Nadia dan Nadine adalah saudari kembar identik berusia 28 tahun. Wajah mereka nyaris sama, tetapi kehidupan pernikahan mereka sangat berbeda.
Nadia lelah menghadapi Arga, suaminya yang dingin dan selalu sibuk. Sementara itu, Nadine hidup bersama Fajar, fotografer muda yang hangat, manja, dan penuh perhatian.
Berawal dari sebuah rencana nekat, mereka sepakat bertukar identitas selama lima belas hari. Nadia ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai Fajar, sedangkan Nadine berniat memberi pelajaran kepada Arga agar lebih menghargai istrinya.
Mereka sudah menghafal kebiasaan, cara bicara, bahkan rahasia tubuh satu sama lain. Seharusnya tak ada yang menyadari pertukaran itu.
Namun mereka melupakan satu hal: perasaan tidak bisa ditiru.
Saat satu kamar berubah menjadi satu ranjang, sentuhan yang awalnya harus ditolak justru terasa semakin sulit dilepaskan. Nadia mulai mendambakan suami adiknya, sementara Nadine menemukan gairah yang tak pernah ia rasakan bersama suaminya sendiri.
Kebohongan selama lima belas hari itu akhirnya menyeret dua keluarga ke dalam cinta terlarang, kehamilan, pengkhianatan, dan rahasia yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Nadine paling tidak tahan melihat kakaknya diperlakukan buruk. Begitu mendengar Arga melupakan ulang tahun pernikahan mereka, emosinya langsung meledak.
"Ayo. Kita temui dia di kantornya sekarang juga."
Nadine menarik tangan Nadia, tetapi Nadia tetap duduk dan menolak pergi. Setelah beberapa saat saling bersikeras, Nadine akhirnya mengalah. Ia kembali duduk di seberang kakaknya.
"Kalau begitu, apa yang ingin Kakak lakukan?"
Bahu Nadia kembali bergetar. "Aku juga tidak tahu. Andai Arga bisa sedikit lebih perhatian, seperti Fajar."
Ucapan itu membuat Nadine semakin kesal. Nadia yang dikenalnya selalu ceria, percaya diri, dan sedikit keras kepala. Melihat kakaknya menangis tanpa daya seperti ini terasa sangat asing baginya.
Nadine menyesap kopinya, lalu berkata setenang mungkin, "Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar? Kakak tinggal bersama Fajar, sementara aku menghadapi Arga."
Nadia menatapnya dengan mata terbelalak. "Kamu serius?"
"Sangat serius." Nadine menyeka air mata di pipi kakaknya. "Bukankah menurutmu Fajar suami yang baik? Rasakan sendiri bagaimana hidup bersamanya. Sementara itu, biar aku yang membuat Arga sadar. Setelah dia berubah, kita bertukar kembali."
Nadia terdiam. Selama lima tahun menikah, ia selalu kalah setiap kali berhadapan dengan Arga. Sebesar apa pun kemarahannya, beberapa kata manis dari pria itu sudah cukup untuk meluluhkan hatinya. Ia membenci kelemahannya sendiri, tetapi mungkin Nadine benar-benar bisa membantunya.
Setelah pergulatan panjang, Nadia akhirnya mengangguk.
Nadine sebenarnya sudah menduga jawabannya. Selama lima tahun terakhir, Nadia berkali-kali datang kepadanya sambil menangis dan mengeluhkan sikap Arga yang dingin. Keluhan itu semakin sering terdengar sejak Nadine menikah beberapa bulan lalu. Nadia terus membandingkan Arga dengan Fajar dan berharap suaminya bisa menjadi sedikit lebih hangat.
Nadine mengambil laptop dari ruang belakang. "Kita harus menuliskan kebiasaan, kesukaan, dan hal-hal pribadi tentang suami masing-masing. Semuanya, tanpa terkecuali. Kalau ada yang terlewat, mereka bisa curiga."
Baru saat itulah Nadia benar-benar memahami akibat dari rencana mereka. Bertukar kehidupan berarti bertukar tempat di rumah, bahkan mungkin di ranjang. Wajahnya seketika memerah.
"Kalau mereka mengajak... bercinta, bagaimana?"
Nadine sudah memikirkan hal itu. Ia menarik napas, lalu menjawab terus terang, "Gunakan pengaman. Apa pun yang terjadi, jangan sampai hamil. Pada akhirnya kita tetap harus kembali menjadi diri sendiri."
Nadia tersedak tehnya dan terbatuk-batuk. Ia tidak menyangka adiknya bisa membicarakannya setenang itu. Namun setelah memikirkannya lagi, Nadia mengangguk. Mereka sudah sangat dekat sejak kecil, dan Nadine bersedia mengambil risiko sebesar ini demi membantunya.
Keduanya lalu mulai menulis. Nadia mencatat kebiasaan Arga, makanan kesukaannya, jadwal hariannya, serta rahasia yang hanya diketahui seorang istri. Nadine melakukan hal yang sama untuk Fajar, mengingat kembali setiap detail hubungan mereka sejak pertama kali bertemu.
Mereka menghabiskan sepanjang pagi di depan laptop sampai catatan itu akhirnya selesai.
Sebelum menutup laptop, mereka saling menguji ingatan. Nadine menanyakan jadwal rapat Arga, cara pria itu minum kopi, dan nama orang-orang yang paling sering menghubunginya. Nadia membalas dengan pertanyaan tentang perlengkapan kamera Fajar, kebiasaan tidurnya, serta panggilan yang biasa ia gunakan saat sedang manja. Setiap jawaban yang keliru langsung diperbaiki di catatan. Nadia sempat salah menyebut takaran gula dalam kopi Arga, sedangkan Nadine lupa bahwa Fajar selalu meletakkan baterai kamera cadangan di saku depan tasnya. Mereka mengulang kedua jawaban itu sampai tidak perlu berpikir lagi. Mereka juga menyepakati tiga aturan: tetap berkomunikasi setiap hari, tidak mengambil keputusan besar atas nama satu sama lain, dan segera menghentikan pertukaran jika salah seorang merasa keadaan sudah tidak terkendali. Setelah semua selesai, barulah keduanya menyadari betapa serius rencana yang baru saja mereka buat.