Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: KARTU AS
Kebersamaan Anggun dan Beem di ruangan VIP berselimut kemesraan. Sementara di dalam hingar bingar suara musik berdentum keras dengan barisan minuman beralkohol terpampang rapi di rak kayu. Tidak peduli matahari masih terang benderang, tetap saja banyak orang hilir mudik memasuki rumah bertingkat dua itu. Sebuah pemandangan biasa bagi para pencari nikmat surga dunia.
Namun, di balik hingar bingar itu ada dua orang yang tengah berdebat hebat tanpa ada yang mau mengalah. Hingga menimbulkan keributan, membuat beberapa pengunjung merasa terganggu.
"Hey! KELUAR! Kami mau bersenang-senang, bukannya mendengar rengekan anak kecil seperti mu." seru salah satu pengunjung.
Seorang pria dengan penampilan kacau berjalan menghampiri pengunjung yang menghinanya dengan berteriak asal bicara. "Apa katamu? HAH! Aku hanya ingin tahu dimana wanita itu menjual istriku. Apa kamu pikir aku merengek?"
"Duo K! Singkirkan Akbar dari rumah podjok!" titah Mamca tak ingin melayani pria sableng yang tiba-tiba saja datang dan memaksa untuk mengatakan keberadaan istri yang terjual beberapa waktu lalu.
Akbar kembali menghampiri Mamca seraya menyambar sebotol wine dari atas meja bundar. Tak ingin kehilangan kesempatan sekecil apapun. Botol dibenturkan ke lantai hingga pecah dengan wine menggenangi sebagian lantai. Ia menodongkan botol itu ke Mamca. "Apa kamu lupa, siapa aku? Aku Akbar Wijaya. Jangan kamu pikir, aku tidak bisa merobohkan rumah kebanggaan mu yang selalu menjadi tempat ku bersenang-senang. Kamu tidak lupa dengan kartu AS mu bukan?"
Glek!
Ancaman Akbar. Sukses membuat wanita berdandan super menor itu tersedak salivanya sendiri. Mana mungkin dirinya lupa atas semua jasa pria yang kini berdiri dengan todongan botol runcing. Tatapan bringas pelanggan setianya tak bisa lagi menutupi rasa takut dan pasrah seorang Mama Cantika. Tak ingin ada yang tahu sisi lain dirinya, membuat ia menangkupkan kedua tangan seraya memberikan tatapan memelas.
"Okay, kita bicarakan ini baik-baik. Kita bicarakan di dalam ruangan ku. Bagaimana?'' Mamca mencoba bernegosiasi dengan Akbar.
"Huft, gak dari tadi gitu? Percuma buang tenaga seperti pengemis. AYO CEPATLAH!" Akbar mengibaskan tangan yang masih saja tak melepaskan botol dari tangannya.
Terlihat duo K si bodyguard Mama Cantika ikut bergerak dari posisi mereka. Hal itu membuat Akbar memberikan tatapan tajam. "Kalian mau kemana? Tetap diam di tempat!''
"Ikuti apapun perintah Akbar. Aku bisa urus diriku sendiri." Mamca memberikan isyarat agar semuanya tidak ikut campur.
Tak ingin membuat masalah baru. Kini langkah Mamca di ikuti Akbar, sedangkan duo K menjaga para pengunjung agar tidak lagi mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi. Rumah podjok adalah rumah bordir dengan bangunan dua lantai. Kemewahan serta kesenangan sudah pasti akan ditemukan di tempat itu, baik wanita, minuman ataupun permainan.
Mamca berhenti di depan sebuah kamar terbesar dari seluruh kamar yang ada di rumah podjok. Tangannya bergegas memasukkan kunci, lalu mendorong pintu agar terbuka. "Masuk!"
Pria itu melangkah masuk ke kamar bernuansa merah merona, diikuti Mamca yang kembali menutup pintu, dan langsung di kunci kembali. Anehnya Akbar terlihat santai tanpa merasa terancam meskipun hanya tindakan wanita itu patut di curigai.
Tanpa basa-basi, Mamca berjalan menghampiri Akbar. Dimana pria itu berdiri di depan ranjangnya. "Kamu tahu syaratnya bukan? Apa permainanmu masih sama? Aku lupa rasa sentuhan mu."
"Apa ini waktunya? Ayolah, aku ingin tahu dimana Ara sekarang." protes Akbar melemparkan botol ke tempat sampah di sisi kanan dekat sofa.
Mamca menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Hal itu membuat Akbar harus bersabar sedikit lagi. Tanpa basa basi, ia mengulurkan kedua tangannya. Lalu menyambut Mamca dengan senyuman nakal. "Berapa ronde?"
Pertanyaan Akbar menerbitkan senyuman haus belaian Mamca. Wanita itu langsung membungkam bibir pria di depannya dengan rakus. Pagutan saling berebut start di iringi bersamaan tangan nakal bermain tanpa aba-aba. Ntah siapa yang memulai, hingga dalam hitungan menit. Semua benang berpindah menjadi selimut lantai.
"Ouuh, tubuhmu semakin kekar saja." puja Mamca dengan tatapan terpesona disaat sukses membuat Akbar polos seperti bayi.
"Sudah puas? Jika iya, aku bisa....,"
Tak ingin mendengarkan kata yang selalu menjadi perdebatan. Mamca mendorong Akbar hingga pria itu telentang di atas ranjang. Tatapan nakal keduanya saling terpaut. Satu tindakan menjadikan mereka seperti pasangan mesum.
Pergulatan panas dengan suara derit ranjang bergoyang mulai memenuhi kamar itu, dan diliputi suara ******* yang meneriakkan kenikmatan. Peluh saling menyatu tanpa ada pembatas apapun. Setiap tarikan nafas saling beradu menerpa hawa panas.
"Eeemmmppptttt....,"
"Tahan, ini baru permulaan." bisik Akbar semakin gencar menambah ritme permainannya, membuat Mamca mengangguk tanpa penolakan.
Tak ada yang tahu kegilaan kedua insan itu karena mereka berdua sendirilah yang tahu hubungan sejauh apa dan sedalam apa di antara keduanya. Semua berpikir Akbar menjadi pelanggan setia karena berjudi dan bermain wanita. Namun, kebenarannya hanya satu. Pria itu menjadi pelampiasan hasrat Mamca sejak awal rumah podjok dijadikan rumah bordir.
Pergulatan panas tak mampu ditolak keduanya. Hingga selama tiga jam, Akbar memberikan permainan terbaiknya untuk menggempur Mamca tanpa ada jeda selain berganti posisi permainan. Bahkan benihnya pun tersembur ke dalam rahim wanita itu berulang kali.
Cup!
"Kamu hebat, selalu memuaskan setiap kali memberikan pajak service. Apa kamu tidak takut aku hamil?" tanya Mamca.
Akbar yang masih mode kelelahan hanya mendengar ocehan wanita itu tanpa berniat menjawab. Butuh usaha keras untuk memuaskan wanita seperti Mamca. Bahkan satu ronde saja tidak akan berpengaruh bagi wanita itu, untung saja sebelum berangkat ke rumah podjok dirinya sudah mengkonsumsi obat kuat.
"Baiklah. Seperti kesepakatan biasanya, aku berikan keinginanmu. Ara sudah di beli oleh seorang tuan muda. Ntah siapa namanya, tapi tenang saja. Mantan istrimu itu sudah hidup mewah."
"Dimana aku bisa menemukan orang itu?"
Sukses bwt karyanya