Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
****
Suasana pusat perbelanjaan megah di jantung kota Italia hari itu terasa begitu hidup dan menyenangkan. Lampu-lampu etalase toko fashion ternama memancarkan kemewahan yang memanjakan mata. Suara tawa dan obrolan renyah memenuhi udara saat Clara dan Lyn melangkah menyusuri lorong-lorong butik eksklusif.
Mengingat jeda liburan yang makin menipis sebelum mereka harus terbang kembali ke Jakarta untuk memulai semester baru kuliah, Clara bertekad menggunakan sisa waktu ini untuk bersenang-senang sepenuhnya tanpa memedulikan tatapan dingin sang ayah.
"Lyn, lihat dress yang ini! Warnanya manis sekali, cocok untukmu!" seru Clara bersemangat seraya menarik sehelai gaun satin floral berpotongan anggun dari rak pameran.
Lyn tertawa pelan, binar kebahagiaan terpancar dari mata jernihnya. Kehadiran Clara berhasil mengalihkan sejenak bayang-bayang intimidasi dan aroma sandalwood milik Wiliam yang terus mengepung pikirannya.
"Bagus sekali, Clara," sahut Lyn riang. "Tapi aku rasa aku mau mengambil gaun pesta bernuansa pastel yang di sebelah sana."
"Sini, biar aku yang bayar semuanya! Anggap saja ini hadiah penghibur dariku," ujar Clara mantap seraya merogoh kartu kredit dari dalam tas mewahnya.
Lyn dengan cepat menggeleng halus dan menahan tangan sahabatnya seraya tersenyum lembut namun tegas. "Tidak perlu, Clara. Terima kasih banyak, tapi aku pakai uangku sendiri saja. Aku masih punya tabungan yang cukup untuk belanjaanku hari ini."
"Lyn, kamu ini bersikap terlalu sungkan padaku!" protes Clara terkekeh pelan. "Tapi baiklah, kalau itu kemauanmu, Lady Independent."
Sepanjang sore hingga malam merambat turun, keduanya menikmati saat-saat kebebasan yang manis. Mereka berburu pakaian baru, mencoba berbagai produk kosmetik edisi terbatas, hingga menikmati es krim gelato di pinggir jalanan kota. Lyn benar-benar merasakan kembali gairah jiwa mudanya—seorang gadis berusia 21 tahun yang polos, mandiri, dan bebas dari cengkeraman siapa pun.
Malam makin larut saat mereka kembali ke luxurious suite sebuah hotel berbintang tempat mereka menginap. Rasa lelah akibat mengelilingi pusat perbelanjaan seharian penuh akhirnya membuahkan hasil. Clara yang tak lagi sanggup menahan kantuk langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk kamar utama dan tertidur lelap dalam hitungan menit, masih dengan pakaian santainya.
Lyn mengulas senyum tipis melihat sahabatnya yang terlelap dengan pulas. Ia menarik selimut lembut untuk menutupi tubuh Clara, lalu berjalan perlahan menuju ruang tengah suite yang remang-remang. Hanya ada lampu meja bersemarak keemasan yang menyala, memberikan nuansa hangat sekaligus sunyi.
Lyn menghela napas lega, mendudukkan dirinya di tepi sofa kulit mahal seraya merenggangkan jemari kakinya yang pegal. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
KLIK.
Suara mekanisme kunci elektronik yang terbuka memecah keheningan ruangan. Pintu depan suite terdorong terbuka pelan.
Jantung Lyn seketika mencelos ke dasar perut. Seluruh sendi tubuhnya membeku.
Dari balik pintu, sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap melangkah masuk dengan anggun dan dingin. Wiliam telah menanggalkan jas mewahnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam buatan penjahit ternama dengan gulungan lengan hingga siku. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan garis dada bidang dan urat leher yang jantan. Wajah tampan bergaris keras itu memancarkan aura dominasi mutlak yang tak terelakkan.
Wiliam menutup pintu rapat-rapt, menguncinya kembali dari dalam dengan gerakan yang amat tenang.
"W-Wiliam...?" bisik Lyn panik setengah mati. Ia berdiri dari sofa dengan tubuh gemetar, matanya melirik cemas ke arah pintu kamar Clara yang sedikit terbuka. "Bagaimana bisa Anda... ini kamar kami! Clara sedang tidur di dalam!"
Wiliam tidak langsung menjawab. Langkah kaki pria tua itu mengikis jarak di antara mereka tanpa suara, bagaikan seekor pemangsa yang mengurung mangsa kecilnya di sudut ruangan. Aroma sandalwood yang kaya dan pekat seketika memenuhi seluruh indra penciuman Lyn, melumpuhkan pasokan oksigen di sekitarnya.
"Apakah kamu pikir pintumu yang terkunci sanggup menahanku keluar, Little Lady?" suara berat dan dalam milik Wiliam bergetar rendah di udara, dipenuhi amarah posesif yang ditahan secara dingin.
Lyn melangkah mundur hingga punggung mulusnya membentur dinding kayu suite. "Wiliam, tolong... keluar dari sini sebelum Clara terbangun..."
BRUK.
Sebelah tangan besar Wiliam terangkat dan mengunci dinding di samping kepala Lyn, sementara tangan lainnya mencengkeram pinggang ramping gadis itu dengan sentakan tegas, membawa tubuh mungil Lyn menempel tanpa celah pada dada bidangnya yang kokoh.
"Kamu bertindak terlalu berani hari ini, Lyn," bisik Wiliam di depan wajah Lyn, napas hangatnya yang beraroma whisky menyapu kulit leher Lyn yang sensitif. "Mencoba kabur dari pengawasan pengawalku, menikmati kebebasanmu seolah-olah kamu tidak terikat padaku..."
Mata jernih Lyn berkaca-kaca oleh rasa takut dan gejolak panas yang mendadak membakar dadanya. "S-saya hanya ingin belanja bersama Clara... saya tidak kabur!"
"Kamu sengaja menjauh dariku," potong Wiliam mutlak, jemari tangannya yang hangat dan kasar naik menangkup rahang lembut Lyn, memaksa gadis 21 tahun itu menatap langsung ke dalam mata sehitam malamnya. "Dan kamu tahu persis apa konsekuensi bagi gadis nakal yang mencoba melanggar aturan sang tuan."
"W-Wiliam... m-maksud Anda..."
"Aku datang untuk menagih hukumanmu," bisik Wiliam dingin namun dipenuhi rasa lapar yang pekat.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Lyn untuk memprotes atau meminta ampun, Wiliam menundukkan kepalanya dan membungkam bibir mungil Lyn dengan ciuman yang amat dalam, panas, dan menuntut kepatuhan mutlak.
"Mmph...!" Lyn melenguh tertahan, matanya membelalak sempurna saat lidah lihai pria paruh baya itu menyusup masuk, menyesap dan menguasai seluruh rongga mulutnya tanpa ampun.
Ciuman Wiliam begitu dominan dan sarat akan pikat pengalaman pria matang, melumpuhkan seluruh daya tolak Lyn dalam sekejap. Jemari tangan Wiliam yang besar meluncur ke bawah, menyusup ke balik gaun malam Lyn, membelai dan meremas lembut lekuk tubuh gadis itu dengan ritme yang lambat namun memabukkan.
Sentuhan intim di tempat tersembunyi—hanya berjarak beberapa meter dari kamar tempat sahabatnya tertidur—mengirimkan gelombang sengatan listrik yang dahsyat ke seluruh saraf Lyn.
"Ngg... hmph... W-Wiliam..." desah Lyn terbata-bata di sela-sela ciuman panas Wiliam, tangannya yang semula mencoba mendorong dada bidang sang pria kini justru meremas kain kemeja hitam Wiliam demi menahan tubuhnya yang lemas tak berdaya.
Wiliam memindahkan hisapannya ke rahang bawah Lyn, lalu turun menyesap kulit leher jenjang gadis itu, memberikan gigitan-gigitan kecil yang posesif dan meninggalkan jejak kemerahan terselubung di sana.
"Ingat rasa takut dan nikmat ini baik-baik, Lyn," bisik Wiliam tepat di telinga Lyn yang memerah panas, suaranya yang berat memburu di kulit halus gadis itu. "Semakin kamu mencoba menikmati kebebasan tanpa diriku... semakin keras aku akan menandai dan mengurung tubuh ini di sisiku."
Lyn memejamkan mata erat-erat, air mata kepasrahan dan keikmatan menetes pelan di pipinya. Di bawah bayang-bayang ancaman keberadaan Clara dan kungkungan posesif sang tuan berkuasa, Lyn menyadari satu hal: kebebasannya hanyalah ilusi semata, sebab seluruh jiwa dan tubuhnya telah sepenuhnya terkunci dalam genggaman pria paruh baya itu.
Bersambung.....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻