Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ditinggal Bersama Teo
TAK! TAK! TAK! TAK!
Raka mengulurkan stik drumnya, mengetukkan kayu itu empat kali di atas hi-hat sebagai tanda memulai tempo.
Seketika itu juga, Devan menarik jemarinya di atas papan fret gitar elektriknya. Distorsi nada tinggi yang garang namun melodius langsung menggelegar memenuhi ruangan kedap suara itu. Disusul dentuman bass Miko yang berat dan alunan synthesizer Dino yang mengisi celah nada dengan begitu rapi.
Bellona hampir saja tersedak susu kotaknya. Matanya membelalak lebar.
Sosok Devan yang biasanya cuma memakai kaus oblong kusam sambil mengomeli hal-hal sepele di rumah kini mendadak berubah total. Di balik gitar elektrik merah tuanya, postur Devan terlihat begitu mengintimidasi. Jemari tangannya menari di atas senar dengan kecepatan luar biasa, sementara tubuhnya bergerak mengikuti irama lagu dengan karisma seorang musisi sejati.
Lalu, Teo mendekatkan bibirnya ke mikrofon.
Cowok yang tadinya pendiam dan irit kata itu mendadak menghembuskan vokal yang luar biasa tajam. Suara Teo yang serak-serak basah namun berkarakter kuat membelah dentuman musik keras buatan Devan dan anak-anak band lainnya.
Langkah melintasi malam yang runtuh...
Suara bisik yang tak pernah sembuh...
Kita membakar bayang di dalam cermin...
Mencari arah yang tersapu angin...
Bellona menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia mematung, menatap lurus ke arah Devan. Pria itu memetik gitarnya sambil sesekali memberi isyarat kepala ke arah Raka dan Miko, senyum tipis yang penuh percaya diri terpasang di wajahnya. Ada energi luar biasa yang meledak di dalam ruangan sempit itu—sebuah bukti nyata bahwa Devan memang bukan sekadar pria tanpa arah, melainkan seseorang yang benar-benar hidup saat memegang musiknya.
Lagu itu ditutup dengan solo guitar yang liar dari Devan, sebelum akhirnya Raka menghentakkan cymbal terakhirnya.
TANG!
Keheningan seketika menyapu studio, menyisakan suara dengung tipis dari amplifier dan napas tersengal-sengal dari anak-anak band.
"ANJIR! Take yang ini dapet banget vibes-nya!" seru Miko sambil tertawa puas, mengusap keringat di dahinya.
Dino mengacungkan dua jempol dari balik keyboard-nya. "Aransemen gitar lo gilak, Van! Makin gila dari minggu lalu!"
Devan terkekeh pelan, melepaskan tali strap gitarnya lalu menyandarkan instrumen itu di stang stand. Pria itu menyapu rambutnya yang agak basah oleh keringat ke belakang, lalu melirik ke arah sofa tempat Bellona duduk.
Cengiran tengil khasnya seketika terpasang kembali di wajah Devan, merusak aura rockstar keren yang baru saja ia tampilkan beberapa detik lalu.
"Gimana, Bocah?" Devan melangkah menghampiri sofa, berkacak pinggang di depan Bellona. "Masih mau bilang gitaris handal lo ini cuma sekelas pengamen jalanan?"
Bellona buru-buru menetralkan raut wajahnya yang tadinya terpukau menjadi tatapan datar nan kaku. Ia menyedot sisa susu kotaknya sampai berbunyi krrrtt.
"Bising," cetus Bellona ketus. "Telinga gue mau pecah gara-gara drumnya si Bang Raka."
"Dih! Kagak ada apresiasinya banget ini anak!" Devan menepuk dadanya pura-pura syok, sementara Raka dan Miko langsung meledak dalam tawa keras.
"Kagak usah gengsi kali, Bell," goda Raka sambil melempar botol air mineral ke Devan. "Muka lo tadi pas nengok si Devan main gitar udah kayak orang nemu keajaiban dunia."
"Mana ada!" potong Bellona cepat, mukanya memerah tipis tahan malu.
Di sudut ruangan, Teo yang sedang meneguk air mineralnya melirik pelan ke arah Bellona dan Devan yang mulai adu mulut lagi. Cowok itu menyunggingkan senyum tipis yang sangat tipis—sebuah pemandangan langka di studio itu—sebelum akhirnya kembali menunduk memperhatikan buku liriknya.
Devan melepaskan tali strap gitarnya, menyerahkannya pada Miko, lalu merogoh saku celana jeans-nya untuk mencari bungkus rokoknya yang ternyata sudah kempis.
"Lah, habis anjir," umpat Devan pelan sambil meremas bungkus kosong itu. Ia menoleh ke arah Raka dan Miko. "Ikut gue ke minimarket depan yuk. Beli rokok sekalian kopi kemasan."
"Kuylah, sekalian gue mau beli camilan," sahut Miko cepat sambil meletakkan bass-nya.
"Gue ikut," timpal Raka seraya melempar stik drumnya ke atas set drum.
Devan merapikan kaus oblongnya, melangkah menuju pintu studio. Namun baru dua langkah, Bellona yang duduk di sofa seketika berdiri tegak.
"Woy, Bego!" bentak Bellona dengan mata membelalak galak. "Lo mau ke mana?!"
"Ke minimarket depan gang sebentar, Bego. Beli rokok," jawab Devan santai sambil menunjuk ke arah luar.
"Terus gue ditinggal?!" protes Bellona, nadanya naik satu oktav. Gengsinya yang tinggi mendadak terusik karena enggan dibiarkan sendirian di tempat asing yang penuh peralatan musik berisik ini. "Kagak mau ya! Gue ikut!"
Devan mendengkus gemas. "Yee... cuma lima menit, Bocah! Minimarketnya cuma selemparan batu dari sini. Lagian lo kagak sendirian," Devan melangkah mendekat, menyeringai sambil menunjuk ke sudut ruangan menggunakan ibu jarinya. "Tuh, ada Teo. Dia kagak bakal makan lo kok."
Bellona refleks menoleh ke sudut studio. Teo yang sedang duduk tenang memangku gitar akustiknya mendongak pelan. Cowok itu menatap Bellona sebentar dengan mata datarnya yang tenang, tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Tuh kan, ada si Teo," celetuk Raka sambil terkekeh pelan. "Udah, lo duduk manis aja di situ, Bell. Kalau Devan kelamaan, usir aja pas dia balik."
"Dih, Raka kompor amat!" omel Devan. Pria itu menunjuk Bellona menggunakan telunjuknya. "Awas lo ya, kagak usah usik-usik si Teo. Dia lagi fokus nulis lirik. Gue balik lima menit lagi."
Sebelum Bellona sempat menyemprot balik, Devan, Raka, dan Miko sudah lebih dulu menghilang di balik pintu peredam suara, menyisakan keheningan yang mendadak canggung di dalam studio tersebut.
Pintu studio yang tertutup rapat menyisakan keheningan yang tebal dan canggung. Hanya ada suara dengung halus AC tua dan ketukan pelan jemari Teo di atas papan gitar akustiknya.
Bellona kembali menjatuhkan dirinya di sofa. Jemarinya meremas kotak susu kosong yang sudah kempis. Suasana ini terlalu sunyi, membuat rasa kaku di dadanya makin menjadi-jadi. Gadis itu menoleh pelan, mencoba membuka percakapan demi mencairkan kecanggungan.
"Suara lo... bagus juga tadi," ujar Bellona pelan, memecah keheningan.
Teo menghentikan ketukan jarinya. Cowok itu mendongak, melirik lurus ke arah Bellona.
Saat mata mereka bertabrakan, dada Bellona mendadak berdesir aneh. Tatapan Teo begitu tajam, dalam, dan terasa amat gelap—seperti menyimpan banyak cerita kelam yang dikunci rapat-rapat di balik sepasang manik matanya yang datar.
"Makasih," sahut Teo singkat dengan suara rendahnya yang tenang, lalu kembali menatap buku lirik di pangkuannya.
Bellona memiringkan kepalanya, mencoba bertahan di tengah obrolan yang kaku ini. "Lo emang dari dulu irit bicara kayak gini?"
Teo tidak langsung menjawab. Ia membalikkan halaman buku catatan kecilnya, menghembuskan napas pendek.
"Tergantung," jawab Teo datar. Matanya kembali menatap Bellona. "Devan emang kelihatan serampangan dan asal-asalan. Tapi buat gue... dia itu sosok ayah yang diimpikan."
Bellona yang mendengar ucapan itu seketika tersedak liurnya sendiri. Sebuah tawa remeh nan geli langsung meledak dari mulutnya.
"Ayah yang diimpikan?!" kekeh Bellona sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Diimpikan dari Hongkong?! Lo belum tahu aja kelakuan asli tuh orang. Mulutnya kasar, suka bikin malu di pasar, rumahnya udah kek tempat pembuangan akhir! Ayah dari mananya coba?"
Teo sama sekali tidak ikut tertawa. Wajahnya tetap tenang dan serius, menatap Bellona tanpa goyah sedikit pun. Sikap dingin Teo yang tak berubah itu perlahan membuat tawa remeh Bellona surut.
Bellona berdehem kaku, rasa penasarannya mendadak terusik. "Kok... lo bisa berpendapat gitu soal Devan? Emang dia pernah ngapain?"
Teo menutup buku liriknya pelan, meletakkannya di samping sofa.
"Nanti lo juga tahu sendiri," bisik Teo misterius.
Belum sempat Bellona mendesak lebih jauh, pintu peredam suara studio mendadak terdorong kasar dari luar.
BRAK!
Devan masuk duluan dengan wajah merah padam dan pakaian yang ketumpahan air keruh di bagian celana jeans-nya. Di belakangnya, Raka dan Miko mengekor sambil tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Devan.
"ANJING BANGET ITU MOBIL!" amuk Devan sambil mengibas-ngibaskan celananya yang basah kuyup. "Gue lagi jalan santai di trotoar malah diterjang genangan air got! Kagak ada otak bener tuh supir! Awas aja kalau ketemu lagi, gue kempesin empat-empat ban mobilnya!"
"Ngakak guling-guling gue, Van!" seru Miko sambil memegangi perutnya yang sakit. "Manjur banget emang apes lo hari ini!"
"Diem lo, Miko!" bentak Devan gemas, menyambar beberapa lembar tisu dari meja kasir studio dengan raut muka tertekuk parah.
Bellona menatap Devan yang sedang misuh-misuh tak tentu arah, lalu melirik kembali ke arah Teo yang kini cuma tersenyum tipis nan tenang di sudut ruangan. Bayangan ucapan Teo tadi mendadak mengendap samar di dalam pikiran Bellona.