IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.
Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?
Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilih Aku Atau Dia
Vita menggeleng pelan. Dia kecewa dan bingung sekali dengan sesuatu buruk yang lagi-lagi terjadi padanya. Kenapa Yudha bisa berada di sini? Ke mana saja Yudha kemarin? Kenapa baru sekarang ini dia datang? Apa Yudha memang menghendakinya marah dan kesal selalu?
Namun itu tidak terlalu penting untuk ditanyakan. Yang terpenting sekarang adalah: bagaimana caranya bisa pergi dari Yudha walau pria itu sudah mengetahui niatnya.
“Biarkan aku pergi ... tolong jangan hentikan aku,” ucap Vita. Dadanya sudah mulai terasa sesak lagi.
Sadar suaranya terlampau tinggi, Yudha merendahkan nada bicaranya, “Kita bicarakan di bawah, ya.”
Tentu saja Yudha dan Vita malu karena saat ini pandangan semua orang yang ada di dalam sana berpusat kepada mereka berdua.
“Tidak, jangan halangi aku,” jawab Vita sekali lagi.
“Aku tidak mengizinkanmu,” tegas Yudha masih dengan suara pelan. Tak ingin perdebatan mereka terdengar terlalu keras di depan banyak orang. Beruntung sound musik sudah mulai di putar sehingga dapat sedikit menyamarkan suara mereka.
“Mas Bus ini sudah mau berangkat. Kasihan penumpang yang lain sudah menunggu sangat lama,” kata crew bus tersebut mengingatkan.
Vita kembali menggeleng. Matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mau. Aku mau pulang ke rumahku sendiri.”
“Kita bicara di bawah.” Yudha menarik tangannya dan membawakan tasnya turun.
“Kumohon, Mas.”
“Dengarkan aku, Vita. Kita turun!” kata Yudha lagi dengan nada penuh penekanan.
Dengan sangat terpaksa, Vita mengikuti langkah suaminya. Apa yang sudah direncanakannya secara matang, tentang lanjutan kisah ini seolah buyar tanpa bekas. Vita merasa seperti sedang dikeluarkan secara paksa dan tercabut amat kasar dari harapan lain yang sedang menghinggapinya. Dia turun dari bus itu dengan air mata yang mengalir deras, dan dengan perasaan yang tidak lagi dapat dibendung. Kenapa hidup ini sangat kejam sekali padanya?
“Maaf sebelumnya karena sudah mengganggu waktunya, Pak,” ucap Yudha begitu mereka turun. Keduanya masih berada di depan pintu.
“Jadi keberangkatan ini mau dibatalkan atau bagaimana?” tanya petugas itu memperjelas.
“Iya dibatalkan saja,” kata Yudha tak peduli.
“Tapi saya mohon maaf ya, Mas. Data sudah ter-input dan terlapor ke pusat dengan jumlah penumpang sekian. Jadi saya tidak bisa mengganti biaya pembatalan, atau kata lain, tiket dinyatakan hangus.”
Yudha mengangguk. Sekadar menanggapi.
Vita melihat dengan nanar bus yang melaju tanpa membawa dirinya. Kenapa takdir sebercanda ini?
‘Ya Allah apa salah dan dosaku sehingga lagi-lagi terjebak dengan pria ini. Aku sudah ikhlas hidup tanpanya. Tolong jauhkan hidupku dari bayang-bayang mereka lagi.’
“Atas perintah siapa kamu pergi?” tanya Yudha setelah Bus itu menjauh. Mereka masih berada di tempat tadi. Terasa lapang karena sebagian banyak, mobil sudah berhamburan meninggalkan Terminal. Pun dengan para pedagang dan manusia lain di sana yang tampaknya tidak terlalu mempedulikan mereka.
Tak mendapat jawaban membuat Yudha kembali mengulang. “Atas perintah siapa kamu pergi?”
Vita masih saja bungkam.
“Jawab!” Yudha membentaknya lagi. Hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan. Tetapi dia terdorong karena rasa takut kehilangannya kepada wanita ini begitu besar. “Apa menurutmu pergi tanpa izin dari seorang suami itu adalah perbuatan yang benar?”
“Seharusnya kamu berpikir kenapa aku bisa pergi secara diam-diam darimu,” jawab Vita segera setelah itu. “Itu karena kamu tidak mengizinkanku pergi secara baik-baik.”
“Iya, aku tahu. Aku butuh ruang waktu untuk menjelaskannya. Bersabarlah sedikit, hidupku bukan hanya mengurusimu saja.”
“Aku sudah sabar menerima maduku. Kupersilakan kamu bersamanya. Aku harus bersabar seperti apa lagi?” tanya Vita dengan suara rendah. Seolah tiada daya lagi untuk melawan. Dia benar-benar lemas menghadapi kenyataan terburuknya.
“Sedari awal sudah kukatakan, pulangkan aku. Ceraikan aku kalau akhirnya kamu hanya ingin menyiksa batinku. Hidupku jauh lebih baik tanpamu seperti sebelum kamu datang. Tetapi apa jawaban yang selalu kudapat selama ini, Mas?” ucap Vita menjeda sesaat. “Jawabanmu selalu saja mengecewakan. Mengabaikan semua permintaanku seakan hal itu tidak terlalu penting.”
“Aku bersikap seperti ini karena aku ingin menjaga, agar pertengkaran kita tidak semakin melebar. Tolong pahamilah!” Yudha menangkup kedua pipi Vita dengan mata berkaca-kaca. “Aku sangat mencintaimu. Aku takut sekali kamu meninggalkanku.”
Vita melepas tangan Yudha. “Cintamu untuk Rahma bukan untuk aku.”
“Kenapa kamu selalu berkata begitu? Tidakkah kamu melihat besaran cinta yang kumiliki?” tanya Yudha dengan sangat heran.
Namun Vita tetap menggeleng. “Aku tidak lebih dari sebuah pelampiasan.”
Terdengar helaan napas kasar dari Yudha. Dia terlalu bingung, bagaimana cara membuat Vita mempercayainya.
“Kita pulang, ya. Kita pindah ke rumah Umi. Aku yakin kamu hanya sedang kesepian,” bujuk Yudha setelah beberapa saat kemudian.
“Aku tidak mau. Aku tetap mau pulang ke rumah sendiri,” jawab Vita kekeh dengan pendiriannya.
“Lalu dengan apa kamu mau pulang?” tanya Yudha geram. “Bukankah kamu sudah melihat sendiri Bus yang kamu tumpangi sudah meninggalkan tempat ini? Tidak ada lagi kendaraan lain di sini yang bisa mengantarkanmu ke Desa terkutuk itu.”
Vita menjawab, “Aku bisa menunggu sampai besok pagi.”
“Baiklah, kalau itu maumu. Tapi kita pulang dulu, atau mungkin kamu mau menginap di Hotel? Kita belum pernah menginap di Hotel bersama bukan?” rayu Yudha dengan berbagai cara agar Vita mau berubah pikiran.
“Aku tidak butuh rayuanmu, aku tetap mau pulang, kamu dengar atau tidak sih?” kesal Vita akhirnya ikut meninggi.
“Apa maumu, Vita ... kenapa kau keras kepala sekali?”
“Apa tidak cukup ada Rahma di sisimu? Atau mungkin bila kamu merasa kurang, kamu bisa menikah lagi,” kata Vita kemudian. Serampangan dia berbicara karena sudah terlanjur sakit hati.
“Ini bukan masalah cukup atau tidak cukup,” jawab Yudha menahan diri agar tetap berada dalam kesabarannya. “Bisakah kamu mempunyai bahasa yang lebih baik. Kamu terlalu merendahkanku seolah aku ini laki-laki yang doyan sekali mengawini perempuan.”
“Nyatanya begitu. Kamu mengawini dua perempuan sekaligus. Tidak sadar? Berkacalah!”
“Hanya kamu seorang yang bisa berkata senonoh ini denganku,” kata Yudha kemudian.
“Iya, dan kamu heran, kenapa aku tidak seperti Rahma yang selalu diam dan menurut padamu?” kata Vita tak mau kalah. “Itu karena Rahma dekat dengan Tuhan, sementara aku tidak!”
“CUKUP!” bentak Yudha. “Bagaimana kehidupan kita akan bahagia jika kamu selalu saja memancing perdebatan?”
Vita menjawab dengan tak kalah keras, “Kamulah penyebabnya!”
“Bukankah kau yang selama ini mengajakku bertengkar dan kau sangat terampil memicu pertengkaran setiap hari denganku?” kesal Yudha bukan main. “Ayo pulang. Kita bicarakan semua ini di rumah.”
“Aku bilang tidak!” tolak Vita dengan nyaring. “Aku tidak sudi berbagi dengan wanita mana pun. Bohong besar kalau ada wanita yang mau dimadu oleh suaminya sendiri.”
“Lalu maumu apa? Ingin aku menceraikan Rahma demi membahagiakanmu, begitu?”
“Ceraikan aku,” tantang Vita.
DEG!
Yudha terpaku. Kilat sakit menyelimuti hatinya.
“Apa kamu yakin?” tanya Yudha membuat Vita sontak berubah pucat pasi. “Apakah kamu paham dengan ucapanmu itu?”
Apakah Vita sudah siap mendengarkan kata ‘talak?’ Sesungguhnya dia berkata demikian bertujuan untuk menggertak nya saja. Karena Vita ingin melihat seberapa besar Yudha mencintainya. Namun apakah Yudha akan mengabulkannya?
“Apakah kamu sudah memikirkannya matang-matang?” tanya Yudha lagi dengan tegas. Matanya menyorot tajam. Dadanya mengembang kempis sesuai dengan deru napasnya yang menggebu menahan gejolak amarah.
“Selama ini aku sudah banyak bersabar. Aku membiarkanmu seperti itu karena aku berharap kelak sifatmu perlahan-lahan bisa berubah. Aku terus berusaha memperbaiki kerusakan yang kamu timbulkan. Tetapi malah kamu terus-terusan berusaha merusaknya kembali!”
Sekilas Yudha melayangkan padang ke sembarang arah, sebelum ia memfokuskan pandangannya lagi. “Asal kamu tahu. Ada rasa sakit di sini yang kupendam dan juga kutambal-tambal setiap kali kamu meminta bercerai. Mendiamkanku dengan berbagai alasan yang sebenarnya tak masuk akal hanya karena rasa cemburu yang begitu membutakanmu,” katanya lagi sambil menunjuk dadanya.
Vita menyela, “Maka dari itu, sudahi semuanya sekarang. Tidak apa kalau aku menjadi salah satu di antara kita yang mengalah. Ini demi kebaikanku juga nantinya. Aku rela kamu berbahagia dengannya, Mas. Sungguh,” Vita berusaha tegar. Dia tersenyum ikhlas. “Biarkan aku pergi dari kehidupan kalian ....”
Yudha menggeleng. “Tolong percayalah ... aku mencintaimu. Aku bersungguh-sungguh. Tetaplah di sini.”
“Pilih aku. Maka aku akan tetap di sini,” ucap Vita membuat pria itu tertegun. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit. Apalagi keadaan Rahma yang saat ini sedang mengandung. Niscaya Vita tidak akan menyadari hal ini jika dia berpikir sampai ke sana.
Untuk selama beberapa lama, mereka berada dalam keheningan. Seolah bumi ini hanya ada mereka berdua saja.
“Aku yakin kamu sulit menjawabnya. Karena kamu memang tidak mencintaiku,” kata Vita lagi berbaur dengan lelehan air mata.
“Hanya ada dua pilihan, Mas. Jika kamu memilihku, maka aku akan tetap tinggal. Tapi jika kamu memilih Rahma, aku akan pergi dan kita bercerai. Aku berjanji tidak akan menuntut apa pun. Toh kita juga masih berstatus menikah siri.”
Yudha mengusap wajahnya kasar. Dia berbalik badan dan memejamkan matanya untuk sejenak berpikir.
“Aku sudah tahu jawabannya,” ucap Vita lagi setelah beberapa saat dengan suara sesenggukan. “Aku memang wanita bodoh. Ya, aku yang bodoh. Cinta sama orang yang salah.”
Perlahan Vita mundur tanpa Yudha ketahui.
Yudha menghela napasnya dalam-dalam setelah beberapa lama pria itu berpikir. Dan dengan segenap keyakinan yang dimiliki, akhirnya dia memutuskan, “Baiklah ...,” pria itu berkata dengan bibir bergetar.
“Aku akan memilihmu. Tapi setelah Rahma—” namun tak terselesaikan karena pada saat ia menoleh, Vita sudah tidak ada lagi di belakangnya.
Yudha menunduk. Dahinya berkerut. Nafasnya tidak teratur. Lama kelamaan, air menyembur dari bola matanya.
“Aku sudah memilihmu, kamu dengar? Kenapa kamu malah pergi?”
***
To be continued.
Sabtu minggu jan terlalu ngarep-ngarep update ya. Ini kan udah banyak. Yang penting siapin aja poin sama votenya.
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...