Adira Angkasa Samudra, cucu dari sang Raja Properti-Adiyaksa Samudra.
Gadis jelita yang selamat dari kecelakaan maut yang membinasakan kedua orang tuanya saat ia masih berusia enam bulan.
Kyai Brama Erlangga, atau yang biasa dikenal sebagai Pertapa Tua, Pertapa Sakti, Pak Tua, Tabib. Seorang titisan dewa yang menjalani hukumannya di bumi selama tujuh ratus tahun lamanya.
Dengan bantuan dari Sang Pertapa Tua, Adira mejalani masa kecilnya di tengah hutan.
Hidup bersama seekor harimau besar dan seekor monyet nakal, membuat Adira kecil tumbuh menjadi gadis tangguh dan periang.
Tak bisa melawan takdir, tepat saat Adira berusia lima tahun, Sang Pertapa Tua harus kembali ke Nirwana, meninggalkan Adira.
Sebelum kepergiannya, Sang Pertapa Tua menitipkan Adira kepada Juki-seorang Supir yang menyebabkan kematian kedua orang tua Adira, sebagai bentuk penebusan dosanya kepada Keluarga Samudra.
Ikuti terus perjalanan Adira di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 23
"Ayo Her, ikut makan sama-sama. Ayamnya kan ada banyak," ucap Rendra mengajak Heri ikut ke kosan mereka.
"Beneran aku boleh ikut makan ayam goreng?" tanya Heri tak percaya.
"Iya, ayo ikut," jawab Rendra tersenyum.
Mereka bertiga pun menuju kos dan menikmati makan malam mereka dengan penuh syukur.
"Kak Heri, sisa ayamnya bawa pulang saya untuk Ibu," ucap Dira setelah selesai makan.
"Beneran Dira?" tanya Heri berbinar. "Terima kasih banyak ya Dira!" ucap Heri tak sungkan menerima pemberian dari Dira.
"Kalau gitu aku pamit sekarang ya, biar Ibu bisa langsung makan," ucap Heri beranjak dari duduknya.
"Dira, kamu kok tumben kasih makanan kamu ke orang lain?" tanya Rendra yang tahu kalau Dira suka makan.
"Iya, Kak.. Semenjak tidak tinggal di hutan, Dira tahu rasanya kelaparan, dan ibunya Kak Heri sedang menahan lapar. Waktu Dira periksa tadi, perutnya kosong," ucap Dira.
Rendra pun hanya diam mengamati bocah kecil dihadapannya. Ia benar-benar merasa bersalah, karena keluarganya, Dira sekarang hidup menderita seperti ini.
"Kak Ren, memang Kak Heri juga akan bekerja ya?" tanya Dira.
"Iya, biar dia tidak mencuri lagi," jawab Rendra sambil mempersiapkan baju ganti untuk mandi.
Setelah membersihkan dirinya, Rendra kemudian merebahkan diri di sisi Dira. Tak butuh waktu lama bagi tubuhnya yang lelah untuk masuk ke dunia mimpi.
"Ayi, kita harus ke rumah anak-anak nakal itu lagi," bisik Dira begitu Rendra sudah tertidur pulas.
Secepat kilat, Dira berlari meninggalkan kamar kosnya hingga ia tiba di depan markas preman-preman itu.
Di sana, Dira mendapati Mamat dan para anak buahnya sedang berkelahi dengan kelompok lain. Para penyerangnya terlihat berusia dewasa, dan mereka membawa tongkat besi sebagai senjata.
Melihat itu, Dira segera melayang terbang lalu menghajar para penyerang itu dengan tendangan dan pukulan beruntun hingga membuat lima orang jatuh terkapar.
Mamat yang melihat Dira datang dan membantunya pun merasa lega. Semangatnya untuk mempertahankan markas dan orang-orangnya kembali membara. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, dihajarnya dua orang musuh di depannya yang sempat hilang fokus saat melihat aksi Dira.
Anak buah Mamat yang tadinya terkapar pasrah menerima kekalahan mereka, segera berdiri saat melihat kedatangan Dira. Bagaikan mendapat secercah harapan, mereka kembali maju dan menyerang musuh-musuh mereka membabi buta
"Sudah, berhenti!" seru Dira sambil berkacak pinggang.
Mendengar teriakan Dira, mereka pun menghentikan kegiatannya. Entah karena insting mereka yang tajam atau hanya firasat, yang jelas mereka bisa merasakan kalau mereka tak bisa mengalahkan bocah kecil itu.
Dira kemudian menatap tajam ke arah pria-pria dewasa yang sudah ia lumpuhkan, lalu kembali membuka mulut. "Kalian orang-orang bodoh, cepat pergi dari sini" ucap Dira mencontoh perkataan Pertapa Tua.
Para pria itu hanya menatap Dira penuh kemarahan, tapi insting mereka juga menyuruh mereka untuk segera kabur.
"Jangan kembali kemari ya!" seru Dira tertawa.
Tanpa menjawab, mereka semua lari terbirit-birit tanpa menoleh ke belakang.
"Non Dira, terima kasih," ucap Mamat mendekati Dira.
"Sudah, Paman kumpulkan mereka ke dalam, biar Dira bantu obati," ucap Dira melangkah masuk ke dalam rumah.
Mamat dan beberapa anak buahnya pun segera menggotong anggota lain yang terluka masuk ke dalam rumah.
Dira sendiri sudah bersiap di dalam. Untung Dira bawa obat, ucapnya dalam hati.
Dengan sigap, Dira mengolesi ramuan obat yang dimilikinya ke tubuh anak-anak yang terluka, juga memperbaiki tulang-tulang mereka yang mengalami pergeseran.
"Paman, biarkan mereka istirahat, jangan suruh kerja dulu ya," ucap Dira menatap Mamat yang berdiri memperhatikannya.
"Baik Non," jawab Mamat dengan hormat.
"Kemari. Biar Dira obati juga luka di punggung Paman," ucap Dira.
Mamat tentu saja terkejut karena Dira bisa mengetahui jika dirinya juga terluka. Entah bagaimana, ia merasa takluk dan segan kepada anak kecil itu.
"Nona, terima kasih banyak," ucap Mamat sambil membungkukkan badan diikuti anak buahnya.
"Sudah sudah, Dira nggak papa. Paman harus ingat, jangan ganggu Kak Heri sama Kak Rendra lagi ya! Awas kalau kalian masih menganggu," ancam Dira berkacak pinggang.
"Siap Nona Dira, mulai hari ini kami akan menuruti perintah Nona!" jawab Mamat.
"Ya sudah Dira pulang dulu, kalian jangan banyak bergerak dulu ya. Besok Dira kemari lagi untuk meriksa luka kalian," ucap Dira kemudian melayang pulang kembali ke kosnya..
"Bos, untung ada Non Dira tadi.. Jika tidak Geng Beruk pasti menghabisi kita," ujar Gendut.
"Bener, Ndut. Kalian ingat ya, jangan sentuh Nona Dira. Dan apa yang dia perintahkan sama dengan perintahku. Paham?" seru Mamat menarik nafas lega.
"Siap Bos!" jawab para anggota dengan kompak.
###
"Pak, kami berhasil menemukan jejak Bima. Supirnya, Pak Juki, sekarang beliau sedang dirawat di Rumah Sakit Sindu," ucap salah satu anak buah Pak Kumar.
"Benarkah? Baiklah! Kalau gitu kita ke sana sekarang!" ucap Rafa berlari menuju lift dengan terburu-buru.
Sudah lima tahun ia melakukan pencarian, tapi selama itu juga ia tak bisa menemukan satu jejak pun mengenai hilangnya Bima. Ia tak mau menyia-nyiakan satu-satunya kesempatan ini, makanya ia segera bergegas meninggalkan semua pekerjaannya di kantor.
Lalu lintas yang cukup padat membuat perjalanan mereka mengalami kemacetan.
"Mif, info apa lagi yang kau peroleh?" tanya Rafa.
"Juki sudah pernah ke kantor dan ke rumah Tuan Besar, tapi sepertinya dia belum sempat bertemu dengan Tuan Besar. Dari CCTV rumah Tuan Besar, ada kemungkinan kalau ada seseorang yang menghalanginya. Tapi kasus tabrakan itu murni. yang menabrak Juki adalah orang lewat," jelas Miftah
"Hmm.. Kita temui Juki terlebih dahulu. Dari mulutnya kita akan tahu masalah sebenarnya, dia kunci kita," ujar Rafa tampak berpikir.
Setelah mereka sampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke bagian resepsionis dan bertanya. Tetapi sayang sekali, Juki baru saja meninggalkan rumah sakit beberapa jam yang lalu.
Dengan penuh rasa kecewa, Rafa berjalan cepat menuju mobilnya. "Kita kembali!" ucap Rafa dengan wajah kesal.
###
"Tuan saya berterima kasih, karena Tuan sudah menyelamatkan saya," ucap Juki di sebuah rumah mewah.
"Selama kamu sehat, saya juga tenang.. Kamu bisa beristirahat dulu di sini," ucapnya.
"Terima kasih banyak Tuan, tapi maaf.. Saya pergi sudah begitu lama.. Saya harus kembali menemui kedua anak saya," jawab Juki yang tampak khawatir.
"Begitukah? Ya sudah, biar Pak Joko yang mengantar kamu ya. Karena saya tidak ingin terjadi sesuatu sebelum kamu sehat betul."
"Terima kasih banyak, Tuan," jawab Juki membungkukkan badannya dan pamit keluar.
Setelah itu, Juki dengan ditemani Pak Joko pun pergi ke penginapan Juki di dekat stasiun. Dan betapa terkejutnya Juki begitu tahu Rendra dan Dira sudah tak ada di sana.
"Lagian lo sih, punya anak kecil dua, ditinggal gitu aja! Ya gue usir lah. Bocah kecil gitu mana bisa bayar! Yang ada rugi gue!" ucap wanita pemilik penginapan dengan ketus.
Tak menjawab nyinyiran wanita itu, Juki pun segera keluar dari area penginapan kembali menuju mobil.
"Nak, kalian di mana.." ucap Juki meneteskan air mata dengan perasaan cemas.
"Sudah Pak, nanti pelan-pelan kita cari mereka ya.." hibur Pak Joko yang tak tega melihat kesedihan Juki.
"Tapi mereka masih kecil-kecil.. Bagaimana mereka makan nanti, di mana mereka tidur.. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan mereka.." ujar Juki sambil terisak.
"Tenanglah.. Bapak harus sehat betul baru bisa mencari mereka," jawab Pak Joko memegang pundak Juki.
"Ini semua salahku.. Ini karmaku.." isak Juki.
"Sekarang kita pulang dulu ya, Pak?" ucap Pak Joko sambil membimbing Juki masuk ke dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...