NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. penolakan.

"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak ingin menikah."

Bela menghentikan langkah kakinya sayup sayup ia mendengar teriakan kakanya dari balik pintu.

Ia yakin kakak laki lakinya pasti sedang berdebat dengan sang ibu.

"Lalu sampai kapan kamu mau terus seperti ini, hidup segan mati pun tidak mau. Mama sedih melihat keadaanmu Brayen. Mama ingin kamu kembali seperti dulu, mama rindu nak kapan mama bisa melihat senyummu lagi?" Tanya Lita menatap sendu wajah putra yang dilahirkannya.

"Bagaimana bisa aku kembali seperti dulu sedangkan cintaku pergi meninggalkan ku." Lirih Brayen berlinang air mata.

Hati lita hancur melihatnya hanya karena seorang perempuan yang tidak tau diri anaknya bisa menjadi seperti itu.

"Kalau begitu lupakan dia dan carilah cinta sejatimu. Kenapa kamu masih mengingat wanita yang sama sekali tidak mengingatmu Brayen?" Tanya Lita kesal.

"Hanya dia cinta sejatiku tidak dengan lainnya. Aku mohon jangan bicara seperti itu tentang Maudy, dia bukan tidak mengingatku hanya saja..." Belum sempat ucapan Brayen berlanjut Lita sudah lebih dulu memotongnya.

"Hanya saja apa, jika dia benar benar mengingatmu seharusnya dia menghubungimu, menanyakan kabarmu bukan malah menghilang dan tidak ada kabar."

"Cukup ma, jangan menyalahkan Maudy lagi. Ini semua salahku, mungkin dia malu memiliki suami cacat sepertiku oleh sebab itu dia menghilang."

"Itu bukan alasan untuknya pergi Brayen. Bukankah cinta tidak memandang fisik, jika dia tulus dia pasti akan menemanimu apapun kondisimu."

Brayen terdiam, kata kata ibunya sedikit membuka mata hatinya.

Namun cintanya pada Maudy terlalu besar ia masih tidak bisa menerima kenyataan, ia tetap berfikir bahwa kepergian Maudy adalah karenanya.

Merasa suasana mulai tidak kondusif Bela pun akhirnya masuk dan menghampiri ibunya.

"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu?" Tanya Lita menatap anak gadisnya dengan pandangan tidak suka.

Senyum lebar terukir dibibir Bela kemudian ia duduk disamping lita dan memeluk lengan wanita itu erat.

"Jangan marah, kalau aku tidak segera datang kalian pasti akan terus berdebat." Ucap Bela dengan manja.

Lita paling tidak bisa marah ketika melihat anaknya seperti itu ia hanya menghela nafasnya dan menatap Brayen untuk sejenak.

"Besok jadwal terapi mu, mama harap kamu mau datang."

"Tidak akan..." Jawab Brayen singkat tanpa mau menoleh kepada ibunya.

"Kamu...."

Lita emosi ia sudah berdiri dari tempat duduknya ia tidak mengerti mengapa Brayen begitu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkannya.

"Ma..." Panggil Bela menggelengkan kepalanya perlahan memperingatkan sang ibu untuk tidak mengusik kakak laki lakinya lagi.

Lita berdecak kesal dan kembali duduk disamping Bela.

Hening mereka bertiga hanya diam sampai akhirnya Bela tidak tahan dan mendekatkan bibirnya ke telinga ibunya.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mama." Bisik Bela pelan, Lita mengerutkan dahinya dalam sementara bela sudah memberi kode kepada ibunya untuk segera pergi meninggalkan kamar Brayen.

...

...

"Ada apa Bela, kenapa tidak bicara dikamar kakakmu saja?" Tanya Lita penasaran, saat ini ia sudah berada diruang tamu bersama dengan bela dan sang suami.

"Aku takut kakak marah setelah mendengar apa yang akan aku katakan." Lita dan Lukas berpandangan sejenak mereka jadi semakin penasaran sebenarnya apa yang ingin anaknya itu sampaikan.

"Tapi tunggu dulu, kenapa pipimu merah siapa yang sudah memukulmu?" Tanya Lukas khawatir ia segera mendekati Bela dan memperhatikan wajah putri kesayangannya.

"Kekacauan apa yang sudah kamu buat." Berbeda dengan suaminya Lita justru malah curiga wajar saja selama ini Bela selalu berbuat onar, entah itu tawuran atau bertengkar dengan temannya.

"Kenapa mama malah curiga padaku, aku tidak membuat kekacauan apa apa. Justru akulah korbannya." Lirih Bela dengan wajah mendung.

Lita sedikit kasihan melihatnya baru kali ini Bela murung seperti itu, ia rasa anaknya tidak berbohong ia segera mendekati Bela dan menyentuh pipi anak perempuannya dengan perlahan.

"Sakit, tidak bisakah mama pelan pelan." Teriak Bela memegangi pipinya.

"Mama hanya menyentuhnya Bela kenapa kamu begitu kesakitan. Lagi pula kenapa kamu bisa menjadi seperti ini?" Tanya Lita penasaran.

"Ini semua karena Rio, dia yang sudah menamparku sampai pipiku meninggalkan bekas."

"Kurang ajar sekali anak itu, lain kali kalau dia datang aku akan membunuhnya." Ucap Lukas dengan nada berapi api.

"Kamu tidak akan bisa melakukannya pa, kamu bisa masuk penjara jika melakukan itu."ucap Lita memperingatkan.

Lukas meringis memperlihatkan gigi putihnya, istrinya benar ia tidak akan pernah bisa melakukan itu mengingat negara mereka adalah negara hukum.

"Bukankah mama sudah memperingatkan, laki laki itu tidak baik untukmu tapi kamu malah tidak mau mendengarkan mama dan tetap menjalin hubungan dengannya sekarang... Apa yang kamu dapatkan, itu baru pipimu yang terluka bukan yang lain. Kamu sudah tau kan dia laki laki seperti apa, apa kamu tetap mau menjalin hubungan dengannya?"

Bela menggelengkan kepalanya, ia tidak akan mau apalagi Rio sudah mengkhianati dirinya.

"Baguslah kalau begitu. Jadi kamu membawa mama kesini hanya untuk ini?"

"Bukan, ini menyangkut masa depan kak Brayen."

"Ada apa dengannya?" Tanya Lita khawatir.

"Aku sudah menemukan wanita yang cocok untuknya."

"Siapa apa itu temanmu, mama tidak setuju. Mama tau teman temanmu seperti apa, mereka hanya suka berfoya foya. Jika kakakmu menikah dengannya bukannya sembuh justru semakin parah."

Bela berdecak kesal, ia heran mengapa ibunya begitu tidak sabaran padahal ia belum menyelesaikan perkataannya.

"Aku belum selesai bicara ma, orang yang mau aku jodohkan dengan kakak berbeda dengan teman teman yang biasanya mama temui. Aku baru bertemu dengannya, dia seorang wanita yang pemberani, baik hati dan pastinya sangat cantik."

" Saat aku bertengkar dengan rio dia yang menyelamatkan aku, membelaku didepan banyak orang bahkan mengobati lukaku." Jeda bela melirik lita, ia ingin melihat reaksi ibunya dan benar saja sepertinya ibunya tertarik dengan wanita yang ia ceritakan.

"Aku kagum padanya, ditengah tengah masalah yang ditanggungnya ia masih memiliki niat untuk membantu orang lain."

"Lalu dimana dia sekarang, kenapa kamu tidak membawanya pulang untuk bertemu dengan mama?" Tanya Lita dengan tidak sabar.

"Aku mau membawanya, tapi kepadanya tidak memungkinkan untuk itu." Ucap Bela yang membuat Lita mengangkat sebelah alisnya.

"Apa maksudmu, apa jangan jangan kamu mengarangnya?"

"Mama ini selalu berburuk sangka kepadaku siapa juga yang mengarangnya aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak bisa membawa dia kesini karena ibunya sedang sakit dan dia haus menjaganya dirumah sakit."

"Sakit apa, apakah parah?"

"Jantung dan ibunya harus segera dioperasi jika tidak nyawanya tidak tertolong. " Hati lita seketika tergerak ia langsung menarik bela hingga membuat bela berdiri dengan paksa dari tempat duduknya.

"Apa yang ingin mama lakukan?" Tanya Bela heran.

"Tentu saja pergi membantu calon menantu mama." Bela ingin bertanya lagi namun Lita sudah menariknya dan membawanya pergi.

Lukas hanya tersenyum melihat kelakukan istrinya itu, ia tau jika istrinya sudah berkehendak maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya termasuk dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!