Tidak ada manusia yang ingin gagal dalam membina rumah tangga, begitu pun aku. Ku berikan seluruh cinta ku, perasaan ku pada suami ku.
Namun semua yang ia katakan ternyata hanya iming-iming saja, tanpa ada yang menjadi nyata.
Aku hanyalah manusia biasa, dan perlahan cinta ku hilang terkikis habis oleh setiap air mata yang aku keluarkan karena kecewa. Bahkan pintu hati ku pun sudah ku tutup dengan begitu rapi untuk nya.
Lantas bagaimanakah dengan Devan? karena setelah Hanna menyerah dalam mempertahankan rumah tangga nya ia pergi dengan membawa Derren dan janin yang masih ia kandung.
Akankah Devan bahagia dengan kepergian Hanna? Atau Devan justru berubah menjadi gila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Diana merasa sangat kesal, bukan hanya Devan kini sudah tidak berpihak padanya tapi juga Sarah. Entah apa yang terjadi pada kedua manusia itu hingga ia kini benar-benar di perlakukan asing. Dengan membawa kesalnya Ia pergi ke teras ingin mencari angin segar agar dapat membuat otaknya sedikit segar. Namun matanya melihat Taha di sana, Taha adalah supir pribadi Diana. Kaki Diana mulai berjalan kearah Taha.
"Taha...." panggil Diana.
Taha yang sedang memunggungi majikannya mulai berbalik, "Iya Nyonya," jawab Taha.
"Siapkan mobil, aku mau ke rumah Mama!" titah Diana.
"Baik Nyonya," kaki Taha langsung bergerak, ia segera menuju garansi dan mengeluarkan mobil mewah milik majikannya.
Mobil berhenti di hadapan Diana, dengan cepat dan kesal Diana langsung masuk dan duduk di jok belakang. Wajahnya masih saja menyiratkan kekesalannya, sampai akhirnya ia melihat Taha tengah melihatnya dari kaca spion.
"Ngapain lihat-lihat!!!" kesal Diana.
Taha tersenyum dan ia menepikan mobilnya, "Nyonya kenapa?" tanya Taha.
Diana memang majikan Taha, tapi tidak bisa dikatakan majikan sepenuhnya. Karena keduanya juga memiliki kedekatan khusus, kalau di katakan sepasang kekasih juga bukan. Tapi kedua nya sudah sering memadu kasih bersama, sebab kadang Diana membutuhkan belaian tapi suaminya sering kali mengabaikan dirinya. Hingga Diana mencari kesenangan di luar demi bisa menyenangkan dirinya, dan orang itu adalah Taha. Pria tinggi bertubuh tegap, berotot yang bekerja sebagai supir pribadi Diana.
"CK...." Diana berdecak kesal, karena Taha bertanya hal yang membuat moodnya semakin buruk, "Cepat antar aku ke rumah Mama, aku makin pusing di rumah.....semuanya sekarang membela Hanna dan Hanna, kemarin Devan hari ini Mama Sarah!" kesal Diana.
Taha kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu melaju dengan kecepatan sedang. Sampai tiga puluh menit kemudian ia sampai di kediaman kedua orang tuanya.
Diana bergegas turun dari mobil, ia pun langsung saja masuk tanpa salam.
"Diana!" Mega sampai tersentak karena kedatangan Diana yang tiba-tiba, ia sedang santai duduk di sofa. Tapi tiba-tiba ia terkejut karena Diana.
Diana meneguk jus milik Mega di atas meja, kemudian ia duduk di sofa.
"Kamu kenapa Di?" tanya Mega, ia meletakan majalah di tangannya pada meja. Kemudian fokus pada Diana. Ia bisa menebak anaknya itu sedang dalam masalah.
Diana memijat kepalanya, "Mama tau? Nggak Devan enggak Mama Sarah semua belain perempuan itu!" kata Diana dengan kesal, apa lagi membayangkan wajah Hanna yang cukup menjengkelkan.
"Kok gitu?" tanya Mega penasaran, "Bukannya mertua kamu itu sangat sayang ya sama kamu, apa lagi karena ginjal," tanya Mega. Rasanya sulit di percaya jika Sarah sudah berpihak pada Hanna.
"Tapi sekarang enggak lagi Ma, Mama Sarah tadi belain dia dari pada Diana.... biasanya apapun yang mau Diana lakuin Mama Sarah selalu di pihak Diana," kata Diana lagi.
"Kamu harus hamil Diana, dengan begitu jeng Sarah dan Devan akan kembali di genggaman mu seperti dulu," Mega ingat saat dulu sebelum ada Hanna, rumah tangga Devan dan Diana baik-baik saja. Walaupun Diana sering berbuat semaunya tetap saja Devan tidak pernah memarahinya.
Diana semakin pusing mendengar ide gila Mega, karena sudah lama sekali Devan tidak pernah menyentuhnya, "Hamil dari mana, dia aja datang dan pergi sesukannya," jawab Diana masih dengan raut wajah kesal.
"Kamu kenapa sih Di? Tegang gitu, biasanya kamu itu selalu tenang.....kamu seperti hamil saja," ujar Mega, karena biasanya Diana selama tenang. Tapi tidak dengan kali ini, Diana terlihat penuh emosi dengan sulit untuk di kendalikan.
"Hamil sama siapa? Mama enggak usah asal," ketus Diana.
Seketika Diana memijat kepalanya, memang beberapa hari ini ia terus merasa pusing dan mual. Dan benar saja ia segera menuju toilet, untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hueeekk...... Hueeekk...... Hueeekk....."
"Diana?" Mega langsung menyusul putrinya, ia terlihat panik.
Kini Diana dan Mega tengah duduk di sofa, keduanya tengah menantikan testpack yang barusan digunakan Diana. Apalah hasilnya benar positif atau tidak.
"Mama....." mulut Diana melebar setelah melihat muncul dua garis merah pada testpack tersebut.
"Ya ampun Di," Mega tersenyum bahagia, karena hasilnya sungguh mengejutkan, "Kamu hamil Di," kata Mega lagi.
"Ini nggak mungkin Ma," Diana langsung membuang testpack di tangannya, ia sangat shock dengan ini semua.
Mega malah merasa aneh dengan Diana, bukankan Diana sangat ingin hamil agar Devan bisa mencintai nya, "Diana kamu kenapa? Bukannya ini berita bagus," kata Mega lagi.
"Nggak Ma," Diana gemetaran dan ia sangat ketakutan.
"Diana kamu kenapa?" tanya Mega semakin bingung, "Kalau kamu hamil, jeng Sarah dan Devan bakalan berpihak ke kamu terus Di...." kata Mega lagi.
"Tapi Ma,"Diana tidak tahu harus menjelaskan apa pada Mega, karena memang Mega tidak pernah tahu tentang hubungan terlarang nya dengan Taha supir pribadi nya sendiri. Tapi itu dilakukan Diana hanya karena ia butuh kehangatan, tidak lebih dari itu. Apa lagi Taha juga sudah memiliki istri.
"Ada yang kamu sembunyikan dari Mama Di?" tebak Mega, karena ia sangat mengenal siapa putrinya.
"Ini bukan anak Devan Ma, ini anak......" Diana tidak tahu harus mengatakan apa, tapi yang pasti ia sangat tahu itu bukan anak suaminya.
"Maksudnya apa Diana?" tanya Mega semakin penasaran, "Tapi sudahlah ini bagus bukan? Yang terpenting adalah kamu bisa mengambil keuntungan," kata Mega tersenyum licik, bagi Mega tidak perduli dengan jalan yang ia tempuh. Yang terpenting ia bisa hidup bergelimang harta seperti saat sekarang, sebab dulu ia hanya hidup seadanya. Hingga harus mengutang pada rentenir bila ingin membeli barang branded, sebab tuntutan sosialita nya.
Diana menatap Mamanya, "Tapi Diana takut Ma," kata Diana.
"Kamu tenang dan tetap seperti biasanya, sekarang kamu ke dokter dan kamu pulang ke rumah beritahu suami dan mertua mu tentang kehamilan mu ini ya," kata Sarah tersenyum bahagia.
"Mama yakin?" tanya Diana ragu.
"Kamu mau di tendang dari rumah mewah itu?"
"Enggak Ma," kata Diana cepat.
"Sekarang pulang dan beritahu berita ini pada semua keluarga di rumah besar itu, jangan lupa katakan juga pada madu mu itu agar dia tidak besar kepala.... karena kamu juga sedang hamil," perintah Mega.
Diana melangkah keluar, ia berharap Devan tidak mempermasalahkan ini semua. Karena kalau sampai Devan sadar maka sudah pasti ia langsung mendapatkan talak.
"Taha kita pulang," Diana langsung naik pada mobil, kemudian Taha mengemudikan mobilnya.
Diana hanya diam saja, sebab ia rasa Taha tidak perlu tahu tentang kehamilan nya itu. Agar Taha tidak bisa nantinya menjadikan janin itu sebagai alat mengancam dirinya.