NovelToon NovelToon
Retired Hero

Retired Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wanto Trisno 2

Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.

Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.

Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Dingin

Banyak makanan yang tersedia di panci besar. Dimasak dengan bumbu dan air yang sudah dipersiapkan oleh Rapphael. Sementara Gwysaa hanya tinggal memasukan bahan-bahan dan menyalakan api.

'Sejak mengikuti tuan Rapphael, aku selalu makan kenyang. Dia juga memperlakukanku dengan baik.' Gwysaa menitikan air mata karena bahagia.

Baginya yang sudah menjalani penderitaan seumur hidupnya, kini ia baru merasakan hal baik. Sebelumnya ia berpikir bahwa hidupnya akan berakhir tragis. Meskipun makan untuk terakhir kali pada saat itu, ia rela karena seumur hidupnya, baru bisa makan sampai kenyang. Namun sampai saat ini ia masih diberi kesempatan hidup.

Beruntung untuknya menjadi bagian dari kelompok petualang. Meski statusnya hanya seorang budak, bahkan tidak diperlakukan seperti budak pada umumnya. Hanya saja sikap Rapphael lebih dingin dibandingkan dengan orang lain.

Bersamaan dengan sikap dingin pemuda lima belas tahun itu, masih menyimpan ingatan selama hidup lalu. Jiwanya kini sudah melebihi empat puluh tahun. Bahkan latihan selama puluhan tahun itu masih diingat dengan jelas.

Rapphael mengambil makanan kembali karena masih kurang. Ia mengambil sendiri dari wajan. Sementara Gwysaa makan dengan terburu-buru. Ingin membantu tapi dihentikan oleh Rapphael.

"Kamu makan saja punyamu. Aku bisa mengambilnya sendiri. Kamu hanya menggangguku."

Gwysaa mundur setelah mendengar ucapan tuannya. Lalu ia kembali makan dengan lahap. Kembali melihat tuannya yang sudah berpindah tempat. Ia juga menghabiskan makanannya.

"Jika kurang, habiskan semua yang ada di sana. Jika tidak, buang saja." Rapphael lalu memakan sampai habis. Lalu melemparkan piring ke arah samping.

Rupanya ada sesosok makhluk yang sedang mengintai. Itu adalah orang-orang yang sedang menjalankan misi. Namun karena mencium aroma makanan, membuat mereka datang.

"Ma-maaf. Kami mencium aroma makanan yang lezat. Jadi ... jadi kami datang." Seorang petualang gadis bertubuh kecil dan membawa tongkat sihir di kedua tangannya.

"Jika mau, ambil saja," kata Rapphael. Ia berdiri lalu pergi meninggalkan tempat itu. Lalu ia menengok ke belakang. "Gwysaa, bawa wajannya. Makanannya buang saja."

Tidak ingin menambah beban dalam perjalanan, Rapphael pergi dengan sikap dingin. Bahkan jika mereka nanti mengikutinya, pasti akan diusir. Lagipula membawa kelompok adalah hal paling tidak disukai olehnya.

Para petualang yang satu kelompok dengan gadis bertubuh kecil pun berdatangan. Mereka juga merupakan kelompok petualang kecil yang terdiri dari empat orang.

"Begini, bagaimana jika kami berjalan bersama? Kita bisa saling menjaga di perjalanan?" tawar pemuda berusia dua puluh tahunan. Ia juga anggota kelompok kecil tersebut.

"Pergi!" usir Rapphael dengan tegas. "Aku tidak ingin berjalan dengan orang-orang lemah seperti kalian."

Alasan Rapphael tidak ingin terlibat dengan banyak orang adalah, tak ingin dimanfaatkan orang lain. Ia sudah berpengalaman, ketika berjalan bersama orang-orang lemah, hanya akan lelah sendiri. Harus melindungi yang lemah dan ditinggalkan yang kuat.

Karena sikapnya, membuat semua orang takut. Akhirnya hanya meminta makanan dari Gwysaa dan segera mundur. Nyali mereka langsung ciut ketika mendapatkan tatapan dingin.

Memberikan harapan bagi orang lain, sama saja mengundang masalah pada diri sendiri. Dengan sikap apatis seperti itu, maka tidak akan ada yang berani mendekat. Bahkan jika mereka masih belum menyerah, maka hanya bisa memberi pelajaran.

Tidak langsung membunuh mereka, itu bentuk dari rasa kasihan. Jika mengingat kejadian kehidupan lalu, ia bahkan tidak ada yang membelanya. Maka jangan salahkan jika kali ini tidak ada bantuan untuk seluruh umat manusia lagi.

Hanya dengan menjalankan kehidupan sehari-hari yang tanpa beban kepahlawanan, barulah menemukan hidupnya. Tak lupa, juga harus menemukan dalang dibalik semua yang terjadi. Entah itu dari kerajaan atau para pendeta. Termasuk hakim yang telah memutuskan hukuman mati untuknya.

Mereka semua tidak akan lolos dari target untuk diselidiki. Bahkan pantas dihukum mati sekalipun, tidak ada yang akan membuatnya mengalami kematian tragis dikhianati. Ada juga rekan-rekan pahlawannya yang dulu, mereka tidak ada yang membelanya.

"Lalat-lalat seperti mereka, hanya akan menjadi beban untukku. Jauhkan diri dari mereka mulai sekarang." Rapphael berkata dingin di samping Gwysaa.

Gwysaa menoleh kearah tuannya. "Baik. Aku tidak akan berhubungan dengan mereka lagi." Ia menengok ke belakang, melihat para petualang kecil itu sedang menikmati makanan.

Makanan yang telah dibuang dan dianggap tidak berharga lagi, bagi para petualang kecil adalah harta karun. Mereka telah menjelajahi hutan namun belum menemukan barang yang dicari.

"Meski tampang anak itu galak, makanannya sangat enak. Apakah kita harus mengikuti mereka?" Seorang gadis mungil berkata, mengemukakan pendapat.

"Kita sedang menjalankan misi. Kita saja belum mendapatkan barang misi. Masa kita mau mengikuti mereka? Kalau perempuan itu masih bisa diterima. Tapi anak laki-laki itu, membuatku merinding karena tatapannya."

"Benar, benar. Anak laki-laki itu sangat menyeramkan. Meski badannya kecil, aku seperti melihat ada jiwa monster dalam dirinya. Namun kurasa karena dia terlalu keras kepala."

Mereka suka berbicara tentang orang lain. Tetap saja para petualang yang kurang pengalaman seperti mereka ini, tidak tahu kondisi sebenarnya. Hanya suka perjalanan yang mudah dan belum menjalani kehidupan lebih buruk daripada berada di neraka.

Rapphael pernah mengalami semuanya. Dari pertarungan hingga berminggu-minggu dengan raja iblis. Bahkan sebelumnya, pernah menghadapi Lumon yang kekuatannya jauh melebihi kekuatannya saat itu.

Masuk ke dalam Dungeon dan membunuh banyak Gomon, hingga sampai lantai sebelas. Itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai itu semua. Apalagi dirinya harus melindungi terlalu banyak orang. Yang pada akhirnya kesemuanya adalah penghianat.

Maka karena itu, orang-orang lemah bagi Rapphael hanyalah beban yang seharusnya tidak ada di dunia. Meski tidak membunuhnya secara langsung. Namun membiarkan mereka merasakan ketakutan dalam menghadapi marabahaya.

Sekali lagi, Rapphael kembali menangkap tanaman yang telah memiliki kesadaran. Sehingga membuatnya memiliki dua makhluk yang berasal dari tanaman. Setelah berjalan selama setengah hari, mereka memutuskan untuk kembali.

Mereka berjalan menuju ke kota Swrisdk dan melapor pada penjaga gerbang terlebih dahulu sebelum masuk ke kota. Lalu setelah mereka sampai di dalam, Rapphael berhenti.

"Kita telah mendapatkan banyak barang di hutan itu. Sekarang tinggal kembali untuk melaporkan misi. Kamu saja yang melaporkan misi ini. Ada sesuatu yang harus kulakukan."

Rapphael menyerahkan tanaman obat pada Gwysaa. Itu adalah barang misi yang harus diambil. Karena menurutnya tidak berguna, maka tidak perlu pergi sendiri. Lagipula ia masih memiliki banyak di Ruang sihirnya.

"Tuan mau pergi ke mana?" tanya Gwysaa dengan hati-hati. Ia sudah mengikuti tuannya selama tiga hari. Ia berharap tidak diusir saja.

"Pergi ke Dungeon. Kamu bawa lencana ini dan gunakan hadiah misi untuk makan dan cari penginapan sendiri. Besok pagi temui aku di Dungeon kota Swrisdk."

"Baiklah." Gwysaa tidak berani bertanya lagi. Setelah menerima barangnya, ia segera pergi untuk melaporkan misi.

Barulah setelah sendirian, bisa memanfaatkan waktu untuk menjelajahi Dungeon. Rapphael meninggalkan urusannya demi meningkatkan level kekuatannya.

***

1
anggita
mampir lewat ng👍like aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!