NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PELARIAN SEBELUM FAJAR

Pukul 04.30 pagi. Suasana rumah keluarga Anantara masih dibalut kegelapan yang sunyi. Alsya berdiri di depan jendelanya yang terbuka, menatap taman bawah yang berkabut. Di tangannya, sobekan kertas dari Samudera sudah lecek karena digenggam terlalu kuat.

"Kalau gue pergi, dan ternyata ini cuma bohong lagi... gue bener-bener bakal hancur," bisik Alsya pada dirinya sendiri.

Namun, rasa sesak karena kehilangan Samudera ternyata jauh lebih menyakitkan daripada ketakutannya akan dikhianati lagi. Dengan nekat, Alsya mengikat seprai tempat tidurnya, menyambungkannya menjadi tali darurat—cara klise yang tidak pernah dia sangka akan dia lakukan dalam kehidupan nyatanya.

Dia merosot turun dengan tangan gemetar, mendarat di atas rumput basah, dan langsung berlari menuju pagar belakang. Dia tidak membawa motor, tidak membawa ponsel. Dia hanya berlari menembus udara dingin pagi itu sampai ke jalan raya, lalu mencegat ojek pangkalan yang baru saja mulai beroperasi.

"Ke Bukit Bintang, Pak. Tolong cepat," ucapnya dengan suara parau.

Sesampainya di puncak bukit, langit baru saja berubah warna menjadi ungu kebiruan. Di sana, di pinggir tebing yang menghadap ke arah kota, sebuah motor hitam terparkir. Samudera berdiri menyandar di sana, menatap kaki langit dengan bahu yang tampak layu—sampai dia mendengar langkah kaki Alsya.

Samudera berbalik. Matanya yang merah menunjukkan dia tidak tidur semalaman. "Sya... loe dateng?"

Alsya berhenti beberapa meter di depan Samudera. Napasnya tersengal. "Gue cuma mau nanya satu hal. Rekaman itu... suara loe yang bilang gue gampang dibohongin... itu beneran suara loe?"

Samudera menarik napas panjang, dia mendekat perlahan. "Itu suara gue, Sya. Tapi itu jawaban gue buat pertanyaan Revaldi yang udah dia susun. Dia nanya: 'Gimana kalau gue bilang ke satu sekolah kalau loe cuma manfaatin Alsya?'. Gue jawab: 'Terus kalau iya kenapa?'. Gue sengaja nantang dia karena gue pikir dia nggak bakal berani macem-macem kalau gue kelihatan nggak peduli."

Samudera mengeluarkan ponselnya, tapi bukan untuk memutar rekaman. Dia menunjukkan sebuah video kecil yang sempat dia ambil secara diam-diam saat Revaldi sedang mengedit suara di laptopnya di kantin beberapa hari lalu. Samudera memang sudah curiga.

"Gue nggak punya bukti lengkap, Sya. Tapi gue punya kejujuran gue. Gue deketin loe bukan karena koneksi bokap loe. Demi Tuhan, gue bahkan nggak peduli siapa bokap loe. Gue deketin loe karena gue benci lihat loe nangis sendirian di perpus waktu itu," suara Samudera bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Alsya menatap mata Samudera. Di sana tidak ada kelicikan, hanya ada rasa sakit yang sama besarnya dengan yang dia rasakan.

"Kenapa loe nggak bilang dari awal kalau loe punya kasus di sekolah lama?" tanya Alsya lirih.

"Karena gue malu, Sya. Gue nggak mau loe tahu kalau orang yang loe anggap pahlawan ini sebenernya cuma sampah yang dibuang keluarganya karena nggak sengaja bikin temennya sendiri lumpuh waktu balapan liar. Gue takut loe bakal lari kalau tahu gue semenjijikkan itu."

Air mata Alsya jatuh, tapi kali ini bukan karena benci. Dia melangkah maju dan tiba-tiba memeluk Samudera dengan sangat erat. Samudera tertegun, lalu membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alsya.

"Bego... loe bener-bener bego, Sam," tangis Alsya pecah. "Gue nggak peduli loe sampah atau bukan. Gue cuma mau loe jujur sama gue."

"Maafin gue, Sya. Maafin gue udah bikin loe ngerasa sendirian lagi."

Di atas bukit itu, saat matahari mulai terbit menyinari wajah mereka, kepercayaan yang sempat retak itu perlahan menyatu kembali. Namun, kebahagiaan mereka terganggu oleh suara dering keras. Bukan dari ponsel Samudera, tapi dari sebuah ponsel yang entah sejak kapan ada di dalam saku jaket Alsya.

Alsya merogoh sakunya dan menemukan sebuah ponsel milik... Eliza.

"Kenapa ponsel Eliza ada di saku gue?" tanya Alsya bingung.

Tiba-tiba ponsel itu menyala, menampilkan sebuah pesan masuk yang baru saja diterima:

Pesan: Rencana berhasil, El. Orang tua loe udah di jalan menuju Bukit Bintang. Kita habiskan Samudera pagi ini juga.

Wajah Samudera dan Alsya seketika memucat. Mereka dijebak lagi. Eliza sengaja menaruh ponselnya di saku Alsya saat mereka berpelukan di rumah kemarin, untuk melacak keberadaan mereka menggunakan GPS.

Gawat! Papa Saga dan Mama Luna sedang menuju ke sana!

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!