“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putuskan Hubungan Kamu dengan Anak Saya
Sekar mengembuskan napas panjang saat melangkah keluar dari kampus. Urusan pendaftaran telah selesai. Ia berhenti di samping mobilnya sejenak, lalu menatap kartu ATM dari bank ternama yang kini berada di genggamannya.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kamu bisa mengeluarkan uang sebanyak itu untuk orang lain,” gumamnya pelan, “berarti aku juga berhak mengambilnya darimu.”
Ia menyelipkan kartu itu kembali ke dalam tasnya.
“Sebesar apa pun yang kamu keluarkan untuk perempuan itu, sebesar itu juga akan aku ambil kembali—untuk aku dan anakmu.”
Sekar tersenyum samar, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Mesin dinyalakan, mobil melaju meninggalkan area kampus menuju pusat perbelanjaan.
Setibanya di lokasi, Sekar memarkir mobil dan turun dengan tenang. Ia sempat berhenti di depan lobi, lalu mengambil foto dirinya dan mengirimkannya kepada Raka.
Pesan terkirim.
[Mas Sayang, aku belanja, ya. Anak kamu, nih, yang mau. Kayaknya cewek, deh, maunya belanja terus. Nggak apa-apa, kan?]
Beberapa detik kemudian, pesan kembali terkirim.
[Menghabiskan uang suami itu, wajar kan? Menyenangkan istri juga kewajiban, bukan begitu Pak Direktur?]
Tak lupa emotikon cium dan senyum manis ia sematkan. Setelah itu, ia melangkah masuk tanpa menunggu balasan.
Di dalam, Sekar berjalan santai, menelusuri beberapa etalase sambil memperhatikan barang-barang di sekitarnya. Saat melintas di salah satu area, pandangannya tertuju pada sebuah booth layanan bank.
Langkahnya terhenti.
“Apa aku buat rekening baru aja kali, ya. Khusus untuk tabungan baby. Bukan ide yang buruk, kan?”
Sekar melangkah ringan menuju booth pelayanan bank itu dan memutuskan untuk membuka rekening baru. Perempuan itu tersenyum puas saat melihat angka lima juta sudah masuk di dalamnya.
“Ini cara kamu bermain kan, Mas?” ucapnya lirih. “Transfer dalam jumlah kecil, bertahap, biar nggak menarik perhatian.”
Tatapannya mengeras sedikit. “Mulai sekarang, kita ikuti ritme permainanmu.”
Sekar kembali menyimpan ponselnya, lalu melangkah pergi dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya.
***
Sekar menatap belanjaannya dengan puas. Tidak kurang dari dua puluh lima juta ia habiskan kali ini. Ia tersenyum tipis.
“Meleset sedikit nggak apa-apa,” gumamnya lirih. “Anggap saja ganti rugi karena kamu berselingkuh, Mas.”
Tanpa terburu-buru, ia melangkah masuk ke dalam rumah. Senyum di wajahnya masih tersisa ketika ia melihat mobil Raka sudah terparkir di halaman. Ia menghela napas singkat sebelum kembali melangkah.
“Sayang, aku pulang,” sapanya riang sambil masuk.
Raka yang tengah berada di dalam kamar menoleh, sedikit terkejut melihat Sekar membawa banyak kantong belanja. Ia memperhatikan istrinya mendekat.
Sekar hanya tersenyum lebar. Ia mengecup pipi Raka sekilas, lalu duduk di tepi ranjang.
“Haaah … capeknya,” keluhnya ringan.
“Belanja apa? Kok tumben sendiri? Biasanya minta ditemani Mama atau Mas,” tanya Raka dengan nada lembut.
Sekar menoleh, lalu mengerucutkan bibirnya seolah kesal.
“Harusnya aku yang tanya. Tumben Mas pulang jam segini. Biasanya lembur, meeting, gitu aja terus nggak selesai-selesai. Mas sibuk terus, sih. Ya sudah, aku jalan sendiri saja.”
Raka tersenyum kecil. Ia mendekat, meraih tangan Sekar, lalu menciumnya pelan.
“Marah, ya?”
“Enggak. Siapa yang marah?”
Raka terkekeh kecil, lalu menjawil dagu istrinya dengan gemas.
“Pesan chat kamu sudah menjawab semuanya, Sayang. Maaf, ya. Mas memang sering lembur. Gini deh, besok Mas ambil libur sehari. Kita jalan-jalan. Mau?”
Sekar mendongak. Matanya berbinar, dibuat-buat antusias.
“Beneran?”
“Beneran. Kita sudah lama nggak jalan-jalan. Kamu mau ke mana?”
“Pantai, Mas. Sudah lama kita nggak ke pantai. Boleh, kan?”
“Siap, My Queen,” ucap Raka sambil memeluk Sekar hangat.
Sekar membalas pelukan itu dengan tenang. Di balik wajah yang terlihat hangat, pikirannya justru berputar cepat.
Terus saja bermain seperti ini, Mas. Sekarang giliranku menyesuaikan ritmemu. Kita lihat bagaimana perempuan itu bereaksi ketika nggak bisa menghubungimu.
Ia menahan senyum di dalam hati.
“Terus, kamu belanja apa?” tanya Raka tiba-tiba.
Sekar melepaskan pelukan itu, lalu mengangkat salah satu paper bag yang ia bawa.
“Beli laptop baru. Biar lebih nyaman buat kuliah nanti. Terus buku-buku juga, rekomendasi dari Mas Langit. Skincare untuk ibu hamil, sama beberapa kebutuhan lainnya.”
Suaranya terdengar ringan, seolah semua itu hal biasa. Raka mengangguk pelan, tidak menunjukkan kecurigaan apa pun.
***
Udara malam terasa dingin di sudut kota Jakarta. Angin tipis berembus pelan, menyapu wajah seorang pria yang tampak termenung.
Bagas berdiri di sana, bersandar pada pagar, secangkir kopi di tangannya mulai dingin. Ia menyesapnya perlahan.
Napasnya berat. Seolah ada sesuatu yang selama ini ia tahan, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Matanya terpejam. Dan seperti biasa, ingatannya kembali pada hari itu.
“Jaga Sekar untuk saya, Bagas …”
Suara itu kembali terngiang jelas di kepalanya. Suara terakhir dari Hadinata—ayah Sekar. Tangannya mengepal tanpa sadar. Sudah hampir dua tahun berlalu. Tapi bayangan hari itu tidak pernah benar-benar pergi.
Hari itu seperti hari-hari biasa. Ia dipanggil oleh Hadinata untuk ikut dalam pertemuan dengan klien di luar kota. Bukan hal yang aneh. Bagas memang sudah lama dipercaya menangani beberapa urusan penting perusahaan.
Namun, sejak awal, ada yang terasa berbeda. Hadinata tampak lebih diam dari biasanya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya seperti menyimpan sesuatu. Seolah ada hal yang ingin ia katakan, tapi ia tahan.
Setelah pertemuan selesai, Hadinata mengucapkan sesuatu yang menurutnya janggal.
“Bagas,” ucapnya pelan.
Bagas menoleh.
“Kamu pulanglah duluan, saya masih ada keperluan. Saya sudah minta sopir kantor untuk menjemput kamu.”
Bagas mengernyit. “Tapi Pak?”
Hadinata tersenyum tipis. Senyum yang aneh. Tidak seperti biasanya.
“Jaga Sekar untuk saya.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa terasa berat. Bagas ingin bertanya lebih jauh, tapi Hadinata sudah berbalik, menutup percakapan itu.
Bagas menurut. Dan itu keputusan yang terus ia sesali sampai sekarang. Beberapa jam setelah itu, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari nomor asing.
Saat ia angkat, hanya terdengar suara samar di seberang. “Pak Hadinata kecelakaan.”
Dan panggilan itu langsung terputus. Jantung Bagas seketika berdegup kencang. Ia mencoba menelepon balik—tidak bisa. Saat ia sampai di lokasi, semuanya sudah terlambat.
Mobil itu ringsek di pinggir jalan. Orang-orang sudah berkerumun. Pria yang selama ini ia anggap sebagai ayah kandung. Pria yang sangat ia hormati, meninggal di tempat karena kecelakaan.
Bagas memejamkan matanya kuat-kuat. Ingatan itu selalu berhenti di sana. Namun mimpi buruknya tidak berhenti di situ. Beberapa hari setelah kejadian itu, ia menerima sebuah kiriman. Sebuah file rekaman CCTV.
Di layar itu, terlihat jelas dirinya. Ia berdiri di dekat mobil Hadinata. Beberapa detik lalu berbalik dan pergi. Sudut pengambilan gambarnya aneh. Terpotong. Seolah sengaja diambil hanya bagian itu saja.
Tanpa konteks yang jelas dan tanpa penjelasan. Namun cukup untuk membuat siapa pun berpikir ia meninggalkan Hadinata di saat-saat terakhir. Bagas menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak.
Ia tahu, ada yang tidak beres dari semua ini. Kejadian itu terlalu rapi untuk disebut sebagai kecelakaan. Dan yang lebih membuatnya penasaran adalah, setahun setelah kematian Hadinata, perusahaan itu jatuh ke tangan Raka.
Saat itu, Raka masih berstatus sebagai kekasih Sekar. Dia membeli perusahaan milik Hadinata dan melunasi semua hutang-hutang perusahaan. Dan entah bagaimana, pria itu juga memiliki rekaman yang sama.
Sejak saat itu, hidup Bagas seperti berada dalam genggaman orang lain. Ia tidak bisa bergerak bebas. Ia tidak bisa melawan bahkan sekedar untuk bersuara saja ia tidak berani.
Sampai akhirnya, Langit datang. Memberikan celah dan harapan untuknya membongkar apa yang sebenarnya terjadi. Bagas membuka matanya perlahan. Tatapannya kosong menatap kota yang masih terjaga di bawah sana.
“Saya janji, Pak. Sampai dengan saat ini, Sekar masih menjadi prioritas saya. Sampai saatnya semua terbongkar nanti, Sekar akan tetap menjadi prioritas saya. Meskipun saat ini, Sekar sangat membenci saya, Pak,” gumamnya lirih.
Pria itu meneguk kopi terakhirnya sebelum masuk ke dalam rumah.
***
Pagi-pagi Sekar sudah bersiap dengan penuh semangat. Ia merapikan barang-barang yang akan dibawa ke pantai, memastikan semuanya lengkap.
“Sayang, cepat sedikit … kamu lama,” serunya dari bawah.
Tak lama kemudian, Raka muncul sambil membenarkan posisi jam di pergelangan tangannya.
Sekar mendekat.
“Mas, kita mampir ke makam dulu, ya,” ucapnya pelan. “Sudah lama, kan, kita nggak ziarah ke makam Papa.”
Raka menoleh cepat. Ekspresinya sempat berubah, namun ia segera menetralkan dirinya.
“Baiklah. Ayo, berangkat.”
Keduanya pun keluar dan masuk ke dalam mobil. Raka mengemudi menuju pemakaman yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa lebih tenang dari biasanya. Namun di balik keheningan itu, pikiran Raka mulai kembali ke masa lalu.
Sebuah suara tiba-tiba terngiang jelas di kepalanya.
“Putuskan hubungan kamu dengan anak saya.”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂