Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Garis Pantai yang Terbakar
Navasari tidak lagi mengenal siang yang murni. Di bawah kubah energi yang kini berwarna biru gelap pekat seperti samudra dalam, waktu seolah kehilangan maknanya. Alana berdiri di depan gerbang kayu desa, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi batas suci sekaligus penjara bagi dunianya. Di belakangnya, penduduk desa berkumpul dalam keheningan yang menyesakkan—Pak Haji yang memegang tasbih dengan tangan gemetar, Bu Ratna yang masih pucat dengan mata sembab, dan warga lainnya yang menatap Alana dengan campuran rasa syukur dan ngeri.
Mereka tidak lagi melihatnya sebagai "Gadis Langit" yang rapuh dan butuh perlindungan. Di mata mereka, Alana telah bertransformasi menjadi sesuatu yang agung, purba, dan tak tersentuh.
"Kau benar-benar akan pergi, Alana?" Bu Ratna bertanya, suaranya pecah di tengah deru angin frekuensi. "Tanpa kau, perisai ini... apakah kami akan aman? Mereka—militer di luar sana—mereka seperti serigala yang menunggu pintu terbuka."
Alana menoleh pelan. Guratan emas di lehernya berpendar terang setiap kali ia menarik napas, seolah-olah ia sedang memompa energi langsung dari inti bumi. "Aku telah meninggalkan sebagian jiwaku, 'Akar Bumi', untuk tetap berdenyut di dalam fondasi mercusuar, Bu. Selama kalian tetap menjaga ingatan tentang Elian dan cinta yang ia tinggalkan, perisai ini tidak akan pernah bisa ditembus. Tapi aku tidak bisa terus bersembunyi di sini sementara Elian ditarik ke dalam kegelapan yang bukan miliknya. Navasari adalah rumahku, tapi Elian adalah nafasku."
Alana melangkah melewati garis batas desa. Tepat saat kaki telanjangnya menyentuh aspal jalan raya di luar zona kabut, sebuah kejutan statis yang luar biasa meledak. Seluruh sistem elektronik di kamp militer yang mengepung desa—mulai dari lampu sorot, radio komunikasi, hingga mesin kendaraan taktis—mendadak mati total, mengeluarkan percikan api biru. Alana tidak lagi mencoba untuk bersembunyi. Ia berjalan menembus barisan panser dan tentara yang terpaku kaku, seolah-olah ia adalah sebuah hukum alam yang sedang berjalan dalam rupa manusia.
"Tahan! Jangan ada yang menembak! Itu perintah!" teriak seorang perwira yang wajahnya pucat pasi melihat aspal di bawah kaki Alana retak dan mengeluarkan uap biru pekat setiap kali ia melangkah.
Alana tidak memedulikan mereka. Fokusnya kini terkunci pada satu titik di cakrawala: Pantai Selatan. Ia bisa merasakan tarikan darah samudera Elian memanggilnya dari kejauhan, sebuah frekuensi rendah yang berdenyut di bawah lapisan kerak bumi.
Di Kedalaman – Laboratorium Leviathan
Di dasar Palung Jawa yang abadi, Elian berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menahan tekanan jutaan ton air laut yang mematikan. Di sampingnya, sosok pria yang wajahnya adalah cermin masa depannya—Silas—sedang memandangi pemandangan palung yang dihiasi oleh lampu-lampu biologis dari makhluk laut dalam yang aneh dan mengerikan.
"Kakek Surya mencurimu bukan karena dia menyayangimu sebagai seorang cucu, Elian," ucap Silas tanpa menoleh, suaranya tenang namun tajam seperti sembilu. "Dia mencurimu karena kau adalah 'Stabilisator'. Dia adalah ilmuwan yang terobsesi pada simetri. Dia tahu bahwa Alana, dengan frekuensi langitnya yang murni namun liar, akan meledak dan menghancurkan dirinya sendiri jika tidak ada manusia dengan frekuensi samudera di sampingnya untuk meredam radiasi tersebut. Kau adalah penangkal petir biologis bagi Alana. Surya memanfaatkanku, dia memanfaatkankmu, demi obsesinya pada keseimbangan dunia."
Elian menyentuh permukaan kaca yang dingin. Ia bisa merasakan air di balik sana seolah-olah ia sedang menyentuh kulitnya sendiri. "Lalu kenapa kau membawaku kembali ke sini? Jika aku adalah penyeimbangnya, bukankah seharusnya kau membiarkanku tetap di sampingnya agar dunia ini tetap stabil?"
Silas tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang berwarna biru gelap. "Karena kami tidak lagi menginginkan Alana yang stabil. Kami ingin Alana 'meluap'. Hanya saat Alana kehilangan kendali atas frekuensi langitnya dan amarahnya memuncak, gerbang dimensi asal Arlo bisa terbuka sepenuhnya dari dasar laut ini. Kami membutuhkan badai kosmik yang ia ciptakan untuk menghancurkan segel-segel dimensional yang dipasang Surya lima puluh tahun lalu. Kedatangan Alana ke sini bukan untuk menjemputmu, Elian, tapi untuk menghancurkan kunci terakhirnya sendiri."
Elian menyadari kengerian di balik rencana ini. Alana sedang menempuh perjalanan maut untuk menyelamatkannya, namun setiap langkah yang Alana ambil justru membawanya menuju jebakan yang akan memicu kiamat bagi dua dunia.
Pantai Parangtritis – Tengah Malam
Alana sampai di tepi pantai. Ombak malam itu menggila, menghantam karang-karang dengan suara yang menyerupai ledakan meriam. Di ufuk barat, kilat indigo menyambar-nyambar secara konstan tanpa suara guntur, tanda bahwa frekuensi langit di tubuh Alana mulai bereaksi secara eksotis dengan kelembapan samudera yang jenuh akan garam.
Alana melepas sandal tuanya, membiarkan kakinya merasakan pasir hitam yang basah. Ia bisa merasakan samudera sedang mencoba menyedot energinya, namun ia justru memberikan lebih banyak. Ia memejamkan mata, membiarkan guratan emas di tubuhnya berpendar maksimal, dan berteriak di dalam batinnya kepada seluruh elemen yang ada.
"Keluarlah dari persembunyianmu!"
Dari balik gulungan ombak raksasa, sebuah jembatan cahaya indigo-emas mulai terbentuk, membelah air laut yang hitam pekat menjadi dua bagian. Alana berjalan dengan tenang di atas air, setiap langkahnya menciptakan ledakan uap panas yang membubung ke langit. Di belakangnya, angkatan laut mulai mengepung dengan kapal-kapal penghancur, namun mereka tidak bisa mendekat lebih dari satu mil karena suhu air di sekitar Alana mulai mendidih, menciptakan kabut uap yang menghalangi pandangan mereka.
Tiba-tiba, dari dalam air yang gelap, muncul ribuan drone bawah air milik Konsorsium Cakrawala. Mereka tidak menyerang dengan peluru atau torpedo konvensional, melainkan dengan memancarkan "Jaring Suara"—frekuensi desonansi yang dirancang khusus untuk memecah molekul cahaya di tubuh Alana.
"Kau tidak akan pernah sampai ke palung itu, Alana!" suara Arthur Vance menggelegar dari sistem pengeras suara kapal induk di kejauhan. "Samudra akan menelan cahayamu dan mendinginkan apalamu sebelum kau sempat mengambil napas pertama di dalamnya!"
Alana berhenti sejenak di tengah laut yang bergolak hebat. Ia merasakan tekanan air mulai menekan perisai energinya hingga ia sulit bernapas. Ia menatap ke bawah, menembus ribuan meter kegelapan yang telah menelan Elian.
"Aku bukan lagi cahaya lemah yang hanya bisa bersinar di balik menara kayu," bisik Alana, suaranya kini terdengar seperti paduan suara ribuan malaikat yang sedang marah.
Ia menghantamkan kedua telapak tangannya ke permukaan laut yang mendidih. Kali ini, ia tidak menciptakan perisai untuk bertahan. Ia menciptakan sebuah pusaran gravitasi. Seluruh air di radius satu kilometer tersedot masuk ke dalam sebuah lubang raksasa yang menembus hingga ke dasar palung terdalam. Alana terjun ke dalam lubang vertikal itu, meluncur bersama ribuan ton air yang jatuh menyerupai air terjun kosmik menuju inti rahasia bumi.
Di dasar lubang air terjun raksasa itu, Alana tidak menemukan Elian yang terikat. Ia justru mendarat di tengah-tengah sebuah kota kuno yang hilang, yang terbuat dari logam asing dan karang hitam yang berpendar. Di sana, ribuan sosok manusia yang wajahnya mirip dengan penduduk Navasari berdiri membeku di dalam tabung-tabung kristal. Di tengah kota itu, sebuah proyeksi holografik kakek Surya muncul, menatap Alana dengan kesedihan yang mendalam: "Alana, jika kau sampai di tempat ini, berarti kau telah memilih cinta di atas keselamatan dunia. Maafkan kakek, karena di tempat ini, cinta dan kehancuran hanyalah dua sisi dari koin yang sama yang harus kau lempar."
Tepat saat proyeksi itu menghilang, sebuah tangan yang terasa sedingin es dan bertekstur kasar seperti sisik ikan mencengkeram bahu Alana dari kegelapan. Sebuah suara yang sangat mirip dengan Elian namun penuh dengan distorsi jahat berbisik, "Terima kasih sudah membawakan cahayanya, Alana. Sekarang, mari kita buka pintunya bersama-sama."