Bagi Adelia pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan sekali seumur hidup, menikah dengan pria kaya raya dan tampan adalah keinginan setiap wanita dan begitu juga dengan Adelia.
Tapi dia harus menerima kenyataan pahit saat mendiang ayahnya tiba-tiba menyuruhnya untuk menikah dengan seorang pria cacat dan miskin, rasa takut dan jijik terus terngiang-ngiang di benak Adelia ketika melihat wajah suaminya yang mengelupas akibat luka bakar.
Tapi siapa sangka, di balik wajah buruk rupanya. Sosok Haris adalah pria yang baik dan memperlakukan Adelia dengan lembut.
Lalu apakah Adelia akan membuka hatinya untuk Haris dan menerima segala kekurangan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu pada diri sendiri
Adelia terbangun dengan mata yang menatap ke seluruh penjuru kamar tapi dia tidak menemukan keberadaan Haris dimana pun.
"Kemana dia?" Gumam Adelia dengan tubuh yang lelah dan lemas.
Banyak bekas tanda cinta dari Haris di leher dan juga dada Adelia, wanita itu pun langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
Setelah selesai mandi, Adelia masih tidak menemukan keberadaan Haris. Pria itu seakan menghilang di telan bumi, "Kemana mas Haris pergi."
Adelia mulai keluar dari kamar, tapi dia masih tidak menemukan keberadaan Haris. Hingga tanpa di sengaja Adelia menabrak seorang pria, "Maaf."
Saat Adelia melihat wajah pria itu, rupanya itu adalah Dave. "Nona Adelia." Sapa Dave dengan senyuman di wajahnya.
"Pak Dave, senang bertemu denganmu."
"Aku juga senang bertemu denganmu, bagaimana apa kau suka hadiah kompensasi yang ku berikan."
"Iya saya sangat berterima karena Pak Dave memberikan hadiah yang sangat bagus untuk saya dan suami saya."
"Syukurlah jika kau suka, aku hanya bisa meminta maaf atas apa yang telah terjadi kepada mu dan juga suami mu. Aku sungguh tidak tahu, jika Raisa akan sangat nekat melakukan hal itu."
"Tidak apa-apa Pak Dave, lagi pula sekarang kondisi suami saya sudah membaik."
"Baguslah, bagaimana jika kita makan? Aku yakin kau belum makan."
"Emm.. Nanti saja Pak Dave, saya sedang mencari suami saya."
"Kenapa harus di cari, mungkin suami mu sedang melihat pemandangan dan lagi aku tidak suka penolakan."
"Baiklah Pak Dave."
Adelia hanya bisa menuruti apa yang di katakan oleh Dave karena dia merasa tidak enak, pasalnya pria itulah yang telah memberikan kesempatan bagi Adelia untuk berlibur di kapal pesiar mewah ini.
Kini Dave tengah makan bersama dengan Adelia, wanita itu nampak menikmati setiap hidangan yang di sajikan. Dave yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis, dia sangat ingin menggoda istri kecilnya itu tapi Dave harus bersabar.
"Bagaimana dengan makanannya, apa kau suka?"
"Iya Pak Dave, makanannya enak dan saya suka."
Adelia nampak tidak nyaman dengan keadaannya saat ini, dia malah makan bersama dengan pria lain sementara suaminya tidak ada entah kemana.
"Sepertinya nona Adelia telah melewati siang hari ini dengan kegiatan panas." Dave tersenyum tipis saat melihat tanda merah di leher Adelia.
Adelia langsung terdiam dan perlahan menutupi area lehernya, "Tidak perlu sungkan, lagi pula hal itu sudah biasa. Terutama sepasang suami istri." Sambung Dave dengan tangan yang sedang memotong steak di depannya
Adelia hanya bisa tersenyum menahan malu, setelah selesai makan Adelia langsung berpamitan kepada Dave untuk kembali ke dalam kamar.
Saat di dalam kamar Adelia terus menunggu Haris datang dan tidak beberapa lama suaminya itu pun datang.
"Kamu darimana saja?" Haris tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"Aku tadi nyari kamu, Mas. Lalu aku tidak sengaja berpapasan dengan Pak Dave dan dia mengajakku untuk makan bersama."
"Hanya berdua saja?" Haris tiba-tiba memasang ekspresi tidak suka.
"Iya.." Jawab Adelia ragu saat mendengar suara Haris yang seakan marah.
"Oh."
"Kamu marah, Mas?"
"Tentu saja, kenapa kamu tidak mencari ku dulu? Kan bisa kita makan bersama, kenapa harus makan berdua dengan pria itu."
"Maaf, aku tadi sudah mencari mu tapi aku tidak menemukan keberadaan mu, dan saat aku ingin kembali mencari mu untuk mengajak makan. Pak Dave malah menghalangi ku."
"Jadi kau lebih menurut pada pria itu?"
"Bukan begitu, Mas. Tapi tadi kamu ke mana sih?"
"Aku ada di luar sedang melihat pemandangan lautan."
"Terus kenapa kamu malah pergi ninggalin aku begitu saja."
"Iya karena kamu sedang tidur, lalu kenapa kamu menerima tawaran makan bersama pria itu?"
"Iya karena aku merasa tidak enak jika menolak tawarannya, lagi pula karena dia kita bisa di sini."
"Jadi kamu tidak enak menolak tawarannya? Tapi kamu tidak memikirkan perasaan ku?"
"Hah? Kamu ngomong apa sih mas, kok malah bawa-bawa perasaan." Adelia heran dengan apa yang Haris katakan.
"Tentu saja, memangnya suami mana yang suka melihat istrinya malah makan berduaan dengan pria lain."
"Aku gak bermaksud gitu, Mas."
"Lalu apa?"
"Intinya aku gak bermaksud buat nyakitin kamu, mas. Aku minta maaf.."
"Ya sudah, tapi jika pria itu mengajakmu makan berdua lagi kau harus mengajak ku, aku tidak mau melihat istri ku yang cantik jelita ini malah berduaan dengan pria lain." Omel Haris.
"Baik mas."
Haris pun langsung memeluk Adelia meski di dalam hatinya dia ingin tertawa karena jika dia sudah menjadi Dave, Adelia tidak akan pernah bisa menemukan dirinya hingga ke setiap sudut kapal sekalipun.
"Apa mas sudah makan?"
"Sudah tadi, aku makan di kamar."
"Kenapa?"
"Kau juga tahu kan, bagaimana wajah ku. Aku tidak mau membuat orang-orang merasa jijik."
Adelia langsung membelai wajah suaminya dengan lembut, "Mas jangan katakan hal seperti itu lagi, bagi ku wajahmu itu adalah yang paling tampan."
"Mungkin setelah ini kita harus ke dokter mata."
"Hah untuk apa?" Adelia mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Haris.
"Tentu saja untuk memeriksa mata mu, sayang. Aku yakin kau mengalami gangguan pada penglihatan, bahkan kau menyebut orang jelek seperti ku dengan sebuah tampan." Haris tertawa ringan seraya membelai wajah istrinya.
"Apaan sih mas, memangnya kalau tampak harus di lihat dari segi wajah. Bagi ku, dengan perlakuan mu yang sangat baik ini itu sudah cukup bagi ku."
Perlahan Adelia mencium bibir suaminya dengan lembut dan begitu juga dengan Haris, pria itu menatap istrinya dengan tatapan lembut dan juga senang.
"Kau tahu, hidup ku sangat bahagia bisa bisa bersamamu. Wanita yang mencintaiku tanpa melihat fisik ku dan kekurangan ku." Haris mulai membelai wajah Adelia yang sangat cantik dan juga lembut.
"Aku juga bahagia, Mas. Bisa hidup bersamamu, orang yang sangat lembut dan juga baik."
apa ada developer di alam nyata yaa🤩🤭
semangat authour aku dah kasih 5 bintang🤩💪💪
next thor
aduh harwadang thoorrr..