Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25 - Pembicaraan Serius
"Wah, sudah ada aroma dimsum dan aroma pembicaraan serius di sini," ucap Oma sambil melirik tangan Valen yang masih menggenggam tangan Mila.
Valen tidak langsung melepas tangan Mila saat Oma Soimah masuk. Meskipun ada sedikit desiran gugup, ia tetap menggenggam jemari itu seolah ingin menyalurkan kekuatan.
Oma Soimah melangkah mendekat dengan anggun, matanya melirik piring dimsum yang masih mengepul hangat, lalu beralih ke wajah Mila yang tampak jauh lebih hidup.
"Sudah bisa makan enak rupanya," ujar Oma datar, namun tatapannya tertuju pada Valen. "Valen, kamu sudah pulang, mandi, dan kembali lagi ke sini hanya untuk mengantar dimsum? Bukannya Wangsa Cafe sedang sibuk-sibuknya?"
Valen berdiri, memberikan hormat yang sopan kepada Oma dan Bunda Selfi. "Kafe sudah ada manajer operasionalnya, Oma. Tapi Mila... dia belum ada yang menjaga hatinya agar tetap tenang menjelang sidang."
Bunda Selfi tersenyum simpul mendengar jawaban itu, sementara Oma mengangkat sebelah alisnya.
"Jangan hanya pintar bicara," sergah Oma sembari duduk di kursi yang tadi diduduki Valen. "Mila bilang padaku kemarin, dia merasa kamu hanya menjalankan 'tugas' dari ayahmu. Dia merasa cintamu itu bagian dari kontrak kerja sama antara Adiwangsa dan Hardianto."
Mila menunduk, meremas sprei kasurnya. Suasana kamar VVIP itu mendadak sunyi, bahkan Robi yang tadi asyik memperhatikan langsung pura-pura sibuk mengecek ponselnya.
Valen menatap Oma dengan berani, lalu ia berlutut satu kaki di samping ranjang Mila agar posisinya lebih rendah dari Oma.
"Oma, saya akui awalnya memang ada campur tangan Papa. Tapi rasa tidak bisa dipesan, Oma. Melodi yang saya mainkan untuk Mila tidak pernah ada di dalam kontrak mana pun. Kalau ini hanya sekadar tugas, saya tidak akan ada di sini jam dua pagi tadi untuk membereskan Bab 5-nya hanya agar dia bisa tidur nyenyak."
Mila tersentak, ia menatap Valen dengan mata berkaca-kaca. Jadi benar, dugaan hatinya tidak salah.
"Tadi malam saya bilang pada Dokter Naldy, bahwa Mila adalah calon istri saya," lanjut Valen dengan suara berat dan yakin. "Dan saya tidak pernah main-main dengan kata-kata itu, di depan siapa pun, termasuk di depan Oma."
Oma Soimah terdiam cukup lama. Ruangan itu terasa begitu tegang. Hingga akhirnya, Oma menghela napas panjang dan menepuk bahu Mila.
"Mila, dengar Oma. Laki-laki yang rela terlihat konyol, kurang tidur, dan berani menantang Oma mu yang tua ini... biasanya dia sedang tidak bersandiwara., Sayang" Oma menoleh ke arah Bunda Selfi. "Cepi, sepertinya kita harus mulai menyiapkan mental untuk hajatan besar setelah sidang Mila nanti."
Bunda Selfi tertawa kecil. "Sepertinya begitu, Ibu."
Setelah Oma, Bunda Selfi, April dan Robi keluar untuk mencari kopi di kantin bawah, tinggallah Valen dan Mila kembali berdua.
Mila menatap bungkusan dimsumnya, lalu beralih ke wajah Valen yang masih tampak lelah di balik ketegasannya. "Kak... makasih ya. Maaf aku udah sempat ragu."
Valen tersenyum, ia mengambil sepotong dimsum dan menyuapkannya ke arah Mila. "Nggak apa-apa. Wajar kalau kamu ragu karena keadaan kita memang rumit dari awal. Tapi sekarang, janji sama aku... fokus sembuh. Satu minggu lagi sidang, dan aku mau kamu berdiri di depan dosen penguji dengan kepala tegak sebagai calon lulusan terbaik... dan calon istriku."
Mila menerima suapan itu dengan wajah merah padam. "Kak Valen ih! Kenapa sih hobi banget bilang 'calon istri'?"
"Biar terbiasa, Mil. Karena aku bakal bilang itu terus sampai nanti panggilannya berubah jadi 'Istriku'," goda Valen sambil tertawa kecil, membuat suasana haru tadi berubah menjadi sangat manis.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Naldy yang baru mau masuk hanya bisa menggelengkan kepala. "Gila si Valen, jurus mautnya keluar semua," batinnya sambil tersenyum dan memilih kembali ke ruangannya, membiarkan dua sejoli itu menikmati momen mereka.
_____
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️