NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6.Makan malam

Suasana mansion Diksara pasca-badai drama di ruang tengah terasa seperti medan perang yang baru saja dijatuhi bom atom. Lea sudah pulang dengan wajah menanggung malu luar biasa, sementara Mamah Ratna langsung mengurung diri di kamarnya karena tensi darahnya mendadak naik. Tinggallah Damar yang masih berdiri diam di ruang tengah, mencoba menata kekacauan di kepalanya.

Di lantai atas, Naya sedang bersantai di dalam kamar mewahnya yang kini penuh dengan kantong-kantong belanjaan bermerek. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil memakai sheet mask beraroma green tea yang menyejukkan. Tangannya lincah menggeser layar ponsel, melihat-lihat katalog perhiasan terbaru yang ingin ia beli besok.

"Ah, nikmatnya hidup aji mumpung," gumam Naya riang di balik masker wajahnya. "Biarlah mereka emosi di bawah sana, yang penting uang kompensasi dua miliar aman di tangan empat bulan lagi!"

Tepat saat Naya sedang menikmati momen tenangnya, pintu kamar mendadak terbuka tanpa ketukan. Damar melangkah masuk. Pria itu sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai berwarna abu-abu gelap dan celana kain hitam, namun aura dingin nan dominannya tetap terpancar kuat.

Naya hanya melirik dari balik sheet mask-nya tanpa berniat bangun. "Mas Kulkas kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu napa? Untung saya lagi pake masker, kalau lagi pake baju duyung kan repot."

Damar mematung di dekat pintu. Ia memandangi istrinya yang berbaring santai dengan masker menempel di wajah, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas kekacauan yang baru saja ia ciptakan di bawah.

"Naya," panggil Damar dengan suara beratnya, melangkah mendekati tepi tempat tidur. "Kamu sadar enggak apa yang udah kamu lakukan sama Mama dan Lea tadi?"

Naya menghela napas malas, lalu mendudukkan tubuhnya perlahan agar maskernya tidak bergeser. "Sadar banget, Mas. Saya kan tidak amnesia. Saya cuma meluruskan fakta biar Mbak Pancong itu kagak kebiasaan caper sama suami orang, dan biar Tante Ratna sadar kalau menantunya ini bukan keset kaki."

"Tapi Lea itu tamu Mama," tegas Damar, mencoba mempertahankan posisi dan harga dirinya. "Dan kamu bicara soal perceraian serta uang kompensasi dua miliar di depan Mama seolah-olah pernikahan ini cuma bahan lelucon buat kamu."

Naya tertawa kecil dari balik maskernya. "Loh? Bukannya emang lelucon, Mas? Pernikahan karena utang budi, dibuatkan kontrak nikah 6 bulan, dilarang jatuh cinta, dan dijanjikan kompensasi. Yang bikin aturan itu kan Mas Damar sendiri! Kenapa sekarang Mas yang sewot pas saya ketaatan sama aturan itu?"

Damar terbungkam seketika. Kata-kata Naya menghantamnya tepat di ulu hati. Memang benar, semua aturan dingin itu adalah buatannya sendiri sebelum Naya dari dunia lain ini hadir. Tapi entah mengapa, mendengar Naya begitu patuh dan gembira menjalankan aturan itu justru membuat hati Damar panas bukan main.

"Sudahlah," potong Damar gusar, menutupi rasa canggungnya. "Mama minta kamu turun buat makan malam. Dan lepaskan masker konyol itu."

"Gak mau," tolak Naya cepat. "Masker ini harganya lima ratus ribu per lembar, Mas. Baru nempol sepuluh menit, sayang kalau dibuang. Lagian saya malas makan malam bareng Tante Ratna, nanti makanan mewah di meja terasa kayak kerikil."

Damar menatap Naya tajam. "Ini perintah, Naya. Turun atau saya—"

"Atau apa? Mau potong kompensasi saya?" potong Naya sambil memutar bolak-balik matanya. "Yaudah deh, demi dua miliar, saya mengalah!"

Dengan gerakan dramatis, Naya melepaskan sheet mask-nya, mengusap sisa-sisa serum di wajahnya dengan menepuk-nepuk pipinya, lalu bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan melewati Damar begitu saja, bahkan sempat menyenggol lengan tegap pria itu tanpa rasa sungkan. Damar tertegun, menghirup aroma green tea bercampur vanilla-jasmine yang mendadak memenuhi indera penciumannya.

Di ruang makan, suasana terasa luar biasa canggung. Mamah Ratna duduk di kepala meja dengan wajah cemberut dan mata melotot, sementara Bik Inah dan para pelayan menyajikan hidangan steak daging sapi dan sup krim dengan tangan gemetaran karena takut kena semprot.

Naya duduk di samping Damar dengan santai. Tanpa memedulikan tatapan maut dari Mamah Ratna, Naya langsung mengambil pisau dan garpu, meraih potongan steak terbesar di piring saji, lalu memindahkannya ke piringnya sendiri.

"Selamat makan semuanya!" seru Naya riang sebelum menyuap potongan daging sukulen itu ke dalam mulutnya. "Hmm! Dagingnya empuk banget! Bik Inah emang top!"

Mamah Ratna menggebrak meja makan pelan dengan sendoknya. "Naya! Di mana etika kamu?! Suami kamu belum ambil makan, kenapa kamu sudah makan duluan?!"

Naya berhenti mengunyah sejenak, menatap Mamah Ratna dengan wajah polos tanpa dosa. "Aduh, Tante Ratna... Mas Damar kan punya tangan lengkap. Masa cuma buat nyendok daging aja harus saya suapin? Lagian Mas Damar kan udah gede, bukan balita yang harus dilayani."

"Kamu!" dada Mamah Ratna kembang-kempis menahan murka. Ia menoleh ke arah Damar. "Damar! Kamu lihat kan?! Istri kamu ini bener-bener tidak punya kesopanan! Mama tidak sudi makan se-meja sama cewek kurang ajar seperti dia!"

Damar yang dari tadi diam, memegang pisau piringnya dengan kaku. Biasanya, ia akan selalu membela ibunya dan menatap Naya dengan dingin. Namun kali ini, ada desiran aneh di hatinya. Pria itu menyendok potongan dagingnya sendiri tanpa suara, lalu menatap ibunya tenang.

"Sudah, Ma. Biarkan Naya makan," ujar Damar pelan, suara beratnya menenangkan suasana.

Mamah Ratna menganga tak percaya. "Damar?! Kamu belain dia?!"

"Saya tidak membela siapa-siapa, Ma," sahut Damar dingin. "Saya cuma mau makan malam dengan tenang tanpa ada keributan lagi seperti tadi sore."

Naya yang mendengar ucapan Damar justru terkekeh pelan. Ia bersandar di kursinya sambil menatap Damar dengan lirikan penuh ejekan. "Tuh kan, Tante... Mas Kulkas aja lapar. Mending Tante makan deh, daripada nanti kena penyakit asam lambung gara-gara mikirin saya terus."

Mamah Ratna yang merasa terpojok dan tidak mendapat dukungan dari anaknya akhirnya memilih membisu dengan napas gusar. Sepanjang makan malam, hanya suara dentingan pisau dan garpu Naya yang terdengar ceria, sementara dua orang Diksara di meja itu makan dalam bungkam yang penuh ketegangan.

Setelah selesai makan malam, Naya segera meneguk air putihnya hingga kandas. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun.

"Terima kasih makan malam mewahnya! Saya mau naik ke atas dulu, mau stretching dan lanjut nonton drakor," pamit Naya riang. Sebelum melangkah pergi, ia menepuk bahu Damar pelan dua kali. "Mas Kulkas, jangan lupa guling pembatas di kamar jangan digeser ya! Bye-bye!"

Damar menegang saat telapak tangan halus Naya menyentuh bahunya. Kehangatan singkat itu seolah menyetrum aliran darahnya. Ia menatap punggung Naya yang berjalan menjauh dengan gaya santai dan percaya diri tinggi.

Di dalam benak Damar Diksara, sebuah benteng pertahanan yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan dingin dan kaku, malam ini mulai menunjukkan retakan-retakan kecil. Gadis yang dulu begitu lemah dan tidak berarti baginya, kini mendadak menjadi poros utama yang mengacak-acak seluruh jalan pikirannya.

Empat bulan lagi... dia beneran mau pergi bawa uang dua miliar itu? batin Damar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang pengusaha sukses merasa cemas akan sebuah kehilangan yang bahkan belum terjadi.

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!