NovelToon NovelToon
Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Bareta

Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.

Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.

Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.

Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.

Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Arti Persahabatan

“Gue nggak butuh elo jadi kakak atau pengganti papa,” tutur Bianca sambil tersenyum manis menatap Arya.

Arya yang memang menaruh hati pada Bianca merasakan getaran tidak menentu di hatinya. Mendapatkan senyuman Bianca yang membuat gadis pujaannya bertambah manis membuat Arya jadi galfok.

“Cukup elo jadi sahabat gue kok, Ya. Jangan ngambek dan menghindari gue lagi gara-gara gue nggak bisa membalas perasaan elo.”

“Gue nggak marah kok sama elo.”

“Yakin ?” Bianca mencebik lalu tertawa pelan. “Papasan sama gue aja di sekolah buang muka. Mana ada kalo kagak mode ngambek kalo gitu.

“Yaaa gue… Gue…” Arya bertambah gugup sampai begitu sulit menjawab pertanyaan Bianca.

“Elo sengaja menghindar supaya bisa membuang perasaan elo. Gitu ?” cecae Bianca.

Arya tidak menjawab. Tangannya langsung menyambar sebotol air mineral yang sempat dibawakan Bianca sebelum mereka mulai ngobrol di teras. Ditenggaknya air kemasan itu hingga separuhnya.

“Wajar kok Ya kalo elo menjauhi gue yang nggak bisa membalas perasaan elo. Tapi untuk masalah papa, buang-buang jauh rasa bersalah dan keinginan untuk bertanggungjawab atas hal yang nggak elo lakukan. Jadilah Arya apa adanya. seorang Arya yang kelihatan dingij dan sombong tapi sebenarnya sangat perhatian dan tulus.”

Bianca menatap wajah Arya dengan tatapan teduh. Arya berusaha menenggak minuman kemasan kembali.

“Awas kembung,” Bianca tertawa. “Elo bisa grogi juga ya ?” Tawa Bianca semakin kencang yang membuat Arya ikutan tertawa dengan pahit.

“Duh seru amat nih,” Mia muncul di pintu dengan satu toples kue kastengel.

“Elo kepanasan Ya ? Kok mukanya merah banget,” Della yang ikutan keluar langsung mengomentari wajah Arya yang menahan malu karena digoda Bianca.

“Iya mulai panas ya,” Arya mengibaskan kemejanya yang masih terkancing sempurna sambil sekali-sekali bibirnya meniup-niup ke bagian dalam kemeja.

“Ya masuk aja kalo gitu.” Della melebarkan pintu dan mengajak kedua temannya masuk sementara Mia masih asyik menikmati kastengel di pintu.

“Pamali makan di depan pintu,” Bianca yang beranjak bangun dan mau masuk emnyempatkan menyentil pelan kening Mia.

“Makan di dalam neng, berat jodoh baru tau rasa lo,”

Della mencebik ke arah Mia sambil mengikuti langkah Bianca masuk.

Sesudah Arya masuk, Mia menyusul di belakangnya. Pintu masuk dibiarkan terbuka agar semakin banyak angin yang masuk. Keempatnya duduk di ruang tamu. Tidak lama terdengar panggilan dari pagar dari pengantar makanan online yang dipesan Mia dan Della. Bianca beranjak bangun hendak mengambil pesanan mereka namun dicegah oleh Della.

“Udah gue aja.”

Bianca pun akhirnya melangkah ke dapur, menyiapkan peralatan makan dan gelas untuk Arya dan dirinya karena di meja makan sudah ada 2 gelas yang sudah dipastikan milik Mia dan Della.

Mia, Della dan Arya sudah menyusul Bianca ke ruang makan sambil membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman pesanan mereka. Arya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ini kedua kalinya dia masuk ke dalam rumah Bianca. Sudah tiga kali datang ke rumah Bianca, namun baru dua kali masuk ke dalamnya.

Pandangannya terhenti pada foto keluarga yang terpasang di ruang keluarga. Melihat foto papa Indra yang terlihat bahagia dan lebih muda dari sekarang. Perasaan sedih menjalar di hatinya. Sudah dua minggu kepala keluarga rumah ini terbaring di ruang ICU dan belum ada tanda-tanda sadar.

“Arryaaa !” Pekikan suara Mia membuyarkan lamunan Arya.

“Astaga Mia,” Arya menggosok-gosok daun telonganya. “Itu suara apa gledek sih ?” Arya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Habis gue sama Della udah panggil-panggil elo lebih dari tiga kali kagak di denger juga,” Mia melotot.

“Heran, jadi cewek kagak ada kalem-kalemnya,” gerutu Arya sambil berjalan ke meja makan.

“Della tukeran tempat duduk,” Arya masih mode kesal meminta Della yang sudah duduk di sebelah Bianca bertukar tempat dengannya.

“Ogah gue duduk deket gledek, takut kesetrum,” umpat Arya.

“Apa lo bilang ?” Mia dengan nada melengkingnya melotot sambil memukul bahu Arya. Laki-laki itu reflek menutup kedua telinganya.

“Gue belum budek Mia,” Arya balas melotot.

Keduanya masih beradu mata melotot sambil memajukan mulut. Aksi keduanya membuat Della dan Bianca yang sudah duduk di seberang mereka jadi tertawa ngakak.

“Wooiii awas tuh mata dari marah jadi cinta,” goda Della.

“No !” Keduanya kompak menjawab dengan keras.

“Waahh jodoh beneran nih kayaknya,” goda Bianca.

“Ogah banget sama cewek modelan begini. Udah kayak gledek, mata kayak koi. Kan selera gue ya elo lah Bi,” tutur Arya santai sambil menarik kursi di seberang Bianca.

“Apa lo bilang ?” Mia masih melotot. “Bianca nya kagak selera sama elo,” Mia mencebik.

“Udah aahhh makan dulu napa… Gue dah laper banget habis jaga malam.” Bianca mengibaskan tangannya di antara Mia dan Arya. Tangannya meraih salah satu kotak dengan tulisan makanan kesukaannya.

“Elo mau makan apa Ya ?” Tanya Bianca saat dilihatnya laki-laki itu hanya menatap beberapa kotak makanan yang ada di meja.

“Gue dipesenin apa ?” Arya balik bertanya.

“Apa aja boleh Ya, gue sama Mia udah ambil pesenan kikta kok,” Della yang menjawab.

Akhirnya Arya menganbil salah satu kotak bertuliskan ayam bakar.

“Ya, gue kagak nyangka elo bisa bawel juga ya. Bisa berantem juga sama cewek,” Della bicara di sela-sela suapannya .

“Ya bisalah,” jawab Arya santai.

“Selama ini kok kayak kagak mau gaul sama cewek-cewek di sekolahan ?” Bianca yang bertanya sekarang.

“Repot kalo punya muka cakep, nanti baik sedikit bikin anak orang baper terus salah persepsi.”

Uhhuukkk uhhhuukkk…

Mia yang ada di sampingnya langsung tersedak. Arya reflek menepuk-nepuk bahu Mia dan menyodorkan segelas air putih. Kondisi itu membuat Della dan Bianca saling bertukar pandangan dan tersenyum.

“Makanya jadi cewek kaleman dikit napa sih ? Makan gini aja udah keselek.” Omel Arya.

“Dih siapa juga yang buru-buru,” Mia melotot kembali menatap Arya. “Geli gue denger omongan elo yang over percaya diri banget.” Mia mencebik.

“Lah memang iya kan ? Gue dan sobat-sobat gue yang elo pada bilang Lima Sekawan sadar diri kok kalo kita termasuk most wanted.”

“Wuueekkk,” Mia pura-pura muntah dengan eskpresi menyebalkan .Tangannya mengetuk-ngetuk meja.

“Dih bener-bener amit-amit kenal cowok over pede kayak elo.”

“Jadi selama ini kalian sengaja tepe tepe gitu ?“ tutur Della setengah mengejek.

“Mana ada sengaja sih, kan memang udah bawaan orok.”

Mia kembali mencobir dan Della geleng-geleng kepala sementara Bianca tidak bisa menahan tawanya.

“Stop deh Ya,” Bianca mengangkat tangan di sela tawanya meminta Arya berhenti.

“Asli kenal sama elo 3 tahun ini kagak nyangka kalo aslinya elo kayak begini.” tutur Bianca masih tertawa.

“Gue juga kagak sangka sih,” Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Mia dan Della bertukar pandangan melihat kelakukan Arya dan akhirnya tawa mereka meledak juga. Ketiga gadis itu ngakak melihat ekspresi Arya saat ini.

“Kayaknya elo begini karena kelamaan sendiri,” ledek Mia.

“Eh gue sebenarnya punya adik,” Arya menjawab lalu mengambil minuman boba yang diberikan oleh Bianca.

“Gue sama Devano sama-sama punya adik perempuan yang seumuran juga. Mereka berdua sekolah di Sydney.”

“Beneran Devano punya adik cewek ?” Della menatap Arya dengan ekpresi tidak percaya.

“Iya,” Arya mengangguk. “Malah awalnya gue mau dijodohin sama adiknya Devano. Atau kalau gagal ya Devano sama adik gue.”

“Dih kelakuan orang kayak sampai jodoh aja musti diatur ya, biar aman sama-sama bibit unggul,” cibir Mia.

“Kagak tau deh pemikiran orangtua. Tapi rencana ini ternyata nggak mendapat persetujuan dari nyokapnya Devano. Beliau maunya anak-anak diajar tanggungjawab buat menentukan pilihan.”

“Mertua idaman,” Mia langsung berkomentar dengan mengerjapkan matanya.

“Eh elo mau nikung teman sendiri ?” Della melemparkan lalapan timun ke arah Mia.

“Della iihh, jorok tau !” Mia membuang timun yang jatuh di atas kotak makannannya.

“Lagian omongan elo sama asalnya kayak Arya.” Della tertawa melihat ekspresi Mia.

“Eh tapi beneran elo sama Devano punya adik yang seumuran ? Kenapa pake sekolah di Sydney aja bukan di Jakarta ?” Della bertanya penasaran.

“Awalnya adiknya Devano aja yang ke sana. Diana namanya, punya penyakit jantung bawaan. Waktu pas SD sih sekolah di Indo berobat nya ke Singapura yang deket karena harus bolak balik.”

Arya menjeda sambil meminum bobanya kembali.

“Pas SMP sempet kambuh lumayan parah sampai akhirnya nunda sekolah setahun. Detailnya gue nggak terlalu jelas, tapi dipindahkan ke sana untuj berobat lanjutan sekalian temenin opa omanya. Kalo adik gue, karena udah deket banget sama adiknya Devano malah kayak anak kembar, ngotot minta pindah ke sana juga nemenin. Tapi kalo adik gue baru kelas 2 SMP pindah ke sananya.”

“Adik lo siapa namanya Ya ?” tanya Mia.

“Arini.”

“Gue akan lanjut kuliah ke Sydney juga, bokap udsh aturin semuanya. Siapa tau aja ketemu.”

“Eh lo kira Sydney segede komplek rumah elo doang ?“ ejek Della.

“Dih kan gue bilang siapa tau.”

“Ada fotonya nggak, Ya ? Kasih lihat noh ke Mia biar kagak penasaran.”

Arya mengambil handphonenya dan mencari media sosial milik adiknya. Setelah menemukan dia memilih salah satu postingan foto yang ada di akun Arini.

“Dih nyokap bokap elo kagak kreatif banget ya,” celetuk Mia.

“Maksud lo ?” Arya mengernyitkan dahinya.

“Tuh lihat aja mukanya sebelas duabelas sama elo,” Mia menunjukkan foto yang ada di handphoe Arya kepada Della dan Bianca

“Kreatif dikit napa. Kalo pepatah bilang kayak pinang dibelah dua.”

“Haiizzz tumben banget elo pinter Mi,” ejek Della kembali. “Lulus SMA baru pinter tuh pelajaran Bahasa Indonesia. Ujian kagak nembak doang kan Mi ?”

Mia mencibir kesal menanggapi godaan Della.

“Elo aja yang kagak sadar kalo emang gue pinter ari sononya.” Mia membusungkan dadanya dengan wajah sumringah.

Arya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan gadis di sebelahnya ini yang sepertinya memang agak minus. Bianca yang duduk di seberangnya hanya tertawa sementara Della berakting ingin muntah.

Akhirnya jam 2 siang, ketiga teman Bianca itu pamit. Ketiganya melihat Bianca beberapa kali menguap. Mereka mengerti bahwa Bianca pasti kurang tidur karena dapat tugas jaga malam di rumah sakit.

Sampai di pintu Arya mengulurkan tangannya kepada Bianca dan membuat gadis itu menautkan kedua alisnya.

“Eh lo kira kondangan apa Ya ?” Cela Mia.

“Kagaklah,” protes Arya sambil menatap Mia. “Salam sahabat. Terima kasih gue udah diajak gabung sama elo bertiga.”

“Iiihhh siapa yang buka kesempatan nambah personil ?” Protes Mia.

“Bi, thanks ya udah mau terima aku sebagai sahabat kamu,” Arya tetap cuek dan menarik jemari Bianca dalam genggamannya. Ditepuk-tepuknya punduk

tangan Bianca.

“Inget ya, nggak boleh sungkan kalo memang elo ada kesulitan apa-paa bahkan masalah uang. Gue..”

“Iya,” potong Bianca cepat sambil tersenyum.

“Udah sana pada pulang, gue mau bocan dulu. Jam 5 gue musti balik ke rumah sakit.” Bianca menarik tangannya dan mendorong Arya menuju pagar.

“Gue jemput dan antar ke rumah sakit ya ?” Arya berhenti dan menoleh ke Bianca.

“Nggak usah, terima kasih.” Bianca menggeleng. “Gue boncengan sama Bermard, sekalian baliknya dia bisa ajak mama.”

Arya masih menatap Bianca berharap tawarannya diiyakan tapi Bianca malah kembali mendorong tubuh Arya supaya segera pulang.

“Bye bye Bibi Bian,” Mia melambaikan tangannya di samping pintu sebelah kemudi.

Bianca yang mulai merasakan matanya bertambah berat hanya membalas lambaian tangan Mia, Della dan Arya. Setelah menggembok pagar, Bianca kembali masuk tanpa menunggu ketiganya benar-benar berlalu. Raaa kantuknya membuat Bianca menjatuhkan diri di sofa ruang keluarga setelah sebelumnya dia memasang alarm di handphone biar bisa terbangun jam 16.30.

“Terima kasih Tuhan atas sahabat-sabahat yang begitu baik.” batin Bianca sambil memejamkan mata.

1
Eliana Siswanto
suka,gaya bahasanya enak jd merasa ikut didlm cerita,,👍👍💪
Baretta: Terima kasih kak Eliana Siswanto😊🙏🙏
total 1 replies
tutut wahyuningsih
bagus banget ceritanya 👍❤️
Baretta: Terima kasih kak Tutut Wahyuningsih 😊🙏🙏😍
total 1 replies
Ditha Maherani
Duka banget deh kak 🥰
Baretta: Terima kasih banyak Kak Ditha 😘🙏🙏
total 1 replies
Ranum Laraswati
sumpah paling gak enak tu kalo nagis di malam hati rasa nya tu kayak pengen teriak tapi gak bisa nyesek😭
Ranum Laraswati
plis kok lagu"nya mendukung banget ya
Ranum Laraswati
lagu yang pertama yang judul nya selamat jqlam kekasih gak nyangka bagus banget
Ranum Laraswati
agak kesel juga sih sama bianca kenapa dia masih bisa baper dan suka sama devan minimal jual mahal dikit bianca😭😭kan lo dari malu gara gara si devan
Ranum Laraswati
bi mending sama arya udah ganteng tajir pulak emang sih alur nya sama devan tapi kan devan gak suka bianca mending sama yqng pasti pasti aja
Riki DuaTujuh
semoga desta botuna yg menang 🤣🤣
Riki DuaTujuh
semangat botuna
Puji Astuti
kalo Arya yang nyuruh kenapa waktu di cafe Arya seakan2 gak suka sama tindakan Revan yang kadih bunga
Ira
keren
nana supriyatna
Luar biasa
Endah Setyati
😭😭😭😭😭
Herman Lim
kyk Revan tuh mata2 devano
Nacita
anjrit parah 🤣
Nacita
dua2nya pengen gue ulek jd sambel
Nacita
dah pada tua juga masih kekanakan sih mereka ini, kalah sm bocah dahhh s sella sm s andre 😌
Baretta
Terima kasih sudah mampir di novel saya Kak 😊😊🙏🙏
Nacita
dasar sableng 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!