Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Aryan
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gedung perusahaan Adiguna.
Satpam yang berjaga langsung mendekat, membuka pintu bagian belakang. Lalu, tidak lama setelahnya, seorang pria turun dari dalam mobil.
Dia adalah Aryan Evander Megantara.
Ia memakai setelan jas berwarna gelap yang dipadukan dengan kemeja putih dan dasi senada, yang membuat penampilannya begitu rapi, elegan sekaligus berkelas. Rambut hitamnya tertata sempurna, sementara wajah tampannya memancarkan ketegasan yang sulit diabaikan.
Aryan membenarkan jasnya, lalu melirik sekilas ke arah gedung tinggi yang berdiri megah di depannya, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu utama.
Saat memasuki lobi, ia langsung menarik perhatian.
Bukan hanya karena penampilannya yang begitu menawan, tetapi juga karena aura berwibawa yang terpancar kuat darinya.
Wajah tampan dengan garis rahang tegas, hidung mancung, dan sorot mata tajam, membuatnya terlihat begitu memikat. Terlebih lagi, setelan baju yang ia pakai begitu serasi dengan postur tubuhnya yang tegap. Tapi, sikapnya yang tenang dan ekspresinya yang datar, menghadirkan kesan dingin yang membuat orang-orang segan untuk mendekat.
Meski begitu, beberapa staff wanita tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka.
"Siapa pria itu?"
"Entahlah. Tapi ... Astaga, dia tampan sekali!"
"Benar. Tapi, auranya sangat sulit untuk di dekati."
Aryan sama sekali tidak menghiraukan bisikan-bisikan tersebut. Ia terus melangkah dengan ekspresi tenang, seolah-olah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Sesampainya di meja resepsionis, seorang petugas segera berdiri dan menyambutnya dengan sopan.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"
Aryan menatap wanita itu dengan sorot mata tenang. "Saya Aryan dari perusahaan Megantara. Saya memiliki jadwal pertemuan dengan Ibu Laras."
Resepsionis itu sempat tertegun sesaat sebelum akhirnya tersenyum profesional.
"Baik, Pak Aryan. Mohon tunggu sebentar. Saya akan menghubungi sekretaris beliau."
Aryan mengangguk kecil.
Resepsionis itu segera menghubungi bagian sekretariat untuk mengonfirmasi kedatangannya.
Sementara, Aryan berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana. Pandangannya menyapu interior lobi yang luas dan elegan, tanpa menunjukkan ketertarikan berlebihan.
Beberapa saat kemudian, resepsionis kembali menghadapnya, "Maaf membuat anda menunggu, Pak. Asisten Ibu Laras akan segera menjemput Anda."
"Terima kasih," ucap Aryan.
Tidak berselang lama, seorang wanita berpakaian formal datang menghampirinya.
"Selamat pagi, Pak Aryan. Saya Anita, asisten pribadi Ibu Laras. Silakan ikut saya. Ibu Laras sudah menunggu di ruangannya."
Aryan mengangguk. "Baik. Terima kasih."
Ia kemudian mengikuti Anita menuju lift khusus direksi.
Tidak ada percakapan di antara mereka. Anita berdiri di sisi Aryan dengan sikap profesional, sedangkan Aryan hanya diam, sesekali melihat jam di pergelangan tangannya, memastikan jika ia tidak datang terlambat.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Anita mempersilakan Aryan mengikutinya menuju ruang rapat.
"Silakan, Pak Aryan. Bu Laras sudah menunggu di dalam."
"Terima kasih."
Anita mengangguk sebelum meninggalkannya. Sementara itu, Aryan merapikan jasnya sekilas, lalu menarik napas sebelum membuka pintu.
Namun, sebelum ia melangkah lebih dalam, ia tertegun melihat Salsa duduk di samping Laras.
"Selamat pagi, Kakakku tersayang," sapa Salsa dengan senyum lebar.
Aryan menatap datar adiknya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku hanya mampir," jawab Salsa singkat. Ia bangkit dan menghampiri kakaknya. "Aku ingin tahu, kenapa kakak tidak memberitahuku kalau ingin menjalin kerja sama dengan Laras?"
"Ini urusan perusahaan."
"Aku tidak bilang ini urusan pribadi!" balas Salsa cepat.
Aryan menghela napas, tampak kehilangan kesabaran. "Ini bukan waktunya kamu ikut campur. Tingkatkan dulu kemampuanmu."
Salsa langsung memasang wajah cemberut. "Aku juga ingin terlibat dan belajar, kak!"
"Kamu harus mulai dari bawah. Cepat, kembali ke perusahaan."
"Ck, iya, iya." Salsa berdecak kesal, lalu menoleh pada Laras. "Aku pergi dulu, ya. Kalau dia macam-macam, beri tahu aku. Biar aku yang memberinya pelajaran."
Aryan melotot tajam. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar.
Salsa pura-pura tidak melihatnya. Ia meraih tasnya sambil menahan tawa sebelum meninggalkan ruangan. Sementara, Laras hanya tertawa kikuk mendengar ucapan sahabatnya.
Kini, hanya ada Laras dan Aryan di sana.
Keduanya sempat bertukar pandang selama beberapa detik sebelum Laras berdiri dan memasang senyum profesional.
"Selamat datang, Pak Aryan."
Aryan membalas dengan senyum tipis. "Terima kasih, Bu Laras."
***
Di sisi lain, Salsa masih menggerutu kesal. Ia tidak habis pikir mengapa kakaknya selalu meremehkan kemampuannya.
Padahal, mengikuti rapat, bisa menjadi kesempatan baginya untuk belajar dan berkembang. Tapi, Aryan tidak memberikan kesempatan itu padanya.
"Dasar! Selalu begitu," gerutu Salsa. "Kenapa dia seenaknya sendiri, sih? Padahal, aku, kan adiknya. Apa dia ingin menghambat perkembangan ku dalam dunia bisnis?"
Salsa tidak berhenti menggerutu. Tapi, rasa kesalnya justru semakin memuncak saat melihat Robby yang baru masuk melalui pintu utama.
Langkah Salsa melambat. Tatapannya langsung menajam, sementara kedua tangannya mengepal erat.
"Dasar pria mokondo!" geramnya dalam hati.
Ia ingin sekali melabrak Robby, menjambak rambut pria itu dan menghajarnya sampai puas. Namun, pesan kakaknya agar tidak ikut campur terlalu jauh membuatnya mengurungkan niat.
Salsa akhirnya hanya bisa menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarah. Tapi, saat berpapasan dengan Robby, ia tidak bisa menyembunyikan tatapan penuh kebencian pada pria itu.
Robby sendiri sempat tertegun melihat Salsa. Ia ingin menyapa, tetapi mengurungkan niat setelah melihat sorot mata wanita itu.
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh menatap punggung wanita itu dengan kening mengernyit.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Dan, untuk apa dia ada di sini?" gumamnya heran.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti