NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTENGKARAN DI KAFE

Matahari siang membakar pelataran parkir ruko komersial di kawasan sekitar kampus dengan terik yang menyengat. Enzo berjalan agak gontai menyusuri trotoar beton, membawa sebuah map kertas cokelat berisi berkas data pencatatan stok pakaian yang baru saja ia selesaikan untuk seorang pemilik toko grosir. Pekerjaan lepas yang menyita waktunya sejak pagi itu memberinya upah sebesar lima puluh ribu rupiah—cukup untuk membeli makan siang sederhana dan menyisihkan sisanya buat ongkos jalan esok hari.

Tenggorokan Enzo terasa kering dan lengket oleh debu jalanan. Ia memutuskan untuk menepi sejenak ke sebuah kafe berkonsep terbuka, 'Kopi Kala', tempat yang biasa dipadati oleh mahasiswa untuk mengerjakan tugas kelompok. Enzo tentu saja tidak berniat memesan varian kopi kekinian seharga tiga puluh ribuan yang terpajang di papan menu. Pemuda itu hanya memesan segelas es teh manis dingin seharga delapan ribu rupiah di konter kasir luar, lalu memilih duduk di sudut meja kayu kecil dekat pembatas kaca yang menghadap langsung ke area racik barista internal.

Di balik konter kasir utama bagian dalam, Enzo menangkap sosok yang tidak asing baginya. Gadis itu adalah Maya—mahasiswi tingkat awal dari kampus tempat Enzo dulu pernah berkuliah singkat sebelum terpaksa putus sekolah karena kendala biaya. Di antara para pelanggan, Maya terkenal sebagai staf paruh waktu yang energik, ramah, dan selalu mengumbar senyum manis yang menyenangkan.

"Dua cangkir hazelnut latte panas dan satu croissant keju, ya Kak. Silakan ditunggu, nanti dipanggil sesuai nomor antrean!" ucap Maya dengan nada suara riang dan renyah seraya menyerahkan struk cetak pada seorang pelanggan.

Gadis berusia sembilan belas tahun itu mengangguk sopan, lalu melambaikan tangannya pelan saat pelanggan tersebut berbalik pergi. Wajahnya tampak begitu bersih tanpa beban, matanya berbinar riang, seolah-olah dunia yang ia jalani setiap hari sama sekali tidak menyimpan kerumitan atau tekanan finansial.

Enzo memandangi sosok Maya dari sudut mejanya sambil menyesap es teh dingin. Ada sedikit rasa iri yang melintas tipis di benaknya—betapa mudahnya sebagian orang membagikan keceriaan dan tampil tanpa cela di hadapan publik.

Namun, gambaran sempurna itu runtuh hanya dalam hitungan detik.

Begitu pelanggan tadi berlalu menuju meja kumpul, Maya melangkah mundur ke area servis belakang yang dibatasi rak gantung tinggi. Senyum ramah yang tadinya menghiasi bibirnya mendadak lenyap tanpa bekas, berganti dengan guratan lelah yang amat dalam di sekitar matanya.

Seorang wanita muda berpenampilan rapi dengan celemek cokelat tua—sepertinya senior atau penanggung jawab shift bernama Siska—mendatangi Maya dengan langkah lebar. Wajah Siska tampak menahan kekesalan yang siap meledak.

"Maya! Kamu dari mana aja sih tadi?" tegur Siska dengan nada suara ketus yang sengaja ditahan agar tidak melampaui batas pembatas kaca.

Maya terkejut kecil, namun dengan cepat menegakkan posisi berdirinya. "Saya baru selesai melayani antrean kasir depan, Mbak. Ada apa?" jawab Maya pendek, suaranya kini terdengar jauh lebih dalam dan dingin, sangat bertolak belakang dengan nada cerianya beberapa saat lalu.

"Nggak usah banyak alasan!" potong Siska seraya menghempaskan selembar kertas nota ke atas meja persiapan di depan Maya. "Lihat ini! Pesanan kue untuk meja nomor empat tadi salah kaprah! Kenapa kamu catatnya red velvet, padahal mereka mintanya cheesecake? Pelanggannya komplain keras ke saya tadi!"

Maya menatap nota tersebut sejenak, lalu mengangkat wajahnya lurus menatap mata Siska tanpa ada rasa gentar atau rasa bersalah sedikit pun. Senyum manisnya yang riang tadi sudah benar-benar menguap, digantikan oleh tatapan tajam dan rahang yang mengencang tebal.

"Mbak Siska nggak usah asal tuduh," balas Maya dengan nada tertekan yang mengintimidasi. "Struk transaksi jam satu siang itu Mbak sendiri yang pegang pas saya lagi bantu bongkar bahan cair di gudang belakang. Saya baru pegang kasir sepuluh menit yang lalu."

"Kamu mau ngelawan?" bentak Siska seraya memajukan badannya, wajahnya memerah karena merasa harga dirinya sebagai senior diusik di depan staf lain. "Jelas-jelas kode kasir yang tertera di sistem itu pakai akun kamu! Kamu mau lepas tanggung jawab dan salahin saya?"

"Saya nggak lepas tanggung jawab, tapi Mbak Siska yang pakai akun kasir saya pas saya lagi di gudang!" tembak Maya balik seraya melipat kedua tangannya di dada. Matanya membara oleh rasa amarah yang tertahan. "Mbak Siska sengaja nggak *log out* biar nggak usah ketik pin sendiri, kan? Sekarang pas ada komplain dari pembeli, Mbak malah lempar batu sembunyi tangan!"

Suasana di area servis belakang itu mendadak menegang. Dua barista pria yang sedang meracik kopi di dekat mesin espresso tampak refleks menghentikan kegiatan mereka, saling pandang dengan raut wajah canggung dan enggan ikut campur.

Enzo yang duduk hanya berjarak beberapa meter di balik pembatas kaca bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana dada Maya kembang kempis menahan emosi. Tidak ada lagi sosok gadis ceria yang ramah dan manja. Di hadapannya kini berdiri seorang pemudi yang sangat defensif, keras kepala, bersikap penuh curiga, dan siap menerkam siapa saja yang mencoba menginjak-injak harga dirinya.

"Kurang ajar kamu ya, Maya!" desis Siska dengan mata melotot. "Kamu itu cuma anak baru yang kerja paruh waktu di sini! Nanti pas manajer datang, saya pastikan potong gaji kamu buat ganti rugi kue itu!"

"Silakan potong!" tentang Maya tanpa ragu sedikit pun, suaranya bergetar hebat oleh kemarahan yang memuncak. "Tapi saya bakal minta manajer cek rekaman CCTV jam satu siang tadi. Kita lihat siapa yang sebenarnya salah ketik pesanan dan teledor!"

Mendengar kata CCTV, raut wajah Siska mendadak berubah panik. Wanita senior itu menggertakkan giginya rapat-rapat, menyadari bahwa ia telah memojokkan orang yang salah dan bisa berujung masalah panjang bagi dirinya sendiri. Tanpa mampu membalas lagi, Siska menyambar nota di meja lalu berbalik pergi menuju dapur belakang dengan langkah menghentak kasar.

Area servis kembali lengang. Maya tetap berdiri mematung di posisinya. Kedua tangannya yang terlipat di dada meremas kain celemeknya sendiri begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Enzo bisa melihat bahu Maya bergetar tipis. Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang patah-patah demi menahan air mata kekesalan agar tidak menetes jatuh di depan rekan-rekannya.

Ia adalah seorang gadis yang terlalu gengsi untuk terlihat lemah di hadapan orang lain, terlalu keras kepala untuk mengalah, dan memilih membangun benteng kemarahan yang kokoh demi melindungi dirinya dari ketidakadilan.

Maya mengusap sudut matanya dengan cepat menggunakan punggung tangan, lalu menarik napas dalam-dalam untuk merapikan emosinya. Namun, saat ia membalikkan badan hendak menuju meja kasir, pandangannya tak sengaja berbenturan lurus dengan mata Enzo yang sedang memperhatikan dari balik pembatas kaca.

Langkah Maya terhenti seketika.

Mata gadis itu melebar kaget. Warna merah langsung menjalar cepat dari leher hingga ke pipinya—bukan karena rasa malu yang manis, melainkan rasa canggung dan kekesalan mendalam karena rahasia tergelap dari sikap aslinya baru saja disaksikan oleh orang luar.

Maya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Tatapannya pada Enzo mendadak berubah menjadi sangat tajam, penuh dengan rasa curiga dan benteng pertahanan yang tinggi.

Enzo tidak memalingkan wajahnya. Pemuda itu tetap duduk tenang, memegangi gelas es teh manisnya yang mulai berembun, menatap Maya dengan pandangan lurus yang jujur—seseorang yang baru saja melihat ketidaksempurnaan manusia apa adanya, tanpa sedikit pun niat untuk menghakimi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!