NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

Part 17

Tina keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, rambutnya masih basah dengan handuk sebagai pengeringnya. Sedangkan Alfan yang tidak jadi tidur hanya terdiam di ranjangnya, matanya tertuju pada layar ponselnya, di mana ada game yang sedang dimainkannya.

Tina yang melihat bosnya itu hanya menghela nafas, lalu duduk di sisi ranjang dan mengambil sisir untuk menata rambut panjangnya. Tidak ada pikiran apapun di otaknya, sampai saat suara Alfan terdengar kesal mulai mengganggu lamunannya.

"Cih, kalah lagi," keluhnya terdengar kesal, yang tak membuat Tina penasaran dengan apa yang sedang bosnya lakukan.

"Ternyata rambut kamu benar-benar panjang ya?" Tina menatap ke arah bosnya setelah mendengar suaranya, lebih tepatnya pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya.

"Kenapa Bapak berbicara seperti itu? Rambut saya memang panjang, apa Bapak pikir saya pakai wig selama ini?" tanya Tina tak habis pikir, ia sudah tak berminat adu kata dengan bosnya, karena pada akhirnya ia juga yang akan kalah.

"Iya." Alfan menjawab santai, sembari kembali memainkan ponselnya.

"Kenapa Bapak bisa berpikir seperti itu?" tanya Tina penasaran, namun Alfan justru terdiam dan tersenyum tipis.

"Karena kamu tidak suka rambut panjang." Kata-kata seperti itu yang ingin Alfan ungkapkan, sama seperti saat Tina mengatakannya delapan belas tahun yang lalu, saat mereka masih di sekolah SD yang sama. Namun sepertinya Alfan akan mengurungkan kalimatnya, karena Tina tidak boleh tahu siapa ia yang sebenarnya.

"Rambut kamu bagus, jadi saya pikir itu rambut palsu." Alfan menjawab santai, tanpa menyadari bagaimana Tina berdecap tak percaya dengan jawabannya.

"Lebih baik Bapak mandi sekarang, badan Bapak bau." Setelah mengucapkan kalimat itu, Tina memalingkan wajah ke arah lain sembari terus bersisir tanpa mau memedulikan bosnya lagi.

"Apa kamu bilang? Saya bau?" sungut Alfan tak terima, sedangkan Tina hanya merapatkan bibirnya, ia tahu bila sikapnya itu mungkin sudah keterlaluan, namun bosnya itu sangat menyebalkan, rasanya ia tak bisa tahan bila tak membalas perbuatannya.

"Iya, Bapak bau." Tina menjawab singkat lalu berlari keluar, berusaha menghindari amarah Alfan yang mungkin akan meledak karena ulahnya. Sekarang tidak ada yang lebih penting selain keselamatannya sendiri, bosnya itu bisa saja berbuat lebih buruk dari biasanya terlebih lagi di kota yang jauh dari tempat tinggal mereka.

"Apa dia benar-benar serius? Aku bau? Mustahil." Alfan mencium bau badannya yang memang tak sedap tercium di hidungnya.

"Eeiiuh," keluhnya jijik, merasa tak tahan dengan bau badannya sendiri. Dengan amat terpaksa, Alfan meletakkan ponselnya lalu mandi untuk membersihkan diri.

***

Setelah keluar dari kamar mandi, Alfan justru tak mendapati Tina di kamar, asistennya itu masih berada di luar, tanpa mau masuk ataupun istirahat padahal mereka baru saja sampai dari perjalanan, seharusnya Tina tidur ataupun bersantai ria di ranjangnya.

"Dia ke mana? Kok belum pulang?" Alfan mengedarkan pandangannya ke segala arah, kamar itu kosong tanpa ada manusia lain di sana. Dengan perasaan khawatir, Alfan berjalan ke arah ranjangnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Tina.

"Halo, kamu di mana?" tanya Alfan cepat setelah cukup lama teleponnya tidak diangkat.

"Di warung makan, Pak. Saya lapar, mau makan," jawab Tina seperti sedang mengunyah makanan, sedangkan Alfan yang mendengarnya seketika bernafas lega, setidaknya wanita itu tidak kenapa-kenapa.

"Kamu makan di warung mana? Kenapa lama makannya, cepat balik ke kamar!"

"Tapi Bapak masih marah sama saya."

"Marah kenapa lagi?"

"Yang tadi saya bilang Bapak bau ...." Tina melirihkan ucapannya di akhir kalimatnya, yang sebenarnya ingin Alfan tanggapi dengan teriakan geram, namun apa yang Tina katakan itu benar, lalu kenapa ia harus terus-terusan marah.

"Saya tidak marah, cepat pulang. Kamu itu perempuan, jangan pergi sendirian!" perintah Alfan tegas, sedikit banyaknya ia juga merasa khawatir dengan asistennya itu.

"Iya, Pak. Sebentar lagi saya selesai makan. Oh iya, Bapak belum makan? Mau saya belikan juga?"

"Emh ... iya, boleh deh. Tapi makanan yang enak ya, awas aja kalau kamu beli makanan aneh. Saya usir kamu dari kamar," jawab Alfan yang pasti akan terdengar menyebalkan untuk Tina. Ya, sebenarnya Alfan juga merasa bila sikapnya itu terkadang menyebalkan, namun cuma itu caranya supaya ia bisa dekat dengan Tina.

"Iya, Pak." Tina mematikan sambungan teleponnya, ucapannya terdengar kesal, membuat Alfan tersenyum, merasa senang saja melihatnya marah.

Sekarang yang Alfan lakukan kembali bersantai dan bermain game, menikmati suasana di sana yang memang tampak menenangkan pikirannya. Tak lama, Tina datang membawakan makanan yang entah apa isinya, di saat itu lah Alfan memicingkan matanya, merasa harus waspada kalau-kalau Tina akan membalasnya melalui makanannya.

"Ini makanannya, Pak." Tina menyodorkan makanan dengan wadah sterefoam lengkap dengan sendok plastiknya dan juga minuman cup semacam es kopi.

"Enak enggak makanannya?"

"Enak kok, Pak. Makan aja," jawab Tina yang hanya Alfan angguki lalu memulai aktivitas makannya, sedangkan yang Tina lakukan hanya membaringkan tubuhnya lengkap dengan selimut di tubuhnya.

"Bagaimana, Pak? Enak?"

"Lumayan." Alfan menjawab singkat, sedangkan makannya begitu lahap seolah sangat menyukai makanan tersebut.

"Pak, saya istirahat dulu ya, saya capek. Dari tadi saya belum tidur, Bapak sih enak tidur terus di perjalanan, malah saya yang menjaga Bapak." Tina meminta izin tidur, yang kali ini ditatap tanya oleh Alfan.

"Kamu kan asisten saya, ya wajar lah kalau kamu menjaga saya tidur saat di perjalanan."

"Tapi tadi Bapak tidurnya lama, saya kan juga mau tidur, tapi takut Bapak kenapa-kenapa. Oh iya, memangnya Bapak tadi malam kurang tidur ya? Tumben Bapak tidur hampir seharian." Mendengar pertanyaan Tina, Alfan menghentikan makannya, merasa tersinggung dengan perkataannya.

Tidak hanya kurang tidur, Alfan bahkan hampir tidak bisa tidur semalaman, itu karena otaknya terus memikirkan ucapan Tina saat Alfan ingin menemui papanya untuk meminta izin. Saat itu Tina mengatakan hal yang membuatnya berpikir bila ia memang lelaki egois.

"Iya. Saya main game, sampai lupa tidur." Alfan menjawab seadanya sembari kembali melahap makanannya, berusaha terlihat baik-baik saja.

"Oh gitu? Ya sudah, saya istirahat dulu ya, Pak."

"Hm," jawab Alfan dengan gumaman, matanya tertuju ke arah Tina yang sudah memejamkan mata, hatinya merasa bersalah saat melihatnya kelelahan.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!