Janitra Widari Pramudya memutuskan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, ia tinggal di luar negeri selama lima tahun karena melanjutkan kuliah. Orang tuanya telah meninggal dunia sejak enam tahun yang lalu karena kecelakaan.
Janitra akhirnya menerima perjodohan dari Keluarga Syailendra sesuai wasiat mendiang kakeknya. Janitra baru mengetahui ternyata dirinya dijodohkan dengan Kresna Maharaja Syailendra sejak lama. Bagi Janitra, Kresna adalah cinta pertamanya.
Aku mencintainya sederas hujan. Namun, dia memilih untuk membangun tembok setinggi langit~Janitra.
Jangan pernah melangkah jauh menembus batasan yang sudah aku terapkan karena itu percuma saja. Kita menikah bukan karena cinta. Hanya sebatas utang budi keluarga. Aku harap kamu tidak pikun~Kresna.
Simak kisah mereka.💋💋
Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Air Mata Pernikahan
Awalnya Kresna merasakan sedih di hatinya kala melihat air mata Janitra jatuh membasahi wajah cantik itu. Namun, otaknya kembali mengingat pertemuan Janitra dengan Dewa di cafe beberapa saat yang lalu.
Alhasil membuat Kresna kembali menatap tajam ke arah Janitra. Terlebih baru saja istrinya itu menampar pipinya. Dalam hidupnya, kali kedua wajahnya ditampar oleh seseorang yang ia sayangi.
Di masa lalu, ayahnya yakni Rama Barata pernah menamparnya. Sekarang, Janitra.
"Aku sudah pernah bilang padamu jaga sikap! Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah ngumbar (mempertontonkan) kemesraanmu sama pria lain di depan umum!" tuduh Kresna.
"Kemesraan yang bagaimana?" sahut Janitra mempertanyakan maksud tuduhan dari Kresna barusan. "Mas Dewa kan masih kerabat Gusti, bukan orang lain."
"Opo kowe ora ngerti (apa kamu tidak tau)? Dewa itu dari dulu suka sama kamu!" desis Kresna.
"Apa ? Suka?" Janitra cukup terkejut.
"Jangan pura-pura bodoh!"
"Saya sama Mas Dewa cuma berteman biasa, tak lebih. Gusti jangan salah paham. Apa yang dilihat mata belum tentu seperti asumsi yang disimpulkan," ucap Janitra berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Alasan !" seru Kresna yang masih tak menerima penjelasan Janitra barusan.
"Saya tak tau jika memang Mas Dewa punya perasaan lebih dari sekadar teman. Tapi satu yang pasti, saya hanya menganggap Mas Dewa sebagai kakak sekaligus teman yang baik, tak lebih. Terserah Gusti mau percaya atau tidak, tetapi itu kenyataannya."
Janitra menjeda ucapannya sejenak sembari menyeka air matanya.
"Lagi pula saya terkejut kenapa Gusti marah seperti ini. Bukankah sebelumnya saya sudah mengirim pesan ke ponsel Gusti bahwa siang ini saya minta izin untuk minum kopi dengan Mas Dewa sembari membahas koas di Satya Medika," sambungnya.
"Gak ada pesan dari kamu ke ponselku. Ojok ngelindur kowe (jangan mengigau kamu) !!"
"Masa?"
"Kamu gak percaya?"
"Saya sebelumnya telepon berkali-kali gak dijawab sama Gusti. Lalu, saya kirim pesan ke ponsel Gusti dan terbaca. Gusti justru balas pesan saya dan bilang 'Ok'. Jadi saya berpikir semua baik-baik saja karena Gusti sudah mengizinkan," ungkap Janitra.
"Sekarang kamu tuduh aku yang bohong, begitu?" bentak Kresna.
"Bukan seperti itu, Gusti. Saya hanya menjelaskan apa yang terjadi,"
"Lihat nih ponselku! Gak ada pesan atau telepon apapun dari kamu!" desis Kresna seraya membuka ponselnya lalu menunjukkannya pada Janitra.
Hasilnya memang di log panggilan masuk dan pesan WA tak ada dari Janitra ke ponsel Kresna.
Janitra terdiam sejenak. Ia merasakan keanehan di sini. Lalu, ia mengambil ponsel miliknya dari dalam tas.
"Coba Gusti lihat sendiri ponselku," ucap Janitra seraya menunjukkan ponsel miliknya pada Kresna.
Awalnya Kresna enggan melihatnya. Ia sedang marah pada Janitra perkara di cafe dengan Dewa. Akan tetapi, akhirnya ia mau melihat isi ponsel milik istrinya itu.
"Kok aneh ya? Kenapa bisa begini?" batin Kresna setelah melihat fakta bahwa di ponsel Janitra memang betul sudah melakukan panggilan tak terjawab ke ponsel miliknya dan mengirimkan pesan.
Bahkan ada balasan pesan dari ponsel Kresna ke Janitra. Padahal seingatnya, Kresna tak pernah membaca apalagi membalas pesan dari istrinya itu.
"Apa jangan-jangan Mbak Mayang yang melakukan semua ini agar Mas Kresna salah paham denganku?" batin Janitra menebaknya.
☘️☘️
"Oh ya, Gusti. Apa tadi Mbak Mayang menyampaikan pesan saya untuk Gusti?" pancing Janitra.
"Pesan apa?" tanya Kresna. "Mayang gak ada sampaikan apapun ke aku," imbuhnya.
Deg...
Kresna mendadak teringat dengan Mayang. Ia lupa jika tadi dirinya pergi bersama Mayang ke cafe. Kini ia pulang dengan Janitra dan melupakan Mayang yang masih tertinggal di cafe.
"Mayang pasti bisa pulang sendiri naik taksi online," batin Kresna.
Janitra akhirnya menceritakan pada Kresna bahwa tadi dirinya menghubungi resepsionis kantor utama Royal Grup lalu dihubungkan ke ruangan CEO. Dikarenakan Janitra sudah berusaha berulang kali telepon ke ponsel Kresna, tetapi tak diangkat.
Di ruangan CEO, telepon Janitra diangkat oleh Mayang. Lalu, Janitra menitipkan pesan pada Mayang untuk disampaikan ke Kresna. Inti pesannya bahwa Janitra hendak pergi minum kopi dengan Dewa.
"Apa Mbak Mayang sudah menyampaikan hal itu ke Gusti?" tanya Janitra.
"Gak ada," jawab Kresna.
Janitra hanya mampu terdiam.
Kini ia sangat yakin bahwa Mayang yang melakukan semua ini. Saat hendak bersuara kembali untuk membela dirinya, Janitra urung melakukan karena Kresna sudah memutuskan.
"Kita tak perlu libatkan orang lain dalam urusan pernikahan ini. Kamu tetap salah karena sudah jalan dengan Dewa tanpa seizinku! Titik !" putus Kresna yang masih dalam mode cemburu berat sekaligus amarah yang tidak jelas.
Kresna tentu masih gengsi mengakui dirinya juga bersalah pada Janitra atas sikapnya yang terlalu berlebihan atau kasar.
Sepanjang sisa perjalanan hingga mobil mereka tiba di halaman Kasepuhan, hanya menyisakan keheningan.
Janitra memilih untuk menahan rasa sebah di hatinya. Ia memalingkan wajahnya guna menatap ke arah jendela mobil.
Sedangkan Kresna juga melakukan hal yang sama. Walaupun sesekali ia mencuri pandang ke arah Janitra yang duduk di sebelahnya.
Mobil berhenti.
Sopir pun telah keluar terlebih dahulu. Menyisakan dua anak manusia yang berstatus suami-istri berada di dalamnya. Janitra dan Kresna.
"Saya minta maaf sudah menampar Gusti tadi. Saya juga minta maaf kalau sudah membuat Gusti marah karena dalem pergi dengan Mas Dewa. Ke depannya saya akan menjaga jarak dengan beliau. Saya pamit masuk dulu. Terima kasih sudah ngantar saya pulang ke Kasepuhan," ucap Janitra lirih tanpa menatap Kresna.
Ceklek...
Derit pintu mobil dibuka oleh Janitra dan wanita itu turun tanpa ada protes menggema.
Kresna hanya mampu menatap punggung Janitra yang berjalan masuk ke Paviliun Teratai.
BUGH !!
Tiba-tiba Kresna memukul kencang kursi yang ada di depannya dengan kepalan tangan kanannya.
Entah mengapa melihat Janitra berucap lirih seperti tadi tanpa melihat dirinya, jauh lebih menyakitkan ketimbang wanita itu marah meluap-luap padanya.
Ada segumpal daging di hatinya yang terasa perih seperti ditusuk sembilu tajam.
"Apa kali ini aku memang keterlaluan padanya, ya Tuhan?" batin Kresna.
Bersambung...
🍁🍁🍁
gak bisa tidur karna belum berendam racikan rempah cinta ala janitra
wahhh KY nya ada yang mau unboxing nihh😅😅😅
kresna butuh di ninabobokan sama janitra😄