Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUDI DITANGKAP
Rudi tidak ditangkap polisi.
Ia ditangkap Tania.
Pagi jam lima, ketika gang masih sepi dan tukang sayur baru lewat, Tania menelepon Rudi dari HP Hendarto yang dipinjamkan.
"Rud, ini aku. Aku di pelabuhan lama. Aku mau serahkan sertifikat asli proyek. Kamu bawa uang 500 juta, kita selesai."
Suara Rudi di seberang mengumpat, lalu tertawa.
"Akhirnya sadar juga kamu, Tan. Kamu tuh dari dulu paling pinter. Pinter ngilang. Sekarang pinter juga minta uang."
"Aku tunggu jam enam. Sendirian. Jangan bawa orang. Kalau kamu bawa orang, aku bakar sertifikatnya dan aku kirim foto kamu pegang pistol di mobil belakang Puncak ke Metro TV."
Telepon ditutup.
Hendarto yang mendengar dari sebelah menatap Tania dengan kaget.
"Bu Tania, itu berbahaya. Rudi bawa senjata."
Tania memakai kerudung cokelat pudarnya lagi, merapikan alis palsunya yang mulai luntur.
"Sebelas tahun saya diam karena takut, Pak. Sekarang dokter bilang saya tinggal dua bulan. Buat apa takut lagi?"
Jam enam kurang sepuluh, pelabuhan lama Cilincing.
Pelabuhan yang jadi sengketa. Proyek yang bikin Pak Hendra, Bu Sari, dan Jono mati. Proyek yang bikin Dimas jual motor dan Laras dapat WA "Kurebut suamimu".
Rudi datang pakai Fortuner hitam. Sendirian, seperti diminta. Ia pakai kemeja batik, celana jeans, topi. Wajahnya masih seperti calo tanah kaya — gemuk, licin, senyum yang tidak sampai ke mata.
Ia melihat Tania duduk di atas kontainer kosong, memegang map cokelat.
"Mana uangnya?" tanya Tania tanpa basa-basi.
Rudi membuka tas ransel, menunjukkan gepokan uang. "500 juta, seperti janji. Mana sertifikatnya?"
Tania membuka map. Di dalamnya bukan sertifikat. Di dalamnya foto polaroid yang sama — foto di mobil Puncak, tangan Kajati di dekat rem, dan di kaca spion terlihat jelas wajah Rudi di mobil belakang memegang pistol.
Wajah Rudi langsung pucat.
"Kamu... kamu dari mana dapat foto ini?"
"Dari kamera saya, Rud. Tahun 2015, saya yang di mobil belakang. Saya yang motret. Kamu lupa? Kamu yang suruh saya diam."
Rudi maju satu langkah. "Tan, jangan main-main."
"Saya nggak main-main. Saya mau kamu tanda tangan surat ini." Tania mengeluarkan satu lembar lagi. Surat pengakuan: Saya Rudi Hartono mengakui menyuruh Kajati dan memanipulasi rem mobil Pak Hendra Wijaya, Bu Sari, dan Jono.
Rudi tertawa, tapi tangannya gemetar. "Kamu gila. Kamu kira saya mau tanda tangan?"
"Kalau nggak, saya teriak. Dan di belakang kontainer itu ada Kejagung."
Rudi menoleh. Dari belakang kontainer, Hendarto, Mira dengan HP merekam, dan dua jaksa keluar.
Rudi mencoba lari, tapi Fortunernya sudah dikepung mobil patroli yang dari tadi parkir jauh.
Ia tidak melawan. Ia hanya menatap Tania.
"Tan, kamu tega? Saya yang besarkan anakmu."
"Kamu yang jual anakku, Rud. Kamu yang bikin dia jadi kaki tanganmu. Kamu yang suruh Vania kirim pesan ke Laras."
Rudi diborgol. Tas uang 500 juta jatuh ke tanah, isinya ternyata kertas koran di atasnya, uang asli cuma di dua lembar paling atas.
Di mobil patroli, Rudi sempat berteriak ke Tania, "Kamu akan mati duluan, Tan! Kanker kamu!"
Tania tidak menjawab. Ia hanya duduk lagi di atas kontainer, memegang map kosong, menatap laut yang kotor.
Hendarto mendekatinya. "Bu, kita ke RS sekarang ya? Kemoterapi Ibu jam delapan."
Tania menggeleng. "Pak, antar saya ke rumah Sumi dulu. Saya mau lihat Dani... Dimas pakai baju rapi sekali lagi."
Jam delapan pagi, di rumah yang lunas.
Dimas sudah mandi, sudah pakai kemeja putih yang disetrika Laras. Ia duduk di kursi roda di teras, di bawah pohon mangga. Di pangkuannya ada sertifikat rumah atas nama Laras, akta lunas, dan rantang kosong bekas kue talam.
Tania datang. Tidak pakai borgol. Diantar Hendarto.
Dimas melihatnya.
"Bu..."
Tania berjongkok, memegang tangan Dimas.
"Rudi sudah ketangkap, Mas. Ibu sudah tanda tangan jadi saksi."
Dimas mengangguk, air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata takut.
"Bu, makasih."
"Untuk apa?"
"Untuk lahirin saya. Dan untuk berani hari ini."
Di dalam rumah, Laras, Sumi, Bu Tuti, Vania, Reza, dan Kenzo melihat dari jendela. Tidak ada yang keluar. Mereka memberi ruang untuk ibu dan anak yang baru bertemu setelah 28 tahun dipisahkan calo tanah.
Laras berbisik ke Sumi, "Bu, kita tambah satu kursi lagi di foto 1978 ya?"
Sumi mengangguk, menangis. "Iya. Sekarang jadi tiga lagi. Sumi, Tuti, Tania. Sahabat Sejati."