Haris tidak menyangka akan dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali bernama Hana. Ia di jodohkan oleh seorang ulama kharismatik bernama haji Zakaria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri bernama Arini untuk dijadikan calon istri. Tidak mendapat respon dari sang ibu akan gadis pilihannya dan juga ia berhutang budi terhadap sang ulama karena telah membiayainya dari kecil hingga dewasa, menjadikannya dilemma untuk membuat keputusan sehingga ia terpaksa menikahi gadis pilihan sang ulama.
Bagaimanakah nasib pernikahan Haris dan Hana? Bagaimana pula kisah pernikahan mereka dan nasib orang-orang yang tersakiti oleh pernikahan ini, apakah mereka akan Bahagia?
Simak ceritanya pada novel ini, dengan judul “Pernikahan karena Perjodohan (Haris dan Hana)” by Alana Alisha.
Ig: @alana.alisha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Selamat Atas Pernikahanmu
Dddrrrrt… Ddrrrttt...
Satu pesan masuk ke no wattsapp Yura,
“Assamu’alaikum Ra, hari ini sibuk ga? Meet up yuk” Hana.
Yura tersenyum. Pagi-pagi sahabatnya itu sudah mengajaknya bertemu. Ia pun langsung balik menelepon Hana.
“Tumben ni pagi-pagi ngajak bertemu” Yura menyapa setelah Hana mengangkat telepon darinya.
“Iya, Aku butuh bantuanmu. Sebenarnya aku ingin mengajak mas Gibran bertemu. Aku ingin menyelesaikan semua permasalahan yang ada biar tidak berlarut-larut, Ra”
Yura lama terdiam.
“Ra, Haloo Yura. Haloo”
“Ah iya. Bagus. Aku setuju, masalah ini memang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Tapi… hhhhh” Yura mendesah panjang. Nada suaranya terdengar sangat lesu.
“Tapi kenapa Ra?”
“Aku dari kemarin tidak berkomunikasi dengan mas Gibran, Han”
“Ha? Ya Rabb, kenapa? Apa kalian lagi marahan?” Hana terkejut mendengar pernyataan Yura, sebab selama ini kakak beradik itu terlihat sangat akur. Bahkan terkadang Hana merasa cemburu melihat kedekatan mereka.
“Aku juga tidak tau mas Gibran kenapa. Sejak kemarin setelah pertemuan di café bersama mas Ridwan, sikap mas Gibran menjadi sangat aneh”
“Aneh gimana??”
“Ya begitu. Hanya diam. Diam. Dan diam”
“Kamu udah coba tanya kenapa?”
“Sudah, tapi kata nya tidak kenapa-kenapa. Cuma lagi ingin sendiri dan muhasabah. Begitu”
“Ada apa ya dengan mas Gibran. Apa mungkin lagi tidak sehat”
Yura mengendikkan bahunya walau pun tidak terlihat oleh Hana.
“Kalau begitu aku sendiri yang akan menghubungi mas Gibran”
“Baiklah. Mungkin jika denganmu sikap mas Gibran akan berbeda”
“Mohon do’a nya ya Ra, sungguh aku sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini”
“Iya, aku tau. Kamu tenang ya. Allahu ma’ana, Allah bersama kita, Han”
“Syukran katsiran. Jazakillah Khairal Jaza. Kamu memang yang terbaik”
Hana dan Yura pun mengakhiri pembicaraan mereka.
***
Gibran baru selesai melaksanakan shalat dhuha dan membaca al-Qur’an surah al-Waqiah ketika Hana menghubunginya.
“Assalamu’alaikum mas”
“Wa’alaikumsalam, ada apa Hana?” jawab Gibran diseberang.
“Maaf mengganggu, apa nanti mas ada waktu? Aku ingin kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan”
“Bicaralah sekarang. Aku mendengarnya” Suara Gibran terdengar parau namun tegas.
“Apa mas lagi kurang sehat?” Hana sedikit menangkap gelagat aneh dari tutur kata Gibran. Laki-laki itu tidak pernah bersikap sedingin ini kepadanya.
“Benar. Aku lagi sakit” Ucap Gibran. Jiwaku sakit Hana!! Lirih hatinya. Gibran mencoba tegar untuk menyembunyikan kesedihan yang menimpanya.
“Syafakallah mas, thahuuhun insya Allah. Kalau begitu insya Allah besok aku akan membesuk mas”
“Apa kamu akan datang membesuk dengan membawa suamimu juga?” Gibran langsung sarkartis to the point.
“Maa… maksud mas bagaimana ya? Hana mulai gemetar. Di luar dugaannya, ternyata Gibran telah mengetahui pernikahannya.
“Kamu tidak usah menutupinya lagi Hana. Aku telah mengetahuinya. Aku tau kamu diam-diam telah menikah tanpa memberitahukannya kepadaku. Tega kamu mempermainkanku, mempermainkan niat tulus ku kepadamu” Gibran mulai tidak bisa mengontrol emosi yang bergejolak dihatinya. Suara yang ditahannya sedikit meninggi.
“Mas, maaf. Aku bisa jelaskan semuanya. Dengarkan aku, aku sudah mencoba menghubungi…. ”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan Hana. Baarakallah. Selamat atas pernikahanmu. Semoga kamu bahagia selamanya. Doakan aku agar tetap waras menjalani hari-hari yang sulit akibat mengikuti permainanmu” Gibran memotong pembicaraan Hana. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan pembicaraan ini, bahkan hanya untuk mendengar suara Hana saja rasanya ia akan meledak dan melebur. Terlalu sakit luka yang Hana torehkan.
Tuut… tuuuut… tuuutt…
“Mas, halo. Mas…” Hana mulai menangis. Telepon telah Gibran matikan. Ia mencoba kembali menghubungi Gibran. Panggilannya ditolak. Ia tidak menyerah, Hana kembali menelepon Gibran dan akhirnya,
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Hana hanya bisa menangis, hatinya perih bagai pisau yang mengiris tajam. Gibran sama sekali tidak mendengarkannya. Sedikitpun tidak membiarkan ia menjelaskan apapun. Gibran tidak mengetahui betapa ia juga memiliki rasa sakit yang sama. Bahkan mungkin lebih. Hana terduduk lesu di lantai. Ia berharap keajaiban
terjadi. Berharap ini semua hanya mimpi buruknya. Walau semua mustahil dan hanya angan-angannya semata. Allah, Allah, Allah… Dalam kesendiriannya, Hana menangis sesugukan seorang diri.
***
Haris tengah berada di kantornya. Pagi-pagi sekali ia sudah mengantarkan ibu kembali kekediamannya. Bukannya ia dan Hana tidak mencoba mencegah ibu untuk tetap tinggal dan menetap bersama mereka lebih lama, hanya
saja ibu kekeuh ingin pulang. Bukan juga karena ibu tidak betah, namun siang ini ibu ada pengajian rutin mingguan yang sayang jika sehari saja terlewatkan. Apalagi pembahasan fiqhnya berkesinambungan, jadi memang tidak bisa ditinggalkan.
Haris termenung sesaat di depan meja komputernya. Ia mengingat kembali kejadian semalam. Ia dan Hana berada dalam posisi yang sangat dekat. Berdekatan dengan wanita ternyata semenyenangkan itu. Haris yang tidak pernah mengalami pengalaman berpacaran layaknya anak muda pacaran, merasakan satu atmosfer baru. Apa berada didekat wanita akan selalu menyenangkan? Jika iya, mengapa ia merasa tidak nyaman ketika berada didekat teman-teman wanitanya. Apa karena Hana sudah halal untuknya atau mungkin karena ia sudah merasa nyaman bersama gadis itu. Huft. Tapi ada hal yang mengganjal dihatinya.
Semalam… hmh, semalam itu hampir saja bibir mereka bersentuhan, nyaris sedikit lagi. Namun Hana langsung memalingkan wajahnya. Ia terlihat gugup dengan wajah memerah tapi Jelas sekali wanita itu menolaknya. Perasaan Haris menjadi kacau. Kenyataan bahwa ia ditolak oleh istrinya sendiri menjadikan ini seperti sebuah tantangan tersendiri baginya. Ia ingin mencobanya lagi. Maksudnya apa benar ia menginginkan gadis itu. Ia semakin penasaran. Memang Hana tidak mencintainya, mereka dijodohkan dan saling tidak mengenal satu sama lain. Tapi apa salahnya jika ia sedikit saja menyenangkan hati suaminya. Menyenangkan hati suami? Ah entahlah. Haris mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal.
“Mas, kenapa seperti orang kebingungan?” Sapa Hanum rekan kerja yang dulu tergila-gila pada Haris.
“Ah tidak. Ini saya sedang ingin melanjutkan kerjaan saya”
“Ini kopi untuk mas” Hanum menyerahkan secangkir kopi pada Haris
“Terima Kasih Hanum. Lain kali tidak usah repot-repot ya. Saya bisa mengambilnya sendiri”
“Tidak repot kok mas, tadi saya sekalian lewat” Hanum memasang senyum terbaiknya.
“Kalau begitu sekali lagi terima kasih” Haris ingin melanjutkan pekerjaannya, namun ia melihat Hanum tidak juga bergerak dari titik semula gadis itu berdiri.
“Apa ada lagi Hanum?”
“Ehm tidak mas”
“Oiya, kalau mas ada permasalahan rumah tangga jangan segan untuk menghubungiku ya, aku siap menjadi pendengar setia mas” Hanum menawarkan jasa. Ia yakin sekali rumah tangga Haris sedang tidak baik-baik saja.
“Terima kasih. Tapi Alhamdulillah rumah tangga saya baik-baik saja” Haris berkata masih dengan ekspresi datarnya.
“Alhamdulillah kalau begitu. Aku permisi mas” ucap Hanum dan dibalas anggukan kepala oleh Haris.
***
Haris dah sedikit tenang krn tdk ada lg tekanan utk menikahi Arini 😊😊😊😊
kebih baik di cintai dr pd mencintai.
maka terimalah cinta ny Romi 😋😋😋😋😋
pasti ada sesuatu yg memaksa atau mengancam Ummi Fatma 😬😬😬😬
semangkin seru ... dan memaksa emosi ikutan kesel 😆😆😆😆😆
sy yg gk sabar gmn reaksi nya Haris 😚😚😚😚😚😚
sy gk suka dgn Hj Aisya yg terlalu memaksa kehendak.
Hana ajak aja je New york biar Lisa gk bisa berkutik 😊😊😊😊😊