" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Juleha dan Zainal ( Part. 24 )
" Terima aja, bang, kak Sarah itu kan cantik, dari pada Abang susah susah mencari pecahan hati Abang yang berserakan menjadi puing puing yang diliputi debu, tertiup terbang terbawa angin, ini tinggal duduk, ucapkan ijab qobul, sah, dapat toko sembako lagi, atau mau digantikan dengan bang Mahmud, dia itu kan jomblo juga "
Leha ikut ngomporin setelah ibunya masuk ke dalam kamar.
" Dasar adek matre, dia sudah Abang anggap adek sendiri, bagaimana bisa jadi istri Abang " semprot Abdul.
" Cuma dianggap, tapi bukan adik bener, ntar lama lama juga demen, sama seperti Leha dengan bang Zai, tetangga tapi menikah "
Udah kaya' judul novel aja.
" Zai, mending lu bawa bini lu masuk kamar, kepala nih makin puyeng dengar ocehannya "
" Siap Abang ipar, ayu dek Leha sayang, kita lanjutkan yang tertunda tadi "
Zainal tergelak sembari menggandeng Juleha masuk ke dalam kamar.
Abdul melongo.
Haish, kenapa aku bisa salah ngomong.
Abdul masih betah duduk di ruang tengah, pikirannya melayang pada Sarah, calon istrinya.
Cie cie, udah ngakuin kalau neng Sarah calon istri ya bang Dul.
Bagaimana bisa dia jadi istriku, tidur sekamar lalu, hiiii....
Abdul tergidik ngeri sendiri.
Itu juga si Haris geblek, punya calon bini cakep, bening, kok bisa bisanya icip icip di luar, gak sabar banget nunggu hidangan untuknya sendiri, eh, kalau cuma icip icip Kenapa tuh anak orang bisa bunting ?
Pasti gara gara nyicipi-nya kebanyakan.
" Kau nunggu Bapak, Dul ? "
Teguran Bapaknya yang baru pulang dari mengurus surat menyurat pengantar pernikahan ke rumah Pak RT dan Pak RW, Abdul terus melamun, sehingga salam dari Bapaknya tidak terdengar.
Abdul mendongakkan kepalanya dan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
" Ibuk-mu sudah menyampaikan semuanya "
Bapaknya Abdul ikut duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tengah.
Abdul hanya menganggukkan kepalanya.
" Pak, apa gak ada cara lain ? "
Bapaknya menggelengkan kepalanya
" Dul, semua orang kampung udah tau kalau Wak Wahab akan nikahkan Sarah habis Lebaran ini, kalau tiba tiba gak jadi, mau dikemanakan muka Uwakmu, Sarah anak perempuan satu-satunya yang Uwakmu punya, adapun adiknya, dua duanya laki laki.
Membatalkan semua yang sudah di tempah gampang Dul, palingan juga rugi di duit yang udah keluar, tapi omongan orang ? Kasihan Uwakmu dan Sarah "
" Tapi Pak, Sarah sudah seperti adikku, bisa Bapak bayangkan seperti menikahi adik sendiri ? aku seperti akan melakukan...."
Abdul tidak berani melanjutkan kata-kata yang akan membuat ia tergidik ngeri pada Bapaknya.
Bapaknya melirik Abdul sekilas.
" Bapak faham, kamu gak perlu buru-buru, jalani secara perlahan, biarkan perasaan kau menganggap Sarah adikmu hilang dengan sendirinya, dan semoga akan berganti dengan perasaan antara suami istri seperti pada umumnya "
" Tapi Kenapa harus dua hari lagi ? apa tidak bisa seperti rencana awal mereka yang mau menikah habis lebaran ? "
Abdul mengulur waktu, menunggu keajaiban, siapa tahu Haris hanya dijebak, padahal yang menghamilinya orang lain, lalu pernikahan mereka tetap dilaksanakan sesuai rencana semula, lalu hidup bahagia selamanya.
Seperti cerita cerita di dongeng pengantar sebelum tidur kan gitu.
Ujian kehidupan gak ada, hus hus hus.
" Enggak, Wak Wahab tidak ingin Haris mencari celah untuk kembali menikahi Sarah karena dia terlihat enggak rela mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia bahkan menyuruh perempuan itu untuk menggugurkan kandungannya agar pernikahan-nya dengan Sarah bisa dilanjutkan "
" Jadi aku hanya dibuat sebagai tumbal penghalang langkah Haris ? Lalu Uwak membeliku? apa Wak Wahab tidak takut aku akan mencampakkan Sarah setelah menikahinya ? "
Abdul terlihat emosional.
" Kau tidak akan mungkin sanggup melakukannya Dul, karena kau anak Bapak, dan Sarah bukan orang asing yang bisa kau sakiti "
Bapaknya sangat percaya diri sekali karena dia tahu Abdul anak yang baik.
" Sekarang lebih baik kita tidur, Bapak letih "
Bapaknya berjalan menuju ke kamarnya, Abdul juga ikut bangun dari duduknya, mengunci pintu rumah dengan baik, melangkah menuju ke kamarnya sendiri.
...******...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻