NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut Kantin

Sudut kantin yang pengap—bau minyak goreng basi bercampur aroma kardus lembap—seharusnya membuat orang normal kabur. Tapi bagi Misca, ini adalah surga kecil di tengah hiruk-pikuk sekolah yang melelahkan.

Jeka duduk di seberangnya, tangannya sibuk menyusun remah kerupuk di atas meja kayu berminyak seperti sedang menyusun strategi perang. Mata di balik kacamatanya tajam, fokus—terlalu fokus untuk sekadar bermain-main dengan makanan.

"Gini, Mis." Jeka tidak mengangkat kepala, jarinya terus menggerakkan serpihan kerupuk. "Utara udah di tangan kita. Solid. Tapi Timur, Barat, Selatan? Mereka jalan sendiri-sendiri kayak ayam kehilangan induknya."

Vino di sebelahnya menguap lebar—terlalu lebar sampai rahangnya bunyi krek. Tapi matanya tidak tidur. "Damai sih sekarang. Tapi kalau ada masalah besar? Kita bakal rontok satu-satu. Nggak ada visi yang sama, nggak ada komando yang jelas. Ujung-ujungnya saling salah-salahan pas udah keburu telat."

Misca mengaduk es kopinya. Bunyi dentingan sendok dengan gelas jadi satu-satunya respons. Ia tampak seperti remaja biasa yang sedang melamun tentang PR matematika atau entah apa. Tapi Jeka dan Vino tahu—di balik tatapan kosong itu, Misca sedang menghitung. Selalu menghitung.

Jeka akhirnya mengangkat kepala, menatap Misca dengan serius. "Kita butuh satu nama, Mis. Satu orang yang bisa bikin mereka semua diam tanpa perlu teriak-teriak."

"Masalahnya," Vino menambahkan sambil meraih botol air mineral, "ego orang-orang di wilayah lain itu setinggi gedung. Tino di Timur itu ambisius, tapi mentalnya rapuh kayak kerupuk ini—satu tekan, remuk. Raka di Barat? Otaknya jalan terus, tapi kebanyakan mikir sampai lupa eksekusi. Dan Nanda..."

Vino tidak melanjutkan. Tidak perlu. Mereka semua tahu Nanda itu seperti apa—api yang bisa menghangatkan atau membakar habis, tergantung mood.

Pandangan Jeka dan Vino kini tertuju pada satu titik: Misca.

Misca masih mengaduk kopinya. Pelan. Monoton. Seperti ritual yang menenangkan.

"Misca itu beda, Jek." Vino bersandar, tangannya main-main dengan tutup botol. "Dia nggak perlu teriak buat didengar. Cukup diam, dan orang bakal mikir dua kali sebelum cari masalah. Itu jenis otoritas yang nggak bisa dibuat-buat. Itu... bawaan."

Misca akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya datar, tapi ada pertanyaan di sana. "Kenapa harus aku?"

"Karena kamu yang paling efektif," Vino menjawab cepat, seperti sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi malam. "Kamu nggak jualan drama. Nggak jualan janji manis. Tiga kandidat lain itu bakal debat sampai pagi cuma buat nentuin siapa yang paling hebat. Tapi kalau kamu yang maju?"

Vino mendekat sedikit, suaranya turun. "Mereka cuma butuh liat mata kamu buat tahu kalau diskusi sudah selesai."

Ada pergulatan di mata Misca—sangat singkat, hampir tidak terlihat. Tapi Jeka menangkapnya. Misca membenci sorot lampu. Membenci jadi pusat perhatian. Yang ia mau cuma ketenangan, secangkir kopi, dan tidak ada drama yang merepotkan.

Tapi di lubuk hatinya, ada sesuatu yang lebih dalam. Trauma lama tentang ketidakberdayaan. Tentang kehilangan kendali. Menjadi pemimpin bukan soal kekuasaan baginya—tapi soal memastikan tidak ada lagi hal yang lepas dari kendalinya. Tidak ada lagi orang-orang di sekitarnya yang terluka karena ia tidak bisa melindungi.

Misca meletakkan sendoknya. Bunyi ting kecil itu seolah membungkam seluruh suara bising kantin di kejauhan.

Ia hanya mengangguk—sangat tipis, hampir tidak terlihat. Tapi cukup.

Cukup untuk membuat Jeka mengembuskan napas lega yang ia tahan sejak tadi.

"Aku ambil alih." Suara Misca datar, pendek, tapi berbobot seperti batu yang dijatuhkan ke danau tenang.

Jeka tersenyum—senyum pertama sejak mereka duduk di sini. "Sip. Malam ini kita kirim kabar ke mereka. Nggak ada lagi pemilihan bertele-tele. Utara sudah punya jawaban."

Vino menyeringai, memukul meja pelan dengan kepalan tangan. "Mereka bakal kaget. Cowok paling pendiam di sekolah bakal jadi mimpi buruk mereka malam ini."

Misca berdiri, menyampirkan jaket denimnya di bahu dengan gerakan malas. Tapi matanya—matanya sudah berubah. Tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang menyala di sana, dingin dan tajam seperti pisau yang baru diasah.

"Jeka, siapin semua datanya. Vino, jangan telat." Perintahnya singkat, efisien, tidak ada ruang untuk debat.

Ia melangkah keluar dari sudut kantin, meninggalkan Jeka dan Vino yang masih duduk dengan senyum puas di wajah mereka.

Lorong Sekolah

Begitu Misca masuk ke lorong utama, atmosfer berubah.

Bukan hal aneh kalau kepala-kepala menoleh saat ia lewat. Seragam putihnya yang sedikit kusut, rambut hitam yang jatuh menutupi dahi, dan cara ia berjalan—tenang tapi punya presence yang tidak bisa diabaikan—membuat orang instingtif memberikan jalan.

"Gila, Misca makin hari auranya makin beda ya?" bisik seorang siswi di dekat loker, wajahnya memerah saat Misca lewat tanpa menoleh sedikitpun.

Temannya mengangguk cepat, suaranya gemetar antara kagum dan takut. "Dia kayak punya dunia sendiri. Ganteng sih, tapi... ngeri-ngeri sedap. Kayak kalau kamu deketin, kamu bakal beku di tempat."

Misca terus berjalan. Ia tidak merasa bangga dengan perhatian itu. Baginya, semua bisikan itu hanyalah white noise—gangguan yang tidak penting. Ia adalah tembok yang tak bisa ditembus, fokus pada satu titik di ujung koridor.

Di belakangnya, Vino dan Jeka berjalan santai sambil mengamati fenomena itu.

Vino tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepala. "Lihat itu, Jek. Kita yang capek-capek bikin strategi, dia cuma jalan doang udah dapet massa."

Jeka membetulkan kacamatanya, matanya yang tajam mengamati punggung Misca. "Aku rasa dia nggak butuh pengakuan, Vin. Itu bedanya dia sama kita. Misca itu sebenarnya lebih suka di rumah, tenang, tanpa gangguan. Dia mau maju jadi kandidat itu cuma karena..."

Jeka menggantung kalimatnya, tapi Vino tahu apa yang tidak diucapkan: Karena dia menghormati kita. Karena dia tidak mau lihat kita dalam posisi sulit.

"Makanya kita harus pastikan malam ini berjalan lancar," Vino berkata pelan, nada mainnya menghilang digantikan keseriusan. "Karena kalau Misca sudah bilang 'ya', dia nggak akan mundur. Bahkan kalau harus berdarah-darah."

Warung Kopi Sore Hari

Pukul tiga sore. Bel pulang sekolah bukan berarti waktu istirahat—bagi mereka, ini adalah awal dari jam kerja yang sesungguhnya.

Di sebuah warung kopi sederhana yang jauh dari pengawasan guru, ketiganya kembali berkumpul. Misca menyesap kopi hitamnya yang pahit—tanpa gula, tanpa susu, murni pahit. Jeka sibuk dengan ponselnya, jempolnya bergerak cepat mengetik pesan.

"Tino, Raka, dan Nanda sudah konfirmasi." Jeka tidak mengangkat kepala dari layar. "Mereka bakal datang ke gudang tua di wilayah Utara malam ini. Jam sembilan tepat."

Vino menyalakan rokok, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Mereka pikir ini cuma pertemuan buat bahas mekanisme pemilihan. Mereka belum tahu kalau kita datang buat kasih keputusan final."

Ia tersenyum—senyum yang lebih mirip seringai. "Pasti mereka kaget lihat siapa yang maju dari Utara. Cowok paling pendiam di sekolah bakal jadi mimpi buruk mereka malam ini."

Misca berdiri, menyampirkan jaket denimnya di bahu. Matanya yang tadi terlihat mengantuk kini menajam, memantulkan lampu jalanan yang mulai menyala di luar jendela.

"Jeka, siapin semua datanya. Vino, jangan telat." Suaranya datar tapi ada tekanan di sana—tekanan yang membuat orang tahu ini bukan permintaan, tapi perintah.

Ia melangkah keluar dari warung kopi, menuju kegelapan malam yang mulai turun.

Vino menatap punggung Misca yang menghilang di balik pintu. "Jek, kau yakin dia siap?"

Jeka menutup laptopnya pelan, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan konfirmasi dari tiga wilayah lain. "Secara fisik, ya. Tapi secara mental..."

Ia terdiam, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Aku khawatir Misca terlalu tenang. Terlalu siap menerima apapun yang terjadi malam ini. Seperti dia sudah pasrah pada takdir."

"Maka tugas kita," Vino mematikan rokoknya dengan gerakan keras, "memastikan takdir itu berpihak padanya. Apapun yang terjadi di gudang nanti, Misca tidak boleh mundur. Karena kalau dia mundur..."

Vino tidak melanjutkan. Tapi mereka berdua tahu: kalau Misca mundur, Utara runtuh. Dan kalau Utara runtuh, empat wilayah akan tenggelam dalam kekacauan yang tidak bisa dihentikan.

Misca memacu motornya menembus malam. Angin dingin menusuk wajahnya, tapi ia tidak peduli. Pikirannya sudah di gudang tua—membayangkan tiga wajah yang akan ia hadapi, menghitung kemungkinan, memetakan strategi.

Demi persahabatan.

Demi ketenangan yang ia cari.

Demi orang-orang yang ia pedulikan.

Ia akan memastikan bahwa malam ini, empat wilayah akan tunduk pada satu komando.

Komando-nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!