Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Runtuhnya Langit di Atas Gunung
Dinding kaca kota karang itu sudah lama lenyap, namun air laut tidak lagi terasa seperti musuh yang menghancurkan. Di dalam gelembung frekuensi yang diciptakan oleh tautan jemari Alana dan Elin, air itu terasa hangat, seperti rahim raksasa yang mencoba melindungi mereka dari kemarahan dunia luar. Namun, kehangatan itu segera sirna saat surat batin terakhir dari kakek Surya melayang di depan mata mereka.
Hancurkan menaranya, Alana.
Kalimat itu bukan sekadar pesan; itu adalah vonis mati bagi masa kecil mereka. Elin menatap huruf-huruf bercahaya itu dengan mata pedih. Ia bisa mencium aroma kayu pinus yang terbakar, seolah-olah ingatannya tentang mercusuar Nagasari sudah mulai hangus bahkan sebelum perintah itu dilaksanakan. Baginya, mercusuar itu adalah tempat ia pertama kali menyadari bahwa bintang tidak hanya ada di langit, tapi juga ada di dalam diri seorang gadis yang ia beri nama Alana.
"Alana, jangan..." Elin berbisik, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia mencengkeram tangan Alana, kulitnya terasa licin karena sisa cairan Leviathan. "Kakek pasti sudah gila. Menara itu adalah segalanya. Tanpanya, kita tidak punya tempat untuk pulang. Kau tidak akan punya tempat untuk menjangkarkan dirimu."
Alana tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke arah Arlo yang berdiri tegak seperti monumen baja di atas reruntuhan gerbang. Guratan emas di leher Alana berdenyut merah, memancarkan rasa panas yang menjalar hingga ke dada Elin.
"Kau tidak mengerti, Elin," suara Alana terdengar rendah, sebuah nada yang penuh dengan kepedihan manusiawi daripada keajaiban kosmik. "Selama mercusuar itu berdiri, Arlo punya jalur tetap. Menara itu adalah suar yang mengarahkan pasukannya untuk merobek dunia ini. Aku mencintai Nagasari lebih dari siapa pun, tapi aku lebih mencintaimu... dan aku tidak bisa membiarkanmu hidup di dunia yang sudah menjadi medan perang abadi."
Di Atas – Tragedi Nagasari
Melalui proyeksi yang dipancarkan oleh partikel air, mereka melihat apa yang terjadi di daratan. Di atas gunung Nagasari, langit yang biasanya tenang kini terbelah secara vertikal, menyerupai luka terbuka yang mengucurkan kegelapan. Kapal-kapal tempur perak milik Konsorsium mulai merayap keluar dari lubang hitam itu, menutupi sinar matahari pagi yang baru saja hendak menyentuh pucuk-pucuk pohon kopi.
Penduduk desa berlarian panik. Pak Haji terjatuh di depan gerbang desa, sorbannya terlepas, matanya menatap langit dengan horor yang tak terlukiskan. Bu Ratna berdiri mematung di tengah jalan, memeluk sebuah toples kopi yang pecah, air matanya mengalir membasahi pipinya yang keriput. Nagasari bukan lagi tempat persembunyian; ia telah menjadi titik nol dari sebuah invasi dimensi.
"Hancurkan sekarang, Alana! Atau darah mereka akan ada di tangan kita!" Elin berteriak, air mata kini membasahi wajahnya. Ego untuk memiliki rumah mendadak runtuh saat ia melihat wajah-wajah orang yang ia kenal sedang terancam musnah.
Arlo tertawa, sebuah suara yang kering dan penuh penghinaan. "Drama yang manis. Silakan, hancurkan! Hancurkan rumahmu sendiri. Tapi kau harus tahu, Alana, saat kau meruntuhkan menara itu, kau juga memutus tali mu dengan raga manusia ini. Kau akan menjadi energi murni yang terombang-ambing di antara dua dunia. Kau tidak akan pernah bisa menyentuh pria itu lagi."
Elin membeku. Ia menatap Alana. "Apa itu benar?"
Alana tersenyum kecil, senyum paling sedih yang pernah Elin lihat. Ia tidak menjawab. Ia hanya melepaskan genggaman tangannya dari Elin sebuah tindakan yang terasa seperti mencabut nyawa dari raga Elin.
Detik-Detik Kehancuran
Alana mengangkat kedua tangannya ke arah atas. Gerakannya tidak lagi anggun seperti saat ia menari di bawah cahaya bintang. Ia tampak seperti seorang atlet yang sedang memikul beban ribuan ton di bahunya. Otot-otot di lengannya menegang, dan guratan emas itu mulai membara hingga mengeluarkan uap panas yang membakar udara di sekitar mereka.
Ia tidak lagi mengirimkan cahaya. Ia mulai menariknya.
Di puncak gunung Nagasari, mercusuar kristal itu mulai mengeluarkan suara lengkingan yang memilukan. Suara kristal yang retak itu merambat melalui lempeng tektonik, bergema hingga ke dasar palung sebagai dentuman yang memekakkan telinga.
KRRAK!
Di bawah kaki penduduk desa, tanah bergetar hebat. Pondasi mercusuar yang telah berdiri selama puluhan tahun itu mulai menyerah. Kayu-kayu pinus pilihan kakek Surya hancur menjadi serpihan, dan lensa raksasa di puncaknya jendela Alana menuju semesta pecah menjadi jutaan kepingan kaca yang jatuh seperti hujan badai indigo.
"TIDAK!" Arlo menjerit murka. Ia merasakan jembatan energinya mulai goyah. "KAU GADIS KECIL YANG TIDAK TAHU DIRI!"
Arlo menerjang maju dengan pedang cahaya perak yang mendesis tajam. Elin, didorong oleh insting pelindung yang paling murni, melompat ke arah Arlo. Ia tidak memiliki pedang, ia tidak memiliki kekuatan cahaya, tapi ia memiliki tubuh yang berat dan amarah yang tulus. Elin menabrakkan bahunya ke dada baja Arlo, membuat mereka berdua berguling di antara puing-pusing karang yang tajam.
"Alana, teruskan! Jangan pedulikan aku!" Elin berteriak sambil mencekik leher baja Arlo, menahan tangan pria itu agar tidak mengayunkan pedangnya ke arah Alana.
Alana mengeluarkan sebuah teriakan yang sangat manusiawi sebuah jeritan yang penuh dengan kemarahan, kepedihan, dan cinta yang putus asa. Ia memberikan sentakan energi terakhir.
BOOM!
Mercusuar Nagasari meledak sepenuhnya. Energi yang selama ini terkumpul di dalamnya meledak keluar dalam bentuk gelombang vakum yang menyapu bersih kapal-kapal Konsorsium yang baru setengah jalan keluar dari portal. Portal di atas gunung itu menutup dengan paksa, menjepit dan menghancurkan apa pun yang berada di tengahnya.
Dalam sekejap, jembatan antara samudera dan langit terputus total.
Hilang di Kegelapan
Gelembung udara yang melindungi Alana dan Elin mulai mengecil secara drastis karena sumber energinya menara itu sudah tidak ada. Tekanan samudera yang dingin dan mematikan mulai merangkak masuk, menekan paru-paru mereka dengan berat yang tak tertahankan.
Arlo, yang juga mulai kehilangan kekuatannya karena gangguan frekuensi, memberikan satu tendangan kuat ke dada Elin. Elin terlempar ke arah jurang palung yang tak berdasar.
"Elin!" Alana mencoba berlari, namun tubuhnya mulai kehilangan bentuk padatnya lagi. Ia mulai transparan, kembali menjadi kabut indigo karena tidak ada lagi "Akar Bumi" yang menyangkalnya.
"Jika aku tidak bisa menguasai dunia ini, maka kau akan melihatnya mati di depan matamu!" Arlo menggeram, ia menggunakan sisa energinya untuk menciptakan pusaran air yang menarik Elin semakin jauh ke kegelapan abadi palung.
Elin melihat Alana untuk terakhir kalinya. Di tengah remang cahaya yang kian redup, ia melihat Alana yang sedang berjuang melawan tarikan portal yang kini mulai menyedot air laut secara liar karena ketidakstabilan dimensi. Elin tersenyum, meski air laut mulai masuk ke paru-parunya. Ia tidak lagi takut. Ia telah melakukan tugasnya.
"Tunggu aku... di garis pantai..." Elin mencoba mengucapkan kata-kata itu, namun hanya gelembung udara yang keluar dari mulutnya.
Alana menjerit, namun ia terjepit di antara dua pilihan yang mustahil: mengejar Elin ke dalam maut, atau menutup portal di depannya yang kini mulai mengeluarkan suara dentingan maut sebuah tanda bahwa ledakan dimensi akan terjadi dan bisa menciptakan tsunami yang akan menyapu seluruh pesisir bumi.
Air mata indigo Alana menyatu dengan air samudera yang asin. Ia menatap ke arah Elin yang kian menjauh, lalu ke arah portal yang siap meledak. Ia melepaskan satu kalimat terakhir melalui frekuensi batin yang ia sasar langsung ke jantung Elin:
"Tunggu aku di kehidupan yang lain, Elin. Aku akan mencari mu di setiap rasi bintang yang pernah kita tulis bersama."
Dengan sisa tenaganya, Alana bukan mengejar Elin, melainkan meledakkan dirinya sendiri di tengah portal. Sebuah ledakan indigo yang murni menelan seluruh kota karang, menelan Arlo, dan menutup lubang realitas itu selamanya.
Ruang di Antara
Alana tidak merasa mati. Ia merasa seperti baru saja bangun dari sebuah mimpi buruk yang sangat panjang. Ia membuka matanya dan mendapati dirinya tidak lagi berada di bawah laut yang dingin. Ia berada di sebuah tempat yang putih bersih, tanpa batas, tanpa gravitasi. Udara di sana beraroma seperti kopi Arabika yang baru diseduh dan tanah setelah hujan.
Di hadapannya, duduk seorang pria tua dengan kemeja flanel lusuh yang sangat ia kenal. Kakek Surya sedang duduk di sebuah kursi kayu, memegang secangkir kopi panas yang asapnya meliuk-liuk indah.
"Kakek?" Alana berbisik. "Apakah aku sudah mati?"
Surya mendongak, matanya yang teduh menatap Alana dengan rasa bangga sekaligus duka. "Kau tidak mati, Alana. Kau hanya sedang berada di ruang antara. Di tempat di mana pilihan dibuat tanpa tekanan waktu."
"Dimana Elin? Kakek harus menyelamatkannya!" Alana mencoba berlari ke arah Surya, namun kakinya terasa berat.
Surya menghela napas panjang. "Itulah harga yang harus kau bayar, Nak. Kau menghancurkan menara untuk menyelamatkan dunia, dan itu berarti kau memutus satu-satunya jalan Elin untuk kembali ke raga manusianya. Elin sekarang adalah bagian dari samudera. Dia hidup, tapi dia tidak lagi memiliki bentuk yang bisa kau sentuh."
Alana terjatuh berlutut, bahunya terguncang oleh tangis yang tak bersuara.
"Tapi," lanjut Surya, suaranya melembut. "Ada satu cara untuk membawanya kembali. Namun, kau tidak akan menyukainya. Kau harus berhenti menjadi Navigator. Kau harus memberikan seluruh cahayamu kepada samudera, agar samudera mau melepaskan jiwanya kembali ke daratan."
"Aku akan melakukannya! Apapun itu!"
"Dengarkan kakek dulu," Surya meletakkan cangkirnya. "Jika kau memberikan cahayamu, kau akan menjadi manusia biasa. Kau akan menua, kau akan merasa sakit, dan yang paling berat... kau akan kehilangan semua memori tentang Nagasari. Kau akan hidup bersamanya, tapi kau tidak akan pernah ingat mengapa kau begitu mencintainya di tempat pertama. Apakah kau sanggup hidup bersamanya sebagai orang asing?"
Alana terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang mulai kehilangan pendaran indigonya. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara ombak pantai Parangtritis yang memanggil namanya, dan di dalam suara itu, ada suara Elin yang sedang memanggil namanya dengan penuh kerinduan. Alana menatap kakek Surya, lalu ia mengambil keputusan yang akan mengubah sejarah semesta selamanya.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit di pesisir Jawa, seorang pemuda yang baru saja diselamatkan dari kecelakaan laut terbangun dengan mata biru gelap yang asing, menatap ke arah gunung yang jauh di utara, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa.