Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blok M
Satu minggu berlalu setelah kematian Hana, Guno mulai kembali mengajar. Seperti biasa, Guno selalu menjelaskan materi dengan jelas dan lugas. Hari ini temanya tentang reproduksi wanita. Guno mengambil referensi melalui video-video dewasa dan menjelaskan semuanya secara mendetail.
"Memasukkan kelamin laki-laki ke dalam vagina itu harus dibarengi dengan aktivitas panas. Agar apa? Agar tidak terjadi gesekan yang menyakitkan. Kalau perempuan merasakan sakit atau nyeri pada bagian vaginanya, hati-hati! itu malah bisa menyebabkan luka yang sulit sembuh" jelas Guno.
Seorang siswa bernama Andre mengangkat tangannya "Memangnya vagina itu seret ya, Pak?"
Guno tersenyum, lalu pandangannya menyapu seluruh siswa yang sedari tadi memerhatikannya. Tiba-tiba, perhatian Guno tertuju pada Tamara yang wajahnya meringis seolah menganggap pertanyaan Andre menjijikkan.
"Tama!" panggil Guno.
Wajah Tamara langsung berubah tegang saat namanya disebut "Ya Pak!"
"Menurut kamu vagina itu seret tidak?"
Tamara mengernyitkan kening "Tidak tahu Pak, Tama tidak pernah mencoba."
"Mau mencoba?"
Seketika Guno dan seluruh siswa di kelas tertawa terbahak-bahak. Tama yang merasa risih langsung menunjukkan muka judesnya.
"Apaan sih? Tidak ada yang lucu!" ketusnya.
Masih dengan sisa tawa Guno berusaha menenangkan keadaan kelas "Oke, Anak-anak tidak apa-apa Tama menjawab seperti itu, memang kenyataannya dia masih perawan jadi wajar kalau dia bilang tidak tahu."
Guno membuka halaman selanjutnya untuk kembali menjelaskan alat reproduksi wanita. Namun, waktu belajar habis tepat saat bel sekolah berbunyi.
Tet! Tet!
Guno segera menutup bukunya "Ternyata waktunya sudah habis. Jadi, kalian tinggal kerjakan kuis yang ada di halaman delapan puluh"
"Maksudnya PR Pak?" tanya seorang siswa.
Guno tersenyum sembari memejamkan mata "Ya, maksud saya jadikan PR. Oh iya! Tama, kamu bisa bantu saya bawakan laptop ke kantor?"
Dengan nada malas Tama menjawab "Iya Pak, Bisa."
Guno mengambil tas kerjanya lalu pergi meninggalkan kelas lebih dulu. Sambil berjalan Guno membatin " Tama masih perawan ya? Jarang sekali anak sekolah zaman sekarang yang masih segel" Alis Guno terangkat, seolah itu adalah berita bagus yang ia dapatkan secara cuma-cuma dari mulut Tamara. Sesampainya di kantor suasana tampak sepi. Guno memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Tamara. Tamara datang membawa laptop kantor.
"Ini disimpan di mana Pak?" tanya Tama.
Guno menunjuk ke arah mejanya, Tama menurut dan meletakkan laptop itu di sana. Namun, begitu tangan Tama terlepas dari laptop Guno langsung menyambar dan menggenggam tangan gadis itu.
"Tama!"
Tamara terdiam dan menatap mata Guno dengan cemas.
"Tamara tahu tidak kalau Tama itu cantik?"
Mendengar perkataan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang guru, Tama berusaha melepaskan tangannya. Namun, tenaga Guno jauh lebih besar.
"Tama, vagina itu tidak seret kalau kita sama-sama mau" bisik Guno.
"Apaan sih Pak? Tama tidak suka ya!"
"Ini pelajaran Tama!"
"Tolong!" teriak Tama.
Tiba-tiba saat Tama berteriak minta tolong seorang guru fisika bernama Bu Sri masuk ke ruangan. "Ada apa ini? Kok berisik sekali?" tanya Bu Sri heran.
Guno langsung melepas tangan Tama dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tamara langsung berlari keluar dari kantor guru.
"Biasa Bu si Tama disuruh belajar yang benar malah teriak-teriak tidak jelas" kilah Guno.
"Tama kelas dua belas IPA ya?" tanya Bu Sri.
"Iya!"
"Gosipnya sih, anak itu kena mentalnya karena dulu pernah mendapat pelecehan dari bapaknya" ucap Bu Sri pelan.
"Hah, serius Bu?" Guno pura-pura terkejut.
"Baru gosip sih. Tapi kalau benar, kasihan sekali" lanjut Bu Sri "Bapaknya sudah meninggal, jadi dia tinggal sama ibunya."
"Tamara itu aslinya orang mana Bu, kalau boleh tahu?"
"Kalau tidak salah daerah Blok M."
Guno mengangguk-angguk. Lagi-lagi batinnya bicara " Kena kau Tama! "
Jam sekolah berakhir Guno dan temannya yang bernama Irfan memutuskan untuk pergi keluar.
"Mau ke mana kita?" tanya Irfan.
"Bagaimana kalau ke Blok M?" saran Guno.
"Ngapain ke sana? Itu kan perumahan" sahut Irfan.
"Ngapain lagi kalau bukan cari 'cabe'!" jawab Guno enteng.
"Gila lu! Ingat, istri baru seminggu meninggal. Gue pikir lu suami setia, ternyata..." Irfan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Heh! Kita ini laki-laki. Laki-laki bebas mencari perempuan mau satu atau dua terserah kita. Bahkan, kalau istri masih hidup pun kita bisa menikah lagi" tutur Guno.
"Sekarang lu berani ngomong begini. Pas bini lu masih hidup, mana ada lu ngomong segagah ini?" cibir Irfan.
"Itu namanya menghargai Bro!"
"Alah!" Irfan menepis udara dengan tangannya.
Mereka akhirnya sepakat pergi ke arah Blok M menggunakan motor masing-masing. Sesampainya di sana, Guno mendapatkan pemandangan yang ia cari! Tamara sedang membeli seblak sendirian. Irfan tidak tahu bahwa Guno mengincar muridnya sendiri jadi ia terus melaju tanpa menyadari Guno berhenti.
"Tamara!" panggil Guno.
Begitu melihat wajah Guno, Tama langsung membuang muka ke arah pedagang seblak.
"Tama beli seblak?" tanya Guno sok akrab.
Tama hanya diam, saat pesanannya selesai pedagang itu berkata "Harganya dua puluh lima ribu Kak."
Tama merogoh sakunya namun Guno lebih cepat. Ia langsung menyodorkan uang kepada pedagang tersebut. "Ini Mbak uangnya, terima kasih" ucap Guno santai lalu kembali ke motornya.
Tama yang sudah memegang uang pembayarannya sendiri langsung berbalik arah dan berjalan cepat tanpa menoleh. Guno merasa tidak dihargai, namun ia justru semakin gencar mengejar. Ia menjalankan motornya perlahan di samping Tama.
"Tama, kok tidak bilang terima kasih sama Bapak?"
Tama tetap bungkam.
"Tama, hei! Bicara dong Tam!"
Lagi-lagi hanya keheningan.
"Tama! Kamu diajarkan sopan santun nggak sih sama orang tuamu?!" seru Guno mulai kesal.
Mendengar kata-kata itu Tamara tiba-tiba melemparkan bungkusan seblak yang dipegangnya ke tengah jalan.
Srak!!!
Guno terbelalak. Ia tidak percaya Tama berani melakukan hal senekat itu kepada gurunya.
"Tama!!!"