Kecelakaan maut dalam perjalanan ke puncak, mengantar Senja menjadi seorang janda diusia yang masih sangat muda. Suami dan putra satu-satunya dinyatakan meninggal dunia di tempat.
Setelah peristiwa itu, takdir membawa Senja bertemu dengan Deandra dan Aleandro. Pasangan yang sudah lama menikah tetapi belum juga dianugerahi keturunan.
Deandra adalah atasan Senja di tempatnya bekerja. Karena sesuatu hal, Senja diminta untuk menjadi surrogate mother untuk calon anak dari Deandra dan juga Aleandro.
Bersediakah Senja menerima permintaan atasannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih mencari Senja
Darren dan Aleandro memasuki ruangan Firly dengan emosi dan tanpa permisi. Firly yang tidak menduga sama sekali akan kedatangan Darren berniat menyambut tamunya itu, dengan berdiri Menghampiri keduanya sembari tersenyum ramah.
Aleandro memandang Firly dari atas ke bawah. Firly sangat identik dengan Rafli. Aleandro pernah melihat dari jarak jauh wajah Firly, Aleandro mengira itu hanya mirip. Tapi setelah melihat dari jarak sedekat ini, wajah Firly jelas tidak hanya mirip tapi benar - benar identik.
BUGGGGHHHH........ BUGGGGHHH......
Darren melayangkan bogeman tangan kekarnya pada Firly sebanyak dua kali. Tepat mengenai rahang pipi kanan dan juga rahang bawah bagian tepi. Bogeman itu sukses membuat sudut bibir Firly sedikit mengeluarkan darah.
Aleandro yang baru saja menyadari tindakan Darren, segera menahan tangan Darren dengan kuat. Tubuh Firly tidak sebesar tubuhnya dan juga tubuh Darren. Firly tidak akan mampu menang dari seorang Darren yang jago Aikido. Sikap Darren yang selalu emosional, jika dibiarkan hanya akan mendatangkan masalah baginya.
"Katakan di mana Senja sekarang?" teriak Darren dengan emosi.
"Kenapa kamu bertanya padaku? Bukankah kamu kekasih Senja? Dia pasti akan memberitahumu kemanapun dia pergi. Kecuali dia sudah bosan denganmu." jawab Firly sambil mengambil tisu untuk membersihkan darah di tepi bibirnya.
Aleandro heran dengan ucapan Firly, sejak kapan Senja menjadi kekasih Darren. Rasanya baru beberapa hari dia meninggalkan Senja di negara S tanpa dirinya dan Deandra, tapi kenapa banyak sekali hal yang sepertinya dia lewatkan.
"Cepat katakan atau aku akan mematahkan kakimu," ancam Darren.
Firly dengan santai meneguk segelas air putih yang ada di atas mejanya.
"Aku bicara denganmu saja. Dia terlalu emosional, aku bisa mengajukan tuntutan ke pengadilan. Di kantorku setiap sudut selalu ada cctv." ucap Firly sambil memandang Aleandro.
"Katakan pada kami kemana kamu membawa Senja ?" tanya Aleandro lebih pelan jauh dibanding Darren.
"Senja? aku bahkan belum pernah lagi bertemu dengannya setelah terakhir kali bersamanya di kantor tuan arogan ini." Firly melirik sinis ke arah Darren.
Aleandro mengeluarkan ponselnya dan memutar video rekaman cctv detik-detik Senja memasuki mobil yang menjemputnya .
Firly memutar kembali rekaman video itu lalu memperhatikannya dengan lebih fokus .
"Bukankah mobil itu berasal dari perusahaanmu? Di negara ini Senja tidak mengenal banyak orang. Bahkan selain keluarga kami, kamulah satu-satunya orang luar yang dikenal Senja," tegas Aleandro.
"Mobil itu asalnya memang dari perusahaanku, Karena kami yang mengimportnya. Tapi mobil itu sudah laku terjual beberapa minggu yang lalu." Firly memegang rahangnya yang terlihat memar .
"Jangan membodohi kami! Katakan sekarang atau kamu akan keluar dari ruangan ini dengan kursi roda." Darren lagi-lagi mengancam.
"Sudah aku bilang, aku sama sekali tidak tau di mana Senja sekarang. Seharian kemarin aku berada di lokasi proyek reklamasiku. Kalian bisa memeriksa seluruh cctv yang ada di sana untuk memastikan kebenaran ucapanku." ucap Firly begitu yakin.
Aleandro menatap mata Firly yang kini juga sedang menatapnya tajam. Tidak ada kebohongan yang tampak di sana.
"Siapa yang membeli mobil itu darimu?" tanya Aleandro kemudian.
"Aku tidak tau, Karena aku tidak pernah peduli dan tidak mau tau. Yang penting jualanku laku dan mendatangkan banyak keuntungan buatku," Firly menjawab dengan santai.
"Tidak mungkin! kamu pasti tau, karena mereka pembeli barang limited. Mereka pasti terhubung langsung denganmu," selidik Aleandro.
"Kalaupun aku tau, sudah seharusnya aku menjaga privasi mereka dari orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali denganku, juga dengan mereka." ujar Aleandro, mulai jengah.
"Jangan berkelit, mobil itu hanya ada 4 di negara S ini, kamu pasti mengingatnya atau kamu memang sengaja tidak menginginkan kami bertemu Senja. Ah ..... Pasti kamu sedang bersekongkol dengan Senja," tuduh Darren.
"Terserah apa katamu. Kalian buktikan saja tuduhan kalian! Jika memang benar aku yang menyembunyikan Senja, terserah mau kalian, apakan aku. Tapi kalau tuduhan kalian tidak terbukti, kalian yang akan tau akibatnya." Firly kini balik mengancam .
"Jangan mengancamku Firly! Kamu tau aku tidak takut dengan apapun," teriak Darren kembali emosi.
"Kendalikan emosimu Darr! emosi tidak akan membawamu pada Senja. Jangan-jangan Senja sedang menjauh karena menghindari emosimu yang meledak-ledak ini. Perhatikanlah cara dia pergi. Siapapun yang bersama Senja sekarang. Dia tidak menculiknya. Senja yang menghubungi orang itu untuk menjemputnya. Polisi sekalipun tidak akan menanggapi laporan kalian hanya berdasarkan video itu. Senja sedang ingin menghindari kalian," ucap Firly dengan pandangan sinis.
Aleandro diam, yang diucapkan Firly ada benarnya. Saat keluar dari Mansion, Senja terlihat baik-baik saja. Pasti terjadi sesuatu antara Senja dan Darren yang memicu Senja akhirnya memilih keluar dari apartemen.
"Kita ke Mansion utama," ucap Aleandro, tajam pada Darren sambil keluar dari ruangan Firly tanpa pamit.
Darren mengangkat jari tengahnya dan menunjukkan pada Firly.
"Aku tidak akan membiarkan Senja jatuh ke tanganmu. Aku bersumpah." ucap Darren pada Firly sesaat sebelum dia keluar meninggalkan ruangan Firly.
Sepeninggalan Darren dan Aleandro, Firly menyuruh asisten pribadinya yang bernama Ega menemuinya di ruangan.
"Cari tau siapa pemilik sekaligis yang memimpin perusahaan DNG. Cari tau sedetail- detailnya dan ada hubungan apa orang itu dengan Senja. Kalau bisa temukan, di mana mereka membawa Senja. Lakukan secepat mungkin!" perintah Firly pada Ega.
"Baik pak, semoga ini tidak sulit. Karena kita sedang berada di negara yang sebagian besar bisnisnya di kuasai oleh perusahaan DNG. Kedudukan mereka sangat penting, tidak mudah mencari informasi tentang mereka ... Mereka bisa seenaknya menutup dan membuka akses informasi apapun semaunya."
"Lakukan saja semaksimal yang kamu bisa. Pastikan Senja baik-baik saja, itu yang utama." Firly memberi perintah dengan serius.
Ega menganggukkan kepala sambil membungkukkan badannya sedikit,Lalu meninggalkan ruangan Firly.
"Kamu tidak boleh sejauh ini dariku, Senja," gumam Firly terdengar penuh kekhawatiran .
*******
Darren dan Aleandro melangkahkan kakinya menuju ruang tengah Mansion Hutama. Hanya ada Hutama dan papa mama Darren di sana. Orangtua Aleandro sudah kembali ke negaranya.
Suasana hening dan tegang sangat terasa. Mereka sama-sama sedang menunggu cerita atau kronologi sebenarnya dari Darren. Sangat tidak mungkin tiba-tiba Senja memutuskan meninggalkan apartemen Aleandro.
Sepanjang langkahnya, Darren terus menyusun dan merangkai kata agar dia terhindar dari kemarahan yang berlebihan.
Darren mencoba mengulur waktu untuk tidak terburu-buru sampai di ruang tengah. Kali ini Darren meminta waktu sebentar untuk ke toilet yang berada di ruang tengah.
Darren membasuh wajahnya supaya otak dan jiwa raganya menjadi segar.Memandangi wajahnya di cermin, lalu tersenyum licik. Darren baru saja menemumakan ide gila yang terlintas begitu saja di fikirannya yang masih tidak waras akibat overthinking pada perhatian Aleandro pada Senja.
"Senja Khairunisa Kemala, saat kamu kembali. Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku belum puas bermain-main denganmu," janji Darren dengan seringai liciknya pada diri sendiri.
Darren membuka pintu toilet lalu dengan langkah pasti menuju ruang tengah dengan wajah percaya diri. Tidak ada kekhawatiran di wajah Darren seperti sebelumnya.
"Ceritakan yang sebenarnya terjadi," ucap Hutama9 dingin dan tajam.
Darren menarik nafas dalam, lalu menghembuskan perlahan.