NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi itu, SMA Pelita Bangsa berubah total. Umbul-umbul berwarna-warni menghiasi koridor, dan panggung megah sudah berdiri di tengah lapangan. Arkan datang dengan kewaspadaan tingkat tinggi; matanya terus memindai setiap sudut, dari teknisi sound system hingga petugas kebersihan, mencari tanda-tanda infiltrasi dari The Black Ledger.

Namun, di permukaan, ia harus tetap menjadi Arkan yang dingin.

"Semua sudah di posisi?" bisik Arkan ke earpiece tersembunyi di balik kerah seragamnya yang tertutup jaket.

"Aman, Bos. Gue di belakang panggung, memantau sinyal asing," suara Rio menyahut lewat frekuensi radio. "Tapi ada satu masalah yang lebih darurat dari agen musuh."

"Apa?"

"Nadira lagi bisik-bisik sama Bimo. Kayaknya lo harus siap-siap mental."

Belum sempat Arkan membalas, ia melihat Naura. Gadis itu tampil memukau dengan gaun kasual yang membuatnya terlihat seperti siswi teladan tanpa beban. Namun, saat mata mereka bertemu, Naura memberikan kode kecil, sentuhan pada antingnya, yang berarti dia juga merasakan kehadiran 'pengawas' lain di sekitarnya.

Acara Pensi berjalan lancar hingga tiba saatnya pengumuman penampilan dadakan dari perwakilan kelas. Nadira, ketua kelas sekaligus sahabat Naura yang sangat ambisius, naik ke atas panggung kecil di area kantin yang sedang ramai.

"Guys! Perhatian!" teriak Nadira menggunakan pengeras suara. "Kelas kita butuh penutupan yang manis buat sesi pagi ini. Dan karena kita tahu Arkan sama Naura kemarin habis 'rapat rahasia' buat konsep pensi, kita mau tantang mereka duet!"

"NAURA! ARKAN! DUET! DUET! DUET!"

Sorakan Bimo dan Rio adalah yang paling kencang, memprovokasi seluruh siswa di kantin untuk ikut bertepuk tangan.

"Ayo dong, Arkan! Jangan kaku terus kayak manekin!" seru Rio sambil mendorong Arkan maju. Di sisi lain, Nadira sudah menarik tangan Naura ke depan sebuah piano dan satu mikrofon berdiri.

Naura menoleh ke arah Arkan dengan senyum manis yang dipaksakan. "Gimana, Arkan? Mau kabur atau mau kasih mereka 'pertunjukan'?" bisiknya saat Arkan terpaksa naik ke panggung.

Arkan melirik ke arah kerumunan. Di kejauhan, ia melihat seorang pria bertopi hitam yang tampak terlalu fokus pada ponselnya, bukan pada panggung. Target terdeteksi.

"Satu lagu," gumam Arkan pelan. "Dan jangan lepas dari jangkauan gue."

Naura duduk di depan piano, jemarinya mulai menari memainkan intro lagu "Rewrite the Stars". Suaranya yang lembut dan jernih mengalun, membuat suasana kantin yang tadinya bising mendadak hening terpesona.

Saat bagian chorus, Arkan mengambil mikrofon. Suara baritonnya yang dalam dan stabil menyatu sempurna dengan vokal Naura.

“You know I want you, it's not a secret I try to hide...”

Di sela-sela lirik, Arkan berbisik sangat rendah, hampir menempel di telinga Naura saat mereka berbagi mikrofon. "Jam dua. Pria topi hitam. Dia bawa pemindai frekuensi."

Naura tidak berhenti bernyanyi, ia justru memberikan improvisasi nada tinggi yang indah, namun matanya melirik ke arah yang ditunjukkan Arkan. "Gue tahu. Tas gue di bawah kursi itu isinya pengacak sinyal. Aktifin pas gue ambil nada rendah," balas Naura lewat lirik yang ia samarkan.

Seluruh siswa bersorak histeris. Bagi mereka, ini adalah momen paling romantis tahun ini.

Bagi Arkan dan Naura, ini adalah sinkronisasi taktis di tengah kepungan musuh.

Begitu lagu berakhir, tepuk tangan riuh pecah. Bimo bahkan pura-pura menghapus air mata haru. "Gila, chemistry-nya dapet banget!"

Namun, saat mereka turun dari panggung, Arkan langsung mencengkeram lengan Naura dengan protektif. "Ikut gue. Sekarang."

"Waduh, mau dibawa ke mana tuh Naura?" goda Nadira, tapi Arkan tidak peduli.

Mereka berjalan cepat menuju area belakang aula yang sepi. Begitu hanya ada mereka berdua, Arkan menyudutkan Naura ke dinding, tapi matanya tetap waspada melihat sekeliling.

"Gue di sini buat jaga lo, bukan buat main band-bandan," kata Arkan dengan suara yang sangat dingin.

Naura tertawa kecil, ia melepaskan kuncian tangan Arkan. "Jaga gue? Atau takut kehilangan aset berharga Unit-X?"

"Black Ledger sudah masuk ke sini, Naura. Pria tadi itu unit pembersih. Kalau gue nggak ada di panggung tadi, dia sudah menyuntikkan pelacak ke tas lo."

Naura terdiam sejenak, wajah cerianya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius yang tajam. "Jadi ini alasan lo 'duet' sama gue? Buat jadi tameng?"

"Gue bakal jadi apa pun yang diperlukan supaya misi ini nggak gagal," balas Arkan tanpa ekspresi.

Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan masuk dari Najam

[Sektor Barat jebol. Mereka bergerak ke posisi kalian. Amankan adik gue sekarang!]

Arkan menatap Naura. "Waktu main-mainnya habis. Lo ikut gue ke safehouse sekarang, atau kita berdua mati di sekolah ini."

......................

"Ikut gue!" bentak Arkan.

Tanpa menunggu persetujuan, Arkan menyambar pergelangan tangan Naura. Mereka berlari menembus kerumunan siswa yang masih bersorak, melewati gerbang samping yang biasanya terkunci namun sudah disabotase oleh Arkan sebelumnya.

Di parkiran yang agak terisolasi, sebuah sedan hitam dengan kaca gelap sudah menyala. Begitu mereka keluar dari area gedung, dua motor besar dan satu SUV hitam meluncur cepat dari arah berlawanan.

"Masuk!" Arkan mendorong Naura ke kursi penumpang dan melompat ke kursi pengemudi.

TANG! TANG! TANG!

Suara benturan logam terdengar nyaring. Timah panas menghantam badan mobil dan kaca depan, meninggalkan jejak putih namun tidak retak sedikit pun.

"Kaca antipeluru?" Naura bertanya, suaranya tetap tenang meski napasnya sedikit memburu.

"Bukan cuma kacanya, seluruh bodinya baja komposit," jawab Arkan sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobil mencicit keras, meninggalkan kepulan asap saat Arkan melakukan u-turn tajam, menghindari kepungan SUV tersebut.

Arkan mengemudi dengan lihai, meliuk-liuk di antara kemacetan jalan raya luar sekolah. Ia menggunakan teknik tactical driving, memotong jalur dan memanfaatkan celah sempit yang membuat motor-motor pengejar kesulitan.

"Di bawah kursi lo," kata Arkan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari spion.

Naura meraba ke bawah jok dan menemukan sebuah kompartemen rahasia. Ia menarik keluar sebuah pistol semi-otomatis taktis. Dengan gerakan yang sangat terlatih, membuktikan bahwa dia bukan sekadar siswi biasa, Naura memeriksa magasin dan mengokangnya dalam satu gerakan halus.

"Jangan lecetkan mobil gue," gumam Arkan datar.

Naura mendengus pelan, senyum dinginnya kembali muncul. "Gue nggak janji kalau buat jendela belakang."

Naura menurunkan kaca jendela sedikit, cukup untuk moncong senjatanya keluar. Ia memutar tubuhnya, membidik melalui spion samping. Saat salah satu motor pengejar berusaha mendekat untuk menembak ban mereka, Naura menarik pelatuknya.

DOOR! DOOR!

Tembakan pertama menghantam blok mesin motor, menyebabkannya berasap. Tembakan kedua tepat mengenai ban depan, membuat motor itu terjungkal dan menghalangi jalur SUV di belakangnya.

"Satu jatuh," ucap Naura tenang.

Arkan membanting setir ke kanan, masuk ke area proyek pembangunan gedung yang sepi untuk menjauh dari keramaian warga. SUV hitam di belakang mereka mulai membalas tembakan lebih gencar. Arkan melihat melalui spion, wajahnya tetap kaku.

"Naura, pegangan. Gue bakal lakuin manuver PIT," instruksi Arkan.

"Lakuin aja, Arkan! Gue yang urus sisa peluru mereka!" Naura kembali menembak, kali ini mengincar kaca depan SUV lawan untuk memaksa mereka melambat.

Di tengah desingan peluru dan raungan mesin, koordinasi mereka terasa sangat presisi. Dua orang yang baru saja bernyanyi duet di atas panggung kini melakukan "duet" yang jauh lebih mematikan di jalanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!