Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kemungkinan
Sesampainya di rumah kontrakan, Jihan langsung meletakkan tasnya di atas sofa. Hari itu terasa begitu melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan yang mulai menumpuk, tetapi juga karena kondisi tubuhnya yang sejak pagi terasa tidak nyaman.
Ia berjalan perlahan menuju kamar, lalu merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
"Astaga, kenapa badanku terasa begini?" keluhnya.
Jihan memijat tengkuknya. Ada rasa ngilu di sekujur tubuhnya, disertai kelelahan yang sulit dijelaskan. Perutnya juga masih terasa kurang nyaman. Bahkan, aroma makanan yang tadi dibelinya dalam perjalanan pulang kembali membuatnya mual.
Ia memejamkan mata sejenak.
Awalnya, Jihan mengira dirinya hanya kelelahan karena masih menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru. Namun, rasa mual yang terus datang sejak pagi membuatnya mulai berpikir bahwa mungkin ada sesuatu yang berbeda dengan kondisi tubuhnya.
Ia bangkit, mengambil segelas air putih, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Saat itulah sebuah ingatan tiba-tiba melintas di benaknya.
Malam itu.
Malam ketika Hansen datang menemuinya, sebelum mereka benar-benar berpisah. Malam ketika Hansen memaksanya dan mereka kehilangan kendali. Malam itu memang menyakitkan baginya namun membuat Hansen malam itu adalah malam yang indah.
Jihan terdiam.
Tangannya perlahan turun ke perut.
"Jangan-jangan..."
Ia segera menggelengkan kepala, seolah tidak ingin membiarkan pikiran itu berkembang lebih jauh.
Namun, semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin jelas pula ingatan tentang malam tersebut.
Jihan kemudian meraih ponselnya dan membuka kalender. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mengalami menstruasi.
Awalnya ia menghitung dengan santai. Namun, setelah melihat tanggal-tanggal yang tertera, wajahnya perlahan berubah.
Ia menghitung sekali lagi.
Kemudian sekali lagi.
Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
"Ya Tuhan..."
Jihan menutup mulutnya.
Ternyata, sudah cukup lama ia tidak mengalami menstruasi. Ia sempat mengira siklusnya terganggu karena tekanan pikiran setelah perceraian dan perubahan besar dalam hidupnya.
Namun, sekarang ada kemungkinan lain yang membuatnya mendadak sulit bernapas.
Bagaimana jika dirinya hamil?
Jihan menatap perutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak mungkin, kan?" bisiknya.
Ia mencoba mengingat apakah ada kemungkinan lain yang bisa menjelaskan keterlambatan tersebut. Namun, ingatan tentang malam bersama Hansen kembali muncul.
Mereka memang sudah bercerai. Jihan bahkan sudah meninggalkan rumah sakit dan berusaha membangun kehidupan baru.
Tetapi malam itu terjadi sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Jihan menunduk, lalu mengusap wajahnya.
"Kalau benar aku hamil, bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia tidak tahu harus merasa bahagia, takut, atau justru sedih. Selama ini, ia berusaha keras melepaskan diri dari Hansen. Ia mengganti nomor telepon, meninggalkan pekerjaan lamanya, bahkan memilih pekerjaan baru agar tidak mudah ditemukan.
Namun, jika dugaan ini benar, berarti masih ada sesuatu yang menghubungkan dirinya dengan pria itu.
Sesuatu yang tidak bisa begitu saja ia tinggalkan.
Jihan mengusap perutnya sekali lagi.
"Tenang dulu, Jihan. Jangan menyimpulkan apa-apa sebelum memastikan."
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Besok pagi, ia akan membeli alat tes kehamilan. Jika hasilnya menunjukkan sesuatu yang tidak terduga, ia akan pergi ke dokter untuk memastikannya.
Untuk malam ini, Jihan hanya bisa berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Sementara itu, jauh dari tempat tinggalnya, Hansen masih sibuk mencari keberadaan perempuan yang tidak diketahuinya sedang menyimpan sebuah kemungkinan besar.
Kemungkinan bahwa dirinya mungkin akan menjadi seorang ayah lagi.
***
Di lain pihak, malam itu Hansen juga belum bisa menemukan ketenangan. Sejak sore, suasana hatinya semakin buruk. Bahkan, makanan yang sudah disiapkan di meja makan apartemennya sama sekali tidak menggugah selera.
Ia hanya duduk memandangi hidangan di hadapannya.
Juan yang kebetulan masih berada di apartemen untuk menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan memperhatikan sikap atasannya.
"Pak, makanannya tidak cocok?"
Hansen menggeleng.
"Sudah, bawa saja."
"Tapi Bapak belum makan banyak."
"Aku bilang bawa saja, Juan."
Juan akhirnya tidak berani membantah. Ia membereskan beberapa piring, lalu meninggalkan Hansen sendirian.
Setelah Juan pergi, Hansen menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tangannya meraih ponsel, lalu kembali membuka kontak Jihan.
Nomor itu masih sama. Nomor yang selama ini ia simpan dengan nama Jihan.
Namun, setiap kali mencoba menghubunginya, hasilnya selalu mengecewakan.
Hansen menghela napas panjang.
"Ke mana sebenarnya kamu pergi, Jihan?"
Ia meletakkan ponselnya, lalu memejamkan mata.
Tanpa disadari, pikirannya justru melayang pada beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Jepang. Tepatnya, saat ia dan Jihan bertemu di rumah sakit dan berada dalam satu lift.
Waktu itu lift sedang penuh. Beberapa orang berdiri berdesakan karena banyaknya pengunjung dan staf rumah sakit yang hendak berpindah lantai.
Jihan berada tidak jauh darinya.
Tubuh perempuan itu memang jauh lebih kecil dibandingkan dirinya. Ketika beberapa orang kembali masuk, ruang di dalam lift semakin sempit hingga Jihan terdesak.
Hansen yang berdiri di belakangnya spontan menggeser posisi.
"Maaf," ucapnya pelan.
Ia terpaksa menghimpit tubuh kecil Jihan agar perempuan itu tidak terdorong oleh orang-orang di sekitarnya. Salah satu tangannya bahkan sempat menahan sisi dinding lift untuk memberikan sedikit ruang bagi Jihan.
Meski posisi mereka sangat dekat, Hansen berusaha menjaga agar tubuhnya tidak sepenuhnya menekan perempuan itu.
Namun, ketika lift mendadak sedikit berguncang karena berhenti di lantai berikutnya, tubuh Jihan kehilangan keseimbangan.
Hansen refleks menahan bahunya.
"Hati-hati."
Jihan hanya mengangguk kecil.
Saat itulah wajah mereka berada begitu dekat. Hansen bahkan bisa mencium aroma lembut yang selama ini begitu dikenalnya.
Entah dorongan apa yang membuatnya melakukan hal itu, Hansen tiba-tiba menundukkan kepala dan tanpa sengaja mengecup kening Jihan.
Hanya sesaat.
Namun, cukup membuat dirinya sendiri terdiam.
Jihan juga tidak mengatakan apa-apa. Perempuan itu hanya membeku dengan wajah sedikit tertunduk. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apalagi saat itu mereka sudah bukan lagi pasangan suami istri.
Lift akhirnya terbuka.
Jihan segera melangkah keluar tanpa menoleh.
Sementara Hansen tetap berdiri beberapa detik di dalam lift sebelum akhirnya menyusul.
Mengingat kejadian itu, Hansen membuka mata.
Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya.
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya. Ia masih ingat bagaimana Jihan hanya diam ketika dirinya mengecup kening perempuan itu.
Apakah Jihan juga merasakan sesuatu saat itu?
Ataukah perempuan itu justru merasa tidak nyaman?
Hansen mengusap wajahnya.
Ia tahu mereka sudah bercerai. Seharusnya, ia tidak lagi melakukan hal-hal yang bisa membuat Jihan salah paham.
Namun, kenyataannya, ia sendiri masih belum bisa sepenuhnya melepaskan perempuan itu.
"Apa kamu benar-benar sudah tidak ingin bertemu denganku lagi?" gumamnya.
Ia kembali meraih ponsel, membuka ruang percakapan lama mereka. Ada begitu banyak pesan yang dulu pernah dikirimkan Jihan. Pesan sederhana yang sering kali hanya berisi pertanyaan apakah dirinya sudah makan atau kapan akan pulang.
Dulu, Hansen sering mengabaikannya.
Sekarang, justru pesan-pesan sederhana itu yang ingin sekali dibacanya kembali.
Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mengunci ponsel.
Malam semakin larut, tetapi rasa gelisahnya tidak kunjung mereda.
Hansen bahkan tidak berselera makan. Pikirannya terus tertuju kepada Jihan, kepada perempuan yang dulu selalu bisa ia temui, tetapi sekarang keberadaannya saja tidak ia ketahui.
Untuk pertama kalinya, Hansen mulai memahami bahwa kehilangan seseorang tidak selalu terjadi ketika orang itu meninggal atau pergi jauh.
Terkadang, kehilangan justru terasa ketika seseorang yang pernah begitu dekat memilih hidup tanpa kita.
Dan Jihan tampaknya sedang melakukan hal itu.
Bersambung...