Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuh yang Terbakar
Keringat menetes dari dagu Satrio dan mendesis begitu jatuh ke lantai batu.
Ia duduk bersila di depan tugu, di ruang bawah pendopo. Tangan kanannya terkepal di atas lutut, dan cahaya kristal merembes merah dari sela-sela jarinya, redup sekali. Tadi sore Eyang bilang ia akan tidur semalaman untuk mengumpulkan tenaga.
"Jangan berbuat bodoh selama aku tidur," pesannya sebelum suaranya hilang.
Satrio menunggu sampai kristal itu benar-benar redup sebelum turun ke sini, supaya Eyang tidak bisa mencegahnya.
Rencananya sederhana. Waktu di dapur, panas yang ia tabung berhari-hari menyembur keluar lewat telapak tangannya dan membakar setengah dinding. Kata Eyang, jalur cakranya tersumbat seperti selokan. Satrio berpikir, kalau pintu di telapaknya ia kunci rapat-rapat dengan kepalan, panas itu tidak punya jalan keluar selain menjebol sumbatan di dalam tubuhnya sendiri.
Ia menarik napas. Panas kristal masuk ke dadanya, lalu turun ke perut. Ia menarik lagi, dan lagi, tanpa memberi jeda. Perutnya mengeras seperti diisi bara.
'Lima hari,' batinnya, 'Beras kita tinggal lima hari. Sedikit lagi, lalu kudorong.'
Ia mendorong panas itu dari perut ke lengan kanan.
Panas itu menghantam sesuatu di bahunya dan berhenti. Satrio mendorong lebih keras. Rasanya seperti ada yang menjejalkan besi membara ke dalam setiap urat di lengannya. Kulit lengannya memerah, lalu menggelembung dari siku sampai pergelangan, satu gelembung demi satu gelembung.
"Ngh... arghh..."
Ia menggigit bibir sampai berdarah. Sumbatan di bahunya bertahan. Panas yang tertahan di sana berbalik arah dan menyebar ke dada, ke leher, ke lengan kiri. Asap tipis mulai naik dari kulitnya sendiri.
"ARGHHH!"
Tubuhnya terguling ke samping. Pipinya menghantam lantai, dan lantai batu itu terasa dingin sekali dibandingkan kulitnya. Pandangannya memutih.
"Bocah! Buka tanganmu! Buka!"
Suara Eyang meledak di kepalanya. Satrio ingin membuka kepalan itu, tapi jari-jarinya tidak mau lagi menuruti perintah.
***
Gandung terbangun karena perutnya berbunyi.
Ia meraba tikar di sebelahnya. Kosong. Tikar itu hangat, jauh lebih hangat daripada bekas orang tidur, sampai Gandung buru-buru menarik tangannya.
Gandung keluar dari bilik sambil menyeret kaki kirinya. Di depan pendopo, ia melihat seseorang berjongkok di lantai papan. Sekar.
"Sekar? Kau sedang apa di situ?"
"Ssst!" Sekar menunjuk sebilah papan yang terangkat di lantai pendopo. Di bawahnya ada lubang gelap dan anak tangga batu, "Dia turun lewat sini. Hampir setiap malam."
"Turun? Di bawah pendopo cuma ada tanah."
"Setiap pagi lututnya penuh debu kelabu," kata Sekar, "Debu begitu tidak ada di halaman kita. Sejak alisnya hilang, aku tidak tidur sebelum dia kembali ke bilik."
Gandung menatap Sekar. "Kenapa tidak bilang padaku?"
"Karena kau pasti langsung bertanya padanya, dan dia pasti bilang jatuh ke tungku lagi."
Sebelum Gandung sempat membantah, jeritan itu naik dari dalam lubang.
"ARGHHH!"
Keduanya terbelalak. Cahaya merah berkedip-kedip dari dasar tangga.
Sekar turun lebih dulu, dan Gandung menyusul di belakangnya. Makin ke bawah, udaranya makin panas, sampai keringat Gandung mengalir ke mata. Di ujung tangga, mereka berhenti.
"Sejak kapan ada ruangan begini di bawah pendopo kita?" bisik Gandung.
Ruangan itu bundar. Dindingnya penuh ukiran, dan di tengahnya berdiri tugu batu. Satrio tergeletak miring di kaki tugu itu. Asap tipis keluar dari pori-pori kulitnya, dan cahaya merah merembes dari sela jari tangan kanannya yang terkepal.
"Satrio!"
Gandung hendak berlari, tapi Sekar mencengkeram kerah bajunya.
"Tunggu! Lihat lantainya."
Gandung menunduk. Debu tipis menutupi ubin-ubin di sana. Jejak kaki telanjang hanya ada di ubin yang polos, sedangkan debu di atas ubin yang berukir lidah api masih rata.
"Dia cuma menginjak yang polos," kata Sekar, "Kita juga."
Mereka melompat dari satu ubin polos ke ubin polos berikutnya, mengikuti jejak itu. Gandung sampai lebih dulu dan mencengkeram bahu Satrio.
"Satrio! Bangun! Satri... arghh!"
Ia menarik tangannya. Kulit telapak tangannya yang belum sembuh sejak kebakaran dapur kini melepuh lagi.
Sekar berlutut di sisi lain. Ia mendekatkan pipinya ke hidung Satrio. "Masih bernapas. Tapi tubuhnya panas sekali." Matanya turun ke kepalan tangan yang bercahaya itu, lalu naik ke dinding, ke lingkaran besar dengan sepuluh ukiran di sekelilingnya. Bibirnya terbuka sedikit.
"Gandung, panggil Guru. Cepat!"
"Tidak perlu."
Ki Arya berdiri di kaki tangga dengan pelita di tangan. Napasnya tersengal-sengal. Ia meletakkan pelita itu di anak tangga terbawah dan menyeberangi ruangan dengan mata lurus ke depan. Kakinya hanya mendarat di ubin polos, dari ujung tangga sampai ke tugu.
Gandung melongo. Sekar menatap gurunya, lalu menatap lantai, lalu menatap gurunya lagi.
"Minggir," kata Ki Arya.
Ia berlutut di samping Satrio. Kedua telapak tangannya bertemu di depan dada, dan jari-jarinya berputar sampai kedua ibu jarinya saling bertumpu. Bibirnya merapal mantra tanpa suara.
"Ajian Geni Sirep."
Ia meletakkan telapak kanannya di dada Satrio dan telapak kirinya di kening muridnya.
Asap yang naik dari kulit Satrio berbelok dan merayap ke arah telapak tangan Ki Arya, lalu menghilang di sana. Merah di kulit Satrio surut sedikit demi sedikit, dari leher sampai ke dada.
Kedua lengan Ki Arya mulai gemetar. Urat-urat di punggung tangannya menonjol dan memerah, dan keringat membasahi rambut putihnya.
"Guru," kata Sekar, "Tangan Guru..."
"Diam."
Sekar menggigit bibir. Air matanya jatuh ke punggung tangan gurunya, dan langsung mengering di kulit yang panas itu.
Ki Arya terbatuk. Darah memercik ke lantai di sebelah lututnya, tapi kedua tangannya tidak bergeser dari tubuh Satrio. Ia baru melepaskannya setelah napas Satrio terdengar lebih panjang dan kepalan tangan kanannya mengendur.
"Uhuk! Uhuk... hoek!"
Ki Arya membungkuk dan memuntahkan darah ke ubin polos di depannya. Tubuhnya oleng. Sekar menangkap bahunya sebelum kepala gurunya membentur tugu.
"Bawa dia naik," bisik Ki Arya, "Sekar, tutup lagi papan itu sesudahnya. Jangan sampai Jati melihat."
Gandung menyelipkan kedua lengannya ke bawah tubuh Satrio dan menggendongnya, meski telapak tangannya melepuh. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan kaki kiri yang terseret. Rahangnya mengatup keras sepanjang jalan, dan ia tidak berhenti sampai kepalanya muncul dari lubang di lantai pendopo.
***
Saat Satrio membuka mata, kedua lengannya sudah terbalut dari bahu sampai ujung jari. Simpulnya rapi dan kencang, cara Sekar mengikat. Setiap tarikan napas membuat dadanya perih, seperti habis menelan asap tungku.
Di samping tikarnya ada mangkuk bubur yang sudah dingin. Di bibir mangkuk itu tertinggal bekas jari yang hitam oleh jelaga.
Ki Arya duduk bersandar di dinding bilik. Jati yang memapahnya ke sana sudah disuruh keluar. Kedua telapak tangan gurunya juga terbalut, dan wajahnya lebih pucat daripada kain balutan itu.
"Gandung dan Sekar sudah melihat ruangan itu," kata Ki Arya, "Mereka tidak akan bertanya apa-apa padamu. Aku yang menyuruh."
Satrio menunduk. "Tangan Guru..."
"Kalau aku tidak turun, besok pagi Gandung harus menggali lubang ketiga di belakang dapur." Ki Arya meletakkan kedua tangannya yang terbalut di atas lutut. "Kenapa kau memaksa?"
"Beras kita tinggal untuk beberapa hari, Guru. Dan Guru terus membagi bubur Guru untuk Kang Damar."
Kedua tangan Ki Arya mengepal di atas lutut, lalu mengendur lagi.
"Kristal itu bicara padamu?"
Pertanyaan yang sama dengan yang dulu. Satrio memandangi lantai bilik. Tangan kirinya terangkat setengah jalan ke tengkuk, lalu turun lagi ke pangkuan.
Pelan-pelan, ia mengangguk.
Ki Arya memejamkan mata. Dadanya naik turun beberapa kali sebelum ia membukanya lagi.
"Jangan katakan siapa," katanya, "Dulu aku bilang padamu, orang yang tidak tahu apa-apa tidak bisa dipaksa bicara. Itu berlaku juga untukku."
"Guru..."
"Aku cuma minta satu hal."
Satrio mengangkat wajah.
"Jangan mati sebelum aku."
Tenggorokan Satrio tercekat. Ia mencengkeram ujung tikar dan mengangguk lagi, lebih keras.
Ki Arya bangkit dengan bertumpu pada dinding. Di ambang pintu, ia berhenti dan terbatuk lama, lalu berjalan pergi tanpa menunggu Jati.
***
Malam itu Eyang duduk di ujung tikar. Sosoknya lebih pudar daripada sebelumnya. Lewat wajahnya, Satrio bisa melihat anyaman dinding bambu di belakangnya.
"Kau sengaja menunggu aku tidur."
'Eyang pasti melarang.'
"Tentu saja kularang!" desis Eyang. "Waktu aku bangun, panas di tubuhmu sudah naik sampai ke leher. Separuhnya kutarik kembali ke dalam batu. Separuh lagi ditelan gurumu."
Satrio memandangi kain balutan di kedua lengannya.
"Dengar baik-baik, bocah. Lain kali, lakukan di tempat terbuka, saat fajar, waktu udara paling dingin. Hawa dingin akan menjaga kulitmu selagi panasnya bekerja di dalam." Eyang mencondongkan tubuh. "Dan tubuhmu cuma tahan satu kali lagi. Kalau jalurmu dipaksa sekali lagi dan gagal, jalur itu robek."
'Kalau berhasil?'
"Kalau berhasil, kau Olah Cakra. Kalau gagal, gurumu tidak akan sanggup menuruni tangga itu untuk kedua kalinya."
Satrio diam.
Di tikar sebelah, Gandung berbaring memunggunginya. Biasanya dengkurnya terdengar sampai ke serambi. Malam itu bilik mereka sunyi.
Gandung menarik kain sarungnya sampai menutupi kepala.