TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi !!! (Broto)
Menyiram tanaman menjadi suatu kebiasaan Kinara untuk mengisi waktu senggangnya. Dengan memandang kelopak bunga warna –warni membuat pikirannya lebih tenang.
"Kina …!" panggil Broto.
"Iya Yah?" sahut Kinara. Ia meletakkan gembor lalu menghampiri sang Ayah.
"Ada apa, Yah?"
"Itu, Ayah sedari tadi mencari jaket ayah. Tapi sampai sekarang belum juga ketemu. Kamu tahu nggak jaket ayah di mana?" tanya Broto. Jaket itu begitu berharga baginya. Ia ingin menyimpan kembali jaket itu karena itu adalah jaket pemberian dari istrinya yang telah tiada.
"Oh ada di kamar Kinara, Yah. Bentar Kina ambilin ya."
Namun Broto mencegah Kinara untuk berlalu. "Ayah bisa sendiri. Sudah kamu teruskan saja aktivitasmu menyiram bunga–bunga kesayanganmu."
**********
"Hugh … hugh ..."
Rasa mual kembali ia rasakan tatkala ia mencium bau bumbu yang ditumis. Kebetulan di dapur, Sera tengah memasak untuk mereka berdua. Kinara berlari cepat agar lekas sampai di kamar mandi terdekat.
"Kinara kenapa Ser?" tanya Broto. Tak biasanya Broto melihat Kinara mual–mual seperti itu.
"Saya tidak tahu Tuan," jawab Sera jujur.
"Apa jangan–jangan …"
Tiba–tiba saja Broto mengingat sesuatu, sewaktu mengambil jaket di kamar Kinara. Pada waktu itu, terdengar suara ponsel dari dalam tas Kinara. Tanpa berpikir panjang, Broto mengambil ponsel Kinara, mencari tahu siapa yang menghubungi Kinara.
"Siapa sih yang telpon," ucap Broto sembari merogoh saku tas itu. Ia hanya ingin mengangkat panggilan itu agar Kinata tak melewatkan informasi yang sekiranya penting.
Di saat yang bersama, Broto melihat sebuah benda kecil dengan dua garis terjatuh di lantai. Rupanya benda itu turut terjatuh tatkala Broto mengambil ponsel Kinara.
"Milik siapa ini?" gumam Broto. Ia curiga akan kepemilikan oleh anaknya. Namun anggapan itu terpatahkan oleh sebuah buku di atas meja belajar Kinara. Di sana terdapat sebuah materi tentang reproduksi mamalia. Broto menganggap bahwa ada kemungkinan tespack itu untuk mengecek kehamilan mamalia.
Mengingat itu semua, amarah Broto pun memuncak. Rahangnya mengeras. Napasnya kembang kempis menahan amarah. Sera yang berada tak jauh dari sana pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tak berani menyapa Broto lagi karena ia juga tak tahu menahu akan semua hal yang terjadi.
"Kinara!" panggil Broto keras. Sedang Kinara yang ada di sana pun segera menyelesaikan aktivitasnya. Ia membasuh mukanya agar terlihat lebih segar.
"Ya, Yah?"
"Jelaskan pada Ayah. Kenapa kamu mual–mual seperti itu?" tohok Broto langsung.
Badan Kinara menegang. Ia bergeming.
"Apa maksud Ayah bertanya seperti itu?" gumam Kinara dalam hati. Ia merasakan hal buruk akan segera terjadi.
"Kinara terlalu sering telat makan, Yah. Jadi asam lambung Kina naik, Yah."
"Sejak kapan kamu punya asam lambung tinggi? Sejak kapan?!" tanya Broto lebih keras. Seingatnya Kinara tak mempunyai riwayat penyakit lambung. Bahkam tak makan seharian pun tak masalah bagi Kinara.
"Emm Be–"
"Be apa? Belum lama ini?"
Broto langsung memotong ucapan Kinara tanpa menunggu Kinara menyelesaikan ucapannya. Kinara terdiam seribu bahasa. Tak ada satu kata pun yang dapat keluar dari bibirnya.
Broto tertawa hambar. "Tak usah mengelak lagi Kinara. Ayah dah mengetahui semuanya."
"Semuanya apa Ayah? Apa maksud Ayah?" tanya Kinara lagi.
"Tespack."
Satu kata, namun kata itu bagaikan petir yang menyambarnya di siang hari. Tak terasa buliran air sudah berada di pelupuk mata, siap untuk ditumpahkan kapan saja. Ia menatap sang ayah dengan sorot mata yang bertanya–tanya.
"Semula Ayah mengira itu media praktikum kamu. Namun ternyata itu memang media praktikum. Praktikum yang nyata!" ucapnya tegas nan lantang. Garis–garis kekecewaan tak dapat ia sembunyikan.
"Ayah kecewa padamu Kina … Kau … kau telah mempermalukan mendiang bunda dan juga kakakmu!"
"Ayah sedikit memberikanmu ruang untuk bebas, namun apa? Kau menghancurkan kepercayaan Ayah!" ucap Broto dengan mata yang mulai memerah menahan amarah sekaligus perih dalam hati.
"Aku gagal Ya Allah. Aku gagal!" ucap Broto lagi
"Tidak, Yah, Kina tidak seperti itu." Kinara menggeleng, menyangkal apa yang Broto tuduhkan. Mencoba menjelaskan apa yang ia alami, namun Broto tak memberikan ruangs sedikitpun untuknya berbicara.
"DIAM!!! Mau mengelak bagaimana lagi?"
"Sekarang ayah tanya. Anak siapa itu?!" bentak Broto.
Kelu. Ingin sekali ia mengungkapkan siapa orang itu. Namun Kinara tak dapat mengatakannya. Lidahnya kelu, lehernya tercekat. Kata–kata itu seakan hanya mampu ia keluarkan sampai tenggorokkan saja.
PLAK
Tamparan keras mendarat di pipi mulus. Amarahnya yang tak terbendung, membutakan hati nuraninya. Tak ada belas kasihan untuk anak semata wayangnya.
"Tak ingin bicara?! Baiklah. Pergi kamu dari rumah ini! Pergi! Kau aib bagi keluarga ini!"
"Ayah …." gumam Kinara lirih sembari memegang pipinya.
Tamparan keras itu membuatnya terluka. Tak hanya fisik, namun juga batinnya.
Kinara menatap ayanya sendu. Buliran kristal bening sudah menetes deras tak terbendung. Kinara meminta pengampunan pada Kinara.
"Tapi Kinara tak salah Ayah. Ini semua karenanya!" Kinara mencoba membela diri.
"Karena siapa ha?!" bentak Broto.
"Dia mantan menantu kesayanganmu, Yah," batinnya.
Kinara hanya bisa menangis dalam diam dan menggumamkannya dalam hati. Tak sampai kata ia berbicara lantang akannya.
"PERGI DARI SINI!"
Kesabaran sang ayah sudah sampai pada batasnya. Matanya memerah, setitik dua titik air mulai menetes dari sudut matanya. Ia menangis tanpa isakan.
Tak ada belas kasihan di wajah sang Ayah. Kekecewaan telah menutup semua rasa iba dalam hatinya. Bahkan ia menyeret paksa Kinara untuk pergi dari sana. Kinara terseok–seok mengimbangi langkah Broto yang panjang dan cepat.
"Yah, jangan usir Kinara. Kinara tak tahu harus kemana lagi!" rintih Kinara. Namun Broto telah menulikan telinga dan mata hatinya.
**********
"Haaaaaa!!!" Kinara meraung di halaman rumahnya. Malam yang sepi dan cuaca yang sudah mulai gerimis, memperlengkap suasana saat itu. Alam semesta seakan turut menangis bersamanya. Ia mulai berjalam menjauh dari rumahnya.
Kinara menengadah ke langit. "Tuhan! Kenapa semuanya ini harus terjadi padaku? Apa salahku? "Apakah Kau tau cukup mengambil Bunda dan juga Kak Kinan dari duniaku?"
Rasa dingin yang menerpa tubuhnya, membuatnya kedinginan, apalagi ditambah dengan kondisi kehamilannya. Pandangannya mulai mengabur.
Grep.
Hampir saja terlambat, seseorang datang di saat yang tepat dan menopangnya sebelum ia terjatuh. Orang itu mendekapnya dalam gendongannya. Wajahnya terlihat samar. Perlahan bayangan wajah itu menghilang seiring pandangannya yang mulai gelap.
Tbc