ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Ketegangan di Kolam renang•
Mas Rizal terus menatapku. Entah apa yang membuatnya betah menatapku seperti itu. Aku pergi menghindar dari tatapan matanya, tapi dengan sengaja dia berdiri di depanku menutup jalanku. Aku bergeser buat cari jalan lain, tapi lagi-lagi dia menghadang jalanku. Apa maunya? Aku coba sekali lagi dan dia ngelakuin hal yang sama. Aku buka lebar-lebar mataku ke arahnya, tanpa bicara dia tarik tanganku. Dia membawaku ke taman belakang.
"Apa kamu udah nggak waras?" semprotku. Aku tarik tanganku dari genggaman Mas Rizal dengan kasar. "Nggak bisa apa sedikit lembut pada gadis cantik ini?"
"Cantik." Mas Rizal pelan tapi aku bisa mendengarnya. "Kamu benar-benar cantik." Dia memperjelas. Alisku bergabung, itu pujian atau ada maksud lain?
"Bukan cuma fisikmu tapi hatimu juga benar-benar menawanku." Sambungnya yang membuatku sedikit takut mendengarnya. Aku mundurkan tubuhku untuk menjaga jarak dengannya.
"Jangan terlalu memujiku, itu justru membuatku takut." ujarku.
"Takut aku berubah pikiran?" tanyanya. Dia berjalan mendekatiku. Aku berusaha terlihat santai. Dengan cepat Mas Rizal menarik tanganku, dia dekatkan tubuhnya dengan melingkarkan tangannya ke pinggulku. Aku berusaha mendorongnya tapi dia justru menekan tubuhku semakin erat. Dia tersenyum, kali ini senyumnya terlihat menakutkan. Jantungku berdebar kencang, mungkin detakannya terdengar oleh Mas Rizal.
"Beri aku satu isyarat, aku bisa ninggalin dia buat kamu." Bisiknya di telingaku.
Astaga, dia benar-benar nggak waras. Omongannya mulai nggak jelas kemana. Sekuat tenaga aku injak kakinya.
"Aw ...." Pegangannya beralih ke kakinya, dia meringis kesakitan.
"Apa terasa sakit?" Aku menatapnya dengan emosi yang tertahan.
"Apa kamu benar-benar takut?" Dia menatapku sebentar lalu tertawa keras dan tanpa beban. Nih orang benar-benar jengkelin.
"Guyonanmu nggak lucu!" cibirku. Aku cabikkan mulutku.
"Ekspresi mu tadi ... Hahaha ...." ucapnya dengan tawa lepas.
Aku duduk di atas ayunan besar di taman. Bahkan aku bisa tiduran di atasnya. Dari sini, aku bisa lihat kolam renang besar rumah ini. Mala dan Ifah masih berlarian di sana.
"Udah selesai ketawanya?" tanyaku. Mas Rizal menghampiriku. Dia duduk di ayunan, sebelahku. Aku angkat kedua kakiku dan menyilangkannya di atas ayunan. Sedang Mas Rizal mendorong dengan menekan kedua kakinya.
"Kamu pinter menarik perhatian mereka dengan kepolosan dan ketulusanmu. Cara bicaramu, benar-benar menghipnotis mereka. Nggak terlihat seperti umurmu. Pesanku, jangan cepat dewasa, atau akan banyak masalah menghampirimu." katanya.
"Aku hanya menjelaskan apa mauku dengan caraku. Dan sebisaku nggak nyakitin siapapun." ujarku. Mas Rizal tersenyum.
"Makasih ya Al." katanya. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Ayo." Ajaknya sambil mengulurkan tangannya. Mungkin Mas Rizal mau mengajakku ke tempat lain di rumah ini.
"Aku mau disini aja, aku nyaman disini."
"Kalau gitu, aku ambil camilan dulu" Mas Rizal beranjak pergi. Sebelum pergi, dia sempat menarik rantai ayunan, membuat ayunannya mengayun dengan kencang. Aku tersenyum girang.
Butuh waktu lama buat mengenalnya, karena sifatnya yang berubah-ubah. Tapi aku yakin sebenarnya dia pria dewasa yang baik, penuh kasih sayang dan perhatian.
'Byuuuurrrr ....'
Suara itu dari arah kolam. Spontan aku turun dari ayunan dan berlari ke arah kolam.
"Mama tolong, Mama ...." Mala berteriak histeris. Sementara Ifah berusaha menolong dirinya, anak itu nggak bisa berenang. Dia hampir tenggelam.
"Aduh!" pekikku. Aku jatuh, aku nggak perhatikan jalanku. Aku nggak tau, ada beberapa anak tangga yang memisahkan kolam renang dan taman.
Aku berusaha berdiri. "Aw ...." Rasanya sakit banget, sepertinya kakiku terkilir. Aku lepas sepatuku, dengan sekuat tenaga aku berdiri. Melihat Ifah berada di tengah kolam, rasa sakit ini mendadak nggak kerasa. Aku takut akan terlambat menolongnya.
'Byuuuurrrr ....'
Dengan cepat aku meraih tubuh Ifah. Dan mengangkatnya keluar dari kolam. Nafasku tersengal, kekhawatiranku muncul saat melihat tubuh pucat Ifah. Ya Allah, bantu aku membawanya kembali. Aku tekan dadanya, aku sedot mulutnya.
"Ada apa sayang?" Suara Mbak Mika panik. Semuanya kecuali Ibu berdiri mengelilingiku yang sibuk mengeluarkan air dari mulutnya. "Astaghfirullah, Ifah kenapa Yang?" Mbak Mika panik sambil memeluk Mala.
"Mbak, bawa Mala masuk aja!" Mas Rizal yang diiringi anggukan Mas Arifin. "Bik Yah, ambilkan handuk, buat Ifah juga buat dia." Perintah Mas Rizal sambil melihat ke arahku. Aku melihat ke arah Bik Yah yang terus menangis, kecemasan nampak di wajahnya.
"Tapi Mas ...." Bik Yah ragu.
Mas Rizal membuka jasnya dan memakaikan ke tubuhku. Lekuk tubuhku terlihat jelas.
"Jangan cemas, ada Mas Arifin." Mas Rizal menyakinkan Bik Yah. Walau berat, Bik Yah pergi menuruti perintah Mas Rizal.
Dokter Arifin jongkok di depanku. Dia pegang pergelangan tangan dan leher Ifah. Seakan membaca kecemasan dari Dokter Arifin, Mas Rizal menekan perut dan dada Ifah berulang-ulang.
"Apa yang kamu pikirkan Al? Ayo sedot mulutnya!" pekik Mas Rizal tegas. Aku benar-benar takut. Tubuhku gemetar. Ya Allah ....
Mas Rizal usap-usap kaki Ifah yang sudah berwarna biru. Ganti Dokter Arifin yang menekan perut dan dada Ifah, mungkin karena profesinya, Dokter Arifin tahu dan menekan di bagian yang benar.
Dan ....
"Uhuk uhuk uhuk ...." Ifah memuntahkan air dari mulutnya.
"Alhamdulillah ...." Pekikku, Mas Rizal dan Dokter Arifin kompak. Aku langsung memeluk dan menciuminya.
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️