Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Bulan Neraka
Laila merasa jiwanya perlahan-lahan mulai terkikis. Ada saat-saat di mana ia mulai meragukan Agil. Mengapa Agil jarang sekali menelepon dengan nada khawatir? Mengapa setiap kali mereka bicara lewat telepon yang disadap, Agil selalu terdengar sangat sibuk dengan urusan kantor? Laila tidak tahu bahwa Agil juga sedang dipantau ketat, dan setiap kata yang Agil ucapkan adalah sandi yang harus ia jaga agar tidak memicu kemarahan Baskoro pada Laila.
Memasuki bulan kedua, Baskoro mulai berani masuk ke dalam kamar Laila di tengah malam hanya untuk berbaring di sampingnya. Ia tidak selalu melakukan hubungan fisik yang jauh, namun ia memaksa Laila untuk memeluknya hingga pagi.
"Anggap saja aku suamimu, Laila. Bau parfumku tidak jauh berbeda dengan Agil, bukan?" bisik Baskoro di kegelapan.
Laila hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membayangkan wajah Agil di kegelapan. Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia merasa setiap jengkal kulitnya telah tercemar oleh kehadiran pria tua ini. Penderitaan yang paling berat bukanlah rasa sakit fisik, melainkan rasa jijik pada diri sendiri. Laila mulai merasa bahwa jika Agil pulang nanti, ia sudah tidak pantas lagi untuk dicintai. Ia merasa dirinya sudah menjadi "sisa-sisa" dari nafsu mertuanya sendiri.
Setiap pagi setelah Baskoro meninggalkan kamarnya, Laila akan menggosok tubuhnya di kamar mandi dengan sabun hingga kulitnya memerah dan perih. Ia ingin menghapus jejak tangan Baskoro, namun jejak itu seolah sudah meresap hingga ke tulangnya.
Di bawah kasurnya, adalah suara hati yang tak pernah tersampaikan, Laila menyembunyikan sebuah buku harian kecil. Di sana ia menuliskan surat-surat yang tidak mungkin ia kirimkan kepada Agil.
Mas Agil, hari ini aku ingin mati saja. Papa memaksaku memakai gaun tidur pemberiannya yang sangat terbuka malam ini. Aku benci melihat diriku di cermin. Aku merasa seperti pelacur di rumahmu sendiri. Mas, apakah kamu masih mengingatku sebagai istrimu yang suci? Ataukah di sana kamu sudah menemukan penggantiku yang lebih bersih? Aku sangat takut, Mas. Aku takut ketika kamu pulang, aku sudah tidak punya jiwa lagi untuk menyambutmu.
Suatu sore, Baskoro menemukan buku harian itu. Ia tidak marah. Ia justru membacanya di depan Laila sambil tertawa.
"Tulisannya sangat indah, Laila. Sangat puitis," ujar Baskoro sambil merobek lembaran-lembaran surat itu satu per satu di depan mata Laila. "Tapi kau harus ingat, di rumah ini tidak ada rahasia. Dan tidak ada cinta yang bisa menyelamatkanmu jika kau tidak patuh padaku."
Baskoro kemudian membakar robekan kertas itu di asbak. Laila hanya bisa melihat abu dari curahan hatinya terbang tertiup angin dari jendela. Harapannya seolah ikut terbakar.
Penderitaan Laila mencapai puncaknya ketika ia mulai menerima foto-foto palsu dari nomor anonim—yang ia yakini dikirim oleh orang suruhan Baskoro. Foto-foto itu memperlihatkan Agil sedang tertawa di sebuah bar di London bersama seorang wanita pirang.
"Lihatlah suamimu, Laila," ujar Baskoro saat mereka makan malam berdua. "Dia sedang menikmati kebebasannya. Dia tidak memikirkanmu yang menderita di sini. Hanya aku yang peduli padamu."
Laila tahu itu mungkin rekayasa, tapi jiwanya yang sudah rapuh mulai goyah. Kesepian, ketakutan, dan intimidasi setiap hari mulai menghancurkan pertahanan mentalnya. Ia mulai sering mengurung diri di kamar mandi, menyalakan pancuran air hanya agar tangisannya tidak terdengar oleh pelayan.
Baskoro mulai menuntut lebih. Ia memaksa Laila untuk menemaninya ke acara-acara privat, di mana orang-orang memandang mereka dengan tatapan aneh—seorang mertua dan menantu yang terlalu dekat. Baskoro sengaja menciptakan opini publik bahwa Laila adalah wanita yang menggoda mertuanya sendiri, agar jika suatu saat rahasia ini terbongkar, Laila-lah yang akan disalahkan sebagai penggoda.
Namun, di tengah neraka itu, ada satu hal yang tidak diketahui Baskoro. Setiap minggu, saat Laila diizinkan pergi ke pasar swalayan dengan pengawalan ketat sopir Baskoro, ia selalu masuk ke bilik toilet wanita yang sama.
Di balik tangki air toilet itu, ia meninggalkan secarik kertas kecil. Dan setiap minggu, kertas itu selalu diambil oleh seseorang. Gito, intelijen bayaran Agil, telah berhasil mendekati salah satu pelayan di pasar swalayan tersebut. Melalui jalur ini, Laila mengirimkan kode-kode penderitaannya. Meskipun ia tidak bisa bicara langsung pada Agil, ia tahu bahwa di suatu tempat, Agil sedang mengumpulkan kekuatan.
“Tolong cepat, Mas. Aku sudah hampir mati di sini,” tulis Laila pada kertas terakhirnya, di penghujung bulan kedua.
Di London, Agil menerima laporan dari Gito. Matanya yang dulu ramah kini telah berubah menjadi sedingin es. Ia melihat foto-foto Laila yang tampak semakin kurus dan pucat di bawah pengawasan ayahnya. Ia melihat foto vila Puncak yang kembali sering dikunjungi Baskoro setiap akhir pekan.
Agil mengepalkan tangannya, hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Satu bulan lagi, Papa. Nikmati kemenanganmu sekarang, karena aku akan membawa neraka yang lebih besar saat aku pulang."
Di bulan ketiga, kesehatan Laila menurun drastis. Ia kehilangan berat badan hampir sepuluh kilogram. Matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Pipinya yang dulu ranum, kini tirus dan pucat. Para pelayan di rumah itu menatapnya dengan iba, namun tak ada yang berani bersuara. Mereka tahu, satu kata keberatan akan membuat mereka kehilangan pekerjaan atau lebih buruk lagi.
Baskoro justru menyukai keadaan Laila yang lemah. Baginya, Laila yang lemah adalah Laila yang mudah dikendalikan. Ia sering membelikan gaun-gaun mahal yang terlihat kedodoran di tubuh Laila yang kurus, memaksa Laila untuk berdandan menor guna menutupi wajahnya yang layu saat ada tamu relasi bisnis yang datang ke rumah untuk makan malam privat.
Di mata publik dan relasi, Laila ditampilkan sebagai menantu yang berbakti dan sangat dekat dengan mertuanya, karena suaminya sedang bertugas. Namun di balik pintu yang tertutup, Laila adalah tawanan yang sedang menghitung hari menuju kehancuran total atau keajaiban yang tak kunjung datang.
Ia tidak tahu bahwa di London, Agil sedang menatap foto terbaru Laila yang dikirimkan oleh Gito. Agil menangis meraung di dalam apartemennya, melihat istrinya yang tampak seperti mayat hidup. Agil memukul dinding hingga tangannya berdarah.
"Sebentar lagi, Laila. Bertahanlah sedikit lagi," raung Agil di kesunyian London. "Aku tidak peduli seberapa hancur dirimu, aku akan menjemputmu dan membakar monster itu dengan tanganku sendiri."
Tiga bulan ini bukan hanya neraka bagi Laila, tapi juga kawah candradimuka bagi Agil. Ia mulai menjalin hubungan dengan investor-investor saingan Baskoro di Eropa, menjual informasi internal perusahaan secara rahasia untuk melemahkan saham Baskoro Group dari dalam.
Neraka ini akan segera berakhir, namun api yang tersisa akan membakar siapa saja yang ada di dalamnya. Masa tiga bulan itu hampir berakhir. Dan kepulangan Agil bukan lagi sebagai seorang anak, melainkan sebagai seorang eksekutor yang siap menuntut balas atas setiap tetes air mata dan setiap jengkal penderitaan istrinya.