NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Baru saja Andrew hendak menyuap sendokan kedua bubur sumsumnya, tiba-tiba pintu ruang kerja besarnya terbuka tanpa ketukan.

​"Andrew, Papi tadi lupa bilang soal pertemuan dengan investor dari Dubai—"

​Langkah Papi Adrian terhenti seketika. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya, dimana putra sulungnya yang super kaku sedang duduk makan bubur sumsum dengan seorang wanita cantik yang mengenakan topi bucket dan duduk santai di meja kerja sang CEO.

​Elena, yang dasarnya memang tidak punya urat malu, justru menjadi orang pertama yang bereaksi. Ia langsung berdiri dan memberikan salam hormat dengan gaya yang sangat teatrikal.

​"Selamat siang, Om! Eh, maksud saya, Bapak Adrian Pratama yang Terhormat!" seru Elena dengan senyum selebar matahari. "Jangan salah paham, Pak. Saya di sini cuma sedang menjalankan misi kemanusiaan, menyelamatkan perut anak Bapak dari kelaparan akut."

​Papi Adrian mengerjapkan mata, lalu senyum jenaka mulai muncul di wajahnya. Ia mengenali Elena sebagai lawan main Ares yang sering dibicarakan. "Elena Valeska? Jadi kamu radio rusak yang diceritakan Andrew kemarin?"

​Andrew tersedak buburnya. "Papi! Itu... itu hanya istilah teknis."

​Papi Adrian melangkah masuk dan menutup pintu, mengabaikan wajah Andrew yang sudah semerah kepiting rebus. Ia justru duduk di kursi samping Elena.

​"Kamu radio rusak itu ya? Tapi sepertinya frekuensinya cukup pas sampai bisa masuk ke lantai paling atas gedung ini tanpa jadwal temu," goda Papi Adrian sambil melirik kantong plastik bubur di meja.

"Andrew, kamu bahkan tidak pernah membolehkan Papi makan di meja kerja ini karena takut bau makanan merusak konsentrasimu. Sekarang ada bubur sumsum di sini?"

​"Papi, ini tidak seperti yang Papi pikirkan. Elena hanya mampir sebentar untuk—"

​"Untuk memberikan kebahagiaan manis, Om!" potong Elena cepat. "Mas Andrew ini kerjanya terlalu keras. Kalau nggak dikasih bubur, nanti otaknya isinya cuma angka semua, nggak ada gula-gulanya."

​Papi Adrian tertawa lepas. Ia sangat menyukai energi Elena yang ceplas-ceplos, sangat kontras dengan suasana kantornya yang biasanya membosankan.

"Papi setuju seratus persen. Elena, kamu tahu tidak? Andrew ini sejak umur sepuluh tahun sudah tidak mau makan makanan manis kalau sedang belajar. Kamu hebat bisa membuatnya luluh."

Elena semakin tertawa mendengar pernyataan Papi Adrian, dia melirik Andrew dengan tatapan penuh kemenangan.

​"Papi, bukankah ada urusan investor tadi?" Andrew mencoba mengalihkan pembicaraan, suaranya naik satu oktaf karena panik.

​"Oh, itu bisa menunggu lima menit lagi," Papi Adrian melirik jam tangannya, lalu menatap pita biru navy yang masih melilit di rambut Elena.

"Pita itu... warnanya sangat familiar. Seperti warna sapu tangan favorit Andrew."

​Elena memegang sapu tangan Andrew yang mengikat rambutnya dengan bangga. "Betul sekali, Om! Ini sapu tangan Mas Andrew yang katanya disuruh buang. Tapi menurut aku, barang dari Sultan itu berkah, jadi aku modifikasi sedikit."

​Papi Adrian mengangguk-angguk penuh arti, lalu menepuk bahu Andrew yang masih membeku.

"Andrew, Papi rasa investor Dubai itu tidak akan keberatan kalau Papi sedikit terlambat karena sedang merestui... eh, sedang melihat perkembangan proyek baru di ruangan ini."

​Andrew memejamkan mata, merasa martabatnya sebagai CEO jatuh di depan Elena. "Papi, tolong..."

​"Oke, oke. Papi pergi sekarang," Papi Adrian berdiri, lalu menoleh ke arah Elena. "Elena, nanti malam kalau syuting kamu selesai, mampir ke rumah ya? Mommy Revana pasti senang sekali kalau tahu bubur sumsummu berhasil menembus benteng pertahanan Andrew."

​"Siap, Om Papi! Nanti aku bawain seblak level mematikan buat Mas Andrew!" jawab Elena dengan semangat empat lima.

​Begitu Papi Adrian keluar sambil bersiul senang, keheningan menyergap ruangan itu. Andrew menatap Elena dengan tatapan yang sangat tajam, namun Elena justru kembali duduk dan menyodorkan sendok buburnya lagi.

​"Nah, denger kan? Om Papi aja dukung. Ayo, habiskan buburnya, Mas Kanebo Sayang. Biar nanti malem kuat makan seblak di rumah!"

​Andrew hanya bisa menghela napas pasrah. Ia menyadari bahwa dunianya yang rapi dan teratur, sekarang benar-benar sudah dikuasai oleh kegilaan Elena Valeska dan anehnya, ia tidak merasa sulit menolak kehadiran gadis itu.

...----------------...

Cahaya lampu syuting yang terang benderang akhirnya meredup di sebuah rumah tua di kawasan Menteng. Sutradara meneriakkan kata "Wrap!" yang disambut sorak sorai kru.

Elena Valeska menghela napas panjang, pundaknya yang ramping tampak sedikit turun. Hari ini ia menjalani sepuluh adegan emosional yang menguras tenaga, belum lagi aksi nekatnya menyelinap ke kantor Andrew siang tadi yang cukup memacu adrenalin.

​Ia baru saja hendak melangkah menuju ruang rias untuk menghapus riasan tebalnya saat Ares menghalanginya dengan senyum penuh arti.

​"El! Jangan pulang dulu," cegat Ares sambil menyerahkan sebotol air mineral.

​Elena mengerutkan kening, wajahnya yang cantik tampak sedikit pucat karena kelelahan.

"Aduh, Res... gue mau pingsan nih. Kasur gue udah manggil-manggil dari tadi. Kenapa lagi? Ada take tambahan?"

​"Bukan. Bokap tadi telepon gue. Beliau minta, eh... lebih tepatnya nyuruh gue buat bawa lo pulang ke rumah malam ini. Katanya ada makan malam keluarga, dan lo tamu kehormatannya," ujar Ares dengan nada jenaka.

​Elena tertegun. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.

"Hah? Ke rumah lo? Sekarang? Res, lo liat nggak muka gue? Ini udah kayak zombi cantik yang kurang tidur. Gue capek banget, beneran."

​Sebenarnya, Elena merasa sangat tidak enak untuk menolak. Ia sangat menghargai Papi Adrian yang begitu ramah padanya siang tadi di kantor. Namun, bayangan harus berhadapan dengan Andrew di wilayah kekuasaannya, di depan seluruh keluarganya, membuat Elena merasa sedikit gugup, sesuatu yang jarang ia rasakan.

​"Aduh, Res... gue nggak enak menolak Papi lo, tapi gue beneran lelah banget. Mana belum ganti baju, belum dandan rapi..." Elena merapikan baju syutingnya yang sudah sedikit kusut.

​"Nggak usah dandan, El. Papi dan Mommy malah suka yang apa adanya. Lagian, ada Kak Andrew di sana. Lo nggak mau liat muka Kulkas Berjalan itu pas liat lo tiba-tiba muncul di meja makannya?" Ares mengedipkan sebelah matanya, mencoba merayu.

​Elena terdiam sejenak. Pikiran tentang Andrew yang mungkin akan terkejut atau bahkan bisa marah melihatnya di rumah keluarga Wijaksana mendadak memberi Elena sedikit tambahan energi. Rasa lelahnya seolah tertutup oleh keinginan untuk menjahili pria kaku itu lagi.

​"Oke, oke. Gue ikut. Tapi kalau nanti gue ketiduran di meja makan pas lagi makan, jangan diketawain ya!" kata Elena pasrah pada akhirnya.

Tak berselang lama, ​Mobil yang dikemudikan driver Ares memasuki gerbang megah kediaman Wijaksana sekitar pukul delapan malam. Elena turun dengan perasaan campur aduk. Ia hanya sempat menghapus riasan matanya yang tebal dan menggantinya dengan polesan tipis, serta mengenakan jaket cardigan krem untuk menutupi rasa lelahnya. Rambutnya masih terikat dengan pita biru navy milik Andrew, kain sakti yang menurutnya membawa keberuntungan.

​Begitu pintu utama terbuka, aroma masakan rumahan yang lezat langsung menyambut mereka.

Mommy Revana sudah menunggu di ruang tengah dengan senyum paling hangat yang pernah Elena lihat.

​"Elena! Sayang, akhirnya sampai juga. Ares bilang kamu capek sekali ya hari ini?" Revana langsung memeluk Elena, mengabaikan status Elena sebagai artis besar.

Bagi Revana, Elena adalah gadis ceria yang berhasil memberi warna pada Andrew.

​"Iya, Tante... eh. Maaf ya penampilan aku sedikit berantakan, baru selesai take terakhir tadi langsung ke sini," ucap Elena sopan, ceplas-ceplosnya sedikit tertahan oleh rasa segan.

​"Nggak apa-apa, kamu selalu cantik kok. Ayo, langsung ke meja makan. Semuanya sudah menunggu," ajak Revana.

​Di meja makan, Papi Adrian sudah duduk di kursi utama, sementara Andrew berada di sisi kanan, terlihat sangat berbeda dengan baju rumahannya yang tetap terlihat mahal. Andrew sedang menyesap air putih saat melihat Elena masuk. Ia hampir tersedak, namun dengan cepat menormalkan ekspresinya.

​"Selamat malam, Om, Mas Andrew. Ketemu lagi kita. Jangan bosen ya, ini takdir lho," sapa Elena, mencoba kembali ke mode receh-nya meski matanya terlihat sayu.

​Andrew hanya menatapnya datar, namun matanya sempat tertuju pada pita biru di rambut Elena.

"Kamu benar-benar tidak punya rumah ya, Elena? Sampai harus ke sini malam-malam."

​"Andrew!" tegur Papi Adrian sambil tertawa. "Papi yang mengundangnya. Duduk, Elena. Di samping Andrew saja, kalian terlihat serasi."

Andrew sampai melongo mendengar ucapan Papi Andrian, tapi tentu saja dia tidak bisa membantah.

​Makan malam berlangsung meriah. Ares terus-menerus meledek Andrew, sementara Elena, meski lelah, tidak bisa menahan diri untuk tidak menimpali dengan komentar-komentar pedas yang memancing tawa Papi Adrian dan Mommy Revana.

​Namun, di pertengahan makan malam, kepala Elena mulai terasa berat. Ia mencoba fokus pada piringnya, tapi suaranya mulai memelan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya sesekali terpejam sejenak.

​Andrew, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan dari samping, menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat tangan Elena yang memegang sendok sedikit gemetar karena kelelahan yang luar biasa.

​"Berhenti bicara, Elena. Makan saja yang cepat, lalu kamu harus pulang," bisik Andrew tiba-tiba di dekat telinga Elena.

​Elena menoleh, menatap Andrew dengan pandangan sayu. "Galak banget sih, Mas... aku kan lagi usaha jadi tamu yang asik."

​"Kamu terlihat seperti akan pingsan dalam lima menit ke depan," balas Andrew ketus, namun ia justru menggeser piring buah ke arah Elena. "Makan jeruk ini, biar kamu sedikit segar."

​Melihat perhatian kecil yang terselubung ketegasan itu, Elena tersenyum tipis. "Makasih, Mas Kanebo Ternyata perhatian juga."

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Lilis Yuanita
bgus lnjut
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!