Kehilangan Lidya,istri yang sedang mengandung anaknya secara tragis membuat Handoyo berjanji untuk membalaskan dendam dan akhirnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Kemahirannya dalam menembak dan memiliki gerakan cepat karena keahlian bela dirinya digunakan Handoyo untuk membereskan lawan-lawannya hingga membuatnya disegani, dicintai banyak wanita dan makin membuatnya terkenal. Kekayaan dan popularitas dalam genggaman Handoyo tapi semua itu tetap membuatnya kesepian. Cintanya cuma satu pada Lidya seorang, hingga satu tawaran pekerjaan membuatnya melupakan Lidya, melepaskan sahabatnya dan menyeretnya ke organisasi rahasia yang mampu membuka masa lalunya yang kelam, dan mengalirkan hasrat rindunya pada wanita lain. Tidak, cintaku cuma satu pada Lidya seorang, bukan kamu!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieta Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Investigasi
Bekerja tidak hanya mencari materi tetapi jadikan pekerjaanmu itu memberikan manfaat bagi orang lain .
*****
Jakarta, Januari 1993
Letnan Budy Prabowo sedang memimpin rapat khusus di ruangan interlijen utama , markas besar Kepolisian Republik Indonesia. Meningkatnya angka kejahatan dan berujung pada pembunuhan yang brutal naik tinggi di trisemester terakhir tahun 1992. Hal ini tentu merupakan pekerjaan rumah bagi kepolisian di awal tahun 1993.
Banyaknya tuntutan dari masyarakat agar polisi segera mengungkap kejahatan kasus pembunuhan sadis yang menimpa beberapa orang cukup terkenal di kota Lampung dan terakhir adalah pembunuhan brutal seorang sekretaris daerah dan timnya di kota Palembang. Suatu ujian besar bagi pihak kepolisiian jika tidak mampu mengungkap siapa pelaku kejahatan itu.
Kondisi masyarakat yang terpecah berkaitan dengan tokoh-tokoh yang meninggal dalam pembantaian dan dianggap kelompok pejabat pelaku korupsi, dan pelaku pengedaran narkoba, membuat sebagian besar masyarakat di wilayah barat Indonesia mulai mengagumi tokoh bertopeng dengan julukan "Cepot Berdarah"
Cepot berdarah merupakan polisi malam yang membela masyarakat, belum lagi media cetak tidak berijin yang beredar membuat dukungan terhadap "Cepot berdarah" Hal itu dijadikan salah satu alasan untuk polisi membentuk tim khusus untuk menangkap pelaku kejahatan sadis. Tim ini merupakan lulusan terbaik dari akademi kepolisian yang berada di Semarang.
Tim itu terdiri dari 5 orang dengan yaitu Arief, Johanes (John), Pramono, Zaenal dan Balawa. Mereka semua dipilih dengan seleksi ketat dan telah lolos dalam penanganan beberapa kasus sebelumnya. Mereka akan bertanggungjawab langsung kepada BrigjenPol Benny Panjaitan.
"Kalian adalah tim hebat dari kepolisian, saya sangat berharap kalian dapat mengungkap kasus ini dalam waktu 6 bulan.... Perwira Arief, kamu yang menjadi pimpinan tim ini dan lapor langsung setiap kejadian pada saya, dan semua kegiatan kita ini adalah operasi rahasia yang tersegel dan dibawah kendali Brigjenpol Benny Panjaitan.... Dan jika ada sesama anggota yang mempersulit kalian, baru tunjukan surat memo yang ditulis langsung oleh Brigjenpol Benny.... kami sangat berharap pada kalian semua... lakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan!"
"Siap.... " Sahut 5 orang itu dengan sikap sempurna.
*****
Connan Room, Lantai 10, Markas besar Kepolisian RI.
Ruang ini sengaja diberikan kepada tim 5 yang bekerja khusus menangani kasus kejahatan besar yang terjadi di Indonesia. Ruangan seluas 10 x 4 meter dan berisi meja rapat, meja untuk 5 detektif khusus, 3 komputer dan lemari arsip ikut menjadi pelengkap ruangan spesial ini.
"Selamat siang rekan-rekan seperjuangan.... saya pikir kita sudah saling mengenal sejak kita berada di akademi pendidikan polisi awal dan sekarang kita menjadi tim yang diandalkan, saya sangat berharap tim kita dapat bekerja sama dan saling suppor dalam memecahkan kasus Lampung dan Palembang." Arief membuka rapat perdana di depan 4 anggota timnya yang duduk di meja utama rapat. sambil memperhatikan arahan dari Arief.
"Siap Komandan, " Ujar John dengan berdiri dan memberikan hormat pada rekan karibnya.
Kelima anggota itu tertawa bersama melihat kelakuan John karena mereka memang sudah saling memahami semenjak dari pendidikan dasar di Semarang. Mereka sering bekerja sama dalam tim diskusi di akmil dan berbagai tugas pengungkapan kasus-kasus awal yang memerlukan investigasi khusus.
"Sebagai informasi awal , Saya dan John, sebelumnya sudah mulai menangani analisis kasus Jendral Setiono dan keluarganya di lampung dari 1 bulan yang lalu ketika kami berdua ditugaskan ... dan berdasarkan hasil pengamatan kami, ada sejenis pola tembakan yang sama dengan yang dilakukan di Palembang... jika di Lampung pelaku hanya melakukan aksinya dengan tanpa saksi mata terhadap anak buah jendral Setiono yang berjumlah 35 orang dan kami kesulitan memdapatkan bukti hanya mengamati pola tembakan, jenis peluru dan itu cukup mirip di tembakan yang didapat oleh dua ajudan sekda di Palembang.... semua di tembak dari jarak dekat dan kami rasa berasal dari pistol yang sama, meleihat dari jenis peluru, dan pecahan yang dihasilkan di tubuh korban yang membedakan hanya jenis eksekusi akhir yang diterima oleh target utama yang di lampung dan Palembang, yang pertama di bakar untuk dua korban dan di Palembang, leher korban ditebas dan yang di Palembang terkesan pelaku mulai arogan dan ingin dikenal masyarakat...
Untuk itu saya akan meminta kepada Pramono, Zaenal dan Balawa, memulai analisis bersama dan membuktikan teori kami salah atau tidak setelah itu kita akan mulai membahas apa yang harus dilakukan... kira-kira kalian membutuhkan berapa hari untuk menganalisis bukti-bukti ini? "Papar Arief sambil menyorongkan 3 koper alat bukti yang dimiliki kepolisian.
Ketiga polisi muda itu berdiri dan mengamati barang bukti dan membuka satu persatu. Balawa sebagai putra dayak yang cekatan langsung bersuara,"
"rief... kamu yakin ini pelaku pembunuhan sadis ini satu orang ?" Tanya Zaenal sambil melihat foto-foto korban.
"ya... untuk yang di lampung memang satu orang, tapi kalo di Palembang kurasa pelaku lebih 1 orang dan kurasa tim mereka agak solid... dan mungkin yang di Lampung itu memang beberapa orang, untuk itu kami membutuhkan pendapat kalian bertiga untuk membuktikan analisisku dan John salah.
'Gimana jika dua hari untuk analisis kasus ini, Rief?" Kelamaan gak.... kayaknya itu saja, kita sudah gak pulang , makan dan tidur ..kami lakukan di sini... kurasa kita bisa selesai membuktikan hasil analisis mereka benar atau tidak jika kerja lembur dalam pengamatan bukti ," Balawa berkata sambil menatap temannya yang lain yang akan menganalisis bukti yang disajikan Arief.
"Tiga hari aja deh, Bal..." Aku takut gak selesai... jika gak tidur sama sekali, badanku ringsek dan otak gak bisa mikir, gimana rief?" Ujar Pramono
"Baiklah tiga hari untuk kalian menganalisis, aku dan John akan memeriksa kembali kasus awal ke Lampung untuk menemui salah satu keluarga Setiono yang mengatakan mereka punya saksi mata dan ini bisa dipercaya.... karena Kompol edi sudah mengecek tahap awal, semoga benar-benar ada saksi mata yang bisa membuka tabir masalah ini." Sahut Arief.
"Rief... gimana jika kamu yang ke Lampung? aku yang ke Palembang.... istri Sekda Chaerul yang kemarin shock karena suaminya ditebas, ingin ngobrol dan cerita tentang musuhnya denganku... katanya ini sangat penting dan tidak mau melalui telpon...jadi aku harus ke sana langsung...Gimana?"
"Hei.... jangan sendiri ke sana, biar ada pendapat dan pandangan yang berbeda," Sahut Balawa. "kau tahu sendiri keluarga itu penuh intrik dan banyak yang jadi mafia, dan banyak juga orang politik .... jika ada partner minimal mereka akan berfikir ulang jika membantai kamu, John!"
"Iya...John,,, sebaiknya gini saja kita investigasi ke Palembang dulu baru carter mobil untuk ke Lampung?" Gimana John?" Arief menyetujui usul Balawa.
"Bal.... kau pikir istri Chaerul itu bisa bantai orang... tapi memang anak buah Chaerul itu yang bisa membantai...cuma kupikir mereka tidak berani banyak bergerak, karena sedang jadi sorotan,.... sebenarnya memang yang dilakukan "Cepot " memang suara hati masyarakat karena itu keadilan yang nyata, tapi ya... terlalu sadis disaksikan banyak orang...
"Tapi biar bagaimanapun .... tetap saja menghilangkan nyawa orang tetap tidak boleh .... entah untuk keadilan atau apapun...kurasa ini cenderung pada dendam... John, kamu sudah lihat belum apakah para korban memiliki hubungan?" Ujar Pramono lirih.
"Belum...kami baru menganalisis dari bukti bukti yang ada tapi belum memeriksa apakah ada keterkaitan di antara para korban, " John seakan baru menyadari sudut yang berbeda dan belum diperiksa olehnya.
"Hemm... baiklah aku yang akan memeriksanya.... hati-hati kalian bertindak di luar sana!" Pramono menjawab pelan.
"Ya... doakan kami!"
******
Apakah kejatuhan Handoyo akan dimulai?" Tunggu ya....
Happy reading temans, bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot!"
kukirim vote & setangkai mawar buatmu thor
biar tambah semangat 😊
selamat idul fitri kak.....
semangat...