Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik nadir
"Tanda tangan di sini, Nyonya Clara. Uang jaminan penangguhan penahanan Anda sudah diverifikasi oleh pihak kejaksaan," ucap petugas administrasi rutan wanita sambil menyodorkan setumpuk berkas berlogo hukum di atas meja besi.
Clara menyambar pena hitam dengan jemari yang dihiasi cat kuku terkelupas. Tanpa keraguan sedikit pun, Clara menggunakan uang jaminan dari simpanannya untuk keluar dari tahanan sementara, memanfaatkan sisa dana tersembunyi yang belum sempat disita oleh penyidik. Begitu menginjakkan kaki di luar gerbang Penjara, ia tidak berniat kembali menemui suaminya.
Tanpa sisa rasa iba atau penyesalan, Clara langsung menguras sisa uang di rekening bersama milik Arkananta melalui aplikasi perbankan digital di ponselnya dan kabur bersama pria lain yang selama ini menjadi simpanannya ke luar kota.
Sementara itu, di kediaman utama yang kini tampak sepi dan tidak terurus, Arkananta baru saja pulang dengan langkah gontai setelah seharian lelah menghadapi panggilan penyidik kepolisian terkait kasus perusahaannya.
Pria itu membuka pintu utama yang tidak terkunci rapat dengan perasaan cemas yang menggelayut di dadanya.
Ia masih ingat betul bahwa kemarin istrinya, Clara, ditangkap oleh pihak kepolisian dan ditahan sementara di sel. Terus ini kenapa barang-barangnya, tasnya, bahkan pakaiannya kosong melompong tanpa tersisa sedikit pun??
Jangan jangan!!
Dengan perasaan gusar dan emosi yang tertahan, Arkananta menelepon pihak kepolisian terkait keberadaan Clara.
"Halo, Pak. Saya mau tanya, apakah saudari Clara telah dibebaskan?" tanya Arkananta dengan suara bergetar menahan amarah.
"Benar, Pak. Saudari Clara pagi tadi resmi dibebaskan karena ada uang jaminan dari pihak keluarga," jawab petugas di seberang sana dengan nada datar.
"Loh, Pak! Nggak bisa begitu, Pak! Dia itu tahanan kasus pencurian data!" protes Arkananta dengan nada tinggi.
"Aturan penangguhan jaminan sah secara hukum, Pak. Silakan urus langsung ke bagian administrasi jika ada sanggahan," timpal petugas sebelum sambungan diputus sepihak.
"Ah, sialan!" maki Arkananta kalap. Ia melempar ponselnya ke lantai lalu membanting vas bunga keramik di dekat meja tamu sampai terpecah belah berkeping-keping.
Ibu Samilah, yang sejak sore tadi tidur di kamar belakang, berjalan tertatih keluar dari kamarnya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak akibat suara bising di luar. "Arkan... ada apa Nak? Ibu dengar suara pecahan tadi," tanya wanita tua itu dengan napas tersengal-sengal.
Arkananta menoleh dengan pandangan kosong, menggelengkan kepalanya lemah. "Istriku sudah kabur, Bu... Dia menguras semua sisa tabungan terakhirku dan kabur sama laki-laki lain."
Mendengar pengakuan putranya yang terdengar begitu telak menghancurkan sisa-sisa harga diri keluarga mereka, Ibu Samilah membelalakkan mata lebar-lebar. Seketika itu juga, ibu mertua pingsan mengetahui seluruh harta benda anaknya telah dibawa lari oleh Clara, tubuh rentanya tersungkur ambruk menimpa lantai keramik dingin tanpa sempat ditangkap oleh Arkananta.
"Ibu! Astaga, Bu, bangun, Bu!" teriak Arkananta histeris, menjatuhkan lututnya di samping tubuh sang ibu yang tidak sadarkan diri.
Dalam satu malam yang sama, kehancuran hidup Arkananta mencapai puncaknya yang paling mutlak. Tanpa uang sepeser pun di saku, dengan ibu kandungnya yang terbaring lemah di lantai rumah kosong tanpa biaya rumah sakit, serta tumpukan utang perusahaan yang menanti di depan mata, Arkananta benar-benar berada di titik terendah dalam roda kehidupannya.
Pria itu menangis meraung-raung di tengah ruangan yang gelap gulita, menyadari bahwa kutukan atas perbuatannya di masa lalu kini telah merenggut segalanya tanpa ampun.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel