Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Tersembunyi
Jemima tak sempat berteriak karena tangan itu terus menariknya dengan kencang sampai akhirnya dia menemui kegelapan pekat di hadapannya.
Dia sempat berpikir, apakah seperti ini rasanya mati? Tidak ada rasa sakit, tidak ada pekik teriakan ketakutan, dan cepat.
Hanya tarikan yang dingin, kuat, dan tak memberi ruang untuk menolak.
Udara di sekitar Jemima berubah. Dingin menusuk tulang dan kosong.
Entah mengapa, kedua kelopak mata Jemima terasa berat, seolah sesuatu menahannya tetap terbuka.
Namun, rasa kosong, dingin, dan gelap yang kini menyelimuti Jemi membuatnya mengantuk.
"Semoga kita tidak bertemu lagi, Ayah. Aku lelah," bisik Jemima, lalu tangannya jatuh terkulai dan kedua kelopak matanya menutup perlahan.
Udara pengap dan serpihan debu yang beterbangan membangunkan Jemima dari tidurnya.
Gadis itu terbatuk-batuk dan perlahan membuka kedua matanya. "Uhuk! Uhuk! Apa ini di surga? Tapi, kenapa gelap sekali? Ugh, pengap sekali di sini! Uhuk! Mungkinkah aku di neraka?"
Jemima berusaha bangkit berdiri dan setelah berhasil, dia melihat ke sekelilingnya.
Tidak ada apa pun di tempat itu. "Di mana aku?"
"Halo! Apa ada orang?" Jemima berseru dengan nyaring. Namun, suaranya menggema ke seluruh tempat asing itu.
“Ah!" Tiba-tiba saja, Jemima menabrak sesuatu yang keras seperti sebuah daun pintu.
Napasnya terhenti sejenak, paru-parunya terasa seperti diremas dari dalam.
Dia meraba-raba dalam gelap, sementara tangannya mencari ponsel di kantung celananya.
Namun, dia tidak menemukan apa pun. Jemima pun tak putus asa, dia meraba sesuatu yang keras tadi dan berharap menemukan tombol lampu, tapi yang dia temukan hanya sebuah kenop pintu terkunci.
Belum menyerah, dia berjongkok dan menggapai lantai atau apa pun itu untuk mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai penerangan.
Debu beterbangan, masuk ke hidung dan tenggorokannya. Bau apek langsung memenuhi inderanya.
Bau ruangan yang terlalu lama ditinggalkan, terlalu lama terkunci, terlalu lama tidak dihirup siapa pun.
“Tempat apa sebenarnya ini?" Suara Jemima terdengar asing di telinganya sendiri. Bergema pendek, lalu mati.
Tiba-tiba saja, dia menemukan benda berbentuk tabung. Cepat-cepat Jemi meraih benda itu, memastikan apakah benda itu aman dan bisa digunakan sebagai penerang, dan ...
"Akhirnya!" Jemi memekik kegirangan saat dia berhasil menemukan senter di lantai.
Dia menyorot tempat asing itu dan sesaat, dia tersadar kalau dia berada di sebuah ruangan sempit.
Dindingnya kusam, catnya mengelupas di beberapa bagian. Lantai batu terasa dingin dan kasar di telapak tangannya. Debu menumpuk tebal, seolah tak pernah disentuh selama bertahun-tahun.
Tidak ada jendela, tidak ada perabotan, tidak ada sofa, kursi, ataupun meja.
Jemi terus berkeliling dan dia menemukan pintu yang tadi dia tabrak dan ada sebuah kaca berukir berbentuk oval di seberang pintu itu.
“Jadi, ini bukan neraka? Aku belum mati,” gumamnya lirih ke arah kaca, seolah bertanya kepada cermin cantik tersebut.
Tak ada jawaban. Jemima pun terkikik. "Aku rasa aku sudah gila karena terlalu sering dipukul Ayah."
Dia memerhatikan kaca itu dan membersihkan dengan tangannya.
Bingkai kaca itu berwarna emas kusam, dipenuhi ukiran halus yang tak dia kenali polanya, dan kaca itu satu-satunya barang yang paling bagus yang ada di tempat itu.
Jemima melangkah mendekat, berusaha melihat lebih jelas ukiran yang ada di sisi kaca oval cantik itu.
Pantulan dirinya muncul di sana. Wajahnya tampak utuh, tidak ada darah, tidak ada luka terbuka.
Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab, tapi dia masih bisa mengenali dirinya sendiri.
Dia mengangkat tangan. Pantulan itu melakukan hal yang sama.
“Apa aku bermimpi? Atau aku pingsan dan belum sadar? Atau apakah sekarang rohku yang melayang? Lalu, di mana tubuhku?" tanya Jemima sekali lagi ke arah cermin.
Pantulan itu tetap diam dan menatapnya tanpa ekspresi.
Jemima menelan ludah. Dadanya terasa sesak lagi, bukan karena sakit fisik, tapi karena sesuatu yang menumpuk terlalu lama di dalam dirinya.
“Kenapa aku selalu takut?” tanyanya pelan, lebih kepada kaca itu daripada dirinya sendiri. “Padahal aku sudah sering dipukul, sudah sering sakit. Tapi, tetap saja aku gemetar setiap kali Ayah mengangkat tangan.”
Pantulan itu tetap menatapnya. Lalu, bibirnya bergerak. “Apa kau berharap dia akan berhenti?”
Jemima tersentak. Napasnya tercekat. “Apa?”
Pantulan itu berbicara dengan wajah yang sama persis dengannya, suara yang sama, nada yang sama, hanya lebih datar. “Kau takut karena di dalam dirimu masih ada bagian kecil yang berharap dia akan berhenti memukulmu dan menerimamu dengan penuh kasih."
Kaki Jemima melemas. Dia berpegangan pada dinding agar tidak jatuh.
Dia tidak takut pada pantulan di cermin yang seolah bisa menjawab kelemahannya. Tetapi, dia takut pada kebenaran dari jawaban si cermin ajaib itu.
“Kalau begitu, ...” suaranya bergetar, “Kenapa aku tidak pernah berani untuk melawan?”
Pantulan itu menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. “Karena kalau kau melawan berarti kau mengakui bahwa hidupmu berharga.”
Air mata Jemima jatuh tanpa dia sadari. “Dan aku tidak pernah merasa hidupku seberharga itu,”
Ruangan terasa semakin sunyi. Debu-debu di udara perlahan turun, seolah ikut mendengarkan.
Jemima mengusap wajahnya kasar. “Kenapa aku ingin mati semalam?”
Pantulan itu tak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu terasa seperti menit.
“Karena mati terdengar lebih mudah daripada hidup tanpa tujuan," jawab pantulan dirinya di cermin.
Jemima tertawa kecil, pahit. “Kapan terakhir kali aku bahagia?”
Kali ini, pantulan itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Jemima lama.
Jemima pun terdiam. Dia sendiri tidak tahu kapan dia bahagia atau apakah dia pernah merasakan bahagia.
Kaki gadis itu akhirnya menyerah. Jemima duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding dingin.
Kepalanya terasa berat. Tubuhnya benar-benar lelah, bukan hanya hari ini, tapi bertahun-tahun.
“Aku lelah. Entah kenapa tapi aku merasa lelah sekali hari ini," gumamnya sambil memejamkan kedua mata.
Dia tidak tahu berapa lama dia tertidur. Mungkin hanya beberapa menit atau mungkin lebih lama.
Saat Jemima membuka mata kembali, dia sudah terbaring di atas ranjangnya.
Langit-langit kamar yang retak menyambutnya. Bau alkohol masih samar di udara. Semuanya tampak sama seperti biasa.
Jemima segera duduk dan membuka jendela. Namun, langit masih gelap dan jam tidak berubah sedetik pun. "Apa aku bermimpi? Mimpi macam apa itu? Kenapa terasa panjang sekali?"
***