"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Kehancuran Mahendra Group ternyata bukanlah akhir dari sebuah balada dendam, melainkan awal dari sebuah babak baru yang jauh lebih gelap dan berdarah. Jakarta gempar.
Setiap stasiun televisi dan portal berita menampilkan wajah Arka Mahendra yang lesu, menutupi wajahnya yang pucat dengan borgol yang dibalut jaket kulit hitam, saat ia digiring masuk ke dalam mobil tahanan di lobi hotelnya sendiri di Bali. Dunia bisnis yang tadinya memuja nama Mahendra kini berpaling, mencaci, dan meludah pada puing-puing dinasti yang runtuh dalam semalam.
Di sisi lain, Kirana berdiri tegak di puncak gedung Nirmala Tower, menatap kemacetan Jakarta yang berkilauan di bawah kakinya. Kota ini sekarang tampak kecil di bawah telapak kakinya. Ia telah mendapatkan segalanya.
Kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan yang dulu dirampas. Namun, kemenangan memiliki rasa yang aneh di lidahnya, pahit, logam, sangat dingin, dan yang paling menyesakkan adalah kesunyian yang mengikuti.
Dinding beton yang lembap, remang-remang, dan aroma tajam disinfektan yang bercampur keringat basi kini menjadi dunia baru bagi Arka. Tidak ada lagi kemeja sutra Italia, tidak ada lagi aroma parfum oud yang mahal dari butik di Paris. Kini, ia hanya mengenakan seragam tahanan berwarna oranye kasar yang terasa menggores kulitnya setiap kali ia bernapas.
Di ruang kunjungan yang dibatasi oleh kaca tebal antipeluru, Arka duduk menunggu dengan bahu yang merosot. Pintu besi berat berderit terbuka, dan sosok yang paling tidak ingin ia lihat dalam kondisi sehancur ini, namun paling ia rindukan di setiap detik mimpinya, telah muncul. Kirana.
Kirana duduk di seberangnya dengan keanggunan yang menyakitkan. Ia mengenakan setelan hitam yang sangat elegan, kontras yang sangat kejam dengan suasana penjara yang kumuh dan bau. Ia tidak membawa makanan enak atau pakaian tambahan. Tangannya hanya menggenggam sebuah map kulit berwarna cokelat tua.
"Kau datang hanya untuk melihat mayat hidup ini, Kirana?" suara Arka terdengar serak dan pecah melalui telepon interkom yang menghubungkan mereka di balik kaca.
Kirana menatap langsung ke dalam mata Arka. Tidak ada kebencian yang meledak-ledak lagi di sana, hanya kekosongan yang mengerikan, sebuah jurang tanpa dasar yang membuat Arka merasa lebih menggigil daripada lantai selnya yang dingin.
"Aku datang untuk memastikan kau menandatangani surat pelepasan sisa aset terakhirmu di Bali. Proyek itu sekarang secara hukum sepenuhnya milik Nirmala Capital. Aku tidak ingin ada satu pun jejak namamu atau nama ayahmu tertinggal di sana," ujar Kirana dengan nada bicara yang datar, seolah ia sedang membicarakan pesanan kopi.
Arka tertawa getir, sebuah tawa kering yang berakhir dengan batuk yang menyakitkan. "Ambil semuanya, Kirana. Ambil saja sampai tidak ada lagi yang tersisa. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan. Ayahku... dia terkena serangan jantung di selnya semalam. Dia menolak bicara padaku. Dia menganggapku sampah tak berguna karena aku 'gagal' menjebakmu kembali."
Kirana terdiam sejenak. Mendengar tentang kondisi Surya Mahendra seharusnya memberikan kepuasan yang luar biasa baginya, namun yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang semakin meluas di dadanya.
"Kirana..." Arka menempelkan telapak tangannya di kaca tebal itu, mencoba mencari kehangatan yang mustahil didapat. "Aku tahu kau tidak akan pernah percaya lagi. Tapi di malam terakhir kita di Uluwatu itu... saat aku menutup telepon dari Ayah, aku benar-benar berniat membuang ponselku ke laut. Aku ingin mengkhianati Ayahku demi kau. Aku ingin lari bersamamu dan meninggalkan semua ini."
"Kata-kata itu sudah sangat basi, Arka," balas Kirana dingin, matanya tidak berkedip sedikit pun. "Simpan drama itu untuk teman selmu yang mungkin butuh hiburan sebelum tidur."
Kirana berdiri, hendak mengakhiri kunjungan itu, namun langkahnya terhenti secara fisik saat Arka mengucapkan sebuah nama yang asing dan penuh ancaman.
"Hati-hati dengan Bram."
Kirana berbalik perlahan, alisnya bertaut tajam. "Siapa?"
"Musuh lama Ayahku dari masa lalu di India. Dia adalah pria yang memberikan modal awal bagi Mahendra Group puluhan tahun lalu melalui jalur gelap pencucian uang," Arka menjelaskan dengan napas yang memburu. "Dia baru saja mendarat di Jakarta pagi ini. Dia tidak akan pernah membiarkan aset Mahendra jatuh ke tanganmu begitu saja. Baginya, kau bukan sekadar pemenang bisnis, baginya, Nirmala Capital adalah pencuri yang mengambil propertinya."
Kirana tidak memberikan jawaban verbal. Ia hanya menatap Arka sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum berjalan keluar dari ruangan yang menyesakkan itu.
***Kantor Nirmala Capital - Malam Hari***
Kirana duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar pulpen emasnya dengan gelisah. Kata-kata Arka tentang sosok bernama Bram terus mengusik tidurnya. Ia merasa ada bayangan besar yang kini sedang mengintai di balik kesuksesannya. Ia segera memanggil Reza masuk ke ruangannya.
"Cari tahu semua informasi tentang pria bernama Bram. Hubungannya dengan Surya Mahendra, dan mengapa dia baru muncul tepat setelah keluarga Mahendra tumbang," perintah Kirana tegas.
Reza mengetik dengan kecepatan tinggi di laptopnya. "Bram... Saya pernah mendengar nama itu saat masih di bursa saham Singapura. Dia dikenal dengan julukan 'The Scavenger', Sang Pemulung. Dia tidak membangun kerajaan bisnis, dia memakan bangkai perusahaan besar yang sedang hancur. Jika Mahendra jatuh, dia biasanya datang untuk mengambil alih aset secara paksa sebagai bentuk 'pembayaran hutang' masa lalu yang tidak pernah dilaporkan."
Tiba-tiba, lampu di ruangan Kirana berkedip-kedip secara tidak wajar. Sistem keamanan di layar monitor Reza menunjukkan tanda bahaya merah yang berkedip cepat. Sebuah file besar sedang berusaha meretas server utama Nirmala Capital dari lokasi yang tidak terdeteksi.
"Seseorang sedang menyerang pertahanan siber kita, Kirana!" seru Reza panik.
Di layar monitor besar yang menempel di dinding kantor, muncul sebuah gambar animasi sederhana yang mengerikan. Seekor naga yang sedang melilit sebuah bangunan yang mirip dengan gedung Nirmala. Di bawahnya, muncul sebuah pesan singkat yang dingin.
"*Apa yang kau ambil dari seorang Mahendra, sebenarnya adalah milikku. Kembalikan semua aset Bali dalam tujuh hari, atau kau akan menyadari bahwa penjara adalah tempat yang jauh lebih aman daripada kantormu sendiri*. - B"
Kirana berdiri, tangannya mengepal keras di atas meja. "Dia pikir dia bisa mengintimidasi aku dengan trik murah seperti ini?"
~~
***Lembaga Pemasyarakatan - Di Malam yang Sama***
Di dalam selnya yang sempit dan berbau pesing, Arka tidak bisa memejamkan mata. Ia mendengar jeritan tahanan lain dan suara langkah kaki penjaga yang monoton di koridor besi. Ia menatap ke arah jeruji besi. Di sana, di tengah kesunyian yang menyiksa, ia mulai menyadari satu hal yang pahit.
Selama ini ia hidup dalam kepalsuan yang ia ciptakan sendiri. Ia menjadi jahat karena takut pada ayahnya, dan ia memanipulasi karena lingkungannya mengajarkannya bahwa itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Ia mengambil sebuah buku catatan kecil yang diberikan oleh pendeta penjara tempo hari. Di halaman pertama, dengan tangan yang gemetar, ia menuliskan satu nama - Kirana.
Aku akan menebus semua ini, batin Arka. Bukan untuk mendapatkan cintamu kembali karena aku tahu aku sudah mati bagimu, tapi untuk memastikan kau tidak hancur oleh kegelapan yang diciptakan keluargaku.
Arka memanggil seorang penjaga senior yang telah ia suap dengan sisa uang tunai terakhir yang ia sembunyikan di dalam kaus kakinya sebelum ditangkap.
"Aku butuh kau mengirimkan pesan ini kepada pengacara pribadiku, sekarang juga. Katakan padanya untuk membuka brankas nomor 402 di bank swasta Jakarta Pusat. Ada bukti keterlibatan Bram dalam skandal pencucian uang Mahendra sepuluh tahun lalu. Berikan bukti itu hanya kepada Kirana. Hanya dia."
Arka tahu, memberikan bukti itu berarti ia akan dianggap sebagai pengkhianat mati bagi jaringan bisnis gelap ayahnya. Ia mungkin tidak akan pernah keluar dari penjara ini dengan selamat. Tapi baginya, ini adalah cara terakhir untuk menunjukkan bahwa sisi lembut yang ia tunjukkan di Bali bukan sepenuhnya sandiwara.
Satu Hari Kemudian - Di Sebuah Kafe Dekat Gedung Nirmala
Kirana bertemu dengan seorang pria paruh baya yang merupakan pengacara lama Arka. Dengan wajah yang tampak cemas, pria itu menyerahkan sebuah flashdisk perak berlogo enkripsi tinggi.
"Pak Arka berpesan, ini adalah nyawanya. Jika Anda menggunakan ini untuk menjatuhkan Bram, dia meminta Anda untuk tidak pernah melihat ke belakang lagi," ujar sang pengacara dengan suara rendah yang penuh beban.
Kirana membawa flashdisk itu kembali ke kantor. Saat dibuka bersama Reza, mereka menemukan data-data yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penggelapan pajak. Ternyata, selama ini Mahendra Group adalah kedok untuk pencucian uang internasional milik Bram.
Dan yang membuat Kirana mual, nama Kirana sendiri sudah mulai disisipkan dalam dokumen-dokumen palsu yang dibuat oleh orang-orang Bram untuk menjadikannya kambing hitam berikutnya jika polisi mulai melakukan penyelidikan.
"Bram ingin kau masuk penjara menggantikan posisi Surya Mahendra, Kirana," ujar Reza dengan wajah pucat pasi. "Dia sudah menyuap beberapa saksi kunci untuk mengatakan bahwa kaulah otak di balik aliran dana ilegal di proyek Bali."
Kirana merasa dunianya berguncang hebat. Ia baru saja menang dari satu iblis, hanya untuk menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis yang sepuluh kali lebih besar dan lebih lapar.
Ia menatap flashdisk itu. Di dalamnya, ada satu pesan video pendek dari Arka yang direkam secara diam-diam melalui kamera tersembunyi.
Dalam video itu, Arka tampak sangat kurus, matanya cekung, namun tatapannya terlihat sangat jernih. "Kirana, jika kau menonton ini, artinya kau sudah tahu betapa besarnya bahaya yang kau hadapi. Gunakan data ini untuk menghancurkan Bram sebelum dia menghancurkanmu. Jangan pedulikan apa yang akan terjadi padaku. Aku sudah ditakdirkan mati di tempat ini sejak aku memilih untuk mencintaimu dengan cara yang salah. Selamatkan dirimu... dan selamatkan Nirmala. Maafkan aku."
Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya sejak Arka ditangkap, ia merasakan air mata yang benar-benar tulus jatuh membasahi pipinya.
Rasa benci itu masih ada di sana, namun ada rasa sakit baru yang menyelinap masuk ke celah hatinya, rasa sakit melihat seseorang yang kau hancurkan justru mencoba menyelamatkanmu dari puing-puing kehancurannya sendiri.
***Lobi Gedung Nirmala - Pagi Hari***
Sebuah iring-iringan mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung. Seorang pria berwajah keras dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah turun dengan angkuh. Namanya adalah Bram. Ia berjalan masuk ke lobi dengan sombong, mengintimidasi setiap staf yang ia lewati.
Pintu kantor Kirana terbuka dengan kasar tanpa ketukan. Bram masuk dengan dua pengawal bertubuh raksasa di belakangnya.
"Jadi, ini wanita kecil yang membuat Arka Mahendra menjadi pria lemah dan cengeng?" suara Bram dalam dan berwibawa, dengan aksen tajam yang mengancam.
Kirana tidak berdiri dari kursinya. Ia tetap duduk tenang, menyesap kopinya dengan tangan yang sangat stabil. "Anda terlambat lima menit, Tuan Bram. Saya sudah memesankan tempat yang sangat pas untuk Anda."
Bram tertawa sombong, meremehkan ancaman itu. "Tempat di mana? Di dewan komisaris baru Mahendra yang akan aku ambil alih?"
Kirana memutar laptopnya ke arah Bram. Di layar terpampang siaran langsung konferensi pers kepolisian yang sedang berlangsung detik itu juga. Jenderal polisi di layar sedang menunjukkan dokumen-dokumen dari flashdisk pemberian Arka.
"Kami baru saja mendapatkan bukti kunci mengenai keterlibatan warga negara asing berinisial B dalam skema pencucian uang lintas negara yang melibatkan Mahendra Group selama satu dekade terakhir..."
Wajah Bram yang tadinya merah karena kesombongan, seketika berubah menjadi abu-abu pucat.
"Bagaimana mungkin..." gumam Bram dengan suara yang mulai gemetar. "Hanya Surya yang tahu data ini!"
"Surya mungkin tahu, tapi Arka yang memegang kuncinya," balas Kirana dengan suara yang sangat dingin. "Anda meremehkan seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan. Arka sudah menyerahkan seluruh hidupnya padaku untuk menghancurkanmu."
Suara sirene polisi mulai meraung-raung dari bawah gedung. Bram mencoba berbalik untuk melarikan diri, namun pintu kantor sudah dikepung oleh petugas keamanan gedung dan polisi yang sudah disiapkan Kirana sejak satu jam lalu.
Sebelum dibawa pergi dengan tangan terborgol, Bram menatap Kirana dengan penuh kebencian yang murni. "Kau pikir kau menang, wanita bodoh? Arka akan mati di penjara malam ini juga karena telah berani mengkhianatiku. Aku punya orang di dalam sana!"
Jantung Kirana seolah berhenti berdetak mendengar ancaman itu. Ia segera menyambar ponselnya dan menelepon sipir penjara yang ia kenal.
"Halo? Hubungkan saya ke blok Arka Mahendra sekarang juga! Cepat!"
Di seberang telepon, terdengar suara keributan yang luar biasa. Suara teriakan, dentuman besi, dan bunyi alarm penjara yang memekakkan telinga.
"*Nona Kirana... ada kerusuhan besar di blok C! Kami sedang berusaha mengendalikan situasi, tapi Pak Arka... dia diserang oleh sekelompok tahanan baru kiriman luar*..."
Kirana menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia berlari keluar kantor, mengabaikan teriakan Reza yang memanggilnya. Ia memacu mobilnya seperti orang gila menuju penjara, melanggar setiap lampu merah yang menghalanginya.
Sepanjang jalan, bayangan Arka di Bali terus menghantui pikirannya. Arka yang tersenyum tulus saat hujan badai, Arka yang tangannya berdarah demi membantunya di lumpur proyek.
Ia baru menyadari dengan sangat perih bahwa dalam usahanya untuk membalas dendam secara sempurna, ia telah menciptakan monster dalam dirinya sendiri, sementara pria yang ia anggap monster justru sedang bertaruh nyawa untuk menjadi manusia kembali demi dirinya.
"Bertahanlah, Arka," bisik Kirana dalam tangisnya yang pecah. "Jangan mati sebagai pengkhianat. Matilah sebagai orang yang pernah aku cintai dengan tulus."
Kirana sampai di depan gerbang penjara tepat saat sebuah ambulans meluncur keluar dengan sirine yang meraung memecah langit malam. Melalui kaca ambulans yang terbuka sedikit, ia melihat sesosok pria berseragam oranye yang bersimbah darah di atas tandu.
Itu Arka.
Kirana terjatuh lemas di atas aspal yang kasar. Perang besar ini memang sudah berakhir dengan kemenangan mutlak di tangannya, namun ia merasa bahwa ia adalah pecundang terbesar dalam cerita ini.
Ia memiliki semua kekayaan dan aset Mahendra, tapi ia baru saja menyadari bahwa ia kehilangan satu-satunya orang yang, di balik semua kebohongan dan dosanya, memberikan nyawanya untuk menebus satu kesalahan - yaitu mencintai Kirana dengan cara yang salah namun dengan akhir yang sangat nyata.
...----------------...
**Next Episode**...