NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: KEPINGAN BUKU HITAM

Hujan deras mengguyur kawasan perbukitan sejak tengah hari, memukul-mukul kaca jendela kediaman megah itu dengan ritme yang konstan dan membekukan.

Di dalam ruang kerja lantai satu yang berdinding panel kayu jati tua, bau tembakau mahal dan kertas kusam tercium pekat.

Alden sedang tidak berada di rumah. Pria itu terpaksa turun ke kota untuk menghadiri gladi bersih teknis bersama tim protokol Kementerian Kesehatan menjelang peluncuran besar esok hari.

Kesempatan itu dimanfaatkan Sesil dengan perhitungan yang sangat matang.

Sambil memegang cangkir teh chamomile yang sudah dingin—sebagai kedok jika ada pelayan yang melintas—Sesil melangkah pelan memutari meja kerja raksasa milik Alden.

Meskipun ia telah berhasil merebut kembali buku jurnal hitam utamanya dari kamar rahasia di lantai dua pada malam sebelumnya, nurani jurnalisnya memberi tahu bahwa ada sesuatu yang belum lengkap.

Jurnal hitam yang dibawanya terasa sedikit lebih tipis di bagian jilidan belakang. Ada beberapa halaman penting yang sengaja dirobek dengan rapi dari poros jilidannya.

Sesil tahu persis tabiat seorang sosiopat narsisistik seperti Alden. Pria seperti Alden tidak pernah sekadar memusnahkan bukti;

mereka adalah kolektor trofi. Mereka menikmati sensasi menyimpan pecahan kemenangan atas musuh-musuhnya sebagai pemuas ego pribadi.

Mata Sesil menyapu meja kerja kayu jati tersebut. Pandangannya tertuju pada sebuah kotak ukiran kayu hitam buatan Jepara bertatahkan kerang perak yang terkunci di sudut meja.

Kotak itu adalah satu-satunya benda yang selalu disentuh Alden dengan tatapan penuh rasa bangga setiap kali pria itu selesai menyesap wiskinya di malam hari.

Sesil meletakkan cangkir tehnya tanpa suara. Ia menarik jepit rambut besi yang terselip rapat di dalam sanggul rambutnya.

Dengan jemari yang dingin namun sangat stabil, Sesil menyelipkan ujung jepit rambut itu ke dalam lubang kunci kuningan kotak ukiran tersebut.

Kenangan masa lalunya saat mempelajari teknik peretasan kunci fisik untuk liputan investigasi kriminal mendadak berputar kembali dengan sangat jernih di kepalanya.

KLIK.

Suara kait kuningan yang terlepas bergema halus. Sesil membuka tutup kotak ukiran kayu itu perlahan.

Di dalam kotak berpelapis kain beludru merah maroon itu, tidak ada perhiasan mahal atau batangan emas. Yang terbaring di sana adalah jarum suntik bekas pakai dari insiden enam bulan lalu, jam tangan milik Sesil yang retak akibat benturan truk, dan tumpukan lipatan kertas kusam yang mulai menguning di bagian tepi.

Sesil mengambil lipatan kertas tersebut. Saat ia membukanya, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menghantam tulang rusuknya.

Itu adalah lembaran-lembaran kertas dari jurnal hitamnya yang dirobek!

Namun, saat Sesil mengamati lembaran itu lebih dekat di bawah temaram lampu meja, matanya membelalak lebar. Ini bukan sekadar catatan investigasinya tentang uji coba racun Compound-9 yang dilakukannya enam bulan lalu. Ini adalah catatan sejarah kelam yang jauh lebih tua, sebuah skandal dinasti yang menjadi akar dari seluruh kejahatan PT Mandaroba Medika.

Halaman-halaman yang dirobek itu berisi salinan dokumen internal rahasia bertanggal lima belas tahun lalu—dokumen yang dulu berhasil didapatkan oleh ayah Sesil sebelum bisnis keluarga mereka dihancurkan hingga bangkrut oleh keluarga Alden.

Di lembaran pertama, tertera grafik dan laporan otopsi independen bertuliskan

"PROJECT MANDAROBA-1: BATCH AWAL 2011".

Ternyata, senyawa Mandaroba bukan diciptakan oleh Alden dari nol. Senyawa peretas ingatan beracun itu adalah warisan kelam dari almarhum ayah Alden, sang pendiri PT Mandaroba Medika.

Lima belas tahun lalu, perusahaan farmasi milik keluarga Alden meluncurkan obat penenang skala besar yang didistribusikan ke puluhan rumah sakit swasta dan klinik daerah. Namun, obat tersebut memiliki efek samping fatal yang disengaja:

memicu kemunduran fungsi otak secara drastis, amnesia permanen, dan gagal organ bertahap pada pasien lansia serta anak-anak.

Ketika puluhan keluarga korban mulai menyadari pola kematian massal yang mencurigakan ini dan berniat mengajukan gugatan kelompok (class action), ayah Sesil—yang kala itu merupakan seorang pengusaha logistik farmasi yang jujur—menemukan kejanggalan dalam manifes pengiriman bahan kimia ilegal tersebut dan melaporkannya.

Untuk membungkam skandal raksasa yang bisa meruntuhkan dinasti bisnis mereka, keluarga Alden menggunakan rekayasa finansial dan suap tingkat tinggi.

Mereka memfitnah perusahaan ayah Sesil atas tuduhan sabotase bahan baku, menyita seluruh aset keluarganya, dan menyuap pejabat peradilan hingga ayah Sesil bangkrut total, jatuh sakit, dan ibunya tertekan secara mental.

Tidak berhenti di situ, Alden—yang kala itu masih muda—mengambil alih riset haram ayahnya. Ia menyempurnakan kegagalan Mandaroba-1 menjadi Compound-9, sebuah racun peretas ingatan yang tidak lagi mematikan organ tubuh secara instan, melainkan menghancurkan jiwa dan ingatan korbannya secara bertahap untuk dijadikan alat kontrol politik dan bisnis.

Sesil mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, memicu rasa sakit yang membakar.

"Bukan hanya aku..." bisik Sesil, air mata amarah yang amat sangat panas merebak di pelupuk matanya. "Kamu dan keluargamu sudah menghancurkan keluargaku sejak belasan tahun lalu... Kematian, kemiskinan, dan penderitaan Bapak dan Ibu... semuanya adalah buatan keluarga iblis ini!"

Kepingan misteri terakhir telah terpasang sempurna. Tabir kebohongan yang membungkus kejahatan Alden tidak hanya berskala kejahatan individu terhadap dirinya, melainkan sebuah skandal farmasi sistematis dan kejahatan kemanusiaan yang telah berlangsung selama belasan tahun, mengorbankan ribuan nyawa tak berdosa demi menumpuk kekayaan dinasti Mandaroba.

Alden menyimpan lembaran ini sebagai trofi untuk merayakan kejayaan keluarganya atas kehancuran keluarga Sesil. Pria itu menikmati fakta gila bahwa ia berhasil memelihara anak dari musuh besar keluarganya di dalam rumahnya sendiri, menjadikannya boneka tak berdaya yang tidur di sampingnya setiap malam.

"Kamu pikir ini adalah trofi kemenanganmu, Alden?" desis Sesil, suaranya bergetar oleh kombinasi rasa jijik dan dendam murni yang membakar habis sisa-sisa kemanusiaannya. "Ini bukan trofi. Ini adalah surat vonis hukuman mati untukmu dan seluruh dinastimu."

Dengan gerakan cepat dan terlatih, Sesil melipat kembali halaman-halaman kertas rahasia itu, lalu menyelipkannya ke dalam kompartemen tersembunyi di dalam jilidan buku jurnal hitam utama yang tersembunyi di balik gaunnya.

Kini, jurnal hitam itu telah utuh kembali—berisi bukti masa lalu dan masa kini yang tak tertembak.

Ia mengembalikan kotak ukiran kayu Jepara itu ke posisi semula, menguncinya kembali dengan jepit rambutnya, dan menyapu bersih setiap jejak pergerakannya di sekitar meja kerja Alden.

Sesil melangkah menuju jendela ruang kerja, menatap guyuran hujan deras yang menghantam taman perbukitan di luar.

Perang ini bukan lagi sekadar tentang menyelamatkan dirinya sendiri dari cengkeraman seorang sosiopat. Ini adalah penuntasan dendam atas air mata ayahnya, atas penderitaan ibunya, atas nyawa para korban uji coba klinis yang dihilangkan, dan atas keadilan yang telah diinjak-injak selama belasan tahun oleh uang dan kekuasaan PT Mandaroba Medika.

Sesil menyentuh jilidan jurnal hitam di balik gaunnya. Senyuman dingin yang sangat mematikan terukir di bibirnya.

Esok hari, di hadapan ratusan kamera televisi, para pejabat kementerian, dan seluruh publik negeri ini, ia tidak hanya akan membongkar kecelakaan rekayasanya sendiri. Ia akan membongkar seluruh busuknya dinasti farmasi keluarga Alden hingga ke akar-akarnya.

Sang mangsa telah siap menuntut balas atas darah dan air mata yang telah dicuri darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!