Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERLUKA PARAH
"Bagus, kalau begitu aku akan habisi kalian berdua sekaligus!" ucap Charlotte berteriak nyaring.
"Rasakan ini! Penghancuran jiwa!" teriak Charlotte histeris, melesatkan puluhan belati bayangan beracun ke arah mereka.
SYUTT
SYUTT
SYUTT
"Menghindar!" seru Erik sigap.
Namun, alih-alih menghindar, Kalyca justru melangkah maju dengan tatapan mata yang berkilat tajam.
BOOOM
DUARRRRRRR
Erik yang melihat celah langsung melesat dengan cepat, dengan pedang kebanggaannya yang terayun lurus dengan kekuatan penuh ke arah leher Charlotte.
"Kurang ajar!" geram Charlotte, buru-buru mengangkat tongkatnya untuk menangkis, serangan Erik.
TRANGGG
"Aaaakkkk! Tenaga macam apa ini?!" cicit Charlotte terdorong mundur beberapa langkah dengan napas tersengal-sengal.
Sebelum Charlotte sempat memulihkan keseimbangannya, Kalyca sudah muncul di sisi kanannya, gerakan gadis itu sangat luwes, mematikan, dan dipenuhi teknik bertarung tingkat tinggi yang tidak mungkin dikuasai oleh seorang tabib biasa.
"Giliranmu," desis Kalyca dingin.
JLEPPP
"AAAAAAKKKKKHHH!"
Teriakan histeris Charlotte menggema saat sayatan dalam tercipta di lengan kanannya, membuat tongkat sihirnya terlepas dan jatuh ke lantai.
Erik dan Kalyca berdiri berdampingan, punggung mereka saling bersandar.
Sebuah kilasan memori masa lalu yang samar tiba-tiba melintas begitu cepat di benak Erik. Bayangan seorang wanita bergaun putih dengan tatapan tajam nya, berkelebat berdampingan dengannya di medan perang penuh darah berabad-abad lalu, membuat jantung Erik mendadak berdegup kencang, ada rasa rindu dan perasaan nyaman yang menyelimuti dadanya saat merasakan punggungnya bersandar pada gadis di sampingnya ini.
"Perasaan apa ini, kenapa rasanya sangat familiar?" batin Erik tertegun sejenak, melirik sekilas ke arah Kalyca yang tampak begitu tegas dan mematikan.
Di sisi lain, jantung Kalyca juga berdegup tak kalah kencang, aroma maskulin yang menguar dari tubuh Erik, ketegasan rahang pria itu, serta cara mereka bergerak seirama tanpa komando seolah membangkitkan kepingan jiwa masa lalunya.
Bayangan Imanuel, suami tercintanya di kehidupan pertama yang telah gugur membela dirinya, mendadak bersatu dengan sosok Grand Duke di sisinya saat ini.
"Imanuel? Tidak," batin Kalyca menggeleng cepat, mencoba fokus kembali pada musuh di depan, meski matanya sempat membelalak kaget merasakan kehangatan yang sama persis seperti yang dia rasakan dulu setiap kali berada di dekat Imanuel.
Charlotte yang terpojok dengan luka parah di lengannya menatap tajam ke arah dua anak muda di depannya dengan napas memburu, urat-urat di lehernya menonjol keluar akibat amarah yang memuncak.
"Kalian berdua benar-benar mencampuri takdir yang tidak seharusnya!" maki Charlotte dengan suara serak penuh kebencian.
"Jika aku harus mati hari ini, kalian berdua akan ku ciptakan menjadi abu bersama reruntuhan istana ini!" ucap Charlotte, penuh kebencian.
"Dia mau mengunci semua jiwa orang yang ada di sini!" seru Kalyca dengan mata melebar.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erik dan Kalyca bergerak serentak.
Erik menerjang maju dengan cepat, menghunuskan pedangnya tepat ke jantung Charlotte, sementara Kalyca melepaskan seluruh energi milik nya untuk mengunci pergerakan dan menutup jalur sihir wanita tua itu.
"MATILAH KAU, PENYIHIR TUA!" bentak Erik dan Kalyca bersamaan dengan suara menggelegar.
BOMMMM
DUARRRR
"AAAAAAAAAAKKKKHHHHH!"
Teriak Charlotte, menjerit keras dengan tubuh kejang-kejang.
"SIALAN! AKU TIDAK AKAN KALAH! AKU AKAN MEMBALAS KALIAN BERDUA!"
Teriak Charlotte, penuh dendam dan kebencian.
Dengan sisa energi yang Charlotte miliki, wanita tua itu pergi dari sana menggunakan sihir milik nya.
DUARRRRRRR
Aula istana tampak sangat berantakan dan hancur, sementara dalang dari kekacauan ini sudah pergi.
"Dia pergi," ucap Erik, dengan nafas memburu.
"Dia pergi, dan pasti suatu hari nanti akan datang lagi," ucap Kalyca, pelan.
Kalyca mengusap keringat di pelipis nya, dia tidak menyangka, Martinez benar-benar sudah di bangkitkan lagi, kini jiwa nya sudah menyatu dengan jiwa Charlotte.
"Yang Mulia," ucap Gale, menghampiri mereka dengan nafas memburu.
"Bagiamana keadaan di luar?" tanya Erik dingin.
"Banyak dari pasukan kita yang gugur dan kehilangan nyawa nya, Grand Duke," jawab Gale, menundukkan kepalanya.
Erik menghembuskan napas kasar, dengan rahang mengeras saat mendengar laporan Gale.
"Kumpulkan sisa prajurit yang masih hidup, periksa semua sudut istana, pastikan tidak ada lagi anak buah penyihir tua itu yang berkeliaran," perintah Erik tegas.
"Baik, Yang Mulia!" jawab Gale langsung membungkuk hormat dan bergegas pergi untuk melaksanakan perintah.
Suasana di dalam aula mendadak hening setelah kepergian Gale, hanya terdengar suara napas mereka yang masih sedikit memburu akibat pertarungan sengit barusan.
Erik membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Kalyca, pria itu menyilangkan tangan di dada, memperhatikan gadis di hadapannya dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik yang belum sepenuhnya hilang.
"Sebenarnya siapa kamu? Jangan katakan lagi kalau kamu hanyalah seorang tabib kelana biasa. Mana ada tabib kelana yang bisa bertarung seluwes dan seberani itu melawan penyihir hitam tingkat tinggi," ucap Erik dengan suara baritonnya yang berat, memecah keheningan.
Kalyca mendengus pelan di balik cadarnya, dia merapikan jubahnya yang sedikit kusut, lalu menaikkan kembali tudung hitamnya untuk menutupi kepala.
"Sudah saya katakan sebelumnya, Grand Duke. Di luar sana, ancaman datang dalam berbagai bentuk, kalau saya tidak bisa bela diri, saya mungkin sudah mati dibunuh monster sejak lama," jawab Kalyca tenang, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan menginterogasi dari sang Dewa Perang.
"Alasan yang klise, tapi, aku tidak akan memaksa untuk kamu jujur, setidaknya, untuk saat ini, karena kamu telah membantu menyelamatkan istana," ucap Erik mendengus, kesal.
"Saya heran, sejak kapan seorang Grand Duke Erik Klaus begitu perduli dengan kehidupan seseorang, sangat aneh," cibir Kalyca, tersenyum miring.
"Kau-"
Sebelum Erik sempat membalas ucapan itu, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekati aula utama.
Panglima Joel datang dengan napas terengah-engah, pria itu sedari tadi bertugas menjaga keamanan Ratu dan Raja Veldora, dia tidak tahu bahwa baru saja terjadi pertempuran sengit di sana.
"Grand Duke, Saya dengar ada ledakan hebat dan suara pertarungan di sini. Apa yang terjadi? Apakah Anda dan Tabib baik-baik saja?" tanya Joel, sopan.
"Hem, hanya manusia menjijikan yang datang untuk mengantar nyawa nya," jawab Erik, dingin.
"Maksud Anda?" tanya Joel belum paham.
"Seseorang yang memiliki sihir hitam," jawab Kalyca, singkat.
"A-apa!? Maksud nya yang datang menyerang adalah orang yang mengirimkan sihir hitam pada Yang Mulia Raja?" tanya Joel, membelalakkan matanya.
"Hem."
Jawab Erik dan Kalyca mengangguk lirih.
"Sialan! Dimana bedebah itu, akan ku bunuh dia! Berani nya dia menginjakkan kaki nya di istana ini, setelah apa yang sudah dia lakukan pada Yang Mulia Raja!" ucap Joel, mengepal kan tangan nya, marah.
makaci crazy up nya 😍👍