Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Ruang tunggu," Elara menjelaskan dengan nada sabar, seolah-olah ia sedang menjelaskan konsep antrian di bank kepada neneknya. "Di desa kuno saya, kalau Anda datang ke kantor pemerintahan dan belum jelas urusan Anda masuk kategori apa, Anda duduk di ruang tunggu. Nanti ada petugas yang memanggil Anda berdasarkan nomor antrian."
Elara mengangkat satu jari. "Logikanya sederhana. Dewa Matahari itu Maha Bijaksana, kan? Kalau Dia Maha Bijaksana, Dia tidak akan membuang jiwa ke tempat yang salah hanya karena orang itu 'abu-abu'. Itu tidak efisien. Lebih masuk akal kalau ada sistem antrian di alam baka. Jiwa yang jelas baik langsung masuk surga. Jiwa yang jelas jahat langsung masuk neraka. Jiwa yang abu-abu? Mereka duduk di ruang tunggu sampai ada audit lebih lanjut."
Valerius menatap Elara. Mulutnya sedikit terbuka. Para pendeta di belakangnya saling berpandangan dengan bingung.
"Itu.. itu bukan doktrin resmi," kata Valerius pelan.
"Tapi itu logis, kan?" Elara menatapnya. "Kalau Dewa Maha Bijaksana, sistem-Nya pasti efisien. Sistem yang hanya punya dua kategori untuk miliaran jiwa itu tidak efisien. Itu namanya binary classification yang buruk. Di desa kuno saya, bahkan sistem penyortiran sampah punya empat kategori."
Seorang pendeta tua di belakang Valerius terbatuk. "Eh.. secara teknis argumen tentang efisiensi Ilahi itu.. tidak sepenuhnya salah secara teologis.."
Valerius menoleh dan menatap pendeta itu dengan tajam, membuat pria tua itu langsung diam.
"Baiklah," ucap Valerius, suaranya sedikit lebih tegang. "Pertanyaan kedua. Seorang petani miskin menemukan sekantong emas di ladangnya. Emas itu jatuh dari kereta seorang pedagang kaya yang tidak menyadarinya. Jika petani itu mengembalikan emas itu, ia akan tetap miskin. Jika ia menyimpannya, ia bisa memberi makan keluarganya selama setahun. Apa yang harus ia lakukan menurut hukum Dewa?"
Ini adalah pertanyaan moral klasik yang dirancang untuk menjebak. Jawaban "mengembalikan" menunjukkan kesalehan tapi mengabaikan penderitaan. Jawaban "menyimpan" menunjukkan empati tapi dianggap pencurian. Kedua jawaban bisa didebat sebagai bidat tergantung interpretasi.
Elara menatap Valerius. "Petani itu harus mengembalikan emasnya."
Aurelia tersenyum puas. Akhirnya, jawaban yang bisa diserang.
"Tapi," lanjut Elara, "dia harus mengembalikan emasnya sambil melaporkannya kepada petugas pajak lokal sebagai 'temuan harta tak bertuan'. Berdasarkan hukum sipil Aethelgard pasal 47 ayat 3 tentang Temuan dan Penemuan, barang yang ditemukan harus dilaporkan dalam waktu tiga puluh hari. Jika pemilik asli tidak mengklaim dalam waktu sembilan puluh hari, barang itu menjadi milik penemu setelah dipotong pajak sepuluh persen."
Elara menatap Valerius dengan tatapan datar. "Jadi, petani itu mengembalikan emasnya, pedagang kaya mendapatkannya kembali, dan petani itu mendapat hadiah temuan yang sah secara hukum. Kalau pedagang kaya itu baik, dia mungkin memberi petani itu bonus. Kalau tidak, setidaknya petani itu sudah membangun reputasi sebagai orang jujur, yang bisa dia gunakan untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Itu namanya long-term investment in personal branding."
Keheningan yang absolut.
Valerius menatap Elara seolah-olah ia baru saja melihat seseorang menyelesaikan teka-teki rubik dengan kaki sambil makan mie.
"Itu.. itu bukan jawaban teologis," kata Valerius, suaranya terdengar sedikit putus asa.
"Itu jawaban praktis," koreksi Elara. "Dewa Matahari memberi manusia otak untuk berpikir, bukan hanya untuk berdoa. Kalau petani itu mengembalikan emas tanpa strategi, dia tetap miskin dan keluarganya tetap lapar. Itu bukan kesalehan, itu kebodohan yang berkedok moralitas. Dewa tidak suka orang bodoh."
Pendeta tua yang tadi terbatuk kini mengangguk-angguk dengan antusias. "Dia benar tentang pasal 47 ayat 3! Saya pernah membacanya! Hukum sipil memang mengatur itu!"
Valerius menatap pendeta itu lagi, kali ini dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Pertanyaan terakhir," ucap Valerius, suaranya kini terdengar lebih rendah dan lebih berbahaya. Ia melangkah lebih dekat ke Elara. Udara di sekitarnya terasa semakin dingin. "Ini bukan pertanyaan dari kitab suci. Ini adalah pertanyaan dari saya pribadi."
Valerius mencondongkan tubuhnya, menatap tepat ke manik mata Elara.
"Siapa kau sebenarnya?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi bobot di baliknya sangat berat. Elara bisa merasakan bahwa ini bukan pertanyaan tentang identitas sebagai selir. Valerius sedang bertanya tentang sesuatu yang lebih dalam. Seolah-olah ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang salah tentang jiwa Elara.
Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia ini, Elara merasakan dingin yang nyata merambat di tulang punggungnya. Tanda di pergelangan tangannya berdenyut pelan.
Dia tahu, atau setidaknya, dia mencurigai. Inkuisitor ini bukan NPC biasa. Dia punya kemampuan spiritual yang nyata.