Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.
Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
"Del, kita laper nih." Ucap Sandra ketika ia selesai mengganti bajunya dengan baju yang dipinjamkan Adel.
"Iya nih, aku juga gak sabar mau nyobain masakan sultan!" Erika menambahkan.
"Allaaa,, itu sih bukan masakan Sultan, itu masakan Bibi Sani, pembantu di rumah ini." Kata Adel.
"Gak apalah, yang pentingkan makanan yang dimakan anak sultan sehari-hari. Ya nggak San?" Erika tersenyum menyenggol Sandra.
"Iya ni Del."
"Ya udah, ayo ke dapur." Ucap Adel.
Ketiganya berjalan ke luar kamar untuk turun ke dapur.
"Eh,,, siapa tu yang lagi duduk sama kakak kamu?" Sandra segera melebarkan matanya melihat pria tampan yang sedang dipaksa memakan mangga muda.
"Suami kakakku," jawab Adel dengan judes.
"Ya ampun, ipar kamu ganteng banget Del, kayak aktor gitu bodinya.." puji Erika.
"Ganteng sih ganteng, tapi udah jadi milik kakakku!"
"Ya Ela,, untung saja bukan aku yang jadi iparnya, kalau itu aku, sudah ku tikung kiri!" Sandra bergurau.
"Seandainya bisa juga,, udah kulakukan dari dulu!"
"Ehh? Del, kamu menyukai ipar kamu?" Tanya Erika dengan kaget sambil melihat Adel dengan tatapan tak percaya.
"Aku tanya nih sama kalian berdua, kalau kalian tinggal serumah sama cowok ganteng banget kayak Kak Aris, gak bakal kegoda gak? Gak bakal iri gak sama istrinya?"
"Wahhh gila banget kamu Del, naksir gak pake rem! Itu ipar kamu sendiri!" Erika menggelengkan kepalanya.
"Iya Del, apa lagi mereka terlihat romantis banget lagi, kayak pasangan baru nikah ajah." Komentar Sandra sambil memperhatikan Sania yang sedang merengek ke Aris.
"Mana ada, mereka tu udah di ujung perceraian tahu! Mereka tidurnya pisah kamar,, lagi ya, Kak Sania tu orangnya galak jadi gak mungkin Kak Aris akan tahan lama-lama sama dia. Paling bentar lagi juga jadi cerai." Ucap Adel keras kepala.
"Buset nih anak!! Kakaknya didoain cerai sama suaminya!" Erika terkikik dengan keberanian Adel.
"Tapi nih Rik, aku juga setuju sama Adel, kan kakaknya ajah yang gak bersyukur punya suami tampan sampai harus pisah kamar.
Kan ya aku kasih tahu kalian, katanya kalau lelaki itu punya kebutuhan seksual yang tinggi, apa lagi yang punya badan atletis kayak ipar Adel.
Pasti udah lama banget ditahan, pengenla dilampiasin, tapi kakaknya si Adel malah gak mau tidur sama suaminya."
"Iya juga ya,, kalau gitu selama ini dia tersiksa banget dong tidur sendiri gak dilayani sama istrinya." Erika mengangguk mengerti sama yang diucapkan Sandra.
"Kalau gitu, dari pada dianggurin kan buat yang membutuhkan ajah ya?" Tambahnya.
Sementara Adel yang dari tadi mendengar, memiliki ide bagus di kepalanya. "Kalau gitu kalian setuju kan kalau aku coba dekati kak Aris, soalnya dia emang selalu tidur sendiri. Pisah kamar sama Kak Sania."
"Iyalah Del, kan dari pada dia tersiksa batin ya, mendingan sama kamu ajah." Ucap Sandra menyarankan.
"Trus kalian ada saran gak gimana caranya aku bisa narik perhatian Kak Aris?" Adel kembali bertanya.
"Alla,, itu mah gampang tapi bahasnya nanti ajah ya soalnya cacing peliharaan aku udah koar-koar ni." Jawab Sandra.
"Ya udah, ayo turun makan!" Ucap Adel segera berjalan ke arah tangga menuju dapur.
"Sayang aku sudah menyerah, ini masih banyak lho." Ucap Aris ketika melihat mangga rujaknya masih setengah mangkok.
"Gak boleh Mas, Mas harus habisin semua lah!" Ucap Sania dengan suara yang sedikit meninggi.
'Ya ampun, diliat dari dekat saja ganteng bangettt,,," Gumam Sandra ketika mereka tiba di meja makan.
"Kak, lagi ngapain?" Tanya Adel sambil duduk di meja makan, tepat di hadapan Aris.
"Eh Del, kamu pakek nanya lagi, itu lah mereka lagi makan mangga." Kata Erika sambil memukul kepala Adel.
"Aw,, resek banget sih! Sakit tahu." Gerutu Adel.
"Kalian mau makan ya, maaf ya Bibi Sani lagi membersihkan di lantai atas, kalian siapkan sendiri saja ya makanannya." Ucap Sania dengan ramah.
"Iya Kak, kami bisa kok." Ucap Sandra yang terus menatap Aris.
"Sayang, aku rasa kita pindah ke kamar saja ya. Biar mereka bisa makan di sini." Ucap Aris ketika ia melihat peluang untuk menghindari mangga asamnya.
"Aduh Mas! Pokonya makannya di sini ajah, ayo cepat habiskan rujaknya." Kata Sania dengan suara judesnya.
"Tapi sayang, ini perut aku udah merontah, gigi aku pun udah,,"
"Pokoknya aku gak mau tahu! Mas harus habiskan mangganya! Lalu tidak, aku tidak mau lagi makan sampai besok!" Sania mulai merajuk.
"Eh,, sayang, jangan merajuk, nih aku habiskan kok." Ucap Aris memasukkan satu potongan mangga ke dalam mulutnya.
'Ya ampun, pantas saja Kak Aris tidak mau tidur bersama istrinya, Kak Sania galak amat." Gumam Sandra merasa ngilu melihat Aris yang tersiksa memakan mangga muda.
"Eh, kalian pada nonton, ayo Dek siapin makanan buat teman kamu dong." Ucap Sania saat ia melihat ketiga gadis itu malah terus memperhatikan suaminya.
"Eh, iya Kak." Kata Adel lalu berdiri.
"Mas, kamu makan mangganya di taman belakang ajah ya." Ucap Sania pada Aris karena tak mau suaminya menjadi tontonan tiga gadis SMA itu.
"Ok sayang." Ucap Aris mengangkat piringnya lalu berjalan ke belakang rumah. 'Untunglah istriku tidak mengikutiku, bisa mencret aku kalau harus menghabiskan semua rujak ini.' Gumam Aris merasa lega.
"Kalian abis ini mau ngapain?" Tanya Sania pada tiga gadis yang sudah duduk di meja makan.
"Oh, kita mau kerja PR kak." Ucap Sandra menjawab.
"Bagus, kalian di dalam kamar Adel saja ya, jangan keluar-keluar."
"Emang kenapa Kak?" Tanya Adel kebingungan.
"Kalau Kakak bilang jangan ya jangan, tidak usah banyak protes." Ucap Sania lalu berjalan menyusul Aris ke belakang rumah.
"Astaga Del, ternyata kamu benar, Kakak kamu super jutek super cerewet. Pantas saja kalau Kak Aris gak betah sama istrinya."
"Iya Del, mending kamu cepetan bebasin Kak Aris dari kakak kamu yang galak itu deh. Kasian orang ganteng menikah sama singa betina." Erika menambahkan.
"Hehe,, kalian lihat sendiri kan. Pokoknya nanti bantuin aku mikirin caranya memisahkan mereka." Ucap Adel sambil tersenyum.
"Iya deh kita bantuin, tapi nih Del, entar kasih tahu kita juga kalau Kak Arisnya gak mau sama kamu, buat kita ajah." Sandra tersenyum.
"Ealaa nih anak! Dengerya,, Kak Aris itu cuma buat aku! Kalau kalian mau yang ganteng bisa cari sendiri Sono!!!" Sewot Adel.
"Halla,, anak sultan kok pelit amat." Ketus Sandra.
Sementara Sania yang berjalan ke taman belakang mendapati suaminya malah meninggalkan rujaknya di atas meja taman, sedangkan suaminya malah asik memberi makan ikan.
"Mas!" Teriak Sania dengan kesal.
"Eh sayang. Kamu kok di sini, kan di sini panas sayang." Aris segera menghampiri istrinya dan menuntun istrinya itu berteduh di bawah pohon mangga.
"Mas, kenapa rujaknya tidak dihabiskan?" Tanya Sania dengan wajah cemberut.
"Ehh, itu sayang, tadi ada lalat turun kebawa, jadi Mas gak makan lagi deh." Ucap Arsi berbohong.
"Apa? Lalat kurang ajar! Pokoknya Mas, aku mau lalat itu kamu tangkap hidup-hidup terus kurung dia di toples!"
"Ehh, apa sayang? Nangkap lalat?" Tanya Aris kebingungan.
"Iya Mas! Pokonya Mas harus nangkap lalat nakal itu!" Tegas Sania.
"Ehh, tapi sayang,,,"
"Tidak ada tapi-tapian. Aku tidak suka sama hewan nakal yang suka mengganggu. Pokoknya aku tunggu di kamar Mas, lalatnya harus kamu tangkap ya!"
"Ehh, iya sayang." 'Hallaaa Mala nambah kerjaan. Mana ada lalat di rumah sebersih ini?' Gumam Aris menggaruk kepalanya sambil melihat istrinya yang sudah berjalan menjauh.
semangat terus berkarya 👍
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya