding sempit. Suara Arga. Namun bukan suara Arga yang memelas minta uang, melainkan suara Arga yang penuh amarah dan kepanikan, suara seorang suami yang takut rahasia busuknya terbongkar.

Nadinta menoleh ke belakang dengan leher yang kaku.

Arga sedang mengejarnya, wajahnya merah padam, urat-urat lehernya menonjol. Dan di sampingnya, Maya ikut berlari. Wanita itu tidak terlihat lelah. Dia tertawa—tawa yang melengking tinggi, tajam, dan mengerikan. Tangan Maya melambai-lambaikan sebuah dokumen polis asuransi jiwa atas nama Nadinta.

"Mati aja kenapa sih, Nad? Biar kita cairin uangnya! Kamu cuma beban!" teriak Maya, suaranya berubah menjadi distorsi yang menakutkan.

"Tolong..." Nadinta mencoba berteriak, tapi suaranya hilang, tertelan oleh rasa sakit di kerongkongannya.

Dia terus berlari, namun lorong rusunawa kumuh itu seolah memanjang tanpa ujung, meregang seperti karet. Kakinya yang lemah akhirnya menyerah. Ujung jari kakinya tersandung lipatan karpet lusuh yang tergelar di lantai.

Tubuhnya melayang. Gravitasi menariknya dengan kejam.

Dalam gerakan lambat yang menyiksa, Nadinta melihat wajah Arga dan Maya yang tersenyum menyeringai di atasnya saat dia jatuh terjerembap ke dalam lubang tangga darurat yang gelap gulita.

BRAK!

Rasa sakit yang menghancurkan tulang meledak di punggungnya. Bunyi retakan tengkorak terdengar nyaring di telinganya sendiri. Darah hangat mengalir deras.

Gelap. Dingin. Mati.

"Hah!"

Nadinta tersentak bangun, tubuhnya terduduk tegak di atas kasur king size yang empuk.

Napasnya memburu cepat dan dangkal, seolah dia benar-benar habis berlari maraton menghindari kematian. Keringat dingin membasahi piyama sutra mahalnya, membuat kain itu menempel tidak nyaman di punggung dan lehernya. Jantungnya memukul rongga dada dengan ritme yang menyakitkan, seakan ingin merobek rusuk dan melompat keluar.

Refleks, tangan Nadinta meraba lehernya sendiri, memastikan dia masih bernapas, memastikan tidak ada darah. Matanya liar menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang.

Tidak ada lorong rusunawa yang bau. Tidak ada dinding berjamur. Tidak ada Arga atau Maya yang mengejar dengan wajah iblis.

Hanya ada kamar apartemennya yang mewah, sejuk, dan hening. Lampu tidur di atas nakas memancarkan cahaya kuning yang menenangkan, dan humidifier di sudut ruangan mendesis pelan, menyebarkan aroma lavender.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Nadinta meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Dia menyalakan layarnya, menyipitkan mata karena cahayanya yang terang.

Jumat, 23.15 WIB.

Dia masih berada di hari yang sama. Hari di mana dia baru saja menjebak Arga untuk membayar tagihan katering lewat telepon. Dia belum mati. Dia belum kalah.

Nadinta menjatuhkan ponselnya ke kasur, lalu membenamkan wajahnya ke telapak tangan. Bahunya berguncang pelan.

"Cuma mimpi... cuma memori sampah, Nadinta," bisiknya berulang kali, mencoba mensugesti otaknya yang masih terjebak dalam ketidakpastian.

Namun, getaran ketakutan itu masih tersisa di ujung jarinya. Kematian di kehidupan lalu adalah trauma yang tidak bisa dihapus hanya dengan tidur nyenyak atau jabatan baru.

Itu adalah hantu yang bersemayam di bawah sadarnya, yang akan terus mengejarnya jika dia lengah sedikit saja. Rasa sakit hantu (phantom pain) di punggungnya terasa berdenyut, mengingatkannya pada betapa rapuhnya nyawa manusia.

Nadinta turun dari kasur. Dia butuh sesuatu untuk menenangkan sarafnya, sesuatu yang hangat untuk mencairkan kebekuan di dalam dirinya.

Dia berjalan ke dapur dengan langkah gontai, menyeduh secangkir teh chamomile panas. Uap hangat dari cangkir itu menerpa wajahnya, membawanya kembali ke realitas.

Sambil memegang cangkir dengan kedua tangan—membiarkan panasnya merambat ke telapak tangannya yang dingin—Nadinta berjalan perlahan menuju ruang kerjanya di sudut apartemen.

Dia tidak menyalakan lampu utama. Dia hanya menyalakan lampu meja belajar yang cahayanya fokus ke satu titik. Nadinta duduk di kursi kerjanya yang ergonomis, meletakkan tehnya, dan menatap benda yang ada di hadapannya.

Sebuah kalender meja besar.

Nadinta tidak langsung menulis. Dia hanya menatap kotak-kotak tanggal itu dengan pandangan menerawang. Matanya menelusuri angka demi angka, namun pikirannya berputar mundur, meraba-raba ingatan masa lalu yang samar namun menyakitkan.

Jika diingat-ingat lagi, sejak hari pertama Nadinta kembali ke masa lalu, dirinya telah menemui beberapa kejadian baru yang tak dialami olehnya di kehidupan lalu.

Arga yang mulai jatuh dalam jurang kemiskinan, Maya yang semakin sombong, hubungan sederhana dengan Karina yang membuatnya dikagumi, serta pertemuan singkat dengan Mahendra dan membuatnya memiliki kesempatan berbicara, mata ke mata. Semua kejadian itu melebur jadi satu, seolah menjadi jembatan baru dalam kehidupan Nadinta di masa ini.

Dia mencoba mengingat urutan kejadian yang menghancurkan hidupnya dulu. Dia tahu, periode sebelum pernikahannya adalah masa-masa kritis. Masa di mana pondasi kehancurannya mulai dibangun bata demi bata oleh orang-orang yang dia percayai.

"Waktu itu... semuanya bermula dari sini," gumam Nadinta.

Jari telunjuknya yang lentik bergerak perlahan di atas kertas kalender, berhenti di hari Rabu lusa.

Ingatannya memutar kembali kejadian di kehidupan sebelumnya dengan detail yang menyakitkan.

Hari Rabu itu adalah hari presentasi kuartal. Di kehidupan lalu, Nadinta begadang tiga malam untuk menyusun materi itu sendirian. Namun saat hari H, Rudi—atasannya yang tidak kompeten—mengambil alih panggung. Rudi mempresentasikan ide Nadinta sebagai idenya sendiri. Dia dipuji habis-habisan oleh Direksi sebagai manajer visioner.

Dan Arga? Arga berdiri di samping Rudi, tersenyum bangga, menjilat atasannya. Sementara Nadinta hanya duduk diam di kursi belakang sebagai notulen, tidak dianggap, tidak dihargai, dan bahkan tidak disebut namanya. Keberhasilan itu membuat posisi Rudi dan Arga tak tergoyahkan. Mereka menjadi sombong, merasa tak tersentuh, dan akhirnya menindas Nadinta lebih keras lagi dengan tumpukan pekerjaan yang tidak manusiawi.

"Itu tidak boleh terjadi lagi," batin Nadinta, matanya menyipit.

Dia mengambil spidol merah dari laci. Dia melingkari hari Rabu itu dengan gerakan tegas.

TARGET: PRESENTASI BERDARAH

Kemudian, jarinya bergerak ke minggu depan. Hari Senin.

Dada Nadinta sesak seketika. Ingatan tentang hari itu membuatnya mual. Itu adalah hari kedatangan "Tamu Agung" dari kampung. Ibu Arga.

Di masa lalu, mertuanya itu datang tanpa pemberitahuan dan mengubah apartemen Nadinta menjadi neraka domestik. Nadinta ingat bagaimana Ibu Arga membuang sayur lodeh yang sudah dia masak subuh-subuh hanya karena "kurang asin". Dia ingat sindiran tajam wanita tua itu saat Nadinta pulang malam karena lembur.

"Istri macam apa kamu? Pulang jam segini? Suami itu imam, harus dilayani, disambut dengan senyum, bukan ditinggal tidur."

Dan yang paling menyakitkan, dia ingat bagaimana Ibu Arga membanding-bandingkannya dengan wanita yang dulu dia percaya sebagai sahabatnya sendiri, Maya.

Arga tidak pernah membelanya. Arga justru ikut memojokkan Nadinta agar terlihat berbakti di depan ibunya. "Makanya kamu belajar masak dong, Din. Jangan cuma pinter cari duit," begitu kata Arga dulu.

Padahal hidup mereka berdua, sebagian besar ditanggung oleh penghasilan Nadinta seorang. Uang Arga habis entah ke mana dan Nadinta sekarang tahu bahwa semua itu mengalir ke Maya.

Nadinta menghela napas berat, menahan perih di hatinya. Rasa tidak berdaya itu masih terasa nyata.

"Minggu depan, Ibu datang," bisiknya. Dia mengambil spidol hitam. Dia melingkari hari Senin itu.

TARGET: DAPUR NERAKA

Dan terakhir. Jari Nadinta bergeser ke akhir bulan. Hari Sabtu.

Reuni Akbar SMA.

Nadinta memejamkan mata. Ingatan tentang hari itu adalah yang paling memalukan dalam sejarah hidupnya.

Dulu, dia datang ke reuni itu dengan baju lama yang sudah ketinggalan zaman dan sedikit kekecilan. Wajahnya dipulas makeup seadanya karena Arga tidak memberinya uang belanja—uangnya habis dipakai Arga. Nadinta duduk sendirian di pojokan, merasa kecil, jelek, dan minder melihat teman-temannya yang sukses dan glowing.

Lalu Maya datang. Maya yang saat itu tampil cantik dan memukau. Maya merangkul Nadinta di depan geng pembully sekolah mereka dulu—geng Clara yang selalu mengejek Nadinta si "kutu buku".

Nadinta ingat betul kata-kata Maya saat itu. Suaranya yang cempreng dan sok akrab masih terngiang.

"Eh, kalian jangan jahat dong sama Nadin. Kasihan tahu, dia kan emang lagi susah. Liat deh bedaknya aja nggak rata. Baju ini aja aku yang pinjemin dulu pas kuliah, eh masih dipake sampe sekarang. Hargain dong usahanya datang ke sini."

Semua orang tertawa. Tawa yang merendahkan. Maya dianggap pahlawan yang baik hati dan dermawan, sementara Nadinta dianggap parasit menyedihkan yang tidak tahu diri. Maya "menyelamatkannya" hanya untuk menginjaknya lebih dalam di hadapan publik.

"Penyelamat palsu," desis Nadinta, membuka matanya. Sorot matanya kini tajam, dingin, dan mematikan. Tidak ada lagi ketakutan sisa mimpi buruk.

Dia mengambil spidol biru. Dia melingkari tanggal reuni itu dengan tekanan kuat hingga kertasnya sedikit sobek.

TARGET: PANGGUNG SANDIWARA, Hancurkan Maya.

Nadinta memandang kalender itu secara keseluruhan. Peta masa depannya sudah terbentang di atas meja. Tiga titik waktu yang krusial. Tiga kesempatan untuk membalikkan keadaan.

Dia tidak akan membiarkan sejarah berulang. Dia tidak akan membiarkan mereka mengambil satu inchi pun kebahagiaannya kali ini. Dia bukan lagi korban yang bisa diinjak-injak.

Nadinta menutup spidolnya. Bunyi klik terdengar tegas di ruangan yang sunyi, seperti suara kokangan senjata.

Dia meneguk sisa tehnya sampai habis, lalu berdiri. Tubuhnya terasa lebih ringan. Mimpi buruk tentang kematian di rusunawa tadi perlahan memudar, digantikan oleh rencana yang tersusun rapi dan dingin.

Nadinta berjalan menuju jendela kaca besar apartemennya, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang masih menyala di kejauhan.

"Silakan datang, masa lalu," ucap Nadinta pada bayangannya yang terpantul di kaca gelap.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya.

"Aku sudah menunggu."

1
Afriyeni
ckckck, otakmu brilian sekali nindi,, kamu pintar menggiring si Arga masuk lubang dan terjerat hutang 🤦
Afriyeni
Nindita, kamu licik banget ya. Hebat, kamu bisa berubah pintar dalam seketika 🤭
Afriyeni
hooekk.. Nindita pasti capek nih pura pura lebay dekat si Arga 😅
Blueberry Solenne
makin bangkrut si Arga
sjulerjn29
alesan ah km Rudi bilang aja gk ada ide kan?🤣
Blueberry Solenne
males banget nemu orang kek gini, sok ngatur si maya
sjulerjn29
bukan divisi kita...itu mah demi hidup mati km kali Rudi
sjulerjn29
kebayang baunya ihh..pasti langsung auto pingsan 🤭🤣
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!