Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.
Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.
Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.
.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAVA MABUK.
Tinggggg….
Pintu Lift terbuka, Rava terkaget, “Renata.”ucapnya.
Renata sedang berada di depan Lift, bersama Albert. Pria yang ia kenal di pesawat dengan dirinya, Albert dan Renata sedang berbincang bersama dan tersenyum, ketika pintu lift terbuka dan suara Rava terdengar di indera pendengarannya, senyum Renata menggantung dengan tatapan kagetnya.
“Rava,” ucap Renata, “Agh.. Ayo Al, kita masuk. Mungkin Rava, sebelumnya mau ke Apartermenku. Tapi.. karena kita mau keluar, pasti Rava mau pulang tuh, Benarkah Rava?”
Rava masih terpaku menatap keduanya, lalu dengan gugup menjawab, “Egh iya…” balas Rava, di ikuti dengan Albert dan Renata berjalan masuk, dan berdiri di depan Rava. Albert sendiri, tidak menyapa sama sekali, membuat Rava sedikit terhina dengan sikap pria yang di samping Renata, lebih tepatnya di depan Rava.
Hanya keheningan yang ada di dalam lift, sedangkan Renata, mencoba melirik ke arah Rava dan menjulurkan lidahnya seakan mengejek Rava, yang seperti orang bodoh itu.
Tingggg…
Pintu lift kembali terbuka, membawa mereka di lantai dasar lobby Apartemen, kemudian berjalan menuju pintu keluar, di dikuti oleh Rava yang masih membisu. Tampangnya yang memakai sandal jepit itu, tidak mengurangi rasa percaya dirinya. Sesampainya di pintu keluar, Renata meminta izin sebentar ke Albert.
“Hati-hati di jalan, maaf sudah merepotkanmu,” ucap Renata tanpa memandang perasaan kecewa yang tergambar jelas di raut wajah Rava, kemudian hendak melangkah bersama Albert menuju mobil Albert. Dengan cepat Rava menarik tangan Renata, dan menghentikan langkahnya.
“Aku,ikut.” Ucap Rava dengan tegas.
“Rava… kau tidak salah bicara?” tanya Renata dengan bola mata yang menatap aneh ke Rava.
“Aku harus ikut! Kemanapun kau pergi, aku harus ikut. Ini sudah tugasku, untuk menjagamu selama berada di sini.” Rava menatapnya tajam.
“Tapi… kau bukan pengawal apa lagi kekasihku, Rava.” balasnya dengan menepis tangan Rava.
“Anggapa saja aku kakakmu, kalau kau tidak mengizinkan aku ikut, aku akan memaksa!” ancan Rava.
Albert yang memperhatikan keduanya, ikut mendekati Renata, “Biarkan saja, dia ikut. Bukankah dia ini temanmu? Rena?”
Renata melirik sekilas ke Albert dan menoleh ke Rava dan juga sandal jepitnya, “Terserah kau saja,” ucapnya ke Rava lalu berjalan ke arah mobil Albert, dan di ikuti oleh Albert. Rava sendiri masih menatap ke Renata, lalu dengan cepat berlari masuk ke mobilnya, mengikuti mobil Albert dari arah belakang.
Suasana di mobil Albert, keduanya saling tertawa bersama dan bercanda bersama, sedangkan suasana mobil Rava, “Sialan! Apa dia benar-benar sudah tidak mencintaiku? Sepertinya dia sedang menikmati kebersamaannya dengan si Albert itu.” ucapnya seraya melirik ke arah Renata yang duduk di depan, padahal kacanya tidak bisa kelihatan dari luar.
Beberapa menit kemudian, ketiganya tiba di salah satu resto termewah yang ada di Negara tersebut, Renata melirik Rava yang tanpa malu itu mengikuti keduanya. Dengan cepat si Albert menarik tangan Renata dan menggenggamnya mengajaknya untuk masuk. Rava yang melihat itu, merasa kepanasan.
“Sabar, Rava, kenapa kau marah? Bukankah kau tidak menyukai, anak manja itu!” gumamnya dalam hati.
Lalu ia berjalan masuk, dan mendekati keduanya dengan penuh keberanian berdiri di tengah keduanya yang sudah duduk.
“Silahkan duduk, Tuan Rava.” ucap Albert mempersilahkan.
Rava tersenyum kakuh, “Terima kasih.. Tuan Albert.” ucapnya lalu duduk di bagian tengah.
Renata melirik ke Rava, dengan lirikan setajam silet, merasa aneh dengan sifat si Rava yang benar-benar berubah secara keseleruhan.
“Kamu mau pesan apa,Rena?” tawar Albert, mengubah pandangannya ke buku menu,
“Tuan Rava, silahkan pesan,” ucapnya ke Rava.
Rava pun mengambil buku menu, dan mencoba mencari yang bisa di makannya, dengan suasana hati yang panas.
“Hemmm.. aku mau pesan Gilled Salmon Salad, Al. Sama hot cappuccino,” ucap Renata pada Al dengan mata berbinar dan senyuman hangat.
Rava menatap terus ke Renata, memperhatikan wajahnya yang selalu tersenyum pada Albert, sementara saat Renata sadar di perhatikan Rava, senyumannya itu memudar, terlepas dari senyum manisnya.
“Anda ,Tuan Rava?” tanya Albert.
“Sama, buatlah pesananku sama dengan Renata.” ucap Rava dengan datar.
“Jangan, ganti saja dia tidak bisa minum Cappucino.” sambung Renata panik.
“Biarkan saja, sama seperti pesananya,” ucap Rava lagi dengan tatapan tajam ke Renata.
“Rava.. Kau itu akan sakit perut, jika kau meminum cappuccino!” seru Renata dengan nyolot.
“Apa perdulimu,jika perutku sakit?” tanya Rava tanpa mengedipkan matanya.
“Kau sangat keras kepala! Kalau aku bilang, enggak boleh ya enggak boleh. Kalau begitu, ganti saja minumanku dengan hot chocolate,” ucap Renata melirik kesal ke Rava.
Rava membuang pandangannya, lalu Albert memesan sesuai pesanan masing-masing, kemudian ia bertanya ke Rava, “Apa Tuan Rava, mau minum wine denganku?” tanya Albert dengan tatapan menantang. Renata yang mendengarnya menggigit bibir bawahnya, rasa-rasanya ia tidak pernah minum-minum. Apa Rava akan menolk? Semo saja, batin renata.
“Baiklah, aku akan menemani anda minum ,Tuan Albert.” jawab Rava dengan penekanan.
Albert tertawa meremehkan Rava, sedangkan Renata melototkan matanya, seakan tidak terima dengan jawaban si Rava. Lalu semua pesanan mereka di catat oleh sang pelayan Restoran. Tak lama Albert mengajak ngobrol Renata, keduanya sangat nyambung. Sedangkan Rava hanya sibuk, jadi pendengar dengan emosi yang ia tahan, melihat Renata yang terus tertawa,yang selama ini hanya Renata berikan untuknya seorang, dan tidak pernah di respon Rava seperti Albert merespon Renata sebegitu senangnya. Perasaan bersalah, mulai hinggap di dalam hatinya.
***
Kediaman Rava Atmadja.
Beberapa menit setelah kepergian Rava, Vara terbangun dengan mata yang masih berat, berjalan keluar kamarnya, merasa lapar, ia pun mencari sang kakak, berjalan ke ruang kerjanya yang tak jauh dari kamar Rava. Tanpa mengetuk, Vara membuka pintu kamar itu dengan mata yang masih ia kucek-kucek seraya menguap, “Kak.. Vara sangat lapar, makan yuk.” ajak Vara tanpa tahu yang duduk di dekat meja Rava, ada Harsen.
Harsen menatap wajah Vara yang menurutnya sangat lucu, wajah habis bangun tertidurnya Vara yang seperti bantal kempes habis di dudukin. Vara akhirnya tersadar, saat tidak ada jawaban dari sang kakak, ia mengucek kembali matanya, memperjelas pandangannya akan tatapan Harsen yang sedari tadi tidak berkedip, refleks Vara membalikkan tubuhnya, dan bersiap menghindar untuk keluar dari ruangan kerja sang kakak. Belum sempat melangkah, Harsen sudah lebih duluan berdiri di hadapan Vara.
“Anda lapar, Nona?” tanyanya dengan senyuman.
“Jangan panggil aku, Nona!” ketus Vara dengan bibir yang di kerucutkan, “Minggir!” ucap Vara seraya berjalan dan menabrak Harsen yang ia pikir bakalan mundur. Terasa sakit bagian keningnya, menabrak dada bidangnya Harsen.
“Itu dada apa batuh sih? Kok sakit banget?” ucapnya seraya mengelus keningnya.
“Apa anda tidak apa-apa, Nona?” Harsen menyentuh kening Vara dan meniup keningnya, Vara tersenyum kecil.
“Masih sakit?”
“Tidak… sudah sana! Aku pikir, kak Harsen sudah pulang.”
Harsen tersenyum, “Saya akan menemani, Non aVara, selama kak Rava dan Defan keluar.”
Vara terkesiap, “Kakak dan Defan keluar? Terus, di sini hanya ada aku dan Kak Harsen dong?”
Harsen mengggukan kepalanya, “Iya, Nona. Cuma ada saya dan anda, serta para bibi di bawah.”
“Arggghhh.. Kak Harsen lebih baik pulang saja!” perintah Vara merasa gugup dan panik, dan mencoba melangkah ke arah lain, karena hatinya sangat kacau di tatap oleh Harsen.
“Anda kenapa, Nona? Apa ada yang salah?” Harsen , malahan mendekatinya lagi.
“Tidak, apa-apa ka Harsen. Hanya saja, kakak di sini membuatku merasa takut.”
“Takut? Kenapa anda yang takut? Seharusnya kan saya yang takut?” ucap Harsen jujur.
Vara menatap kesal, “Kenapa, kakak yang takut denganku? Harusnya aku dong yang takut, saiapa tahu aja Kak Harsen punya niat jahat untuk memperkosa aku.” Ucap Vara menutup bagian dada.
Harsen mengernyitkan dahinya, “Harusnya saya yang takut, Nona. Siapa tahu saja Nona Vara yang punya niat memperkosa saya.” Balas Harsen enggak mau kalahnya menutup pahanya dengan kedua tangannya.
“Kak Harsennnnn!!!” teriak Vara.
“Iya, Nona.” Ucap Harsen dengan posisi siap.
“Jangan panggil aku, Nona! Terusss aku tidak bernafsu dengan kak Harsen, kecuali kak Harsen yang memaksa, aku.” balas Vara seraya tertawa dan berjalan keluar.
Harsen tertawa, dan berjalan mengikuti Vara, keduanya berjalan ke arrah ruang makan,menikmati makan malam bersama. Sebenarnya Harsen sangat menyayangi Vara, tapi dia tahu diri, dia tidak ingin melewati batasnya,sebagai pengawal keluarga Atmadja, seperti papanya Leo.
***
Restoran New York.
Seusai makan malam, makan malam itu di lanjut dengan acara minum wine termahal di restoran tersebut. Albert sengaja mengajak Rava untuk minum, agar dia tidak mengganggu ketenangan Albert bersama Renata, jika keduanya jalan kembali.
“Bagaimana,Tuan? Apa anda masih sanggup?” tanya Albert, saat Rava masih memegang gelasnya, berisi red wine.
“Masih… silahkan anda meminum juga, habiskan. Aku akan mengalahkan anda!” katanya tanpa sadar.
“Sudah.. Al. Rava, tidak biasa minum.” Ucap Renata, saat menatap wajah Rava sangat memerah dan mulai mabuk.
Albert tertawa, "masih ada Renata. Biarkan kita bermain-main sejenak,” ucap Al.
“Tidak.. aku tidak mau membiarkan dia mabuk, aku enggak sanggup. Hentikan permainan ini.” Ucap Renata kesal.
Rava tersenyum menatap Renata, wajah Renata yang tampak mengkhawatirkan Rava itu masih di sadari oleh Rava.
“Aku masih mau, minum Rena. Jangan halangi aku, aku masih haus.” Ucap Rava terbata-bata pada Renata yang masih menatap takut padanya.
“Aku bilang, Jangan!!” teriak Renata hingga dia berdiri, sangkin kesalnya melihat keadaan Rava, yang tampak sudah lemah gemulai itu. Untuk pertama kalinya, bagi Renata melihat Rava mabuk karena dirinya. Renata tidak suka, Renata benci melihat Rava yang sepertinya sengaja, bukan menjadi Rava yang biasanya.
.
Bersambung.
******
Jangan lupa like dan Votenya ya :)
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍