Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita yang Tertahan
Entah berapa lama Danti menangis di bahu Nadia. Cukup lama hingga kopi di cangkirnya berhenti mengepul, cukup lama hingga pelayan yang lewat memilih memutar jalan agar tak mengganggu.
Perlahan isaknya mereda, berganti tarikan napas yang tersendat. Danti menegakkan tubuh dan mengusap pipinya dengan punggung tangan. Wajahnya sembap, hidungnya merah, dan ia tertawa kecil karena malu.
"Maaf, Nad. Bajumu basah."
"Baju bisa dicuci." Nadia menyodorkan tisu dari tasnya, lalu menggeser gelas air putih ke depan Danti. "Minum dulu. Pelan-pelan."
Danti menurut. Air dingin itu mengalir turun, menenangkan tenggorokannya yang perih.
Nadia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya duduk di sebelah Danti, menopang dagu, sesekali mengusap punggung tangan sahabatnya dengan ibu jari.
.Di luar jendela, awan bergeser pelan dan daun beringin bergoyang tertiup angin. Dunia terus berjalan, tetapi di meja kecil itu, waktu diberi izin untuk berhenti.
Beberapa menit berlalu. Danti memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu membukanya kembali.
"Aku bakal cerita," katanya lirih. "Tapi... tolong jangan potong dulu ya."
"Janji."
Danti bercerita tanpa menangis lagi, dengan suara datar dan pelan. Mungkin karena air matanya sudah habis. Mungkin karena ia terlalu lama menyimpan semua itu hingga rasanya sudah mati rasa.
Saat ia selesai, hening menggantung di antara mereka.
Rahang Nadia mengeras. Buku-buku jarinya memutih di sekeliling cangkir kopi. Pipinya memerah, bukan karena kopi, dan matanya menyala dengan kemarahan yang sudah ia tahan sepanjang cerita.
"Brengsek," desisnya.
Danti mengerjap.
"Maksudku, BRENGSEK!" Nadia menepuk meja pelan hingga sendok bergemerincing. Beberapa pengunjung menoleh, tapi ia tak peduli. "Laki-laki macam apa itu? Istrinya sendiri dijadiin bahan lawakan! Dibiarin kelaparan! Dan ibunya, ya Tuhan, ibunya itu... itu orang apa tukang rampok sih! Bawa wadah plastik sendiri buat nyolong sarapan orang!"
"Nad..."
"Nggak, biarin aku ngomong. Orang sinting! Mertua kayak gitu mestinya dilaporin ke RT! Dan suaminya, ya ampun, cowok model apa yang ngasih tiga juta buat arisan ibunya tapi nggak mau ngasih beras buat istrinya? Mental pengecut! Bajingan! Kalau aku ketemu dia, aku..."
Nadia berhenti.
Ia mengerjap, seolah baru tersadar sedang berada di mana. Wajahnya perlahan berubah, kemarahan di sana surut digantikan rasa canggung yang tak terduga.
"Eh..." Ia menggigit bibir. "Dan, maaf. Aku... aku kelepasan. Nggak seharusnya aku ngomong gitu soal suami kamu. Dia tetap suamimu. Aku nggak punya hak..."
Danti menatapnya beberapa detik. Lalu bahunya mulai berguncang.
"Dan?"
Tawa kecil lolos dari bibirnya. Lalu membesar. Danti menutup mulut dengan tangan, tapi tak bisa menahan. Dan sebentar kemudian ia tertawa sungguhan, tawa yang ditemani sisa air mata di sudut matanya.
"Kamu nggak perlu minta maaf, Nad," ucapnya di sela napas. "Semua yang kamu bilang itu benar. Aku malah... lega ada yang bilang gitu."
Nadia terpaku. Lalu ikut tertawa. Tawa mereka pecah bersamaan, keras dan agak histeris, membuat pengunjung di meja sebelah menoleh lagi. Kali ini Danti tak merasa malu. Entah kapan terakhir ia tertawa sebebas itu.
"Pengecut!" ulang Nadia sambil terkikik.
"Tukang rampok sarapan!" tambah Danti.
"Mertua lintah!"
"Nad, stop, perutku sakit!"
Mereka tertawa sampai kehabisan napas, sampai Nadia mengusap matanya yang berair. Perlahan tawa itu surut, meninggalkan keheningan yang lebih hangat dan ringan dibanding sebelumnya.
Nadia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, lalu meletakkannya kembali. Ketika ia menatap Danti lagi, matanya telah berubah. Lebih lembut, lebih hati-hati.
"Dan, aku mau nanya sesuatu. Boleh?"
"Boleh."
"Soal program hamil itu..." Nadia memilih kata dengan cermat. "Kamu sendiri gimana? Maksudku, kamu bener-bener pengin punya anak sekarang? Atau... kamu lagi ngejalaninnya karena ya, karena merasa harus?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, sederhana, tapi terasa seperti menekan luka yang belum disadari.
Danti terdiam lama. Jarinya memainkan sendok kecil di tatakan cangkir.
"Aku nggak tahu, Nad," katanya akhirnya, sangat pelan. "Dulu aku pikir aku tahu. Aku pengen punya anak yang punya mata kayak Mas Rizal waktu dulu, waktu dia masih lembut. Aku pikir, kalau ada anak rumah kami bakal jadi lebih hangat." Ia menggigit bibir. "Tapi sekarang... melihat Mas Rizal yang kayak gini..."
"Kamu ragu."
"Aku bingung," koreksinya. "Takut."
Nadia mengangguk perlahan, tidak memotong.
Danti menghela napas. "Kamu tahu sendiri, aku nggak punya keluarga. Tapi keluarga Mas Rizal... tiap kali ada arisan atau lebaran, pertanyaan pertama selalu soal anak. 'Kapan punya momongan?' 'Udah berapa tahun nikah, kok belum ada?' Ibu bahkan pernah bilang di depan semua orang..." Suaranya tersendat. "...bahwa mungkin aku mandul. Bahwa Rizal sial dapat istri kayak aku."
Mata Nadia menyipit. Tangannya mengepal di atas lutut, tapi ia menahan diri.
"Dan Mas Rizal?" tanyanya tenang. "Waktu Ibunya bilang begitu, dia ngapain?"
Danti tersenyum pahit. "Diam, ikut tertawa lalu bilang, Ibu bercanda aja Dan."
"Dan waktu orang-orang di pesta ngatain kamu gendut? Waktu temannya bilang kamu harus jaga badan biar suamimu nggak kabur?"
"Dia nggak bilang apa-apa." cicit Danti.
"Dan waktu kamu nangis di mobil?"
"Dia bilang aku baperan."
Nadia menghela napas panjang. Lalu, tanpa memutus tatapan, ia meraih kedua tangan Danti dan menggenggamnya erat.
"Danti, dengerin aku baik-baik ya."
Danti menatapnya.
"Aku nggak minta kamu ninggalin siapa-siapa. Aku nggak minta kamu ngambil keputusan apa pun hari ini. Itu hidupmu, dan keputusannya milik kamu." Suara Nadia pelan namun tegas. "Tapi tolong, mulai sekarang pikirin diri kamu sendiri dulu. Sebelum mikirin Rizal, sebelum mikirin ibunya, sebelum mikirin pertanyaan semua orang."
"Nad..."
"Baru begini aja kamu udah dihina habis-habisan. Dibikin lapar. Dibikin merasa kecil. Itu cuma karena badan kamu melar sedikit." Ia menggeleng. "Sekarang bayangin nanti, kalau kamu hamil. Kalau badan kamu berubah jauh lebih banyak. Kalau kamu mual tiap pagi, kaki bengkak, nggak bisa tidur telentang. Kalau kamu melahirkan, berdarah-darah, pulang dengan jahitan yang sakit, dan harus bangun tiap dua jam buat ngasih ASI. Kamu bakal capek luar biasa, Dan. Fisik, pikiran, semuanya. Bahkan buat tidur nyenyak satu malam aja kamu nggak bisa."
Danti menelan ludah. Matanya mulai berkaca lagi.
"Dan di saat itu, kamu butuh seseorang yang nopang kamu. Yang bilang, 'Kamu hebat.' Yang gantiin kamu jaga bayi supaya kamu bisa tidur. Bukan orang yang bilang kamu gendut. Bukan orang yang ninggalin kamu sendirian di pojok pesta."
Kalimat-kalimat itu jatuh satu per satu ke dalam hati Danti, berat dan jernih. Seperti batu yang jatuh ke air tenang dan menciptakan riak yang menjalar jauh.
Ia belum pernah membayangkannya sejauh itu. Selama ini ia hanya memikirkan anak, bukan siapa yang akan bersamanya ketika anak itu ada.
Danti diam. Ia menatap jemarinya yang digenggam Nadia, kulit hangat di atas kulit yang selama ini terlalu sering dingin.
Nadia tidak mendesaknya. Ia hanya menunggu, dan sorot matanya berkata lebih banyak daripada kata-kata.
Akhirnya Danti mengangguk pelan, hampir tak terlihat.
"Aku... bakal mikirin semuanya, Nad," bisiknya. "Aku janji."
"Itu aja udah cukup." Nadia tersenyum, lalu meremas tangannya sekali lagi. "Kamu nggak sendirian lagi. Ingat itu."
Nadia yang paling benci keheningan yang terlalu sendu, ia menepuk meja kecil-kecil seperti pembawa acara yang hendak mengganti topik.
"Oke! Cukup drama untuk hari ini. Sekarang giliran aku yang cerita."
Danti mengusap pipi. "Cerita apa?"
"Kencan buta."
Danti mengangkat alis. "Kamu? Kencan buta?"
"Iya! Dikenalin sama teman sekantorku, namanya Bu Retno. Katanya, 'Nadia, kamu harus ketemu keponakan saya. Orangnya baik, mapan, sopan.' Aku pikir ya udahlah, siapa tahu." Nadia mencondongkan tubuh, wajahnya mendadak dramatis. "Kami janjian di restoran Jepang. Aku datang, dia datang, kelihatannya normal, ganteng juga. Tapi pas dia duduk di sebelahku..."
"Apa?"
"Dan, aku nggak bisa jelasin baunya." Nadia menutup hidung dengan satu tangan, matanya melebar. "Bayangin kaus kaki basah yang direndam semalam, dicampur bawang goreng, terus dijemur di bawah matahari dua hari. Dan itu bukan bau biasa. Itu bau yang punya kepribadian."
Danti sudah menutup mulut, bahunya mulai bergetar.
"Aku coba tahan. Beneran, suer. Aku senyum, ngangguk-ngangguk pura-pura dengerin dia cerita soal kariernya. Tapi pas pelayan dateng bawa sup miso panas, uapnya naik bercampur sama... itu..." Nadia memegangi perutnya. "Dan, aku muntah. Di meja. Di depan dia. Ke mangkuk supku sendiri."
"NADIA!" Danti tertawa sampai terbungkuk.
"Serius! Pelayannya sampai mundur tiga langkah! Dan tahu apa yang dia bilang? Dengan muka polos, 'Kamu nggak apa-apa? Mungkin kamu alergi ikan.' Alergi ikan, Dan! Aku alergi dia!"
Danti tertawa begitu keras hingga air matanya keluar lagi. Kali ini air mata yang berbeda, yang hangat, yang membuat dadanya terasa ringan.
Nadia puas melihatnya. Ia lanjut bercerita.
Danti mendengarkan sambil tertawa, sesekali menimpali, sesekali bertanya. Untuk beberapa jam, ia tak lagi menjadi istri yang selalu salah atau perempuan yang harus mengurangi makan. Ia hanya Danti. Sahabat Nadia. Seorang perempuan yang punya seseorang untuk diajak bicara.
"Eh, Dan."
"Hm?"
"Kamu lihat itu."
Nadia menunjuk ke arah jendela. Langit di luar sudah berubah jingga keemasan, bayangan pohon beringin memanjang di trotoar, dan lampu-lampu kafe mulai dinyalakan satu per satu.
Danti terkesiap. "Ya ampun. Udah sore?"
"Udah jam lima lebih."
Tanpa sadar, nyaris enam jam mereka duduk di sana. Dan Danti, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tak sedikit pun merasa waktu berjalan lambat.
Ia meraih tasnya dengan enggan. "Aku harus pulang, Nad. Sebelum Mas Rizal sampai."
Nadia mengangguk, tak memaksa. Ia berdiri dan memeluk Danti sekali lagi, lebih lama dan lebih erat dari pelukan pertama. "Kabarin aku kalau udah sampai rumah. Dan kalau ada apa-apa, apa pun, telepon aku. Jam berapa pun."
"Iya."
"Besok kita ketemu lagi. Atau lusa. Aku bakal sering ke rumah kamu juga."
"Boleh. Janji ya?"
"Janji." Nadia mengacungkan jari kelingking. "Pinky promise, kayak waktu di panti."
Danti tertawa kecil, lalu mengaitkan kelingkingnya.
Di pintu kafe sebelum melangkah keluar, Danti berhenti dan menoleh ke belakang. Nadia masih berdiri di tempat, melambaikan tangan dengan senyum lebar, sosok kecil di antara cahaya lampu kuning yang hangat.
Danti membalas lambaiannya, lalu melangkah ke jalan. Angin sore menyentuh wajahnya yang masih lembap, dan ia menarik napas dalam-dalam.
Perutnya kenyang. Hatinya tidak terlalu penuh dengan batu.
Tapi di ujung jalan, ketika rumah itu mulai terbayang di kepalanya, langkah Danti melambat. Dan kata-kata Nadia kembali terngiang:
"Pikirin diri kamu sendiri dulu."
Ia belum tahu jawabannya. Namun untuk pertama kalinya, pertanyaan itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka.
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,