NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Reruntuhan Candi dan Bisikan Hutan Terlarang

Ayu dan Bayu segera mengangkat mengangkat pecahan batu itu dari tubuh Rendra. Dengan hati-hati, mereka menarik Rendra keluar dari bawah reruntuhan.

"Rendra! Rendra, kau tidak apa-apa?" tanya Ayu dengan cemas, memeriksa luka-luka Rendra.

Rendra terbatuk-batuk dan meringis kesakitan. "Aku... aku baik-baik saja," jawabnya lemah. "Terima kasih..."

"Kita harus segera keluar dari sini!" seru Bayu. "Gua ini akan segera runtuh!"

Dengan susah payah, mereka membantu Rendra berdiri dan berjalan keluar dari gua. Mereka berlari sekuat tenaga, menghindari reruntuhan yang berjatuhan. Akhirnya, mereka berhasil keluar dari gua, tepat saat gua itu runtuh sepenuhnya.

Mereka terjatuh di tanah, terengah-engah dan dipenuhi debu. Mereka selamat.

"Kita berhasil..." kata Ayu dengan nada lega, memeluk Rendra erat-erat.

"Ya, kita berhasil," jawab Bayu, tersenyum lemah. "Tapi kita hampir saja kehilanganmu, Rendra."

Rendra membalas pelukan Ayu dan menepuk pundak Bayu. "Aku berutang nyawa pada kalian," katanya dengan tulus. "Terima kasih telah menyelamatkanku."

Saat mereka beristirahat sejenak, Ayu menyadari sesuatu. "Artefak itu!" serunya. "Kita melupakan artefak itu!"

Mereka saling berpandangan. Mereka telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencari artefak itu, namun mereka pulang dengan tangan kosong.

"Kita tidak bisa kembali ke sana," kata Bayu dengan nada tegas. "Gua itu sudah runtuh. Terlalu berbahaya."

"Tapi bagaimana dengan artefak itu?" tanya Ayu dengan nada kecewa. "Kita harus menghentikan sekte itu."

"Kita akan mencari cara lain," kata Rendra dengan nada bijak. "Kita masih punya pilihan lain. Gua Siluman bukanlah satu-satunya tempat yang mungkin menjadi tempat persembunyian artefak itu."

Mereka setuju untuk melanjutkan pencarian mereka di tempat lain. Meskipun mereka gagal menemukan artefak itu di Gua Siluman, mereka tidak kehilangan harapan. Mereka telah belajar sesuatu yang berharga tentang persahabatan, keberanian, dan pengorbanan. Mereka tahu bahwa mereka akan menghadapi tantangan yang lebih berat di masa depan, tetapi mereka siap untuk menghadapinya bersama-sama.

Saat mereka meninggalkan Gua Siluman, mereka melihat ke belakang. Gua itu telah menjadi tumpukan reruntuhan. Namun, di tengah reruntuhan itu, mereka melihat secercah cahaya yang bersinar terang. Akankah cahaya itu membimbing mereka menuju artefak yang hilang dan kemenangan atas sekte sesat, ataukah itu hanya ilusi yang akan membawa mereka menuju kehancuran?"

Bab 44: Jejak Berpencar: Antara Reruntuhan Candi dan Bisikan Hutan Terlarang

"...Pencarian berlanjut, terpecah antara keyakinan dan intuisi. Di manakah jejak artefak itu akan terungkap?"

Setelah lolos dari Gua Siluman yang runtuh, dengan Rendra yang masih memegangi bahunya karena luka-luka, ketiganya kembali ke rumah Mbah Karto. Mereka menceritakan semua yang terjadi, termasuk kegagalan mereka menemukan artefak dan pengorbanan Rendra. Mbah Karto mendengarkan dengan seksama, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Kalian beruntung masih hidup," kata Mbah Karto setelah mendengar cerita mereka. "Gua Siluman memang tempat yang berbahaya. Kekuatan gaib di sana sangat kuat."

"Tapi kita gagal menemukan artefak itu," kata Ayu dengan nada kecewa. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Jangan berkecil hati," kata Mbah Karto. "Masih ada dua tempat lagi yang bisa kita selidiki: Reruntuhan Candi Tua dan Hutan Larangan."

"Reruntuhan Candi Tua?" tanya Bayu dengan nada penasaran. "Aku pernah mendengar tentang tempat itu, tapi aku tidak tahu di mana lokasinya."

"Reruntuhan Candi Tua terletak di puncak bukit di sebelah timur desa," jawab Mbah Karto. "Menurut legenda, candi itu dibangun oleh kerajaan kuno berabad-abad yang lalu. Candi itu dihancurkan oleh gempa bumi, tetapi reruntuhannya masih bisa dilihat sampai sekarang."

"Dan Hutan Larangan?" tanya Rendra.

"Hutan Larangan adalah hutan yang terletak di sebelah selatan desa," jawab Mbah Karto. "Hutan itu dianggap keramat oleh warga desa. Tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam hutan itu, karena konon dijaga oleh makhluk gaib yang menyeramkan."

Ayu, Rendra, dan Bayu saling berpandangan. Mereka harus memutuskan ke mana mereka akan pergi selanjutnya.

"Aku rasa kita harus pergi ke Reruntuhan Candi Tua," kata Ayu. "Tempat itu lebih mudah diakses daripada Hutan Larangan. Kita bisa mencari informasi tentang artefak itu di sana."

"Aku setuju," kata Bayu. "Reruntuhan Candi Tua mungkin menyimpan petunjuk tentang keberadaan artefak itu."

Namun, Rendra memiliki pendapat yang berbeda. "Aku merasa kita harus pergi ke Hutan Larangan," katanya dengan nada yakin. "Aku punya firasat bahwa artefak itu disembunyikan di sana."

"Hutan Larangan?" tanya Ayu dengan nada terkejut. "Tapi tempat itu sangat berbahaya! Tidak ada seorang pun yang berani masuk ke sana!"

"Aku tahu," jawab Rendra. "Tapi aku merasa kita harus mengikuti firasatku. Aku yakin artefak itu ada di sana."

Ayu dan Bayu terdiam. Mereka tahu bahwa Rendra memiliki intuisi yang kuat. Namun, mereka juga takut untuk pergi ke Hutan Larangan.

"Bagaimana menurutmu, Mbah?" tanya Ayu.

Mbah Karto menghela napas panjang. "Aku tidak bisa memutuskan untuk kalian," katanya. "Kalian harus mengikuti kata hati kalian. Pilihlah tempat yang menurut kalian paling tepat."

Ayu, Rendra, dan Bayu terdiam sejenak. Mereka memikirkan semua risiko dan konsekuensi yang mungkin terjadi. Akhirnya, mereka membuat keputusan.

"Kita akan berpisah," kata Ayu. "Bayu, kau akan pergi ke Reruntuhan Candi Tua. Aku dan Rendra akan pergi ke Hutan Larangan."

"Apa?" seru Bayu dengan nada terkejut. "Kalian gila! Kita tidak bisa berpisah! Terlalu berbahaya!"

"Aku tahu," jawab Ayu. "Tapi ini satu-satunya cara untuk mempercepat pencarian kita. Jika kita berpisah, kita akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menemukan artefak itu."

"Tapi bagaimana jika sesuatu terjadi pada kalian?" tanya Bayu dengan nada khawatir.

"Kita akan berhati-hati," jawab Rendra. "Kita akan saling menjaga dan saling menghubungi jika terjadi sesuatu."

Setelah berdebat panjang lebar, Bayu akhirnya setuju dengan rencana Ayu dan Rendra. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di rumah Mbah Karto setelah menyelesaikan pencarian mereka.

Keesokan harinya, mereka berpisah. Bayu pergi ke Reruntuhan Candi Tua, sementara Ayu dan Rendra pergi ke Hutan Larangan. Akankah keputusan mereka untuk berpisah membawa mereka menuju artefak yang hilang, ataukah justru memecah belah persahabatan mereka dan membawa mereka menuju kehancuran.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!