Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Bukan Lagi Pura-pura
Makan malam mereka berlangsung cukup santai di restoran.
Tidak ada pembicaraan serius.
Mereka hanya membicarakan hal-hal ringan, mulai dari pengalaman Yuda sebagai kurir saat bertemu orang aneh, dan Risa yang menerima pelanggan lucu.
Bahkan berbincang kejadian-kejadian kecil yang terjadi beberapa hari terakhir.
Risa sendiri baru menyadari satu hal.
Sejak masalahnya selesai beberapa hari yang lalu, dia tidak lagi merasa seberat sebelumnya.
Bahkan, dia mulai menikmati waktu yang dihabiskan bersama Yuda.
Padahal dulu mereka hanya sebatas kenalan yang sering bertemu karena pekerjaan.
Sekarang mereka bahkan bisa duduk berdua seperti ini dan berbicara tanpa merasa canggung.
Risa tanpa sadar tersenyum kecil.
Yuda yang melihatnya langsung bertanya, “Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Enggak ada.”
“Pasti ada.”
“Sudah, makan saja.”
Yuda terkekeh.
Memikirkan perubahan Yuda beberapa hari terakhir, Risa tanpa sadar mengangkat kepalanya menatap Yuda yang sedang makan.
Sikapnya memang masih sama seperti dulu.
Masih santai, masih suka bercanda, dan tidak banyak berubah meskipun sekarang dia sudah memiliki kekayaan yang mungkin bahkan sulit dibayangkannya.
Hanya saja...
Yuda sekarang jauh lebih berani menggoda.
Kadang-kadang bahkan terasa seperti bajingan.
Anehnya, Risa tidak benar-benar membencinya.
Setelah makanan mereka habis, keduanya bersiap meninggalkan restoran.
Risa mengambil tasnya, lalu berdiri.
Saat itulah muncul sedikit rasa enggan di dalam hatinya.
Entah kenapa, dia tidak ingin malam ini berakhir terlalu cepat.
Dia ingin terus berbicara dengannya lebih lama.
Namun sebelum Risa sempat mengatakan apa pun, Yuda sudah berjalan bersamanya keluar dari restoran.
Begitu sampai di parkiran, Yuda menaiki BMW M 1000 RR.
Melihat Risa sudah duduk di belakang dan mengenakan helm, Yuda langsung menyalakan mesin, lalu menjalankan motornya meninggalkan restoran.
Risa kembali memeluk pinggangnya seperti sebelumnya.
Kali ini, dia sudah jauh lebih terbiasa dengan posisi tersebut.
Tubuhnya perlahan mengikuti gerakan motor, sementara angin malam menerpa wajahnya dari balik helm.
Sesekali, aroma khas Yuda masih samar tercium ketika Risa semakin mendekat.
Untuk beberapa saat, Risa hanya menikmati perjalanan itu.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan ataupun masalah yang tadi membuatnya pusing.
Hanya suara mesin motor dan hembusan angin malam.
Momen sederhana seperti ini terasa cukup menyenangkan.
Risa tanpa sadar semakin merapatkan pelukannya.
Ia bersandar di pundak yuda lalu memejamkan matanya membiarkan dirinya menikmati perjalanan singkat itu, tanpa memikirkan apa pun.
Yuda yang merasakan pinggangnya di peluk makin erat, sudut mulutnya terangkat lebar di balik helmnya.
Beberapa menit kemudian.
Risa yang sejak tadi menikmati momen perjalanan, mulai menyadari bahwa jalan yang dilewati Yuda bukan arah menuju rumahnya.
'Ini bukan arah pulang.'
Dia sempat mengira Yuda mengambil jalan berbeda.
Tetapi setelah beberapa persimpangan terlewati, rasa penasarannya semakin besar.
Sebenarnya ia mengenal jalan ini menuju kemana, tapi ia memilih bertanya untuk memastikannya. “Yuda.”
“Hm?”
“Ini kita mau ke mana?”.
“Ke danau.”
“Danau BSD?”
“Iya.”
Risa sedikit bingung. "Kesana? ngapain?”
Yuda menjawab santai tanpa menoleh. “Kita pergi ke danau sebentar. Sayang banget kalau langsung pulang, baru jam 9 juga.”
Risa terdiam.
Namun Yuda kembali melanjutkan. “Lagipula, bukankah kamu pacar palsuku?”
“Apa hubungannya?”
“Ada lah, beberapa hari lagi kita akan pulang ke rumah ortuku. Kita harus latihan dulu.”
Risa langsung mengernyit. “Latihan?”
“Iya, mumpung aku senggang malam ini, dan... nanti kalau orang tuaku bertanya ke kamu tentang bagaimana awal hubungan kita, kamu bisa jawab?”
Risa sedikit tersenyum. "Memangnya harus latihan segala?”
“Harus dong.” Yuda terdengar begitu serius sampai Risa hampir tertawa.
“Kita mulai dari hal sederhana. Kamu harus tahu kesukaanku, aku juga harus tahu kesukaanmu. Makanan yang kamu suka, kebiasaanmu, hal yang nggak kamu suka, dan sebagainya.”
“Banyak banget.”
“Justru itu. Nanti kalau ditanya orang tuaku, kita bisa jawab dengan lancar tanpa kelihatan seperti akting.”
Risa berpikir sejenak, alasan Yuda sebenarnya masuk akal.
Bahkan sangat masuk akal.
Tapi tetap saja...
Kenapa harus ke danau?
Risa tahu suasana Danau BSD malam hari.
Tempat seperti itu cukup sering dipenuhi pasangan yang menghabiskan waktu berdua.
Pikirannya tiba-tiba melayang pada sesuatu yang lain.
Pipi Risa terasa sedikit panas, jantungnya juga berdegup kencang. 'Jangan-jangan...'
Dia segera membuang pikiran itu. 'Ah, aku terlalu banyak berpikir.'
Mungkin Yuda memang hanya ingin mempersiapkan mereka sebelum pulang kampung.
Lagipula, bukankah dia sendiri yang menyetujui hubungan palsu ini untuk balas budi padanya?
'Ya, ini hanya untuk balas budi, bukan sesuatu yang lain.' Risa mencoba menenangkan hatinya yang tidak tenang.
Meskipun ia berpikir begitu, dalam hati kecilnya juga ada sedikit harapan untuk hubungan mereka kedepannya.
Risa kembali menyandarkan tubuhnya.
Meski begitu, rasa penasaran itu tidak hilang.
Ada bagian kecil dalam dirinya yang justru ingin tahu apa yang sebenarnya Yuda pikirkan.
Dan yang aneh, dirinya tidak benar-benar keberatan jika malam ini mereka menghabiskan waktu lebih lama bersama.
Yuda tidak mengetahui pikiran Risa yang tidak tenang.
Ia fokus mengendarai motornya.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba di area Danau BSD.
Setelah memarkirkan BMW M 1000 RR, Yuda dan Risa berjalan menyusuri tepian danau.
Udara malam terasa cukup sejuk.
Lampu-lampu di sekitar danau memantul di permukaan air, membuat suasananya terasa jauh lebih tenang dibandingkan jalanan yang baru saja mereka lewati.
Awalnya mereka hanya berjalan santai.
Yuda sesekali membicarakan hal-hal ringan, sementara Risa menanggapi sambil menikmati suasana.
“Kalau nanti orang tuamu bertanya makanan kesukaanmu, kamu jangan sampai salah jawab,” kata Yuda.
Risa terkekeh.
“Memangnya kamu mau menguji aku malam ini?”
“Bisa saja.”
“Kalau begitu aku juga akan menguji kamu.”
“Silakan.”
Mereka terus berjalan sambil sesekali tertawa kecil.
Tanpa disadari, langkah mereka membawa keduanya semakin jauh dari area yang ramai.
Suasana terasa lebih tenang.
Hanya ada beberapa orang yang masih berjalan-jalan.
Kebanyakan adalah pasangan muda.
Ada yang berjalan sambil berpegangan tangan, beberapa duduk berdekatan, bahkan ada pasangan yang saling berpelukan tanpa memedulikan keadaan sekitar.
Risa yang awalnya tidak terlalu memperhatikan akhirnya mulai sedikit malu.
Di depan mereka, sepasang kekasih sedang bersandar satu sama lain di bangku.
Tidak jauh dari sana, pasangan lain bahkan sedang berciuman.
Risa langsung memalingkan wajah.
Wajahnya terasa panas.
Kenapa isinya pasangan semua?
Dia kembali melihat sekeliling.
Hampir semuanya anak muda.
Melihat mereka, Risa tiba-tiba merasa sedikit canggung.
Usianya sudah tiga puluh tahun.
Sementara orang-orang di sekitarnya terlihat jauh lebih muda darinya.
Apa aku memang sudah terlalu tua untuk tempat seperti ini?
Pikiran itu membuat langkah Risa sedikit melambat.
Tanpa sadar, dia melirik ke samping.
Yuda masih berjalan santai di sebelahnya.
Pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu dengan suasana di sekitar mereka.
Tidak memperhatikan pasangan yang sedang bermesraan.
Tidak pula melihat ke arah orang-orang yang berciuman.
Dia hanya berjalan sambil sesekali melihat pemandangan danau.
Risa menatapnya beberapa saat.
Dia santai sekali...
Melihat sikap santai Yuda, justru membuatnya sedikit lebih tenang.
Risa kembali berjalan di sampingnya.
Namun kali ini, jarak mereka terasa sedikit lebih dekat.
Bahu mereka beberapa kali hampir bersentuhan.
Dan Risa tidak lagi berusaha menjauh.
Di tengah suasana aroma pasangan muda yang gairah, Risa berusaha bersikap senormal mungkin.
Meski beberapa kali matanya tanpa sadar melirik pasangan-pasangan muda di sekitar mereka, dia tetap berusaha terlihat santai.
Seolah dirinya sama sekali tidak merasa canggung berada di tempat seperti ini.
Padahal, semakin lama mereka berjalan, semakin Risa merasa sedikit salah tempat.
Sampai akhirnya, Yuda melihat sebuah bangku panjang yang kosong di sisi jalur pejalan kaki.
Tanpa mengatakan apa-apa, Yuda tiba-tiba meraih tangan Risa.
“Eh?”
Risa sedikit terkejut ketika tangannya ditarik.
Yuda membawanya menuju bangku panjang tersebut, lalu duduk dengan santai.
“Duduk, kita istirahat disini.”
Risa masih berdiri sesaat sambil menatap tangan mereka yang baru saja dilepaskan.
Entah kenapa, sentuhan singkat itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Dia kemudian menghela napas kecil dan duduk di sampingnya.
Saat duduk di bangku, Yuda berdiam diri.
Dia hanya duduk santai sambil memandang permukaan danau yang diterangi lampu-lampu di sekitarnya.
Risa yang duduk di sampingnya akhirnya menghela napas lega.
Setidaknya dia tidak perlu berjalan lagi di tengah suasana yang membuatnya sedikit canggung.
Namun, ketenangan itu ternyata tidak bertahan lama.
Beberapa detik berlalu.
Yuda masih diam.
Risa mulai meliriknya dari sudut mata. 'Kenapa dia diam?'
Semakin lama Yuda tidak berbicara, semakin gugup dirinya.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah setelah mereka duduk di tempat yang lebih sepi ini, sesuatu akan terjadi di antara mereka.
Risa menelan ludah pelan.
Dia bahkan tidak tahu kenapa dirinya menjadi gugup seperti ini.
Padahal mereka hanya duduk berdua.
Tidak ada yang aneh.
Namun, suasana malam dan jarak mereka yang cukup dekat membuat pikirannya mulai ke mana-mana.
Akhirnya, karena tidak tahan dengan keheningan tersebut, Risa membuka mulutnya.
“Tadi...” Risa berhenti sebentar, lalu menoleh ke arah Yuda. “Waktu di telepon, kamu bilang ada sesuatu yang mau dibicarakan, kan?”
Yuda akhirnya mengalihkan pandangannya kepadanya.
“Iya.”
Jawaban singkat itu justru membuat Risa semakin gugup.
“Apa?”
Risa berusaha bertanya dengan nada biasa, meskipun tanpa sadar jemarinya mulai saling menggenggam di atas pangkuannya.
Yuda tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap Risa beberapa saat.
Tatapan itu membuat Risa semakin tidak nyaman.
Bukan karena takut.
Justru karena dia merasa seolah-olah sudah bisa menebak bahwa pembicaraan mereka malam ini mungkin akan mengubah sesuatu di antara mereka.
Dan benar saja, ketika Yuda membuka mulutnya, tubuh Risa seketika membeku.
"Risa, bagaimana kalau kita berhenti berpura-pura?"
Nada suara Yuda terdengar lebih serius daripada biasanya.
“Hah?” Risa berusaha memasang wajah bingung di tengah kepanikan yang mulai memenuhi pikirannya.
Sebenarnya dia tahu ke mana arah perkataan Yuda.
Hanya saja, Risa Belum berani mengakuinya. “Maksudmu?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, seolah-olah dia benar-benar tidak mengerti.
Padahal, jauh di dalam hatinya, ada satu jawaban yang sejak tadi membuat jantungnya berdebar.
“Aku ingin hubungan kita bukan lagi sekadar pura-pura.” Yuda menatap wajah cantik didepannya dengan serius.
Jantung Risa seakan berhenti sesaat.
Tanpa memberi kesempatan menjawab, Yuda melanjutkan... “Aku ingin kamu menjadi pacarku. Bukan sebagai bagian dari kesepakatan kita, tapi benar-benar sebagai pacarku.”
Kali ini, tidak ada nada bercanda dalam suara Yuda.
Hanya ketulusan yang membuat Risa semakin gugup.
“Aku...” Risa membuka mulutnya, hendak menjawab.
Namun, sebelum sempat berkata apa-apa, Yuda langsung mencium bibir merahnya.
Bab Berakhir.