Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 19
"Lagi pula, kalau aku mau aku tidak akan pernah meminta izinmu." ujar Putra lagi sembari tertawa. Dia sudah tidak bisa menahan tawanya. Wajah Mawar sungguh lucu di mata Putra.
"Haah! Kau sangat menyebalkan, kukira aku menikahi pria pemalu yang baik hati." ujar Mawar cemberut.
"Dulu memang aku pria pemalu, entah kenapa sejak menikah denganmu rasa maluku lenyap begitu saja. Kau bawa mengaruh buruk untukku." jawab Putra dengan wajah serius.
Ingin sekali Mawar menutup mulut Putra dengan plastik popcorn yang dia pegang. Sungguh pria ini suka sekali menggodaku. Mawar membuka kemasa popcorn dan memakannya kasar. Terlihat sekali dia kesal dengan tingkah Putra.
"Konyol!" gumam Mawar.
Putra tertawa geli melihat expresi Mawar yang berubah-ubah, beberapa menit lalu dia terlihat ketakutan, lalu berubah cemberut, dan sekarang terlihat senyum di wajahnya saat filmnya diputar. Sungguh menyenangkan menggodanya.
Mawar bahagia akhirnya mimpinya untuk merasakan yang namanya nonton bioskop sambil makan popcorn dan minuman bersoda akhirnya terwujud. Dia bertanya-tanya, hal menyenangkan apa lagi yang dilakukan orang berkencan. Mawar tidak tau ternyata berkencan itu sangat semenyenangkan ini. Dalam hati dia kembali menyesal kenapa tidak dari dulu dia melakukannya.
Putra memilih film komedi romantis, dan ternyata itu pilihan yang tepat. Mawar seolah tersedot kedalam ceritanya. Dia terlihat memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh pasangan yang sedang jatuh cinta. Wajahnya merona ketika pasangan di film itu melakukan adegan romantis, membuat Mawar teringat ketika tadi Putra menempelkan telapak tangannya di pipinya. Meski kaget, Mawar bisa merasakan hangatnya tangan Putra.
Diam-diam Mawar melirik Putra yang sedang asik menonton sambil terus memakan popcornnya. Wajah tampan yang tegas namun terlihat sangat lembut. Kegelapan ternyata tidak bisa menyembunyikan wajah Putra dari pandangan Mawar, kini wajah Putra lebih menarik dari film yang sedang diputar. Mawar hilang fokus, pikirannya melayang-layang teringat hari-hari yang telah dia lalui bersama Putra. Begitu banyak hal yang Putra lakukan untuknya dan begitu banyak pengalaman baru yang Mawar rasakan. Tidak bisa disebutkan satu persatu. Mawar tak berhenti bersyukur, Tuhan telah mempertemukannya dengan pria sebaik Putra.
Aku jauh dari kata sempurna Putra, tapi aku mau belajar segala hal, bukan hanya untukku, tapi juga untukmu.
Sambil tersenyum dan menarik nafas panjang Mawar menggengam tangan Putra.
"Terimakasih Putra.." batin Mawar
Ya, kalimat itu hanya diucapkan Mawar di dalam harinya, tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Dia bahkan tidak tahu seperti apa reaksi Putra karena Mawar tetap mengarah pandangannya ke layar besar di depan.
Putra tersentak mendapati tangan lembut Mawar tiba-tiba mengenggam tangannya. Sebelumnya gadis ini nyaris tidak pernah mau memulai kontak fisik duluan. Pelan-pelan Putra memutar kepalanya, menatap Mawar yang terus melihat ke depan. Kali ini dia tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran Mawar. Darahnya berdesir ketika ikut menggenggam erat jari-jari kecil Mawar.
Lihatlah, gadis kecilku.. Akan kubuktikan kalau kau tidak salah memilihku sebagai pendamping hidupmu
Mereka sama-sama memandang layar bioskop, namun pikiran mereka sama-sama melayang jauh. Putra dengan tekadnya untuk membuktikan pada istrinya bahwa dia laki-laki yang berguna, sementara Mawar dengan keinginannya untuk belajar menjadi wanita yang pantas untuk suaminya. Keduanya berusaha menyimpan luka yang tergores di masa lalu mencoba terus melangkah dan berharap kehidupan yang lebih baik lagi di masa depan.
Lamunan mereka terhenti ketika sadar, ruangan gelap itu mendadak terang dan layar bioskop di depan sudah menunjukkan nama-nama pemeran dan kru yang terlibat. Film sudah selesai diputar dan semua bersiap meninggalkan ruangan itu.
"Kau lapar?" tanya Putra ketika mereka sudah diluar, tangannya masih mengandeng Mawar.
"Popcorn tadi tidak bisa membuat perutku puas, mari kita makan, aku lapar."
"Ayo, kamu mau makan apa?"
Mawar nampak berfikir, sambil terus berjalan mencari tempat makan yang mereka inginkan.
"Yang ringan-ringan saja, seperti Bakso dan jus mangga, mungkin!" jawab Mawar.
"Setelah itu aku ingin makan es campur dan batagor." sambung Mawar
Putra hanya menggeleng-geleng
"Kalau itu makanan ringan, bagaimana kelas beratnya ya?" gumam Putra heran pada nafsu makan Mawar.
Dengan cepat Mawar menarik Putra ke restoran yang dia mau.
"Kenapa kau diam saja, kamu mau aku pingsan disini, aku sudah sangat lapar."
"Siap! Hehheee." jawab Putra dengan senyum lebarnya.
Keseluruhan hari itu berjalan baik untuk mereka, bahkan bisa dibilang Putra dan Mawar cukup bersenang-senang dari sore sampai malam. Mereka membayar semua kekesalan yang terjadi di pesta tadi.
°°°°
Malam sudah larut ketika mereka sampai dirumah. Rumah tampak sepi, sepertinya yang lain sudah terlelap.
Mawar masuk ke kamar mandi terlebih dahulu, sementara Putra mengecek seluruh jendela dan pintu sudah terkunci semua.
Ketika masuk ke kamar, Putra melihat Mawar sudah masuk ke dalam selimutnya. Mungkin gadisnya cukup lelah dengan kencan pertamanya. Untung mereka sudah makan dulu baru pulang, tidak terbayang olehnya, jika Mawar harus tidur dengan perut kosong. Putra mencatat hal penting ini dalam hatinya.
Putra pun masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Air shower menyentuh kulitnya, Putra merinding dan sedikit mengigil. Terasa aneh, tapi dia terus saja mandi karena badannya terasa lengket. Selesai mandi rasa gatal dan ngilu mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Dengan tergesa-gesa Putra lari ke cermin, dia langsung meringis melihat dirinya dicermin dan dia memutuskan lebih baik mematikan lampu kamarnya.
Dia berharap Mawar tidak akan bangun nanti dan melihat ruam merah ditubuhnya. Putra menarik selimut hingga dadanya, nyeri di persendiannya semakin hebat, dan itu membuatnya demam. Kepalanya terasa berat.
Ternyata ruangan yang gelap membuat mawar bangun dalam tidurnya, tapi dia tidak lagi menjerit histeris, karena dia tau ada Putra di dekatnya. Mawar fikir terjadi pemadaman listrik lagi, namun ketika melihat cahaya dari cela-cela jendela, ternyata lampu hanya dimatikan. Dengan langkah pelan Mawar kembali menyalakan lampu kamar. Ketika berbalik, betapa terkejutnya dia melihat wajah Putra penuh bintik-bintik merah.
"Astaga! Apa yang terjadi padamu?" pekik Mawar kaget.
Ruam merah tidak hanya di wajah Putra, ternyata hampir seluruh tubuhnya.
Putra yang pura-pura tidur akhirnya membuka matanya.
"Hai... Kurasa aku tidak sengaja memakan udang dipesta tadi." jawab Putra pelan dan terdengar lemah.
"Kau alergi udang? Ini cukup parah Putra."
Mawar menempelkan punggung tangannya ke dahi Putra.
"Kau demam, kenapa tidak membangunkan aku, kau sungguh bodoh." dengan cemas bercampur geram Mawar berkata.
"Apakah separah itu?" Putra ikut khawatir melihat wajah Mawar cemas begitu. Dia sungguh menyesal tidak berhati-hati tadi memilih makanan.
"Naiklah." perintah Mawar.
"Naik kemana?" Putra tidak mengerti.
"Naik keranjang! Kau demam jangan tidur di bawah." ujar Mawar gemas.
Putra sedikit kaget.
"Kalau aku tidur diranjangmu, kau tidur di mana?"
"Aku bisa tidur di sofa sana." jawab Mawar santai, sambil menunjuk sofa kecil di kamar itu.
Berjalan-jalan seharian pasti membuat gadis itu lelah, tidak mungkin Putra membiarkannya tidur disofa. Lebih baik dia tetap tidur disini, lagi pula dia sudah terbiasa dengan alerginya jika suka kambuh.
"Aku tidak bisa tidur diranjangmu kalah kau harus tidur disofa. Aku tidak apa-apa, aku sudah biasa, besok juga sembuh."
Sungguh pria keras kepala
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu mau tidur diranjang. Hah! Demi Tuhan Putra! Kau sedang sakit. Jangan mempersulit keadaan." geram Mawar.
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..